
Pagi-pagi sekali rumah besar Antonio dihebohkan dengan datangnya seorang pria asing membawa banyak sekali barang dengan menggunakan truk besar.
Kedatangan seorang pria itu tentu saja disambut dengan baik oleh keluarga itu, terkecuali Richard yang menatap sinis pria yang duduk di sebuah sofa single di depannya. Mereka saling tatap bagaikan berhadapan dengan musuh bebuyutan.
Awalnya si tamu sudah berusaha bersikap baik dan sopan kepada seluruh keluarga itu. Namun, tatapan salah satu pria yang usianya hampir mencapai kepala empat itu membuatnya enggan bersikap sopan.
Semua menatap penuh takjub pada seorang pria yang bertamu tanpa pemberitahuan apapun sebelumnya. Bagaimana tidak, pria itu memiliki wajah tampan serta postur tubuh ideal. Tinggi dan berisi, otot lengannya serta dada bidang tercetak jelas meski terhalang pakaian rapi.
"Jadi anda datang kesini untuk melamar putri sulung kami?" tanya Antonio sebagai kepala keluarga.
"Benar, Tuan. Kami membawa seserahan pernikahan untuk Nona Adeline," jawabnya dengan ramah.
Antonio mengernyit heran dengan sebutan si pria untuk putrinya. Jika pria itu berniat melamar Adeline, kenapa dia memanggil wanita yang dia kehendaki menjadi pasangannya dengan sebutan Nona.
"Anda sepertinya sedang kebingungan, Tuan Abraham. Biar saya perkenalkan diri terlebih dahulu. Saya Gerry Andreas, wakil direktur perusahaan Alefosio Group." Pria itu sengaja menjeda ucapannya.
Semua pasang mata membelalak ketika mendengar perusahaan yang baru di sebutkan oleh si pria. Pantas saja pria itu terasa tidak asing, mereka tentunya pernah beberapa kali melihat sosok itu muncul di berita koran, televisi serta berita online.
"Maksud kedatangan saya kemari adalah mewakili tuan muda saya untuk melamar putri sulung anda," lanjutnya menjelaskan.
"Jadi anda bukan calon suami anak saya?" tanya Antonio memastikan.
"Saya tentu tidak berani bersaing dengan tuan muda saya, Tuan. Bisa-bisa dunia hancur lebur jika ada yang berani merebut wanita pujaannya," jawab Gerry sedikit bergurau, tetapi gurauan itu justru menjadikan suasana menjadi tegang.
"Memangnya tuan mudamu sesibuk itu sampai mewakilkan acara lamarannya pada seorang bawahan?" celetuk Richard dengan nada meremehkan.
__ADS_1
Gerry hanya tersenyum tipis lalu sedikit menganggukkan kepalanya. Pria itu beralih menatap sang ayah dari calon nyonya mudanya. "Maaf, Tuan. Jika hal ini menyinggung perasaan keluarga anda. Hanya saja, keputusan ini sudah di rundingkan oleh nona dan tuan muda. Saya hanya menjalankan tugas," ujarnya dengan santai.
Bagi Gerry mendapatkan pertanyaan ataupun pernyataan kurang menyenangkan adalah hal biasa. Selama ini bahkan dia lah yang selalu mengurus urusan tuan mudanya tanpa cela sedikitpun.
"Ah, tidak apa-apa, kok! Jika ini adalah keputusan dari putri saya, itu berarti memang sudah di pikirkan matang-matang." Antonio menjawab dengan ramah.
"Baiklah jika tidak ada yang perlu di bahas lagi dan keluarga nona tidak keberatan, saya pamit undur diri karena masih banyak yang perlu saya urus." Gerry langsung bangkit lalu sedikit menundukkan kepalanya sebagai rasa hormat.
Setelah kepergian pria yang ternyata hanya utusan dari sang calon pengantin. Mereka akhirnya merapikan barang-barang bawaan pria tersebut.
"Wah, kakak benar-benar beruntung. Baru lamaran saja sudah mendapatkan sebanyak ini," puji Zico sambil merapikan barang-barang.
"Tapi apakah papa tidak terlalu terburu-buru dengan menerima lamaran pria asing itu? Dia bahkan enggan menampakkan dirinya di depan kami, Pah?" Dengan sok pahlawan, Richard menimpali keputusan yang diambil sang mertua.
