
Zico yang sebenarnya datang ke kediaman orang tuanya untuk menginap setelah bertengkar hebat dengan Queen terpaksa membatalkan rencananya itu. Sepertinya keadaan mansion megah istrinya dan rumah besar orang tuanya itu tidak jauh berbeda, hanya ada hawa panas yang membuat sesak napas saja.
Pria berparas tampan nan rupawan itu akhirnya memutuskan untuk kembali ke mansion megah istrinya. Namun, baru saja dia masuk sudah disambut dengan ocehan wanita hamil yang duduk dengan santainya di sebuah sofa tunggal di ruang tamu.
"Bagus ya, Co. Kau datang dan pergi sesuka hati tanpa berniat memperdulikan aku," omel Queen kepada sang suami.
Zico pun terpaksa menghentikan langkahnya. Pria itu menarik napas dalam-dalam agar tidak terpancing emosi. Dia sudah sangat lelah berdebat dengan semua orang yang hanya memikirkan egonya sendiri.
"Kau tidak suka jika aku kembali, Queen?" tanya Zico sembari membalik tubuhnya.
Wanita hamil itu bangkit dari posisinya dan berjalan mendekati sang suami. Tatapannya bagaikan elang yang siap memangsa targetnya.
"Bagus, Co. Sekarang bahkan kau sudah berani menentangku!" bentaknya emosi.
Zico tertawa lepas, akan tetapi kedua bola mata itu berkaca-kaca. "Cukup, Queen! Aku sudah tidak sanggup lagi kamu perlakukan seperti b*bu. Aku ini suamimu," ujar Zico yang sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan sang istri yang justru berubah setelah mereka menikah.
"Kau mengaku sebagai suami, Co? Selama ini bahkan kau hanya bersembunyi di balik punggungku. Jika bukan karena aku, kau sudah menjadi seorang gelandangan!" bentak Queen sekali lagi.
Amarah dalam diri Zico meluap setelah lagi-lagi hanya hinaan yang keluar dari mulut istrinya. Meskipun dia juga sadar bahwa selama ini keluarga Queen yang bertanggung jawab atas kehidupannya, akan tetapi mereka memperlakukan dirinya bagaikan seorang pelayan. Harga dirinya sudah jatuh ke dasar Palung Mariana setelah masuk ke dalam keluarga Queen.
"Cukup, Queen! Aku bilang cukup. Jika kau sudah tidak ingin lagi hidup bersamaku, tidak apa-apa. Aku akan dengan iklas melepaskanmu." Zico yang merasa tidak kuat lagi menjelang kehidupan bersama istri dan keluarga wanita itu memutuskan untuk melepaskan wanita yang tengah mengandung anaknya tersebut.
"Pergi! Sana pergi. Tapi sekali kau melangkah keluar dari mansion ini, jangan harap kau bisa kembali lagi." Seperti biasanya, Queen selalu mengancam Zico dengan berbagai cara.
Jika biasanya Zico akan luluh, tidak untuk kali ini. Pria itu tetap melanjutkan langkahnya keluar dari mansion megah keluarga sang istri. Dia bahkan pergi tanpa membawa apapun kecuali pakaian yang dia kenakan. Pria itu tetap melangkah pergi meskipun Queen berkali-kali memanggil namanya dengan lantang.
__ADS_1
Bagi Zico, sudah cukup pengorbanannya selama ini. Dia dulu memilih menikahi wanita itu hanya karena Queen terlanjur mengandung benih darinya. Namun, sepertinya wanita itu menganggap dia mau menikahinya karena harta.
"Maaf, Queen, tapi aku sudah tidak sanggup lagi," lirih Zico tetap mengayunkan langkah pergi dari sana, meski rasanya sangatlah berat.
Setelah kepergian Zico, ayah dari Queen tiba-tiba keluar. Pria itu menepuk pundak sang putri dan menariknya ke dalam dekapan.
"Apa Daddy bilang, dia itu sama seperti papanya. Hanya ingin harta saja," ucapnya dengan santai.
"Iya, Dadd. Ternyata dia bukan pria yang baik untuk menjadi ayah dari janin yang Queen kandung," lirih sang putri merasa menyesal karena telah salah memilih Zico sebagai pendamping.
