Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Bertemu Mertua


__ADS_3

Seseorang sedang duduk menyendiri di sebuah kursi taman. Hamparan bunga berwarna-warni serta kupu-kupu indah yang beterbangan sama sekali tidak dapat menghibur dirinya. 


Dari kejauhan seorang pria tampan menatapnya dengan sorot mata kasihan. Beberapa menit hanya melihat dari jauh, pria itu memutuskan untuk mendekati seorang wanita paruh baya yang terlihat sedih itu. Sudah beberapa hari ini dia memperhatikan sang mertua yang seperti sedang menyembunyikan kesedihan. 


"Mama," panggil pria itu yang membuat wanita itu menoleh. 


"Nendra!" pekik wanita paruh baya itu kaget. 


Danendra tersenyum lembut, "Boleh Nendra ikut duduk di sini?" tanya sang menantu. 


"Silahkan, Nendra." Nabila menggeser sedikit bokongnya untuk memberi ruang sang menantu duduk. 


"Terima kasih, Ma." Danendra duduk di samping mertuanya. 


"Jangan sungkan, Nendra. Ini mansion kamu, loh!" 


"Mansion ini bukan milikku, Ma. Ini milik Adel dan Devan," ujarnya mengingatkan. 


Nabila tersenyum, akan tetapi Danendra paham. Mertuanya itu hanya pura-pura tersenyum, sedangkan hatinya tengah bersedih. 


"Mama sedang apa?" tanya Danendra memulai basa-basi. 


"Hanya menikmati udara segar, Nendra. Kamu tidak bekerja?" 


"Sedang cuti, Ma. Bos besar yang memintaku untuk tetap di mansion." 


Danendra sengaja bergurau untuk menghibur hati sang mertua. Namun, gurauannya sama sekali tidak berhasil. Wanita paruh baya itu tetap saja murung. 


"Mama merindukan Rihanna, yah?" tanya Danendra memulai inti pembicaraan. 


Nabila menoleh sejenak lalu menganggukkan kepalanya pelan. Dia memang merindukan anak bungsunya yang sudah beberapa hari tidak dia ketahui kabarnya. Terakhir bertemu adalah ketika acara pengenalan Devan di hadapan kerabat. 


"Mama tenang saja. Dia sudah berada di tempat yang aman. Nendra sudah memastikannya sendiri," ujar Danendra dengan serius. 


"Sekarang dia di mana, Nendra?" tanya Nabila antusias. 


"Dia tinggal dengan suaminya, Ma." 


"Dia sudah menikah?" tanya Nabila menyela. 


"Ya, baru kemarin dia menikah." 


"Jadi ucapan Rocky hari itu kini sudah terlaksana?" tanyanya sendu. 


"Mama tenang saja. Rihanna menikah dengan sepupu Nendra, dia orang baik, kok!" 

__ADS_1


Danendra mengeluarkan ponselnya lalu memberikan benda pipih itu kepada mertuanya. Meski ragu-ragu, Nabila menerima ponsel sang menantu. 


"Ini sepupu kamu, Nendra?" tanya Nabila memastikan. 


Mimik sendu yang sejak tadi tersirat di wajah Nabila seketika berganti dengan senyum lega. Putrinya itu terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya berwarna putih tulang. 


"Dia anak dari kerabat jauh papa, Ma. Tapi kami cukup dekat. Sore nanti Nendra akan menemui suami Rihanna," jelas Nendra. 


"Mama boleh ikut?" 


"Boleh. Tapi, tolong jangan bersedih lagi, Ma," pinta Danendra sambil mengelus punggung tangan mertuanya. 


*****


Di kantornya Malik sedang puas tertawa setelah berhasil mengerjai sang sekretaris. Laki-laki itu semakin senang ketika melihat wajah badmood Celine. 


"Sudahlah, Celine. Tidak perlu merajuk!" 


"Kau bos yang kejam." 


Celine berniat pergi meninggalkan bosnya yang masih tertawa senang itu. Sebenarnya Celine tidak merajuk. Dia hanya ingin mengerjai balik bosnya. 


"Kau mau ke mana?" tanyanya berteriak. 


"Membuat surat resign dari kantor. Malas sekali aku bekerja dengan bos semena-mena sepertimu!" teriak Celine tanpa menoleh. 


Malik hendak bangkit untuk mengejar Celine. Namun, dering ponsel miliknya membuat dia mengurungkan niat. Malik menautkan kedua alisnya membentuk busur panah saat melihat nama yang tertera di layar ponsel. 


"Hallo," sapa Malik singkat. 


" …. " 


"Baiklah. Datang saja ke apartment!" 


" …. " 


"Oh. Ya sudah, kirim alamatnya. Nanti aku usahakan untuk datang!" 


