Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Alasan


__ADS_3

Drama perdebatan antara sepasang orang tua baru itu tampaknya semakin sengit. Danendra merasa istrinya itu aneh karena cemburu kepada darah dagingnya sendiri. Sedangkan Adeline tetap saja menyalahkan sang suami yang enggan membagi waktu selain mengurus bayi tampan tersebut. 


Devandra sudah kembali terlelap setelah mendapat asupan ASI eksklusif yang diberikan oleh Adeline. 


"Terserahlah, aku mau mandi." 


Inilah yang ditunggu-tunggu Adeline, wanita itu sebenarnya tidak mempermasalahkan jika suaminya itu begitu menikmati peran barunya sebagai seorang ayah. Namun, dia tidak ingin laki-laki itu hanya fokus pada satu hal saja dan melupakan orang-orang disekitar bahkan lupa mengurus diri sendiri. 


Adeline tersenyum puas ketika sang suami sudah masuk ke kamar mandi. Suara gemericik air yang terdengar membuat wanita itu merasa lega. Dia bertekad setelah ini akan meminta suaminya untuk segera menyelesaikan perselisihan dengan ayahnya. 


Tidak lama kemudian Danendra keluar hanya menggunakan selembar handuk yang menutupi area sensitifnya. Wajahnya terlihat lebih segar dengan rambut yang masih basah.


"Nah, gitu kan jadi makin tampan. Mentang-mentang jadi ayah baru penampilan langsung kusut. Kamu pikir kalau relasi bisnis kamu melihat penampilan kamu tadi mereka tidak akan ilfil." Adeline menyindir sang suami. 


"Mereka itu butuhnya uangku, bukan penampilanku. Mau aku bergaya seperti gembel pun jika banyak uang, mereka tidak segan untuk menjilatku," jawab Danendra seraya mengambil satu setel baju. 


Melihat sang suami hanya mengambil celana pendek serta kaos pendek Adeline langsung bangkit dan segera mendekati sang suami. Wanita itu melingkarkan tangannya di pinggang Danendra yang hanya terbungkus handuk saja. 


"Sayang, pakailah pakaian yang lebih sopan. Temui papa, selesaikan permasalahan antara kalian." 


Danendra diam tidak menjawab. Hal itu tentu membuat Adeline menarik pelan sang suami hingga menghadap ke arahnya. Kini tangan wanita dewasa itu menangkup wajah tampan suaminya. 


"Kamu takut, Sayang?" tanya Adeline. 


Danendra menggeleng pelan dengan sorot mata sayu. Adeline dengan cepat mengecup bibir suaminya. 


"Kalau menurutku lebih cepat kamu meminta maaf, itu lebih baik, Sayang. Papa pasti memaafkan kamu," tutur Adeline dengan lemah lembut. 


"Baiklah, aku akan menemui papa sekarang. Titip Devan, yah." 


Akhirnya Danendra mengambil pakaian lain dengan yang lebih sopan ketika bertemu dengan orang tuanya. Laki-laki itu segera keluar dari kamar lalu menuju ruang kerja sang ayah. 


Beberapa kali mengetuk pintu tetapi tidak ada jawaban, Danendra memutuskan untuk mencoba membuka pintu ruangan tersebut. Sepi, tidak ada orang di sana. 

__ADS_1


Yakin bahwa sang ayah tidak berada di tempat itu, Danendra kembali menutup pintu. Dia dikejutkan dengan sebuah tangan yang memegang bahunya. Reflek dia memutar tubuhnya, ternyata sang ibu yang sudah mengejutkannya. 


"Mama, bikin kaget saja," ujar Danendra. 


"Kamu mau cari papa?" tanya Silvia. 


"Iya, Ma. Papa dimana?" tanya balik Danendra. 


"Papa setiap hari menunggu kamu di tempat biasanya, Sayang." 


Danendra mengangguk paham. Laki-laki itu bergegas pergi untuk bertemu dengan sang ayah yang sudah beberapa hari ini selalu mendiamkannya. 


Disinilah sekarang Danendra berada. Di sebuah rumah minimalis yang dalam keadaan kosong. Meskipun tempat itu kosong, tetapi terlihat masih dirawat dengan baik. 


Danendra melangkah menuju balkon yang menghadap ke arah bukit. Pemandangan alam itu begitu sejuk dipandang mata. Udaranya juga begitu menyegarkan. Laki-laki itu memandang punggung sang ayah yang duduk termenung di tempat itu. 