"Zico!" bentak Grasiella tidak terima karena kekurangan ajaran si kembaran.
"Kenapa, Kak Ella. Bukankah yang aku katakan ini memang kenyataan?" Zico sama sekali tidak mau mengalah.
"Sudah! Kenapa kalian sibuk berdebat? Keputusan ini sudah diambil oleh Elin. Jadi menurut papa tidak ada yang perlu di permasalahkan lagi," lerai Antonio yang merasa anak-anaknya itu terlalu banyak bicara.
"Memangnya siapa yang memulai? Menurut Zico, Kak Richard terlalu berlebihan dan ikut campur tentang keluarga kita. Padahal saat kita terpuruk kemarin dia sudah seperti jailangkung yang bisa datang dan pergi seenaknya," oceh Zico masih belum mau kalah.
"Zico! Jaga batasanmu. Jangan kurang ajar pada kakak iparmu! Maksud Kak Ichad itu baik, hanya mau mengingatkan. Jika tidak diterima juga tidak masalah!" sungut Grasiella yang semakin emosi, perempuan itu langsung menarik sang suami untuk pergi dari sana.
"Jangan bodoh, Kak. Mau saja dibodohi oleh suami sepertinya," ucap Zico yang sama sekali tidak takut, anak bungsu keluarga Abraham itu seakan mengibarkan bendera perang pada kakak iparnya.
__ADS_1
"Sudah, Zico! Jangan kekanak-kanakan." Antonio melarang sang putra tunggal, agar tidak semakin membuat suasana pagi menjadi tegang.
"Kenapa ribut sekali, Pa?" tanya Adeline yang baru saja turun ke lantai dasar.
"Tidak ada apa-apa," ujarnya berusaha menutupi perdebatan yang sempat terjadi.
"Itu, Kak. Suami Ella, sok-sokan nasehatin papa karena menerima lamaran calon suami kakak." Berbeda dengan sang ayah, Zico justru membeberkan permasalahannya.
Adeline hanya tersenyum licik dibalik wajah cantiknya. "Ternyata setidak terima itu kamu dengan keputusanku. Sampai kau mau meracuni papa. Ini baru permulaan, Rich," batin Adeline menyeringai puas.
"Jadi mereka sudah pulang? Dia itu benar-benar penuh kejutan, Co. Dia datang melamar tanpa memberitahu aku," bisik Adeline lirih di samping sang adik.
"Kakak serius? Gila, kak. Dia bawa barang sebanyak ini. Tapi sayangnya dia hanya mengurus sekretarisnya saja. Padahal aku sangat ingin berkenalan dengannya," pekik Zico yang memasang wajah lesu.
"Dia itu hampir sebaya kamu, Zico. Tapi dia sibuk, tidak seperti kamu yang hobinya cuma main dan sibuk olahraga diatas ranjang." Adeline mengejek dengan membandingkan sang adik dengan calon suaminya.
Zico terkesiap ketika mendengar ucapan kakaknya yang mengatakan usia calon suami sang kakak hampir sebaya dengannya. "Serius, Kak? Kak Elin dapat berondong jagung beneran? Wah-wah, beneran udah g*la nih Kakak. Masa doyan daun muda." Zico menatap sang kakak dengan ekspresi wajah nakal. "Biar hot ya kalau olahraga di ranjangnya," goda Zico seraya menaik turunkan alisnya.
Reflek Adeline menggeplak kepala sang adik yang isinya hanya dengan perkara ranjang itu. "Dasar bocah tengik! Berani kau ya menggodaku. Lihat saja nanti akan ku adukan pada kakak iparmu," ancam Adeline dengan wajah memerah.
"Belum apa-apa sudah demam." Zico tetap tidak gentar dan semakin gencar menggoda sang kakak yang terlihat salah tingkah.
"Zico!" pekik Adeline yang langsung memberikan pukulan bertubi-tubi di punggung sang adik.
Mereka terlalu sibuk bergurau sampai tidak menyadari ada sepasang mata yang menatap mereka dengan tatapan penuh amarah. "Aku tidak akan pernah membiarkan hidupmu bahagia, Elin."
__ADS_1