
Beberapa hari dirawat di rumah sakit Adeline akhirnya bisa kembali ke mansion setelah sang dokter mengizinkan karena keadaan wanita itu memang sudah lebih sehat.
Dokter hanya mengatakan agar Adeline teratur melakukan kontrol pada luka jahitan operasi yang beberapa hari lalu dilakukan.
Danendra merawat sang istri dan putranya dengan penuh semangat. Laki-laki yang baru saja menyandang gelar seorang ayah itu memutuskan untuk cuti dari kantor. Dia ingin fokus mengurus kedua orang tercintanya.
Saat ini Danendra baru bisa bernapas lega setelah berhasil menidurkan bayi mungil itu. Semalaman suntuk bayi itu tidak mau tidur, selalu menangis ketika dia tidak sengaja ketiduran.
Danendra merebahkan dirinya disamping sang putra yang kini tertidur lelap. Laki-laki itu ingin mengistirahatkan tubuhnya setelah kelelahan karena baru saja dikerjai oleh bayi sultan tersebut.
"Sayang, mandi dulu setelah itu baru boleh tidur."
Laki-laki itu menoleh sejenak lalu kembali memejamkan kedua matanya. Rasa kantuk itu benar-benar sulit dia tahan.
"Aku tidur dulu 5 menit, Sayang. Setelah itu baru aku mandi," jawabnya seraya menutup wajahnya menggunakan lengan.
Adeline tersenyum kecil dengan sedikit gelengan kepala. "Ya sudah, aku ambil sarapan dulu," ujarnya seraya melangkah keluar kamar.
Wanita dewasa itu turun ke lantai dasar dan langsung menuju ruang makan. Di sana sudah ada Alefosio, Silvia, serta Nabila yang tengah menyantap sarapan pagi.
"Selamat pagi," sapa Adeline kepada tiga orang tuanya.
"Pagi, Sayang. Eh, Nendra kemana?" tanya Silvia karena tidak melihat sang putra tunggal.
"Dia masih di kamar, Ma. Semalam Devan tidak mau tidur dan selalu menangis saat Nendra tidur. Jadi semalam suntuk Nendra begadang menemaninya," jelas Adeline yang membuat kedua orang di tempat itu mengangguk paham, tetapi tidak dengan tuan besar mansion tersebut.
Tampaknya laki-laki paruh baya itu masih menaruh dendam kepada darah dagingnya sendiri. Kekecewaan atas apa yang terjadi pada menantunya benar-benar membuat Alefosio mendiamkan sang putra.
"Baguslah. Mama tidak menyangka kalau Nendra bisa menjadi ayah yang siaga," timpal Silvia memuji sang putra. Wanita itu bahkan sedikit melirik suaminya.
"Apa hebatnya? Dia bahkan tidak sempat melihat ketika putranya lahir ke dunia," cibir Alefosio yang tetap melanjutkan sarapannya.
__ADS_1
Mereka semua tersenyum getir saat merasakan aura permusuhan yang masih ditebarkan oleh Alefosio. Mereka mengira kemarahan pemimpin keluarga itu hanya sebentar. Namun, nyatanya hingga satu Minggu kemudian pun laki-laki itu masih bersikap dingin kepada Danendra.
"Eh, Elin. Bagaimana kalau kita adakan pesta penyambutan Devan di keluarga ini. Kita undang kerabat dekat dan relasi bisnis papa dan Nendra."
Silvia sengaja mengalihkan pembicaraan mereka. Sebagai seorang istri sekaligus ibu, dia merasa tidak bisa memihak salah satu. Dia paham bahwa apa yang dilakukan oleh Danendra memang sudah sangat mengecewakan, tetapi dia juga tidak bisa menyalahkan sang putra sepenuhnya.
Jabatannya yang merupakan pemimpin perusahaan memang harus rela menanggung resiko apapun. Lagi pula perencanaan pembangunan cabang perusahaannya memang sudah sejak lama, hanya saja memang takdir yang membuat laki-laki itu kehilangan kesempatan untuk menjadi saksi kelahiran keturunannya.
"Boleh saja, Ma. Tapi Elin rasa tidak perlu dilakukan secara meriah. Cukup dengan kita memperkenalkan Devan kepada para kerabat saja. Elin takut jika harus mempublikasikan Devan di hadapan umum," tutur Adeline yang sudah paham bagaimana keadaan keluarganya yang memang memiliki banyak musuh.
"Mama setuju sama kamu, Elin. Jadi kita lakukan pesta itu secara tertutup. Kamu setuju kan, Pa?" Silvia beralih pada suaminya.
