Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Masakan Rihanna


__ADS_3

Perlahan-lahan Malik menyentuh puncak kepala istrinya. Dia menghapus  keringat dingin yang membanjiri kening Rihanna. Sentuhan dari Malik akhirnya membangunkan Rihanna dari tidurnya. 


"Malik." Rihanna buru-buru bangun dan langsung ditahan oleh Malik. 


"Kamu mau apa?" tanya Rihanna curiga. 


"Hanya menghapus keringat di keningmu saja," jawab Malik dengan tatapan bingung karena istrinya itu justru terlihat seperti ketakutan. 


"Kamu tidak bohong?" tanyanya menyelidik. 


Malik semakin heran saat Rihanna berusaha menutupi tubuhnya dengan selimut. Posisi mereka saat ini seperti seorang gadis yang sedang melindungi diri dari predator laki-laki yang akan menjadikan dirinya sebagai mangsa. 


"Untuk apa aku berbohong? Harusnya aku yang tanya, kamu kenapa, Kay? Kamu kaya orang ketakutan gitu, kamu takut sama aku?" tanya balik Malik menerka-nerka. 


"B-bukan, a-ku hanya belum terbiasa saja," jawab Rihanna gugup. 


Malik tertawa kecil kamudian mengacak rambut Rihanna dengan gemas. "Kita sudah mau punya anak, loh, Kay. Lagi pula kita sudah beberapa kali melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh suami istri," ledek Malik yang merasa istrinya itu terlalu polos. 


"Malik, jangan bahas itu!" seru Rihanna malu-malu. 


"Iyadeh, iya. Aku enggak bahas lagi," ucap Malik sambil mengedipkan sebelah matanya. 


Rihanna merotasikan bola matanya jengah. Suaminya itu sekarang semakin hobi menggoda dengan perlakuan sederhana tetapi membuat jantung tidak aman. Namun, ketika netranya tidak sengaja melihat jarum jam dinding berada hampir di angka tiga, Rihanna langsung terjingkat. 


"Kamu kok enggak bangunin aku kalau udah jam tiga, sih!" gerutu Rihanna sedikit mendorong tubuh suaminya menjauh. 


Seketika Malik ikut melihat jam dinding, dan memang benar saat ini sudah pukul tiga pagi. Tanpa membuang masa Malik pun melarikan diri ke kamar mandi. Laki-laki yang sebentar lagi akan menyusul sepupunya yang sudah lebih dulu memiliki gelar seorang ayah itu buru-buru mensucikan diri dari Hadats kecil. Sementara itu, Rihanna terpaksa menunggu sang suami untuk bergantian mensucikan diri. 


"Sudah?" tanya Rihanna setelah suaminya itu keluar dari kamar mandi. 


"Sudah. Kamu kalau mau wudhu hati-hati, yah! Aku tungguin, kita sholat bersama." 


Beberapa saat menunggu istrinya yang sedang berwudhu, kini wanita hamil itu keluar dengan wajah yang lebih segar. Malik sampai terpaku dengan kecantikan yang terpancar dari wajah istrinya itu. 


Rihanna terus berjalan dengan tatapan mata tertuju pada selembar sajadah yang sudah di siapkan oleh sang suami. Mereka melempar senyum satu sama lain. 


"Ayo!" ajak Malik yang sudah siap untuk menjadi imam sholat. 

__ADS_1


"Ayo, Malik." Rihanna langsung memposisikan diri di belakang suaminya. 


Selesai melaksanakan sholat sunah, seperti biasa Malik akan mengajari istrinya mengaji sambil menunggu subuh tiba. Mereka duduk saling berhadapan dengan memangku Al-Qur'an masing-masing. Rihanna lebih dulu membaca ayat-ayat yang kini seolah menjadi pemenang dikala hatinya tengah gundah, sedangkan Malik dengan cermat mendengarkan setiap ayat yang dibaca oleh istrinya. Laki-laki itu dengan sigap mengoreksi setiap kesalahan istrinya. 


*****


Malik berpamitan kepada Rihanna untuk berangkat bekerja. Mereka kini berada di garasi mobil. Rihanna bersikeras untuk mengantar suaminya sampai ke garasi karena ingin mengatakan sesuatu. Di tangan kanannya memegang goodybag berukuran sedang. 


