
Wanita paruh baya yang diketahui adalah sahabat baik mertuanya itu memeluk Adeline dengan sangat erat. Istri sah Danendra Alefosio itu bahkan sampai merasa bingung dengan sikap dari wanita yang baru ditemui olehnya ini. Namun, kenyamanan yang muncul ketika tubuhnya dipeluk oleh orang asing itu, membuat Adeline tetap membiarkan wanita itu mendekapnya.
"Bil, jangan lama-lama peluknya! Kasihan menantuku, dia sampai susah bergerak," lerai Silvia takut jika menantunya merasa tidak nyaman.
"Ah, iya, maaf, Elin. Tante bikin kamu risih, yah?" tanya Nabila setelah melepaskan pelukan.
"Enggak apa-apa, Tante. Elin juga seneng, kok!"
"Sudah! Ngobrolnya sambil duduk. Aku lelah jika berdiri terus," keluh Silvia disertai candaan.
Ketiga wanita cantik itu menghabiskan waktu bersama sambil menikmati cemilan serta minuman yang mereka pesan di cafe tersebut. Mereka banyak sekali mengobrol hingga melupakan waktu. Kegembiraan yang ketiga wanita itu rasakan membuat mereka merasa tidak ada jarak apapun antara satu sama lain. Hingga akhirnya sebuah jawaban membuat Nabila terdiam dengan tatapan kosong.
"Tante Nabila kenal sama papa saya?" tanya Adeline ketika melihat respon dari Nabila yang langsung diam saja.
Silvia menyenggol pelan lengan Nabila saat sahabatnya itu masih saja diam tidak menjawab pertanyaan dari Adeline. Wanita itu merasa sang sahabat seperti sedang teringat dengan sesuatu.
"Bila!" seru Silvia yang kesal karena sahabatnya itu masih saja mematung.
Seruan Silvia membuat Nabila mengerjap karena terkejut. Wanita paruh baya itu menatap Silvia dan Adeline bergantian lalu memaksa bibirnya untuk tersenyum.
"Kenapa, Sil?" tanya Nabila sedikit linglung.
"Menantuku tanya, kamu kenal dengan papanya?" jelas Silvia dengan raut wajah penuh curiga.
__ADS_1
"Ah, tidak. Hanya seperti pernah mendengar namanya saja," elak Nabila dengan raut wajah tertekan.
"Oh, mungkin Tante pernah dengar di berita tv atau majalah. Beberapa tahun yang lalu papa sering wara-wiri di layar kaca," tutur Adeline yang sama sekali tidak curiga dengan gerak-gerik sahabat mertuanya itu.
"Em, mungkin iya, Elin. Tapi tante tidak yakin," gumam Nabila lirih.
Mereka kembali melanjutkan perbincangan asik, Nabila juga sudah bisa bersikap seperti biasanya. Meski berkali-kali dia juga menatap Adeline dengan raut wajah yang berbeda.
"Ma, Tante, Elin boleh izin ke toilet sebentar?" pamit Adeline ketika merasakan sesuatu yang harus segera dia tuntaskan.
"Boleh, Sayang. Perlu mama antar?" tawar Silvia yang sebenarnya khawatir jika menantunya berjalan sendirian.
"Tidak perlu, Ma. Elin cuma sebentar," tolak Adeline karena tidak ingin mengganggu kebersamaan sang mertua dengan sahabatnya.
Adeline akhirnya beranjak dan bergegas ke toilet di pusat perbelanjaan tersebut. Wanita itu berjalan tanpa memperhatikan sekitar dan langsung masuk ke dalam toilet. Dia sama sekali tidak merasakan bahwa ada seseorang yang mengikutinya di belakang.
Cukup lama Adeline berada di dalam toilet hingga dia selesai menuntaskan hajatnya. Saat dia keluar dia di kejutkan dengan adanya seseorang yang menunggunya di luar toilet tersebut.
"Hai, Kak, apa kabar?" sapanya dengan seringai licik.
"Ella!" pekik Adeline terkejut.
Sementara itu, di sisi lain seseorang yang tengah memperhatikan kedua wanita di depan area toilet itu sedang menghubungi seseorang yang mengutusnya untuk mengawasi kegiatan salah satu dari wanita tersebut.
__ADS_1
"Tuan, Ada seseorang yang berusaha menemui Nona," lapornya pada sang atasan.
"Siapa?"
"Mantan Adiknya, Tuan," jawabnya dengan jelas.
"Biarkan saja! Yang penting kau selalu mengawasinya," jelas sang atasan.
"Baik, Tuan."
Kembali pada kedua kakak beradik yang sudah cukup lama tidak bertemu itu, mereka saling pandang dengan sorot mata berbeda-beda. Sang adik yang tiba-tiba memasang mimik wajah sedih, sementara sang kakak yang pura-pura tidak peduli.
"Kakak tidak merindukan aku?" tanyanya dengan nada rendah.
"Tidak perlu basa-basi. Untuk apa kamu menemuiku?" tanya balik Adeline yang teringat dengan ucapan sang suami.
"Kamu tidak kasihan sama aku, Kak? Aku sekarang tidak bisa berjalan karena ulah suamimu," ucapnya dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Apa maksud kamu?" tanya Adeline dengan nada meninggi.
"Jika kamu ingin tahu, silahkan lihat isi rekaman dalam file ini!" seru Grasiella memberikan sesuatu untuk sang kakak.
Adeline hanya melirik benda pemberian sang adik tanpa berniat mengambilnya. "Kamu pikir aku akan percaya dengan ocehan kamu sekarang? Bagiku sekarang mulutmu itu seperti sampah."
__ADS_1