
Grasiella yang ketakutan karena keburukannya terbongkar memutuskan untuk bersembunyi di sebuah hotel. Dia tidak berani kembali ke kediamannya yang tentu saja akan membuat dia diamuk oleh sang ayah.
"Sial, ternyata yang menikmati tubuhku bukan Nendra. Laki-laki itu licik sekali menjebakku dengan beberapa pria sekaligus." Grasiella merutuki kecerobohannya yang berdampak sangat buruk di kehidupannya.
Sementara itu, Adeline yang tengah berselancar di sosial medianya di kejutkan dengan berita viral yang menyeret nama baik keluarganya. Wanita hamil itu menggeleng tidak percaya saat melihat Vidio yang tersebar luas di laman internet itu.
Adeline bukan tidak percaya bahwa sang adik melakukan hal tersebut. Dia hanya tidak menyangka karena scandal itu pasti akan memperburuk citra keluarga mereka.
Saat wanita hamil itu tengah sibuk dengan ponselnya, Danendra masuk ke kamar lalu segera menghampiri sang istri. Laki-laki itu mengecup lembut puncak kepala istrinya.
"Sayang, aku pergi dulu, yah," pamit Danendra yang masih memiliki urusan lain.
Adeline mendongak dan menatap sang suami begitu lama. "Kamu mau kemana? Mencari kesenangan di luar sana?" tanya Adeline menuduh.
Danendra terkekeh saat mendengar tuduhan sang istri. "Kamu kalau cemburu jangan menuduh aneh-aneh, Sayang. Aku hanya mencintai kalian," ujarnya seraya mengelus perut sang istri.
"Hem,"
"Kamu sedang melihat apa?" tanya Danendra penasaran.
"Ini, kamu jangan pura-pura tidak tahu, Nendra. Aku yakin kamu juga sudah tahu tentang scandal yang menyeret Grasiella."
"Kamu sudah tahu tentang itu, yah! Jangan terlalu di pikirkan. Semua pasti akan baik-baik saja," ujar Danendra seraya membelai surai hitam sang istri.
"Kamu kalau keluar jangan pulang tengah malam!" seru Adeline mengingatkan.
"Iya, tidak pulang tengah malam. Paling aku pulang menjelang pagi," jawabnya dengan bergurau.
"Tidak usah pulang sekalian!" teriak Adeline dengan keras karena sang suami sudah keluar dari kamar.
__ADS_1
"Dasar, suami berondong yang banyak tingkah!" cibir Adeline menggeleng pelan.
Setelah kepergian sang suami, Adeline yang merasa kesepian tiba-tiba terpikir kembali dengan penjelasan dari Nabila. Wanita hamil itu turun dari ranjang lalu keluar dari kamarnya. Dia berjalan menuju kamar tamu yang kini dihuni oleh Nabila.
Pintu kamar itu dalam keadaan sedikit terbuka. Adeline memutuskan untuk berdiri di samping pintu saat mendengar ada suara dua wanita yang tengah berbincang.
"Bagaimana, Sil? Apakah aku harus mengungkapkan identitas ayah kandung Adeline yang sebenarnya? Aku takut anakku tidak akan percaya dan menuduhku berbohong."
"Bila, apapun hasilnya. Lebih baik kamu bicarakan baik-baik dengan Adeline. Dia itu wanita pintar. Jika kamu menjelaskannya dengan baik, dia pasti bisa menimang keputusan dan memilah mana yang benar dan mana yang tidak. Aku yakin, kasih sayang kamu akan meluluhkan hati Adeline suatu saat nanti. Yang terpenting, kamu mau jujur padanya," ujar Silvia menasehati.
"Dari informasi yang aku dapatkan dari Nendra, Adeline sangat menyayangi ayahnya, Sil. Aku tidak yakin dia akan lebih mempercayai aku dari pada ayahnya. Elin tidak mungkin percaya jika ayahnya adalah pria yang memper*osa aku pada saat itu," ucap Nabila yang masih ragu untuk jujur pada Adeline.
Adeline memaku dengan ekspresi wajah terkejut. Kedua matanya berkaca-kaca saat mengetahui bahwa dia adalah seorang anak hasil pem*rkosaan. Terlebih lagi seseorang yang memerk*sa ibu kandungnya adalah ayah yang membesarkannya selama ini. Sungguh seperti kebetulan yang disengaja.
Wanita hamil itu membuka pintu kamar tamu saat sudah berhasil menguasai dirinya dari rasa terkejut itu. Begitu pintu terbuka, kedua wanita yang berada di dalam juga ikut terkejut. Adeline melangkah maju dengan langkah tertatih. Kedua mata itu mendung seperti awan hitam yang siap meluncurkan air hujan.