"Malik, apa aku boleh minta sesuatu?" 


"Minta apa, Kay?" 


"Tolong berikan ini pada papa. Kamu tidak sedang buru-buru, 'kan?" 


Malik menatap lekat goodybag berwarna merah muda yang disodorkan sang istri. Laki-laki itu masih berpikir ulang untuk menuruti permintaan istrinya itu. 


"Kamu sibuk, yah?" 


Rihanna mengira Malik belum menerima titipannya untuk sang ayah karena suaminya itu sedang buru-buru. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah Malik masih menimang keputusan yang akan diambil olehnya. 


"Ya sudah, kalau kamu sibuk biar aku sendiri yang antarkan ke sana," ujarnya dengan lembut tetapi bermuatan ancaman. 


"Titip salam untuk papa. Bilang sama dia kalau aku dan calon cucunya sangat merindukannya, Malik. Jika dia memarahi kamu, bilang padanya bahwa itu hasil masakanku sendiri." 


"Ha! Jadi tadi kamu yang masak?" tanya Malik kaget. 


"Iya, masakan tadi hasil belajarku," jawabnya tanpa beban.


"Pantas saja rasanya agak lain," gumam Malik dengan lirih. 


"Apa?" 


"Apa?" Malik balik bertanya. 


"Kamu bilang apa tadi?" 


Malik menyengir kuda saat melihat pelototan mata Rihanna. "Tidak, Sayang. Memangnya kamu dengar apa?" 

__ADS_1


"Ah, sudahlah. Aku masuk dulu. Jangan lupa berikan itu pada papa!" 


"Okey, Sayang." 


Malik buru-buru masuk ke mobilnya lalu mengendarai mobil itu menuju tempat dimana sang mertua menjalani masa tahanan. Meski agak ragu dan takut jika mertuanya itu akan marah, tetapi Malik juga tidak ingin mengecewakan sang istri yang sudah berjuang untuk membuat masakan itu meski rasanya memang agak berbeda. 


Sesampainya di kepolisian, Malik langsung diantar oleh petugas untuk bertemu dengan Rocky. Bulu-bulu halus di tubuh Malik seketika berdiri saat melihat tatapan tajam sang mertua yang sedang digandeng oleh seorang petugas kepolisian. 


"Waktu kalian hanya sepuluh menit," ujar si petugas sebelum pergi dari tempat itu. 


"Mau apa kau kemari, Malik?" tanya Rocky dengan ekspresi datar. 


"Malik ke sini atas permintaan Kayla, Pa." 


"Dia tahu keadaanku sekarang?" tanya Rocky lagi. 


"Sejauh ini tidak, Pa. Dia hanya meminta Malik mengantarkan ini untuk papa. Ini hasil masakan Kayla." Malik menaruh goodybag yang dia bawa dan mendorongnya ke hadapan Rocky. 


"Rihanna masak?" tanya Rocky tidak percaya. 


"Iya, Pa. Ini hasil masakan Kayla yang dia buat khusus untuk papa," ujarnya dengan kata hiperbola. 


Rocky menatap lekat bingkisan yang dibawa oleh menantunya. Seketika kedua netranya mengembun karena keharuan. Rocky merasa menantunya sudah berhasil mendidik Rihanna dengan baik. 


"Baiklah, papa terima ini. Kamu datang diwaktu yang tepat. Papa memang belum sarapan," ujar Rocky sambil menarik bingkisan itu hingga berada di tangannya. 


"Boleh Malik sarankan sesuatu, Pa?" 


"Saran apa?" tanya Rocky dengan alis bertaut. 


"Lebih baik papa siapkan air putih yang banyak saat makan nanti." 


"Memangnya kenapa? Masakan Rihanna pedas?" Rocky mengira masakan putrinya mungkin sangat pedas sampai menantunya itu menyuruhnya untuk menyediakan air putih lebih banyak. 


"Bukan, Pa." 


"Terus kenapa harus air putih dengan porsi banyak?" 

__ADS_1


"Masakan itu asin sekali," jawab Malik sambil memaksa bibirnya untuk tersenyum lebar. 


__ADS_2