Panggilan berakhir. Malik kembali duduk di kursi putar kerjanya. Rasa heran tiba-tiba menyeruak ke dalam jiwa. Tidak biasanya sang sepupu menghubungi serta mengajak untuk bertemu. 


"Ada apa Nendra mengajakku bertemu? Apa dia sudah tahu tentang pernikahanku dengan Kayla?" tanyanya kepada diri sendiri. 


Sore harinya Malik lebih dulu kembali ke apartement sebelum menemui sang sepupu. Laki-laki itu mengedarkan pandangan saat melihat suasana tempat tinggalnya begitu sepi. 


"Mungkin dia sedang tidur," gumam Malik sambil menatap pintu kamar Rihanna yang tertutup. 

__ADS_1


Malik bergegas masuk ke kamarnya dan langsung membersihkan dirinya. Meski belum tahu maksud dari Danendra mengajaknya bertemu di luar, tetapi Malik merasa tidak ingin mengecewakan sepupunya. 


Begitu selesai membersihkan diri serta bersiap dengan pakaian yang lebih casual, Malik pun keluar dari kamar. Suasana masih sama, sepi tanpa adanya tanda-tanda Rihanna akan keluar dari kamar. 


"Biarkan sajalah dia, aku tidak ingin mengganggu kenyamanannya. Dia pasti masih canggung setelah kejadian semalam." 


Malik akhirnya pergi meninggalkan Rihanna di apartemen seorang diri. Laki-laki itu mengendarai mobilnya sendiri menuju tempat yang sudah di kirimkan oleh sang sepupu. 


Beberapa saat kemudian dia sampai di sebuah restoran ternama yang dipilih oleh Danendra sebagai tempat pertemuan mereka. Malik keluar dari mobil lalu bergegas masuk ke dalam restoran tersebut. 


Sementara itu, dari kejauhan seorang pria tampan dan wanita paruh baya sedang mengamati Malik yang sedang berjalan santai masuk ke tempat perjanjian mereka. Sang wanita paruh baya menoleh ke arah sang menantu di sampingnya. 


"Dia orangnya, Nendra?" tanyanya sambil menunjuk Malik. 


"Iya, Ma. Dia menantu baru mama. Anggota keluarga kita yang baru," timpal Danendra seraya membuka pintu mobil. 


Suami Adeline itu berjalan mengitari mobil lalu membukakan pintu untuk sang mertua. Tangannya terulur untuk menggandeng Nabila. Mereka pun berjalan bersama masuk ke dalam restoran, menyusul Malik yang sudah lebih dulu masuk. 


"Tuan. Silahkan, tamu anda sudah menunggu," ujar seorang pelayan kepada Danendra dengan ramah. 


Pelayan itu memimpin jalan. Danendra dan Nabila berjalan mengikuti sang pelayan hingga mereka sampai di sebuah ruangan VVIP nomor 3. 


"Silahkan masuk, Tuan, Nyonya." Pelayan itu membukakan pintu. 


Danendra melepaskan gandengan tangannya dengan sang mertua. Laki-laki yang baru menyandang gelar seorang ayah itu berjalan lebih dulu, Nabila mengekor di belakang punggung tegap menantunya. 


"Malik!" 


"Hei, Nendra." Malik bangkit untuk menyambut kedatangan sepupunya. 


"Aku punya kejutan untukmu, Malik!" 


"Kejutan apa?" tanya Malik penasaran. 


Danendra tidak menjawab, hanya mengalihkan sedikit tubuhnya hingga menampakkan seorang wanita paruh baya yang berdiri di belakangnya. Malik yang belum tahu bahwa Nabila adalah ibu kandung Rihanna pun memicingkan matanya. 


Nabila meraih kembali uluran tangan Danendra. Mereka berjalan mendekati Malik yang masih terlihat kebingungan. Tatapan Malik bergantian memandang wanita paruh baya yang terlihat masih cantik dan Danendra. 


"Dia siapa?" tanya Malik seraya menunjuk dengan dagunya. 


"Dia mertua kita, Bod*h!" maki Danendra kesal. 


Malik yang terkejut belum juga menyapa Nabila. Dia masih sibuk memperhatikan wajah wanita paruh baya di depannya memang sedikit mirip dengan istrinya. 


"Benarkah kamu Malik, suami Rihanna?" tanya Nabila dengan lembut. 

__ADS_1


"Ah, iya, Tante." Malik gelagapan dan langsung berjalan cepat menuju wanita yang ternyata adalah mertuanya. 


"Tante-tante, sejak kapan menantu memanggil mertuanya dengan sebutan Tante!" cibir Danendra sinis. 


__ADS_2