Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Bisnis


__ADS_3

Melihat ekspresi si sekretaris yang seperti sedang mentertawakan dirinya, si pria itupun merasa kesal. "Kenapa kau menahan tawamu itu, Ger? Tertawalah. Selagi kau masih bisa tertawa," ancam si bos yang tentunya langsung mengubah raut wajah si sekretaris. 


"Maaf, Tuan. Saya kelepasan," jawabnya dengan nada datar. 


"Tidak apa-apa. Aku memberimu kesempatan mengolokku kali ini, tapi lihat saja nanti," timpalnya tetap menebar ancaman. 


"Tidak berani, Tuan. Tapi apakah saya boleh bertanya sesuatu?" tanya si sekretaris masih berusaha mati-matian menahan diri. 


"Hem," jawab si bos singkat. 


"Setelah tahu bahwa wanita itu usianya di atas anda, apakah anda akan mundur sebagai calon suaminya?" Kali ini si sekretaris justru sengaja menggoda tuan mudanya. 


Si bos menatap tajam pada sang sekretaris. "Tidak ada sejarahnya aku mundur dari keinginanku sendiri!" Serunya tanpa ragu sedikitpun. 


"Anda yakin, Tuan? Tapi kalau sampai banyak yang tahu bahwa pasangan anda lebih tua, bagaimana?" 


"Kau sepertinya mulai melunjak, Ger. Beraninya kau mengoloknya seperti itu," gerutu si bos yang mulai terpancing. 


"Saya hanya berbicara fakta, Tuan." 


"Kau mau diam atau ku buat peluru milikku bersarang di otakmu yang dungu itu?" tawar bos itu tidak main-main. 


"Saya hanya bergurau, Tuan." Gerry menundukkan separuh badan untuk memohon ampun kepada bosnya. 


Gerry memang sudah biasa menghadapi tuan mudanya dengan gurauan. Mereka yang sudah sejak kecil selalu bersama, meski mereka adalah atasan dan bawahan. Mereka sebenarnya saling menjaga satu sama lain layaknya sepasang saudara. 


"Sudahlah! Lebih baik bantu aku mencari cara untuk mendapatkan dia. Kau tahu, dia sama sekali tidak tertarik dengan uangku." 


Pada akhirnya Gerry ikut mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan dengan tuan mudanya. Mereka berdua sama-sama meneliti berkas yang berisi tentang biodata wanita incaran pria berhidung mancung itu. 


"Ah, jadi dia adalah putri sulung Antonio Abraham, pemilik perusahaan AM Company yang bergerak di bidang investasi. Baiklah, kita akan Mulai bersenang-senang." Pria itu menyeringai penuh kepuasan. 


"Tapi, Tuan. Dari data-data yang saya kumpulkan, calon istri anda justru lebih sayang pada adiknya dari pada keluarga yang lain." Gerry menyodorkan sebuah foto seorang pria muda. 


Pria itu menerima uluran berkas berisi foto yang di berikan oleh Gerry. "Baiklah. Sepertinya dia yang akan membuka jalanku mendapatkannya," ujarnya seraya tersenyum licik, beberapa ide sudah muncul di kepalanya. 

__ADS_1


"Nanti malam antar aku untuk menemuinya," pinta si tuan muda.


"Siap, laksanakan, Tuan." 


Malam harinya si tuan muda sudah rapi menggunakan pakaian casual yang membuat dirinya terlihat semakin mempesona. Dia sengaja pulang dulu ke mansion demi membersihkan diri serta mengganti penampilannya. 


Begitu sampai di bar milik wanita pujaan, pria itu segera menempati kursi VVIP sedangkan Gerry pergi menemui seseorang yang bertanggung jawab di tempat tersebut.


"Ada yang bisa kami bantu, Tuan?" tanya Maya ketika ada seseorang yang mencarinya. 


"Bosku ingin bertemu dengan pemilik tempat ini untuk membahas tentang bisnis," ujar Gerry dengan wajah datarnya. 


"Maaf, apakah sudah membuat janji temu?" tanya Maya sekali lagi. 


"Tidak perlu membuat janji. Bosku tidak terima penolakan!" ujarnya dengan congkak. 


Maya langsung kesal saat mendapat respon seperti itu dari seseorang yang asing baginya. Tidak mau mengulang kejadian yang telah berlalu, Maya bersikeras untuk menolak tamu tidak sopan tersebut. 


"Baiklah jika itu keputusanmu, saya bisa meratakan tempat ini dengan tanah saat ini juga!" ancamnya dengan raut wajah menyeramkan. 


"Panggil bosmu sekarang!" Gerry dengan sengaja memperlihatkan pistol yang terselip di saku jasnya. 