"Apa yang anda katakan barusan apakah itu adalah kebenaran, Ma-ma?" tanya Adeline dengan suara sangat lirih.
Nabila semakin dibuat terkejut saat mendengar Adeline memanggilnya dengan sebutan mama. Dia sangat terharu karena akhirnya sang anak mau memanggilnya dengan sebutan yang begitu dia dambakan.
"Elin, mama yakin, tidak ada sedikitpun kebohongan dari semua yang terucap dari bibir mama kandung kamu ini. Mama yang menjadi jaminannya jika Nabila benar-benar membohongi kamu!"
"Mama, bisa tinggalkan kami berdua sebentar?" tanya Adeline beralih pada ibu mertuanya.
"Baiklah. Mama keluar dulu," ujar Silvia seraya menepuk lembut pundak sang menantu.
Begitu Silvia sudah keluar dan menutup pintu kamar itu, Adeline berjalan semakin cepat menghampiri Nabila. Wanita paruh baya itu sempat takut jika putrinya akan menuduhnya berbohong. Namun, yang terjadi berikutnya membuat dia begitu terkejut. Adeline bersimpuh, wanita yang tengah mengandung itu menangis di bawah, bahkan beberapa kali mencium kakinya.
"Elin, jangan seperti ini, Nak!" seru Nabila seraya ikut meluruh ke lantai.
__ADS_1
Wanita itu memeluk Adeline dengan erat. Berusaha menghalang-halangi niat Adeline yang tetap ingin bersimpuh di bawahnya.
"Maaf, mama. Maafin Elin. Elin sudah bersalah kepada mama. Maafin Elin," ujar Adeline terus berulang-ulang.
"Stop, Elin. Kamu tidak salah apapun. Mama yang salah karena tidak bisa menjaga kamu dengan baik."
"Mama tidak salah. Semua ini salah papa! Dia yang sudah tega menodai mama!" seru Adeline yang kini memiliki rasa dendam kepada ayahnya sendiri.
"Elin, mama tidak memiliki dendam kepada siapapun. Jadi tolong, kamu jangan pernah membenci papamu sendiri," mohon Nabila kepada sang putri.
"Ceritakan pada Elin, Ma. Bagaimana bisa papa menodai mama waktu itu?" tanya Adeline menuntut.
Nabila memejamkan matanya saat kembali harus mengingat kejadian tragis itu. Namun, demi kepercayaan dari Adeline yang ingin dia dapatkan sepenuhnya, Nabila memaksa diri untuk tetap kuat.
"Saat itu, mama sedang berjalan sendirian di tempat yang sedikit gelap. Pada saat itu mama mengenakan kemeja putih serta rok panjang berwarna senada. Saat itu, tiba-tiba hujan turun membuat pakaian mama basah. Pada saat yang bersamaan dari arah yang berlawanan seseorang berjalan sempoyongan." Nabila menarik napas dalam sebelum kembali melanjutkan ceritanya.
"Mama kira dia sakit dan membutuhkan bantuan, mama berinisiatif untuk membantunya, sayangnya ternyata mama salah. Pria yang mama tolong dalam keadaan mabuk. Dia yang mungkin dalam keadaan tidak sadar dan tergoda karena pakaian mama yang menerawang justru melakukan perbuatan as*sila kepada mama."
"Mama sempat berontak, tetapi tenaga mama tidak mampu untuk melawan. Pada malam itu, papa kamu merenggut apa yang selama ini mama jaga. Dia bahkan meninggalkan mama dalam keadaan hampir tanpa busana di sebuah tempat sepi. Beberapa bulan kemudian, mama baru tahu kalau mama hamil akibat dari perbuatan papa kamu."
"Mama tidak mencoba meminta pertanggungjawaban dari papa?" tanya Adeline menyela.
"Mama sempat mencari keberadaan papamu, tetapi saat mama menemukannya, ternyata dia sudah berkeluarga. Mama tidak mungkin merusak rumah tangga orang, Sayang. Maaf, maaf karena kelemahan mama kamu harus menderita," jelas Nabila dengan rasa bersalah yang amat besar kepada Adeline.
"Kalau begitu, papa yang harus membayar segala penderitaan kita selama ini, Ma."
Seolah rasa sayang kepada sang ayah hilang seketika. Adeline kini justru membenci ayahnya sendiri karena sudah berbuat begitu kejam kepada ibu kandungnya.
"Tidak ada kata maaf untuk laki-laki yang berani melec*hkan seorang perempuan dan merusak kehidupan korbannya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Elin janji, Ma. Elin akan membayar rasa sakit yang mama derita selama ini."
__ADS_1