"Cara kalian bertemu saja sudah salah, dia bukan pria baik-baik. Hanya seorang gig*Lo yang rela memberikan kepuasan untuk pelanggannya, Daddy yakin, kamu bukanlah satu-satunya."
Pria paruh baya itu sengaja meracuni pikiran putrinya agar benar-benar membenci suaminya sendiri. Dendamnya kepada Antonio membuatnya ingin menghancurkan keluarga itu, dan niatnya terlaksana melalui Zico lebih dulu.
"Aku pasti akan menghancurkan keluargamu, Anton!" Ayah satu anak itu tersenyum licik.
"Weh! Orang kaya ngapain kesini lagi?" sindir sang sahabat ketika melihat kedatangan Zico.
Pria itu sedikit heran karena ekspresi wajah Zico lain dari biasanya. Sahabatnya itu terlihat murung dan lemas tidak bertenaga. Zico bahkan langsung menjatuhkan diri di kursi tepat di sampingnya.
"Gue perlu kerjaan, Bro. Lo ada lowongan?" tanya Zico seraya menyandarkan punggungnya.
"Lah, bukannya semua kebutuhan Lo udah di backing sama Queen? Ngapain cari kerjaan lagi?" tanyanya heran, pria itu bahkan sampai menegakkan tubuhnya untuk memperhatikan ekspresi Zico, dia mengira sang sahabat hanya ingin mengerjainya saja.
"Gue keknya bakal pisah sama dia," jawab Zico lemah.
__ADS_1
Pria yang merupakan sahabat Zico itu membulatkan matanya tidak percaya. "Kenapa pisah? Bukannya hidup Lo udah enak bareng dia?"
Zico meraup kasar wajahnya berkali-kali. Setiap orang yang bertemu dengannya selalu menganggap hidupnya bahagia setelah menjadi suami Queen, tetapi kenyataannya berbanding terbalik.
"Selama ini gue cuma jadi pelayan di mansion bokapnya," ungkap Zico jujur.
Perkataan Zico barusan hanya di anggap sebagai guyonan semata oleh sang sahabat. Pria yang sedang bert*lanjang dada itu justru tertawa terbahak-bahak karena sama sekali tidak percaya dengan ungkapan hati sahabatnya sendiri.
"Lo kalau mau ngeprank gue, kira-kira dong! Lu berharap gue percaya gitu?"
"Lu enggak percaya juga enggak apa-apa. Yang jelas gue butuh kerjaan sekarang!"
"Lo serius, Co?" tanya si sahabat yang akhirnya sedikit penasaran, sepertinya Zico memang tidak berbohong atau mengada-ada saja.
"Gue lebih dari serius," jelas Zico yang malas karena sahabatnya itu terlalu banyak bertanya.
"Oke-oke, tapi Lo mau gue cariin yang kaya Queen kemarin atau tante-tante aja? Menurut gue, lebih baik sama tante-tante, karena mereka tidak banyak menuntut asalkan elo bisa puas–,"
"Gue udah enggak mau kerja gituan! Tobat gue jadi gig*lo. Mending jadi pelayan juga gue enggak apa-apa," potong Zico dengan cepat.
Pria muda itu sama sekali tidak ingin kembali mengulang kesalahan yang sama, kesalahan yang akan membuat kakaknya kecewa padanya. Saat ini, hanya Adeline lah yang menjadi alasannya untuk mengubah diri menjadi lebih baik.
"Lo beneran mau jadi pelayan? Gajinya enggak seberapa, loh!"
"Yang penting gue bisa makan dan dapat tempat tinggal, gue rasa udah cukup. Lebih baik gue jadi pelayan di luar dari pada jadi pelayan di mansion mewah Queen. Harga diri gue sebagai laki-laki di injak-injak sama keluarga mereka," keluh Zico dengan rasa sesal yang dalam.
__ADS_1
"Lo ada alasan lain? Kenapa Lo ngotot pengen kerja keras padahal Lo bisa pulang ke rumah orang tua Lo, Co? Lo berasal dari keluarga berada, enggak seperti gue yang memang lahir sudah k*re."
"Buat apa? Pulang pun gue cuma di anggap sampah di sana," jawab Zico dengan hati yang mencelos.