
Sementara itu, di mansion pribadi Rocky. Rihanna tengah dibuat semakin heran saat pelayan yang selalu memata-matai dirinya tiba-tiba menyuruh dia untuk berganti pakaian yang sudah disediakan oleh pelayan tersebut.
"Mereka mau suruh gue ke mana coba?"
Rihanna menatap dirinya di depan cermin besar. Sebuah gaun selutut berwarna putih dengan sedikit corak bunga melekat ditubuhnya. Make up tipis yang dipoles oleh si pelayan juga menghiasi wajahnya yang kini terlihat manis.
"Nona, saya peringatkan kepada anda. Jangan coba-coba melawan kami jika anda tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi!" ancam si pelayan setelah memastikan Rihanna telah siap.
"Gue mau di bawa ke mana?" tanya Rihanna pada akhirnya.
"Ikuti saja. Tidak perlu banyak bertanya," balas si pelayan ketus.
Rihanna terdiam dengan perasaan was-was. Dalam hatinya merasa sedikit senang karena akhirnya dia dapat melihat dunia luar. Namun, dia juga merasa sedikit khawatir jika apa yang dia pikirkan akan terbukti.
Pelayan itu menggandeng lengan Rihanna dengan erat. Menuntun perempuan muda itu keluar dari kamar. Saat sampai di teras mansion itu, disana sudah tersedia mobil mewah lengkap dengan supir baru yang Rihanna yakini adalah salah satu dari mereka.
"Silahkan masuk, Nona."
Rihanna menurut untuk masuk ke mobil mewah itu. Meski jauh di benaknya dia masih merasa sangat heran. Selama beberapa hari dikurung dalam mansion mereka memperlakukan dirinya dengan sangat sederhana. Semua barang-barang mewah diambil secara paksa.
Sementara itu, sekarang mereka justru bersikap seolah-olah dia adalah seorang ratu yang harus mereka jaga. Tidak hanya itu, mereka juga memperlakukannya dengan sangat mewah meskipun jauh dari kebiasaan Rihanna selama ini.
"Jangan-jangan mereka mau jual gue, nih!" batin Rihanna awas.
Pelayan yang mengantarnya ke teras mansion meninggalkannya bersama sang supir dan beberapa pengawal yang ikut masuk ke dalam mobil mewah itu. Kendaraan roda empat itu melesat membelah jalanan padat.
Beberapa kali Rihanna melirik pengawal berseragam hitam yang duduk di sebelahnya. Laki-laki itu terlihat garang meskipun wajahnya sedikit lebih tampan dari para pengawal lainnya. Namun, Rihanna membuang pandangan saat laki-laki itu menoleh ke arahnya.
"Jangan tatap saya seperti itu, Nona. Saya tidak ingin mendapat masalah," peringat si pengawal itu dengan nada datar.
Mendengar seloroh pengawal itu seketika membuat perempuan muda itu menoleh dan memberikan tatapan sinis. Berani sekali laki-laki itu berucap dengan tidak sopan padanya.
"Ish, percaya diri sekali. Aku hanya bingung saja. Siapa yang menyuruh kalian menjadikanku tawanan seperti ini?"
__ADS_1
Tidak ada jawaban, pengawal tampan itu bungkam tanpa berniat meladeni Rihanna yang kini terkesan cerewet. Sikap si pengawal membuat Rihanna mendengus kesal.
Suasana mobil itu semakin terasa sunyi dan mencekam. Tidak ada suara apapun selain deru mesin mobil dan suara embusan napas dari masing-masing penumpangnya.
Rihanna menatap jalanan yang padat dengan beberapa kendaraan. Ketika berada di persimpangan jalan tiba-tiba lampu rambu-rambu lalulintas berubah merah. Hal itu menyebabkan mereka terpaksa menghentikan laju mobil.
"Gue harus kabur dari mereka. Gue enggak mau jadi budak kalau ternyata benar mereka mau jual gue."
Perempuan muda dengan penampilan lebih sederhana dari biasanya itu melirik ketiga orang yang bersamanya di dalam mobil. Melihat ketiganya lengah, perempuan itu langsung membuka pintu mobil yang kebetulan tidak terkunci.
Begitu pintu mobil itu terbuka Rihanna segera berlari. Dia sengaja berlari dengan pola zig-zag di antara kendaraan-kendaraan lain agar para pengawal itu kesulitan untuk mengejarnya. Beruntung rencana perempuan muda itu berhasil. Ketiga orang yang mengantarnya itu kewalahan mengejarnya yang berlari dengan cepat.
