
Di dalam sebuah kamar yang ditempati bersama sang ibu, Rihanna tengah termenung sendiri. Wanita itu terus menatap perutnya yang masih rata. Pikirannya berkelana jauh ke masa depan.
"Kalau aku melepaskan Malik, bagaimana nasib anakku ini? Tidak mungkin aku membesarkannya seorang diri." Rihanna meraba perut ratanya dengan perasaan bimbang.
"Sayang, maafkan mommy, Sayang! Mommy belum bisa menerima semua ini. Tapi, demi kamu mommy akan belajar untuk mencintai Daddy kamu," ucapnya mengajak berkomunikasi sang janin.
Tidak lama berselang pintu kamar terbuka. Nabila masuk dengan membawa sebuah nampan berisi cemilan serta susu hangat. Keadaan itu bagaikan devaju untuk Rihanna, di mana dia mengingat perlakuan dan perhatian dari Malik.
"Sayang, mama buatkan kamu cemilan. Biasanya hamil muda itu malas makan jadi mama kepikiran untuk buatin ini khusus untuk kamu," jelasnya seraya menaruh nampan di atas nakas.
"Terima kasih, Mam. Tapi seharusnya tidak perlu repot-repot," jawab Rihanna sungkan.
"Mama tidak repot, Sayang. Mumpung kamu masih di sini jadi mama punya kesempatan untuk mengurus kamu dan calon cucu mama," timpal Nabila sambil mendudukkan diri di samping sang putri.
Rihanna mengangguk dengan senyum canggungnya. Ibunya itu berkata seakan-akan mereka akan segera berpisah kembali. Padahal, Rihanna pun belum yakin untuk kembali ke mansion suaminya.
"Ma, boleh Rihanna bertanya?"
"Tanya apa, Sayang?"
Nabila mengulurkan tangannya untuk merapikan anak rambut Rihanna yang sedikit terburai. Begitu terlihat kasih sayang seorang ibu kepada anaknya sangatlah tulus.
"Apakah mama pernah mencintai papa?"
Pertanyaan Rihanna barusan seketika membuat Nabila terdiam. Tangan kanan yang semula sedang merapikan rambut Rihanna terjatuh begitu saja.
"Kalau mama tidak berkenan untuk menjawab, tidak perlu dijawab, Ma."
"Tidak, Rihanna. Mama akan menjawab pertanyaan kamu sejujur-jujurnya," sahut Nabila yakin.
"Baiklah, jika mama memang berkenan."
Nabila menatap lurus ke depan. Namun, pikiran serta hatinya tengah kembali ke masa lalu. Sejak awal pernikahannya dengan Rocky hingga kini mereka terpisah, tidak ada satupun kejadian yang luput dari ingatan.
__ADS_1
Sebelum menjelaskan tentang perasaannya terhadap ayah Rihanna, Nabila sempat memejamkan matanya sejenak sambil menghela napas berat.
"Dulu mama memang tidak mencintai papa kamu, Sayang. Hingga beberapa bulan yang lalu bahkan rasa itu masih sama. Tapi sekarang mama sadar, mama sebenarnya begitu menyayangi papa. Sayangnya semua sudah percuma, papamu tidak mungkin kembali pada mama."
Bulir bening menetes dari salah satu sudut mata Nabila yang buru-buru dia seka agar tidak semakin banyak yang keluar. Namun, tetap saja, air mata itu tampaknya belum mau berhenti.
"Kenapa sekarang mama sadar bahwa mama menyayangi papa? Sementara selama ini papa tidak pernah bersikap baik pada mama," timpal Rihanna penasaran.
Nabila menggeleng kecil, "Mama tidak tahu, mungkin karena kami telah mengucap janji suci di hadapan Tuhan. Rasanya sekarang mama sangat kehilangan papa kamu," akunya dengan jujur.
Tidak tahu kenapa setelah mengetahui bahwa Rocky menyerahkan dirinya ke pihak berwajib, Nabila justru merasa takut jika harus kehilangan suami kejamnya itu suatu saat nanti. Kejahatan yang sudah diperbuat olehnya sudah masuk dalam kategori kriminalitas berat, dan kemungkinan hukuman yang akan diterima adalah hukuman seumur hidup atau lebih parahnya hukuman mati.
