Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Hanya untuk meminta


__ADS_3

Ketika Adeline dan Danendra sudah hampir menyatukan kedua bibir mereka, tiba-tiba dering ponsel mengganggu aktifitas yang baru akan mereka mulai. Danendra yang tidak ingin memperdulikan panggilan yang masuk ke ponselnya berniat kembali melanjutkan kegiatannya. 


"Coba lihat dulu, siapa tahu penting." 


"Biarkan saja, Sayang. Aku sedang ingin menikmati waktu berdua denganmu," jawab Danendra yang enggan menunda kesenangan. 


Tidak lama dering ponsel itu berhenti. Mereka kembali akan melanjutkan permainan mereka. Namun, lagi-lagi ponsel di saku celana Danendra berdering. 


"Angkat dulu, Nendra. Mungkin penting," ujar Adeline yang sedikit menjauhkan wajahnya dari sang suami. 


Laki-laki itu mendengus kesal, tapi tetap menuruti perintah sang istri. Tangan kanannya merogoh ponsel di saku lalu memeriksa siapakah orang yang sudah berani mengganggu kesenangannya. 


"Siapa, Nendra?" tanya Adeline penasaran. 


"Papamu," jawab Danendra singkat sambil menunjukkan layar ponsel yang masih menyala. 


"Ada apa papa sampai telepon kamu?" tanya Adeline heran. 


"Aku enggak tahu, Sayang, kan belum aku angkat." 


"Ya udah, cepet angkat!" perintah Adeline karena penasaran apa yang akan di bicarakan oleh ayahnya itu. 


"Iya, ini aku angkat." Danendra menekan ikon gagang telepon yang seketika membuat panggilan terhubung. 


"Hallo," sapa Danendra dengan singkat. 


"Nendra, boleh papa bicara sebentar?" tanya Antonio yang tidak ingin basa-basi. 


"Boleh." 


"Elin di sana?" tanya Antonio yang samar-samar mendengar suara anak angkatnya.


"Tentu saja, dia istriku. Kalau tidak bersamaku, mau dengan siapa lagi." Danendra menyempatkan diri mengecup pipi Adeline. "Mau bertanya apa? Tentang kabar istriku?" tanya Danendra menohok. 


Selama ini laki-laki yang merupakan mertuanya itu sama sekali tidak pernah menghubunginya untuk menanyakan kabar Adeline. Dia hanya akan datang atau menghubunginya jika ingin meminta pertolongan saja. 


"Ah, iya, bagaimana kabar putriku?" tanyanya dengan gugup. 


"Istriku baik-baik saja. Dia juga sedang mengandung penerusku," jawab Danendra singkat. 

__ADS_1


"Elin hamil?" tanyanya dengan nada terkejut. 


"Yah, istriku sedang hamil. Untuk itu aku memang membatasi aktifitasnya," jelas Danendra. 


"Boleh aku bicara dengannya?" tanya Antonio ragu, pria itu takut jika sang menantu akan menolaknya. 


"Hallo, Pa," sapa Adeline dengan cepat. 


Sejak tadi ponsel Danendra memang dalam keadaan loud speaker jadi Adeline dapat mendengar setiap pembicaraan mereka. 


"Elin, bagaimana kabar kamu, Nak?" tanya pria itu. 


"Aku baik-baik saja, Pa. Nendra menjagaku dengan sangat baik. Papa apa kabar?" 


"Papa sedang tidak baik, Nak." 


"Papa sakit?" tanya Adeline khawatir. 


"Bukan papa, tapi perusahaan. Ada seseorang yang mempermainkan saham papa," jelasnya.


"Gimana bisa, Pa?" tanya Adeline heran. 


"Papa juga tidak tahu, untuk itu papa menghubungi Nendra untuk meminta bantuan darinya," ujarnya tanpa rasa malu. 


"Ah, ya sudah. Papa bicara sendiri saja sama Nendra, yah!" seru Adeline yang merasa tidak memiliki keahlian di bidang itu. 


"Cobalah kamu yang bujuk suami kamu, Elin. Papa malu selalu meminta pertolongan darinya," pinta Antonio memelas. 


"Baiklah, Elin akan coba bicara sama Nendra. Semoga segera bisa mendapatkan jalan keluar, Pa. Elin tidak ingin papa jatuh lagi, kerja keras papa selama ini akan sia-sia kalau itu sampai terjadi." 


"Terima kasih, Elin. Oh iya, jaga baik-baik cucu papa. Dia akan menjadi orang hebat suatu saat nanti," pungkasnya sebelum panggilan berakhir. 