Maya tentu terkejut saat melihat sesuatu yang berada di balik jas mewah itu. Ini adalah kali pertama dia melihat benda mengerikan tersebut. Saking terkejutnya Maya sampai terpaku tak berdaya. Raut wajah cantik itu kini terlihat tegang, sementara kakinya tiba-tiba terasa lemas bahkan untuk menopang tubuhnyapun terasa sangat berat. 


"Panggil sekarang!" bentaknya saat perempuan di depannya justru diam bak manekin yang terpajang di toko busana. 


Reflek karena mendapat bentakan dari pria mengerikan itu, Maya langsung lari tunggang langgang untuk mencari bosnya. Dia merasa tidak sanggup untuk menghadapi pelanggan mengerikan itu. 


"Nona! Nona Elin. Buka pintunya, Non." Maya mengetuk pintu kamar Adeline dengan sangat keras, dia takut jika pria tadi akan berulah jika si pemilik tidak kunjung menemuinya. 


Adeline yang tengah sibuk dengan buku diary miliknya merasa terganggu dengan gedoran berantai yang berasal dari balik pintu. Perempuan yang hanya memakai lingerie berwarna hitam itu akhirnya beranjak meninggalkan kesibukannya untuk memeriksa apa yang terjadi di luar sana. Sebelum itu dia sempat memakai sebuah jubah panjang untuk menutupi pakaian terbukanya.


"Maya! Kenapa mengetuk pintu seperti orang kesetanan seperti itu? Kau menggangguku," ujar Adeline setelah menemui orang kepercayaannya yang melakukan perbuatan tersebut. 


"Maaf, Nona. Tapi saya terpaksa, saya lebih baik kehilangan pekerjaan dari pada kehilangan nyawa, Nona." 

__ADS_1


"Eh, apa hubungannya pekerjaan dengan nyawamu, May? Aku tidak pernah menyuruhmu bertaruh nyawa saat bekerja. Lalu wajahmu itu kenapa secemas itu?" tanya Adeline kebingungan. 


"Ada seseorang yang datang, ingin membicarakan bisnis dengan anda, Nona." 


"Baguslah. Suruh dia datang besok! Sekarang aku masih sibuk," jawabnya seraya membalikkan tubuhnya. 


Tanpa sadar Maya mencekal pergelangan tangan Adeline dengan kuat. Namun, ketika Adeline menatapnya, Maya langsung melepaskan pegangannya begitu saja. 


"Mereka ingin bertemu anda sekarang, Nona. Jika anda tidak mau, mereka akan meratakan tempat ini." 


Mendengar penjelasan dari orang kepercayaannya, mata Adeline membelalak tidak percaya. Mana mungkin ada orang segila itu sampai mengancam orang yang bahkan belum pernah di kenal olehnya. 


"Paling dia bercanda, May. Suruh saja beberapa perempuan penghibur untuk menemani mereka. Kali ini aku memberinya dengan cuma-cuma." Adeline kembali membalikkan tubuhnya untuk segera masuk. 


"Saya tidak berani, Nona. Dia membawa senjata, jika saya tidak menurutinya nyawa saya akan melayang." Maya menolak usul dari Adeline, karena dia yakin yang di mau oleh mereka bukan sekedar bersenang-senang dengan para wanita penghibur. 


"Dia membawa senjata? Bagaimana bisa dia lolos dari detektor yang kita pasang? Bukankah peraturan di barku tidak memperbolehkan pelanggan membawa senjata dengan jenis apapun?" tanya Adeline heran. 


"Benar, Nona. Sepertinya mereka memang bukan orang sembarangan," jawab Maya yang masih dalam keadaan ketakutan. 


Melihat ketakutan yang di alami oleh Maya, Adeline sampai merasa kasihan pada perempuan kepercayaannya itu. Apa lagi setahunya, Maya pernah mengalami trauma dengan penyiksaan yang menggunakan senjata. 


"Ya sudah, dimana mereka sekarang? Aku yang akan menemuinya," tanya Adeline yang memutuskan untuk menemui berandalan itu. 


"Di meja VVIP 01, Nona. Bolehkah jika saya tidak ikut kesana?" 


"Kau urus saja tamu-tamu yang lain. Aku sendiri yang akan membereskan masalah ini," jawab Adeline yang mengerti bagaimana perasaan orang kepercayaannya saat ini. 


Adeline akhirnya bergegas menuju ruangan yang di sebutkan oleh Maya, perempuan itu masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Di dalam sana ada seorang pria yang sedang duduk santai di sofa dengan menyilang kaki. Ketika melihat Adeline, pria itu tersenyum senang. 


"Akhirnya, calon istriku datang juga. Kemarilah, Sayang." Pria itu menepuk ruang kosong di sampingnya, menyuruh Adeline untuk duduk di sana. 


"Apa kau bilang tadi? Calon istri?" tanya Adeline seraya melangkah mendekat dengan tatapan mata tajam. 


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2