
Keesokan paginya Nabila lebih dulu bangun. Wanita paruh baya itu menatap wajah polos sang putri bungsu yang sedang terlelap. Sejak kedatangannya tadi, Rihanna sudah menceritakan semua yang terjadi. Tidak terkecuali dengan kejadian semalam yang akhirnya membuat wanita hamil itu meninggalkan sang suami.
"Setiap masalah yang datang adalah proses pembelajaran agar kamu menjadi pribadi yang lebih dewasa, Sayang." Nabila membelai Surai panjang sang putri penuh kasih.
Puas memandangi wajah putrinya yang kini terlihat lebih segar dan sesuai dengan usianya, Nabila beranjak setelah melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh. Waktunya untuk sarapan bersama di keluarga Alefosio.
"Ini sudah karma untukku, Mam. Semua yang terjadi padaku adalah balasan, karena aku sudah jahat pada kakakku sendiri."
Ternyata sebenarnya Rihanna sudah bangun. Hanya saja dia pura-pura tertidur karena sempat mendengar kegundahan hati sang ibu untuk meminta izin pada keluarga suami kakaknya itu.
Nabila memang sengaja belum membangunkan Rihanna karena perlu membicarakan tentang keinginan putri bungsunya itu untuk tinggal bersama dengan seluruh penghuni mansion.
Nabila melangkah perlahan menuju ruang makan. Di sana sudah ada seluruh keluarga, bahkan Devandra juga ikut hadir di pangkuan sang ayah.
"Mama, tumben baru keluar? Biasanya mama paling awal bangun."
Senyum canggung terbit di kedua sudut bibir Nabila setelah mendapat pertanyaan dari sang putri sulung. Wanita beranak dua itu merasa bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Selama ini hubungan antara Danendra dan Rihanna memang semakin memburuk. Bagaimana jika Danendra tidak mengizinkan Rihanna untuk ikut tinggal bersama mereka, itulah yang ditakutkan oleh Nabila.
Nabila menarik kursi yang biasa dia tempati ketika makan lalu menjatuhkan diri di sana pelan. Sebelum membicarakan perkara Rihanna, Nabila menarik napas dalam-dalam dengan raut wajah tegang.
"Mama kenapa? Ada masalah?" cecar Danendra yang peka terhadap mimik wajah mertuanya.
"Ada apa, Bil? Coba ceritakan! Tidak baik memendam masalah seorang diri." Silvia ikut menasehati sang sahabat.
Raut wajah Nabila semakin tegang. Meskipun semua penghuni mansion selalu berlaku baik padanya, akan tetapi Nabila tidak yakin bahwa mereka akan bersikap sama kepada Rihanna. Terlebih lagi Rihanna pernah berbuat jahat kepada Adeline.
"Nabila, lebih baik kamu berterus terang dari pada menantumu itu bertindak sendiri." Alefosio memberikan peringatan.
"Aku … maaf," ujarnya masih ragu-ragu.
"Mama kenapa? Coba ceritakan! Jangan buat Elin khawatir, Ma."
Nabila menatap putri sulungnya yang terlihat begitu menyayanginya. Mungkin, jika dia berterus terang, Adeline akan membantunya untuk membujuk seluruh keluarga Alefosio.
"Elin, maafkan mama, Sayang!"
__ADS_1
"Mama tidak punya salah apapun, kenapa tiba-tiba meminta maaf?"
"Mama bersalah pada kamu dan seluruh keluarga, Elin. Mama benar-benar minta maaf," ujarnya dengan wajah menunduk.
Adeline yang semula duduk berdampingan dengan Danendra kini bangkit lalu berpindah ke samping sang ibu. Wanita dewasa kesayangan keluarga itu menyentuh bahu sang ibu.
"Apapun kesalahan mama, Elin sudah memaafkan jauh sebelum mama meminta maaf," ujarnya dengan sangat lembut.
Nabila mengangkat sedikit wajahnya, "Terima kasih, Sayang." Pelukan hangat pun terjadi di ruang makan.
Danendra menatap curiga dengan keanehan sang mertua. Wanita paruh baya itu seperti tengah menyembunyikan sesuatu dari mereka.
"Sekarang katakan apa masalahnya, Bila. Kamu pagi-pagi sudah membuat kita penasaran!"
"Ini tentang Rihanna–."
"Ada apa dengan wanita itu, Mam?" tanya Danendra menyela.
"Sayang! Rihanna itu adikku." Adeline dengan cepat menegur sang suami.
"Iya-iya!"
"Dia memang adikku kan, Ma? Walau dunia berkata tidak, kenyataannya kami lahir dari rahim mama."