Setelah panggilan itu berakhir, Antonio kembali mengambil berkas yang berisi tentang data saham perusahaannya. Laki-laki itu masih saja heran karena bisa lalai dalam mengurus harta miliknya ini. Dia tidak ingin jika harus mengalami kebangkrutan untuk kedua kalinya. 


Sementara itu, dari balik pintu ada seseorang yang diam-diam mencuri dengar pembicaraan Antonio dan Adeline. Seseorang itu mengepalkan kedua tangannya saat mengetahui bahwa wanita yang begitu dia benci sedang mengandung benih laki-laki incarannya. 


"Aku tidak boleh tinggal diam! Aku harus membuat rencana untuk merebut Nendra secepatnya." 


Ya orang itu adalah Grasiella yang awalnya berniat menemui sang ayah untuk meminta bantuan agar bisa terlepas dari sang suami. Namun, setelah mendengar kabar itu, dia mengurungkan niatnya karena tiba-tiba moodnya hancur berantakan. 

__ADS_1


Wanita itu berjalan kembali ke kamarnya dengan bantuan kedua tongkat yang menjadi penyangga tubuhnya yang lemah. Begitu sampai di kamarnya, Grasiella buru-buru mencari sesuatu yang dapat dia jadikan sebagai alat untuk menghancurkan Adeline. 


Grasiella tersenyum licik saat sudah berhasil menemukan sesuatu yang akan menjadi senjatanya. "Aku harus mengumpulkan bukti lain agar rencanaku ini berjalan sempurna," gumamnya sambil berusaha berpikir keras. 


Beberapa saat kemudia tiba-tiba sebuah rencana melintas di otak liciknya. "Aku harus berpura-pura hamil, hasil pergulatanku dengan Nendra. Lagi pula untuk apa aku memikirkan nama baik? Nama baikku akan kembali jika aku mendapatkan suami seorang penguasa seperti Nendra," ucapnya di sertai seringai jahat. 


Keesokan harinya, Grasiella keluar dari kediaman Antonio setelah membuat janji temu dengan seseorang di suatu tempat. 


Tidak ingin rencananya di ketahui oleh orang lain, Grasiella memutuskan untuk pergi dengan taksi online dari pada di antar oleh sopir pribadi. 


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, Grasiella turun di depan taman kota. Dia berjalan dengan mengandalkan tongkatnya menuju salah satu sudut taman saat melihat seseorang yang akan di temui olehnya. 


"Sorry lama," ucap Grasiella kepada seseorang yang berdiri memunggunginya. 


"It's okey. Gue juga baru sampai," jawab seseorang yang menggunakan pakaian serba hitam dan topi serta masker yang menutupi wajahnya. 


"Lo udah bawa barangnya?" tanya Grasiella tanpa basa-basi. 


"Semua beres, udah gue siapin di kotak di sebelah Lo itu," jelasnya yang hanya sedikit melirik ke belakang. 


"Bagus! Gue udah transfer ke akun Lo." 


"Siap! Kalau gitu gue pergi dulu." 


Seseorang misterius itu pergi meninggalkan Grasiella di taman tersebut. Setelah kepergian orang itu, Grasiella membuka kotak yang berada di sampingnya. 


Tangan lentik itu meraih sebuah benda berukuran kecil dan segera memasukkan beberapa benda yang dia beli lewat seseorang misterius itu ke dalam tas. 


"Gue bakal bikin keributan seakan-akan Richard menolak kehamilan gue, dan dia sendiri yang membuat perhitungan sama Nendra karena udah hamilin gue." gumamnya seraya tertawa kecil. 


"Dan buat Lo, Elin. Gue bakal bikin Lo kehilangan anak si*lan itu! Gue enggak bakal biarin elo bahagia di atas penderita gue." 


Grasiella mengambil ponselnya, lalu segera menghubungi sang suami untuk meminta bertemu. Namun, berkali-kali dia menghubungi laki-laki itu, tetapi belum juga ada jawaban. 


"Satu kali lagi enggak di jawab, gue bakal b*nuh istri Lo, Richard." 


Grasiella kembali menghubungi Richard untuk terakhir kalinya. Meski membutuhkan waktu yang sedikit lama, tetapi kali ini Richard menerima panggilannya. 


"Ada apa? Kau mengganggu saja." Richard membentak Grasiella karena mengganggunya di pagi hari seperti ini.

__ADS_1


"Kau nikm*t sekali, Sayang. Ah," racau laki-laki itu tanpa memperdulikan siapa yang sedang mendengarkan suaranya. 


"Laki-laki tidak tahu diri, baj*ngan tengik!" umpat Grasiella yang murka karena mendengar racauan antar sang suami dengan madu barunya. 


__ADS_2