"Papa," panggil Danendra yang seketika membuat pria paruh baya itu menoleh. 


"Akhirnya kau berani menemuiku, Nendra." 


"Kau tahu apa kesalahanmu?" tanya Alefosio yang kembali menatap pemandangan di depan sana. 


"Tahu, Pa. Aku minta maaf," ujar Danendra dengan sedikit menundukkan wajahnya. 


"Aku kecewa padamu, Nendra. Bukankah selama ini aku sudah mewanti-wanti kau untuk lebih memperhatikan istrimu yang sedang hamil?" 


Danendra langsung berjalan cepat kemudian bersimpuh di kaki sang ayah. Dia sangat tahu tentang pengalaman buruk ayahnya itu. 


"Maaf, Pa. Nendra benar-benar menyesal." 


"Kau beruntung, Nendra. Meskipun kau ceroboh, kau masih memiliki kesempatan untuk menebus dosamu pada istrimu. Sementara papa, papa adalah korban dari ketidakbecusan seorang ayah." 


Alefosio menatap kedepan tetapi dengan tatapan mata kosong. "Jika dulu kakekmu tidak meninggalkan nenek ketika hamil papa, mungkin papa tidak mungkin kehilangan sosok ibu bahkan sebelum papa sempat melihat dunia." 

__ADS_1


Kekecewaan itu tergambar jelas dari sorot mata pria paruh baya itu. Kejadian yang menimpa Adeline membuat dia kembali teringat dengan kejadian masa lalunya. Masa lalu yang begitu kelam, sebab dia sempat hidup di perut sang ibu yang sudah tidak bernyawa. Beruntung, dokter masih sempat melakukan operasi untuk mengeluarkan dia dari rahim sang ibu. 


"Maafkan aku, Pa. Aku janji tidak akan mengulanginya hal yang sama," mohon Danendra masih bersimpuh di kaki ayahnya. 


Alefosio menghela napas panjang. Ditatapnya wajah sang putra yang memang terlihat begitu menyesali perbuatannya. Tangan tua itu memegang bahu Danendra lalu menarik pelan putranya ke dalam pelukan. 


"Keluarga adalah segalanya, Nendra. Terutama istri dan anak-anak kita. Lebih baik hidup miskin dari pada menyia-nyiakan kehadiran mereka. Kamu tidak ingin anak-anakmu mengalami hal yang sama dengan papa, 'kan?" 


Pria paruh baya itu menasehati putranya setelah melepas pelukan. Kejadian yang terjadi pada sang menantu persis dengan apa yang terjadi pada ibunya dulu. Mereka sama-sama jatuh di kamar mandi dan mengalami pendarahan. 


Bedanya jika dulu ibunya hanya hidup sendirian di rumah itu, sedang Adeline lebih beruntung karena memiliki banyak orang-orang yang menjaganya. 


"Nendra akan berusaha menjadi suami dan ayah yang siaga, Pa. Aku janji tidak akan lebih mementingkan pekerjaan lagi. Prioritas utama Nendra sekarang adalah istri dan anak Nendra." Danendra bertekad tanpa sedikitpun keraguan. 


"Baguslah jika begitu. Papa pegang janji kamu," pungkas sang ayah yang kini sudah lebih bisa memaafkan anaknya. 


Sepasang ayah dan anak itu duduk berdampingan. Menikmati suasana senja yang begitu menenangkan. Di rumah inilah dulu sang ayah menjalani masa kecilnya, tanpa kehadiran seorang ibu ataupun perhatian dari ayahnya. 


"Pa, boleh Nendra meminta izin pada papa?"


"Minta izin untuk apa?" tanya Alefosio seraya menoleh. 


"Rencananya, Nendra akan mengubah semua kepemilikan harta Nendra atas nama Devan. Apa papa setuju?" tanya Danendra kepada ayahnya itu. 


"Kamu serius?" tanya sang ayah memastikan. 


"Nendra pernah berjanji akan mengurus berkas-berkas itu setelah dia lahir. Papa tidak keberatan, 'kan?" 


"Elin yang minta kamu untuk melakukan hal itu?" tanya Alefosio dengan ekspresi galaknya. 


"Bukan, Pa. Ini semua murni kemauan Nendra. Bagi Nendra, tidak ada yang lebih berarti dari pada kehadiran mereka di kehidupan Nendra." 


Tampaknya Alefosio tidak secepat itu percaya dengan alasan yang diberikan oleh Danendra. Terbukti pria paruh baya itu menatap curiga kepada sang putra. 

__ADS_1



__ADS_2