"Lakukan saja apa yang menurut mama baik. Yang dikatakan Elin benar. Tidak perlu mengundang media," ujarnya seraya menaruh pisau dan garpu pertanda bahwa dia sudah selesai menyantap sarapannya.
Pria paruh baya itu langsung beranjak dan pergi dari tempat itu. Entah kenapa moodnya selalu rusak jika ada seseorang yang membahas tentang Danendra. Baginya kesalahan sang anak sudah tidak dapat ditolerir.
Ketiga wanita itu menatap kepergian tuan besar mansion tersebut dengan tatapan bingung. Mereka tidak menyangka jika Alefosio akan berlaku seperti ini.
"Tidak perlu dipikirkan, Elin. Papa hanya sedang tidak mood saja," jawab Silvia menutupi.
Adeline tersenyum getir saat merasakan bahwa ibu mertuanya itu sedang berusaha menutup-nutupi sesuatu darinya. Dia memutuskan untuk segera memakan sarapannya.
Selesai menyantap sarapan dan meminum susu khusus untuk ibu meny*sui Adeline kembali ke kamarnya dengan membawa sarapan untuk suaminya.
Wanita itu masih terngiang-ngiang dengan sikap ayah mertuanya. Dia merasa kasihan kepada Danendra yang harus menerima kenyataan bahwa sang ayah terkesan seperti tidak ingin melihat maupun mendengar namanya sekalipun.
Saat sampai di kamarnya Adeline sedikit tersenyum ketika mendengar suara dengkuran halus suaminya. Laki-laki keren itu tidak biasanya mengeluarkan suara aneh ketika tidur. Kali ini suara itu keluar pasti karena Danendra begitu kelelahan mengurus Devandra yang seperti berniat mengerjai ayah kandungnya.
"Dia sampai tertidur sangat nyenyak. Nendra pasti lelah. Beruntung sekali aku memiliki suami yang lebih memilih dirinya yang begadang tengah malam dari pada membiarkan aku yang kelelahan."
Adeline menaruh nampan berisi sarapan untuk Danendra di atas meja lalu mendekati suaminya itu. Dia duduk di samping sang suami dan membelai lembut puncak kepala suaminya.
__ADS_1
"Sayang," panggil Adeline dengan lembut.
"Hm." Hanya deheman yang keluar dari pria tersebut.
"Bangun dulu. Ayo sarapan," ajaknya sambil sedikit mengguncang bahu suaminya.
"Nanti saja, aku masih ingin tidur."
Danendra benar-benar tidak memperdulikan sang istri yang tengah berusaha membangunkannya. Dia menulikan pendengarannya agar tidak mendengar sang istri yang masih merengek menyuruhnya untuk segera membuka mata.
Rengekan Adeline seolah tidak memiliki efek apapun. Terbukti Danendra masih saja menikmati tidurnya. Adeline bahkan sampai putus asa untuk membangunkan sang suami.
Jika sejak tadi suara rengekan Adeline sama sekali tidak digubris oleh Danendra, berbeda dengan saat ini. Suara tangisan Devandra seolah menjadi alarm yang ampuh untuk membangunkan laki-laki berparas tampan itu.
Terbukti Danendra langsung bangun dan berpindah posisi. Dia begitu sigap menggendong Devandra meski dengan kedua mata yang masih sayu.
"Devan sayang jangan menangis. Ayah disini, Nak."
Laki-laki itu menimang Devandra dengan gerakan yang luwes. Selama hampir satu Minggu ini dia sudah terbiasa mengurus bayi tampan keturunannya itu.
Perlakuan Danendra itu tentu saja membuat Adeline kesal. Dia sudah lelah membangunkan Danendra, tetapi kalah dengan suara tangisan Devandra yang belum ada 10 detik.
"Oh, jadi sekarang kamu lebih sayang pada Devan dari pada aku, yah!" seru Adeline menuduh.
Danendra baru sadar jika ditempat itu juga ada sang istri. Laki-laki itu menyengir kuda ketika melihat sang istri menghadiahi dirinya dengan tatapan permusuhan.
"Mentang-mentang sudah jadi ayah, lupa sama istri sendiri."
Adeline berpura-pura merajuk agar suaminya itu tidak terlalu sibuk dengan peran barunya sampai melupakan segalanya yang juga memerlukan perhatian darinya. Bukannya tidak suka karena Danendra mengurus putranya dengan baik, tetapi Adeline juga ingin sang suami segera menyelesaikan perselisihan antara sang suami dengan ayah mertuanya.
"Aku kesal, Nendra. Sekarang kamu lebih banyak menghabiskan waktu dengan Devan dari pada aku," tutur Adeline dengan bibir mencebik.
__ADS_1
"Kamu cemburu sama anak?"