Mereka semakin kebingungan saat lampu berganti hijau. Suara klakson mobil dari pengendara lain saling sahut karena mobil yang mereka tinggalkan itu menghalangi jalan.
"Kau urus mobil, biar aku dan Firza yang mengejar Nona."
"Baiklah. Jangan sampai kehilangan jejak. Kita bisa mati jika Nona berhasil kabur!"
Mereka berpencar untuk mencari keberadaan Rihanna, sedang sang sopir mengurus mobil yang sempat menjadi bulan-bulanan pengendara lain.
Perempuan muda dengan gaun selutut itu bersembunyi di jok belakang. Masih dengan memegangi dadanya yang terasa berdenyut kencang karena jantungnya terpompa dengan cepat.
"Syukurlah, gue berhasil kabur. Tapi, sekarang gue dimana?"
Merasa keadaan belum memungkinkan dirinya untuk keluar dari persembunyian membuat Rihanna tetap bertahan di posisi berjongkok. Semakin lama kakinya terasa sangat pegal. Perempuan muda itu akhirnya jatuh tersungkur dan kepalanya terbentur bagian bawah mobil.
"Aduh," pekik Rihanna ketika dahinya mencium lantai mobil.
Mendengar teriakan dari belakang kursi yang dia duduki seketika membuat si pengendara mobil itu reflek menginjak pedal rem begitu dalam hingga mobil berhenti mendadak. Rihanna yang awalnya sudah berusaha bangun kembali jatuh tersungkur.
"Awh!" teriaknya seraya memegangi keningnya yang terasa sakit.
Pengendara itu menoleh ke belakang untuk memeriksa siapakah gerangan penyusup yang masuk ke mobilnya.
__ADS_1
"Lo siapa?" tanyanya dengan nada tinggi.
Rihanna mendongak dengan tangan yang masih memegangi keningnya yang terasa sangat sakit. Netranya membelalak ketika bersitatap dengan seseorang yang mengendarai mobil tempatnya bersembunyi.
"Lo!"
"Elo!"
Pekik keduanya sama-sama terkejut. Rihanna langsung bangun dan mendudukkan dirinya di kursi mobil setelah melihat wajah pengendara mobil itu adalah seseorang yang sempat membuatnya kesal saat berada di tepi pantai waktu itu.
Seorang pria dengan garis wajah tegas dan berwibawa. Hidung mancung serta bibir tipis berwarna kemerahan itu membuatnya terlihat manis. Sungguh visual yang jauh dari perilaku laki-laki itu sendiri. Orang-orang pasti tidak menyangka jika laki-laki manis sepertinya memiliki sifat suka menghina orang yang bahkan belum dikenalnya.
"Ngapain lo di mobil gue?" tanya laki-laki itu dengan mimik wajah bingung.
"Gue … gue salah masuk mobil."
Rihanna tidak mungkin mengaku pada laki-laki itu bahwa dia sedang dalam misi kabur dari para pengawal yang entah sebenarnya kawan atau lawan itu. Jadi untuk menyembunyikan apa yang sedang terjadi, perempuan itu memutuskan untuk menutupi masalahnya.
"Ya udah turun sana!" perintah laki-laki itu dengan nada tidak bersahabat.
Sepertinya laki-laki itu masih menyimpan dendam karena pada saat itu Rihanna mengacuhkan serta meninggalkannya begitu saja. Rihanna menoleh ke belakang, mobil mewah yang tadi menjadi kendaraan yang ditumpanginya tiba-tiba melintas dan berhenti tepat di depan mobil laki-laki menyebalkan itu.
"Gue, enggak bisa turun sekarang. Tolong jalan dulu," pinta Rihanna yang kembali bersembunyi di balik kursi mobil.
Laki-laki itu semakin heran karena melihat reaksi perempuan muda itu yang kini terlihat ketakutan. Dia juga terkesan seperti sedang bersembunyi dari kejaran orang jahat.
"Lo kabur ya?" tanya laki-laki itu bermuatan tuduhan.
"Buruan jalan!" pekik Rihanna dengan suara sepelan mungkin.
Laki-laki itu mengikuti arah pandang si perempuan. Kini dia yakin, perempuan muda yang bersembunyi di mobilnya ini sedang berusaha melarikan diri dari orang-orang yang berada di depan mobilnya itu.
"Wah, sepertinya ada yang sedang jadi buronan."
__ADS_1