
Awalnya Malik sempat tersulut emosi setelah mendengar Danendra terus saja memaki dirinya. Hanya dengan melihat wajah saudaranya saja sudah membuat dia kesal, apa lagi laki-laki yang telah bergelar ayah itu dengan santai selalu menghina dan merendahkan harga diri Malik dan Rihanna. Rasa kesal dan jengkel itu bertambah berkali-kali lipat hingga rasanya ingin melayangkan bogem mentah ke wajah yang sialnya lebih tampan darinya itu.
"Sudahlah, Malik. Jangan terlalu emosian. Ingat, sekarang tanggung jawab kamu bertambah dengan kehamilan istrimu," pungkas Riani seraya mengelus lembut punggung sang putra.
"Dia ini menyebalkan sekali, Mi. Rasanya ingin kubuat dia babak belur!"
"Coba saja," tantang Danendra dengan ekspresi congkak.
"Malik, kau seperti tidak tahu saja. Nendra itu sudah terbiasa hidup dengan kekerasan sejak kecil. Kalau kamu mau membuatnya babak belur, kamu sendiri yang akan lebih dulu tidak berbentuk."
"Om Baim memang terbaik," timpal Danendra penuh percaya diri.
Cubitan maut kembali didapatkan Danendra dari jari lentik sang istri. Laki-laki yang sejak tadi sedang mengibarkan bendera perang kepada saudaranya itu kini diam tidak berkutik setelah Adeline membisikkan sesuatu di telinga.
"Seperti ini sosok mafia kejam itu, Pi? Sama istri saja takut!" Malik balik mencibir saudara sepupunya.
"Sudahlah. Jangan memperkeruh keadaan! Lebih baik kita temui Rihanna," lerai Nabila yang merasa jengah.
Kedua laki-laki itu asik bertengkar tidak tahu tempat. Padahal, mereka belum memastikan apakah Rihanna memang benar baik-baik saja. Tadi dokter hanya menjelaskan kondisi Rihanna dan menjawab pertanyaan absurt dari Malik saja.
Hati Nabila belum merasa lega sepenuhnya sebelum melihat sendiri bagaimana keadaan sang putri yang ternyata sedang mengandung. Adeline yang paham dengan kecemasan sang ibu benar-benar merasa bersalah karena ulah sang suami.
Mereka bergantian masuk ke ruangan untuk menemui Rihanna. Di urutan pertama Nabila dan Adeline lebih dulu masuk. Wanita paruh baya itu sudah tidak sabar ingin memastikan sendiri keadaan sang putri.
Ketika kedua wanita itu masuk, Rihanna sudah sadarkan diri. Awalnya dia menatap ke arah pintu saat mendengar suara pintu yang dibuka. Namun, wanita hamil itu melengos begitu melihat siapa yang datang.
__ADS_1
"Rihanna," panggil Nabila ketika sudah berada di dekat sang putri.
"Untuk apa mama ke sini bersamanya?" tanya Rihanna tanpa mau menatap kedua wanita yang kini berada di ruangan yang sama dengannya.
"Ri, dia kakakmu. Elin datang bersama mama karena mengkhawatirkan kamu," tutur Nabila dengan ekspresi tidak enak pada putri pertamanya.
"Aku baik-baik saja. Lebih baik kalian pulang!" usir Rihanna tanpa ingin menatap ibu serta kakaknya.
"Tidak apa-apa, Ma. Jangan pedulikan Elin. Yang terpenting sekarang kita sudah melihat keadaan Rihanna," timpal Adeline yang sebenarnya sedikit tersinggung dengan sikap sang adik.
"Tidak, Elin. Mama sudah tidak ingin hubungan kita semakin renggang. Walau bagaimanapun kalian lahir dari rahim mama."
"Aku tidak pernah meminta di lahirkan dari rahim yang sama dengan wanita yang tega merebut cinta pertamaku, Ma. Ini bukan kemauan aku!" bentak Rihanna sambil menatap sendu sang ibu.
"Rihanna, kamu boleh membenciku. Tapi jangan pernah bentak mama seperti itu! Kamu akan menyesal suatu saat nanti!" peringat Adeline yang kini memutuskan untuk melangkah keluar dari ruangan itu.