"Hati kamu mulia sekali, Sayang!" Nabila menggenggam punggung tangan anaknya.
"Ada apa dengannya, Mam? Apakah Rihanna mendapat masalah?" tanya Adeline yang sudah berhasil mengikis rasa tidak suka kepada wanita yang selalu terobsesi merebut suaminya.
"Dia itu biang masalah, Sayang. Jadi tidak mungkin dia mendapat masalah. Harusnya kamu bertanya apakah Rihanna membuat masalah?"
Danendra menimpali apa adanya. Ucapannya bahkan tanpa filter sedikitpun. Adeline yang kesal pun menghadiahi sang suami dengan pelototan matanya yang seketika membuat sang suami diam tanpa kata.
"Jangan dengarkan ucapan Nendra, Mam. Dia itu semakin menyebalkan akhir-akhir ini," tegur Adeline merasa tidak enak.
Walau bagaimanapun Rihanna adalah putrinya juga. Ibu mana yang rela jika anaknya di olok-olok bahkan oleh salah satu keluarganya sendiri.
__ADS_1
"Mama kamu itu sudah paham dengan mulut cerewet Danendra, Elin. Tidak perlu menasehati mama kamu. Dia kenal Danendra sejak suamimu itu masih di perut mama," sela Silvia agar suasana tidak semakin tegang.
"Entah akupun bingung. Anakku itu laki-laki. Di luar sana terkenal dingin dan garang. Tapi ketika di rumah mulutnya itu melebihi ibu-ibu kompleks."
"Papa!" pekik Danendra tidak terima.
"Memang begitu kenyataannya!"
"Sudah-sudah! Kalau kalian berdebat terus, kapan Nabila memulai ceritanya?"
Silvia melerai keributan yang terjadi antar suami serta anaknya. Keduanya memang terkenal dingin di luar, akan tetapi saat di rumah sifatnya langsung berubah 360°.
Adeline mengangguk setuju dengan apa yang dilakukan oleh ibu mertuanya. Dia pun sudah sangat penasaran dengan apa yang akan diceritakan oleh ibu kandungnya tentang adik perempuannya itu.
"Bolehkah jika Rihanna ikut tinggal di sini bersama mama, Elin?" tanya Nabila tegang.
"Adeline tidak keberatan, Ma. Tapi untuk hal itu lebih baik mama tanya pada Mama Silvia dan Papa Ale lebih dulu."
"Semua keputusan ada pada kamu, Elin. Mansion ini sudah milik kamu dan Devan," sela Silvia dengan cepat.
"Tapi, Elin tidak bisa memutuskan semuanya sendiri, Ma. Elin juga butuh persetujuan dari mama dan papa," jawab Adeline bijak.
Meski semua aset sudah berpindah atas namanya. Namun, Adeline tidak pernah berbangga diri dan bertindak semena-mena kecuali pada suaminya yang semakin lama semakin menyebalkan itu.
"Memangnya Rihanna bersedia tinggal di sini, Bila? Bukankah dia belum bisa menerima kenyataan bahwa Adeline adalah kakaknya?" Silvia beralih pada sang sahabat.
"Rihanna sedang memiliki masalah, Sil. Kasihan dia jika hidup sendirian dalam keadaan mengandung," jelas Nabila.
"Dia hamil?" tanya Silvia kaget.
"Bukankah dia sudah menikah dengan Malik, Ma? Apa Malik tidak bisa membantu Rihanna untuk keluar dari masalahnya?" cecar Danendra yang sepertinya akan menolak Rihanna untuk tinggal bersama dalam satu atap yang sama dengannya.
"Justru masalah ini karena Malik, Nendra. Suami Rihanna itu tiba-tiba membuat sebuah drama kecelakaan hanya untuk mengetahui perasaan Rihanna. Hal itu membuat Rihanna kecewa dan marah karena merasa Malik sudah mempermainkan perasaannya yang sedang hamil muda," tutur Nabila gamblang.
"Itu karma, Ma. Dia pernah juga membuat istriku hampir celaka. Mama tahu, Rihanna pernah memasukkan obat ab*rsi ke dalam minuman istriku. Beruntung para pelayan menyadari adanya penyusup suruhan Rihanna waktu itu."
__ADS_1
Rihanna yang sebenarnya sedang menyembunyikan diri di balik pilar besar memegang dadanya yang kini terasa sesak. Ucapan Danendra memang benar, kejahatan yang pernah dia perbuat memang lebih buruk dari apa yang terjadi padanya saat ini.
"Karma yang terjadi padaku bahkan belum ada apa-apanya dengan apa yang dulu aku perbuat. Tapi, apa Aku tidak memiliki kesempatan untuk mengubah diri menjadi lebih baik?"