Rihanna masih terdiam, tetapi otak cerdasnya sedang mencerna setiap pengakuan sang ibu. Apakah mungkin dia juga akan merasakan hal yang sama jika dia tidak juga memulai membuka hatinya untuk Malik. Pertanyaan itu menghantui benaknya.
"Malik tidak pernah berlaku kasar padaku, dia juga tidak pernah jahat padaku. Apakah penyesalan yang akan aku dapatkan melebihi penyesalan mama? Apa aku benar-benar harus mulai belajar menerimanya seperti yang dikatakan Kak Elin?"
Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi hati serta pikirannya. Rihanna merasa bimbang untuk menyikapi hal ini. Di satu sisi dia tidak ingin sang anak merasakan kehidupan yang sama seperti dirinya. Namun, di sisi lain dia juga belum benar-benar bisa menerima Malik sepenuh hati.
Rihanna mengerjapkan kedua matanya lalu menoleh pada wanita paruh baya di sampingnya. Senyum kaku terbit di sebelah sudut bibir mungilnya.
"Jujur ma, Rihanna bingung harus bagaimana? Apakah yang saat ini Rihanna lakukan itu salah? Meninggalkan suami Rihanna hanya karena merasa kecewa padanya?" Rihanna memberondong sang ibu dengan banyak pertanyaan.
"Tanyakan pada hatimu, Sayang. Percayalah, hati tidak akan pernah membohongi diri. Sekarang lebih baik kamu bersiap! Kakakmu ingin mengajak kamu pergi jalan-jalan," pungkas sang ibu.
"Jalan-jalan ke mana, Ma?"
"Tidak tahu. Dia bilang biar kamu enggak suntuk," jawabnya singkat.
"Em, ya sudah. Rihanna mandi dulu, yah, Ma."
Wanita hamil itu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara itu, ketukan pintu membuat Nabila beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu.
"Elin, masuk!"
__ADS_1
"Di sini saja, Ma."
"Ada apa, Sayang?"
"Enggak apa-apa, Ma. Elin bawa pakaian untuk Rihanna. Kebetulan Elin beli baju kekecilan dan sepertinya muat untuk Rihanna, dari pada dia tidak ganti baju," jelasnya sambil memberikan gaun yang dia pegang.
"Oh, iya. Mama lupa kalau Rihanna datang tanpa membawa apa-apa." Nabila menerima pemberian sang putri sulung.
"Sekarang Rihanna sedang apa, Ma?" tanyanya sambil melongok ke dalam kamar.
"Dia lagi mandi, Sayang."
"Tapi … dia mau kan pergi bareng elin?" tanya Adeline memastikan.
"Pasti mau, Sayang. Dia sepertinya juga ingin dekat dengan kamu," jawab sang ibu dengan lembut.
"Ya sudah, Elin juga mau siap-siap dulu."
Setelah Adeline pergi dari sana Nabila pun kembali menutup pintu kamar bersamaan dengan Rihanna yang baru keluar dari kamar mandi. Wanita hamil itu masih mengenakan handuk kimono berwarna putih.
"Sudah mandinya, Sayang?"
"Sudah, Ma. Tapi Rihanna tidak punya baju ganti," jawabnya disertai cengiran kuda.
"Ini baju ganti untuk kamu. Baju ini milik kakakmu, tapi kekecilan katanya." Nabila menyerahkan pakaian pemberian Adeline.
"Em, terima kasih, Ma." Rihanna mengambil gaun tersebut dari tangan sang ibu dan kembali masuk ke kamar mandi untuk memakainya.
Beberapa waktu kemudian Rihanna dan Nabila turun ke lantai dasar untuk menemui Adeline yang rupanya sudah menunggu kedatangan mereka. Wanita dewasa itu terlihat sangat cantik meski hanya mengenakan pakaian sederhana. Celana jeans yang dipadukan dengan cardigan berwarna putih. Rambutnya dikuncir tinggi yang membuat leher jenjangnya terlihat.
Sementara itu, Rihanna pun tidak kalah cantik dengan gaun selutut berwarna putih tulang dan sedikit corak bunga lili di bagian bawahnya. Rambut panjang Rihanna tergerai indah. Meskipun berbeda gaya style dalam penampilan, mereka terlihat sangat pantas disebut sebagai saudara kandung walau berbeda ayah.
"Wah, kalian kok jadi mirip begitu." Kata-kata itu terlontar begitu saja dari bibir Silvia.
__ADS_1