
Setelah mendapat Omelan dari sang ibu, Malik menghubungi Danendra untuk membatalkan rencana mereka yang akan berlibur ke Indonesia.
"Hallo." Suara tegas dari seseorang di seberang sana menyapa pendengaran Malik.
"Ndra, kamu dimana?" tanya Malik tanpa basa-basi.
"Kantor." Hening, tidak ada suara apapun selama beberapa detik. "Di mansion lah, kau pikir malam-malam begini aku mau ke mana?"
Mendengar jawaban sang sepupu, Malik mendengus kesal. "Tinggal jawab di mansion, kenapa harus muter-muter dulu?"
"Kau saja aneh. Ini sudah tengah malam, tidak mungkin aku berada di luar." Danendra memaki Malik dengan kata-kata yang tergolong masih wajar.
"Dasar, laki-laki tidak tahu malu. Selama ini kau lebih sering berada di luar untuk main ke club' atau bergaul dengan para anggotamu yang garang-garang itu." Malik balik memaki Danendra, dia bahkan mengungkit-ungkit kebiasaan Danendra dulu.
"Itu kan dulu, sebelum aku menikah!" sungut Danendra geram.
"Ya aku tidak tahu. Siapa yang bisa menjamin kau sudah tidak seperti dulu?" Malik menggoda Danendra untuk mencairkan suasana sebelum dia mengutarakan maksud sebenarnya.
__ADS_1
"Sial*n kau. Untuk apa telepon malam-malam? Mengganggu ritualku saja." Dengan tidak tahu malunya Danendra membeberkan aktivitasnya malam ini.
"Kau gila, yah? Main kuda-kudaan setiap malam."
"Aku ini laki-laki yang pandai menyenangkan hati istri. Sekarang saja sudah ronde ketiga," ujarnya tanpa filter.
Sementara itu, Adeline yang tengah berada di bawah kungkungan sang suami langsung mencubit perut suaminya karena kesal. Bagaimana tidak, suaminya itu seakan menggiring opini bahwa kegiatan yang sedang mereka lakukan adalah kemauannya sebagai seorang istri.
"Awh, sakit, Sayang," keluh Danendra.
"Dasar orang gila. Sudahlah, sana lanjutkan kegiatanmu. Nanti saja kau telepon balik." Malik segera mengakhiri panggilan karena tidak kuat lagi menghadapi kelakuan Danendra yang diluar normal.
"Pelan-pelan, Nendra!"
"Kalau pelan terus ya tidak berasa, Sayang."
"Kalau kamu tidak mau pelan-pelan ya sudah, aku tinggal tidur," ancam Adeline serius.
__ADS_1
"Jangan, dong! Kalau kamu tidur, berasa seperti aku seorang laki-laki brengs*k yang sedang memp*rkosa seorang gadis."
"Kamu kan memang laki-laki brengs*k," gumam Adeline lirih.
"Apa? Kamu bilang apa barusan?" Danendra melayani perdebatan istrinya tanpa mau menghentikan kegiatan yang candu baginya.
"Sudahlah. Aku malas berdebat denganmu. Lebih baik aku tidur." Adeline benar-benar memejamkan kedua matanya.
"Sayang, jangan tidur! Kalau kamu tidur, aku cabut, deh!"
"Cabut saja," tantang Adeline tanpa membuka matanya yang terpejam sempurna.
"Sayang," rengek Danendra dengan suara manja, tetapi Adeline tidak memperdulikan rengekan suaminya.
Berbeda dengan Adeline dan Danendra yang sedang memadu kasih sekaligus berdebat. Malik justru sedang kebingungan dengan sikap sang istri yang tiba-tiba berubah setelah berbincang dengan sang ayah. Wanitanya itu selalu diam ketika dia mengajaknya bicara, padahal Malik tidak merasa memiliki salah apapun selain batalnya rencana ke Indonesia yang memang belum diketahui oleh Rihanna.
Malik memandang punggung sang istri yang tidur membelakanginya, "Sebenarnya ada apa, sih, Kay? Kenapa kamu murung setelah ikut dengan papi tadi? Apakah ada ucapan papi yang melukai hati kamu?"
__ADS_1
"Papa, Rihanna rindu. Kenapa papa tinggalin Rihanna, pa?" Suara lirih Rihanna terdengar pilu, Malik bergegas turun dari ranjang lalu berjalan cepat ke sisi lain ranjang untuk memeriksa sang istri. Namun, kedua mata Rihanna masih terpejam sempurna.
"Kamu merindukannya sampai memimpikan papa, Kay. Maafkan aku yang tidak memiliki kuasa untuk membebaskan papa," gumam Malik penuh sesal karena merasa tidak berguna sebagai suami.