Saat berada di ambang pintu, Adeline kembali menoleh dengan bola mata berkaca-kaca. Dia sendiri juga sedang berusaha menerima kenyataan. Namun, adiknya justru menolak mentah-mentah niat baiknya tersebut.
"Cintai seseorang yang mencintai kamu dengan tulus. Jangan terlalu sibuk mengejar apa yang menjadi obsesimu hingga kamu melawan takdir, Rihanna. Jika suatu saat dia yang tulus menyerah, kamu tidak akan pernah dapat menemukan yang sepertinya lagi."
Adeline menarik pintu kaca di depannya lalu keluar dari sana setelah memberikan sedikit nasihat untuk sang adik. Bukan apa-apa, Adeline hanya tidak ingin sang adik menyesali perbuatannya saat ini yang tidak bersyukur atas apa yang sekarang menjadi miliknya.
Nabila memejamkan kelopak matanya yang sudah sedikit keriput saat merasakan sesak yang teramat dalam di benaknya. Entah sampai kapan kedua putrinya akan bersikap bagaikan air dan api. Yang dia inginkan di usia senja adalah hidup damai bersama kedua putri, menantu, serta cucu-cucu yang lucu. Namun, entah keinginan itu akan terjadi atau hanya sebatas angan-angan saja.
Wanita paruh baya itu mendekati sang putri lalu memeluknya dengan erat. Meskipun Rihanna sedikit berontak, tetapi Nabila tetap memaksa sang putri untuk sebentar saja Sudi menikmati pelukan eratnya sebagai pelepas rasa rindu.
__ADS_1
"Lepas, Ma! Rihanna tahu, mama lebih sayang padanya." Wanita hamil itu berontak hingga pelukannya terlepas.
"Tidak, Rihanna. Mama menyayangi kalian. Mama berharap dengan kehamilan kamu saat ini, kamu bisa lebih dewasa dalam bersikap. Sadarilah kesalahan kamu sebelum kamu menyesali segalanya, Sayang."
Rihanna bungkam, wanita hamil itu kembali membuang muka. Tangannya terangkat dengan jari telunjuk mengarah ke pintu ruangan yang mengisyaratkan bahwa Rihanna ingin sang ibu segera keluar dari sana.
"Keluar, Ma!" bentak Rihanna saat Nabila belum juga beranjak.
"Baiklah, jaga kesehatan kamu dan janin dalam rahim kamu, Ri. Sayangi dia, jangan sampai dia merasakan hal yang sama seperti saat kamu kecil dulu."
Diusir beberapa kali oleh sang putri akhirnya membuat Nabila memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu. Rasa cemas yang sejak tadi menyiksa kini berganti dengan kekecewaan. Ternyata sang putri belum juga dapat memaafkannya.
Langkah demi langkah Nabila disertai tetesan air mata. Sedih, sesak, kecewa, dan sesal bercampur di benaknya. Entah kenapa hati sang putri sekeras itu.
Kepergian sang ibu membuat Rihanna yang kini memandangnya pun menyunggingkan senyum kecut. Dia mengira sang ibu akan tetap bertahan untuk menjaganya dari pada pergi bersama Adeline.
"Jika bukan karena mama lebih memilih tinggal bersamanya, aku tidak mungkin menjalani pernikahan terpaksa ini, Ma. Sekarang, halanganku untuk memperjuangkan cintaku pada Kak Nendra semakin bertambah. Aku tidak tahu lagi, apa aku masih bisa berjuang sedangkan aku sama sekali tidak memiliki kelebihan apapun."
Pintu ruangan itu kembali terbuka, kini Malik dan Riani yang datang menemuinya. Rihanna buru-buru menyeka wajahnya yang sedikit basah oleh air mata. Tanpa sadar tadi dia menangisi kepergian sang ibu.
"Rihanna, terima kasih, yah! Kamu sudah mewujudkan keinginan mami untuk segera menimang cucu. Mami tidak menyangka kalau obat itu akan benar-benar membuat Malik topcer seperti ini," cerocos Riani yang seketika membuat Malik dan Rihanna membulatkan matanya.
"Jadi benar, ini semua terjadi karena ulah mami?" tanya Malik dengan nada meninggi.
__ADS_1