Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Terbongkarnya Rahasia


__ADS_3

Seluruh keluarga menatap Adeline dengan sorot kemarahan kecuali Zico, pemuda yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah itu sama sekali tidak percaya bahwa Kakak sulungnya tega melakukan perbuatan hina itu kepada adik yang selama ini di sayang olehnya. 


Sementara itu, sorot mata Adeline membingkai wajah sang adik yang kini berubah drastis. Padahal perempuan itu tadi terlihat begitu menikmati kegiatannya. Namun, sekarang justru bertingkah seolah-olah dia memang korban kejahatan. 


Danendra, pria itu masih diam memperhatikan keadaan serta situasi yang saat ini terjadi. Dia masih duduk dengan tenang di samping sang istri yang terlihat sedang memendam amarah yang besar. Berondong jagung itu memang sengaja membiarkan dan ingin melihat bagaimana reaksi sang istri yang selama ini selalu membela keluarganya, untuk menghadapi perkara ini. 


"Kakak jangan mengelak lagi! Jika bukan kakak yang menjebakku, lalu untuk apa kakak tiba-tiba berada di tempat itu? Bukankah ini mencurigakan?" tanya Grasiella dengan menggebu-gebu. 


Adeline menggeleng tidak percaya. "Untuk apa kakak melakukan hal itu, Ella? Selama ini bahkan kakak selalu melindungi kamu dari apapun," bantah Adeline yang kini menatap kedua orang tuanya bergantian. 


"Tentu saja karena kakak dendam padaku!" tuduh Grasiella tanpa bukti. 


"Dendam? Istriku memiliki dendam apa padamu, Ella?" Akhirnya Danendra ikut menimpali ketika melihat sang istri sepertinya sudah sangat frustasi. 


Bagaimana tidak frustasi jika orang yang selama ini dia sayangi justru menuduhnya melakukan perbuatan keji dan hina itu tanpa alasan dan bukti apapun. Wanita dewasa itu juga pastinya masih syok atas apa yang baru saja dia saksikan di dalam kamar hotel itu. 


"Kakak pasti tidak terima karena Kak Ichad lebih memilih menikahiku dari pada kakak," jelas Grasiella yang tanpa sadar justru membuka rahasianya sendiri.


Adeline terkesiap ketika mendengar ucapan Grasiella barusan. Dia tidak menyangka bahwa sang adik ternyata tahu tentang hubungannya dengan Richard, sang mantan kekasih. 


"Ternyata kamu tahu tentang hubunganku dengan Rich dulu, Ella? Aku pikir kamu sama sekali tidak tahu, makanya kamu bersedia menikah dengannya. Kakak tidak menyangka jika kamu sekejam ini," lirih Adeline seraya menggeleng pelan, bukannya dia masih mencintai pria pengkhianat itu tetapi Adeline menyesalkan tindakan Grasiella yang sudah sangat keterlaluan. 


Grasiella diam tidak bergeming karena merasa sudah salah ucap. Tidak menemukan jawaban apapun untuk membalas perkataan sang kakak, akhirnya dia memutuskan untuk melanjutkan drama tangisannya. 


"Jadi menurut kamu, apakah istriku masih belum bisa move on dari kumbang girang itu?" tanya Danendra menyela sambil menelisik raut wajah Grasiella yang kini tampak tegang. 

__ADS_1


"Kamu jangan ikut campur!" bentak Grasiella yang sudah ketakutan. 


"Asal kamu tahu, kumbang girang itu memilihmu karena kau menawarkan sesuatu yang tidak di berikan oleh Adel padanya. Hal yang sama dengan apa yang kau tawarkan padaku saat itu," ungkap Danendra yang mulai mengusik rahasia Grasiella selama ini. 


"Maksud kamu apa?" tanya Grasiella dengan ekspresi takut. 


"Mungkin rekaman ini akan menjelaskan agar Kau ingat apa yang sudah kau tawarkan padaku," ucap Danendra yang tanpa membuang waktu langsung memutar rekaman suara pada malam hari itu. 


Grasiella yang semakin panik saat rekaman suara itu di putar dan di dengarkan oleh seluruh keluarganya. Perempuan itu juga merasa malu karena aibnya satu persatu dibongkar oleh suami berondong Adeline. 


