Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Kekesalan Adeline


__ADS_3

Di dalam sebuah mobil sport mewah berwarna hitam. Seorang pria duduk dengan ekspresi tegang. Mata hazelnya melirik seorang wanita di sampingnya yang tengah fokus mengendarai kendaraan sport tersebut. 


Kendaraan itu melesat dengan kecepatan tinggi. Danendra memegang seatbelt yang melingkar di tubuhnya dengan erat. Baru kali ini dia merasakan bagaimana rasanya naik mobil dengan istrinya yang menjadi sopir. Bukan itu masalahnya sekarang, tetapi lebih kepada bagaimana cara sang istri mengendarai mobil itu. 


Rasanya baru kali ini laki-laki itu merasa ketakutan jika nyawanya akan melayang karena ulah sang istri. Bagaimana tidak, Adeline mengendarai mobil itu dengan ugal-ugalan di jalan. 


"Sayang, plis berhenti dulu!" mohon Danendra bersungguh-sungguh. 


Sayangnya rengekan Danendra sama sekali tidak di gubris oleh Adeline. Wanita dewasa itu masih diam dengan tangan sibuk mengendalikan setir mobil. 


"Adel, plis! Aku tidak ingin kita mati bersama dengan cara yang konyol seperti ini." 


Adeline belum juga menurut. Meski suaminya sudah merengek seperti bayi. Nyatanya tidak menggerakkan hatinya yang tengah dikuasai amarah. Adeline sengaja melakukan itu agar suaminya tidak bersikap semena-mena lagi kepadanya. 

__ADS_1


"Ingat Devan, Elin! Kalau kita mati dalam kecelakaan akibat amarahmu, apa kau rela dia hidup tanpa memiliki orang tua?" 


Saat Danendra mengatakan hal tersebut, barulah Adeline sadar. Wanita dewasa itu langsung menginjak pedal rem hingga mobil berhenti mendadak. Suara ban yang bergesekan dengan aspal terdengar begitu mengerikan hingga menciptakan bekas berwarna hitam. 


Danendra menggapai tangan istrinya lalu menggenggamnya dengan erat. Adeline berusaha untuk melepaskannya, tetapi Danendra pun tidak mau mengalah. 


"Aku minta maaf, aku sadar aku salah. Jika kamu mau marah, lampiaskan semuanya setelah kita sampai di mansion. Kamu bebas melakukan apa saja, asal bukan hal berbahaya seperti ini, Sayang." Danendra berkata dengan sangat lembut agar sang istri luluh. 


"Biar aku yang menyetir mobil ini, Sayang. Jangan biarkan amarah menguasai diri kamu! Aku tidak ingin kamu menyesal." 


Setelah mengatakan hal itu, Danendra membuka pintu lalu bergegas keluar. Laki-laki itu mengitari mobilnya dan membukakan pintu untuk sang istri. Danendra mengulurkan tangannya untuk membantu istrinya keluar dari mobil. Namun, wanita dewasa itu enggan menerima uluran tangan sang suami. 


"Sabar, Nendra! Ini semua karena ulahmu sendiri." Laki-laki itu membatin.

__ADS_1


Tanpa menghiraukan tangan sang suami yang melayang di udara, Adeline turun masih dengan perasaan kesal. Wanita itu berjalan menuju pintu samping kemudi dan bergegas masuk. Kedua tangannya bersedekap dada setelah memasang seatbelt. 


Danendra menggelengkan kepala pelan saat melihat tingkah sang istri. Wanita dewasa yang begitu dicintainya itu tengah merajuk hingga enggan melakukan kontak fisik bahkan menjawab ucapannya sekalipun. 


"Kamu selalu susah untuk dibujuk saat marah, Adel. Tapi entah mengapa itulah yang membuatmu berbeda dari wanita lain," batin Danendra lagi. 


Laki-laki berpakaian acak-acakan itu masuk ke dalam lalu segera mengendarai mobilnya. Sadar jika sang istri masih dalam kondisi marah, Danendra akhirnya diam. Dia ingin memberikan kesempatan untuk Adeline berpikir dengan jernih. 


Kendaraan sport itu berhenti saat sudah sampai di halaman mansion. Tanpa berkata-kata, Adeline langsung turun dari mobil itu. Danendra pun segera menyusul istrinya masuk ke mansion. 


"Happy anniversary, Danendra, dan Adeline!" 


Begitu masuk ke dalam, langkah keduanya terhenti. Mereka tertegun dengan apa yang dia lihat di depan sana. Ruang tamu kini terhias dengan mewahnya. Beberapa tamu juga berdiri di sana. 

__ADS_1


__ADS_2