Ketakutan jika seluruh keluarga akan percaya pada rekaman suara itu, Grasiella kini beralih dari dekapan sang ayah menuju pelukan ibunya. Wanita itu menatap sang ibu penuh harap, agar wanita yang sudah melahirkannya itu berada di pihaknya. 


"Ella, kamu juga menggoda suami kakak?" tanya Adeline yang semakin merasa kecewa atas perilaku sang adik. 


"Mama percaya pada Ella, 'kan? Selama ini Ella bahkan selalu berada di rumah, berbeda dengan Kakak yang terjun secara langsung ke bisnis gelap itu. Besar kemungkinan, Kakak juga sudah beberapa kali menjual kemolekannya," ujarnya berusaha memprovokasi. 


"Berani sekali kau memfitnah istriku, kupu-kupu kesepian. Yang mendapatkan kesuciannya adalah aku sendiri! Atas dasar apa kau merendahkan harga diri istriku!" bentak Danendra tidak terima. 


"Sudah! Jangan di teruskan lagi. Mama tidak tahu permasalahan kalian yang sebenarnya, tetapi jujur mama tidak menyangka kamu akan sejahat ini pada Ella, Elin!" seru Monica yang tentunya membela Grasiella. 


"Mama lebih percaya pada Ella, Ma?" tanya Adeline dengan mata yang mengembun. 


"Tentu saja! Ella anakku." 


"Apakah Elin bukan anak mama?" tanya Adeline menuntut. 

__ADS_1


"Dengan kamu melakukan ini, itu sudah membuktikan bahwa kamu memang bukan darah dagingku, Elin. Aku menyesal karena telah menyetujui permintaan ibuku, dulu." Antonio yang terprovokasi oleh ucapan dan tangisan Grasiella, tanpa sadar mengungkit masa lalu. 


"Maksud papa apa? Elin bukan anak kandung papa?" tanyanya lirih bersamaan dengan luruhnya air mata yang sejak tadi dia tahan. 


Danendra dengan sigap mendekap sang istri yang saat ini dalam keadaan syok berat. Pengakuan tanpa sengaja dari sang ayah tentu saja bagaikan pukulan untuk wanita dewasa itu. 


"Kau bukan anak kami, Elin. Ibu mertuaku dulu yang telah mengambilmu dari sebuah panti asuhan," tutur Monica yang akhirnya mau tidak mau harus membuka rahasia tersebut. 


"Mama bercanda!" seru Adeline yang belum bisa menerima kenyataan. 


"Kau mau percaya atau tidak, kami sudah tidak peduli, Elin. Ternyata kebaikan kami selama ini malah kamu balas dengan kejahatan. Aku sebagai ibu kandungnya tidak terima atas nasib Grasiella yang kamu rusak!" Monica berucap dengan berapi-api karena merasa Adeline membalas air susunya dengan air tuba. 


Adeline benar-benar syok atas kejadian mengejutkan hari ini. Bukan hanya di khianati oleh sang adik, nyatanya dia juga mendapatkan kenyataan pahit bahwa keluarga yang selama ini dia sayangi bukanlah keluarga kandungnya.


"Ayo, Sayang. Kita pergi dari sini," ucap Danendra yang membantu sang istri untuk berdiri. 


Pria berusia dua puluh delapan tahun itu bergegas ingin membawa sang istri dari tempat terkutuk itu. Sudah cukup baginya menyaksikan sang istri mendapatkan rasa sakit sedalam ini. 


"Saya akan membawa Adel pergi dari sini, dan untuk kedepannya jangan pernah temui dia lagi. Sebentar lagi anak buahku akan membawa semua bukti serta saksi atas kebejatan anak kandung kalian ini. Suatu saat, kalian akan menyesal karena selalu memperlakukan istriku seperti sampah!" seru Danendra sebelum membawa Adeline pergi dari tempat itu. 


"Kakak! Tunggu." Zico mengejar langkah sepasang suami istri itu yang sudah keluar dari rumah Antonio. 


"Kau juga mau menyudutkan istriku?" tuduh Danendra yang sudah sangat muak berada di tempat tersebut. 


"Tidak, Kak Nendra, aku percaya Kak Elin tidak mungkin melakukan hal itu. Aku sendiri yang akan membuat perhitungan dengan kembaranku itu," ujar Zico yang masih memihak kepada Adeline. 

__ADS_1


__ADS_2