Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Hotel


__ADS_3

Meski saling diam setelah pertengkaran itu, akan tetapi Danendra tetap mengantarkan sang istri untuk datang ke rumah orang tuanya. Ketika sampai di rumah itu, keadaan memang sudah kacau. Monica menangis karena mengira sang putri tersayang diculik orang. Sedangkan Antonio hanya bisa menyaksikan sang istri yang menangis meraung-raung. Zico pun tidak bisa melakukan apapun selain berusaha menenangkan sang ibu. 


Adeline langsung berlari mendekati sang ibu ketika melihat sang ibu yang sangat terlihat sedih. Maklum saja, mereka memang tidak pernah mendapati Grasiella keluar jika tidak bersama keluarga. 


"Ma, tenang dulu, yah! Nendra sudah mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari keberadaan Ella, kok!" Adeline berusaha menenangkan sang ibu sambil memeluk wanita paruh baya itu. 


"Tapi kalau dia kenapa-kenapa, gimana, Elin? Adikmu itu tidak pernah keluar sendirian," ujar sang ibu masih terisak. 


"Memang suaminya kemana, Ma? Bukankah seharusnya pria itu menjaga baik-baik istrinya?" tanya Danendra menyela. .


"Entahlah, Nendra. Dia sering beralasan harus kembali ke negeranya." Antonio yang menjawab dengan wajah frustasinya. 


"Memang pantas, satu kupu-kupu kesepian yang satunya lagi kumbang girang," maki Danendra dalam hati. 


"Nendra sudah menyuruh orang-orang Nendra untuk mencari Ella, Pa, Ma. Kalian tenang saja, sore nanti dia akan kembali," ujar Danendra seakan tanpa beban. 


"Benarkah, Nendra? Kamu yakin?" pekik Monica dengan ekspresi penuh harap. 


"Nendra jamin, Ma. Yang penting mama tidak perlu panik lagi, ingat utamakan kesehatan mama juga," jawab Danendra dengan sangat lembut dan menenangkan. 


Adeline sampai menatap tak percaya pada suaminya itu. Ternyata pria yang telah resmi menjadi suaminya itu bisa juga bersikap tenang dan memberikan rasa tenang pada lingkungan sekitarnya. 


Berbeda dengan suasana rumah yang dalam keadaan tegang karena menghilangnya Grasiella, di ruang kamar mewah sebuah hotel berbintang, dua orang tengah memadu kasih. Padahal keduanya bukanlah pasangan resmi, akan tetapi mereka terlihat menikmati kesenangan mereka kali ini. 

__ADS_1


"Sayang, memangnya kamu tidak takut jika orang-orang di rumah mencarimu? Biasanya kamu paling panik jika kita menghabiskan waktu berdua terlalu lama," ujar sang pria seraya membelai mesra puncak kepala seorang perempuan yang tengah bersandar di dada terbukanya. 


"Tidak apa-apa, Sayang. Aku terlalu bosan selalu berada di rumah. Lagi pula si brengs*k itu juga selalu keluyuran tanpa izin dariku," jawab si perempuan seraya tangannya bergerilya di balik selimut tebal. 


"Kamu, jangan sentuh itu lagi! Nanti kalau aku menginginkannya lagi, bagaimana?" larang si pria untuk kesekian kalinya. 


"Biarkan saja. Aku masih ingin bermain dengannya," jawabnya masih saja betah mempermainkan aset berharga sang pria. 


"Kau benar-benar nakal, yah!" seru si pria yang akhirnya kembali menguk*ng si perempuan di bawahnya. 


Mereka kembali melakukan aktifitas berkeringat itu tanpa memperdulikan waktu dan cuaca yang sebenarnya sedang sangat terik. 


Sedangkan Adeline dan Danendra terpaksa menetap di rumah keluarga Antonio untuk menjadi jaminan bahwa nanti sore Grasiella benar-benar akan kembali ke rumah. Adeline masih bersama Monica, menemani ibunya itu hingga tertidur. Lain dengan Danendra yang justru memilih untuk berendam di bathtub kamar mandi istrinya. Pria itu merasa siang ini memang terasa sangat gerah, dan itu membuatnya ingin mendinginkan tubuh dengan bermain air. 


"Mungkin dia sedang buang air," gumam Adeline sambil menjatuhkan diri di sofa empuk. 


Tidak berselang lama terdengar dering ponsel dari jas berwarna hitam di sampingnya. Awalnya wanita dewasa itu membiarkan ponsel itu tanpa berniat melihatnya. Menurutnya tidak baik jika ikut campur urusan orang, meski orang itu adalah suaminya sendiri. Namun, dering ponsel itu selalu berulang hingga beberapa kali. Akhirnya memicu rasa penasaran dalam diri wanita berparas cantik itu. 


"Kalau ternyata itu bawahan Nendra yang membawa informasi tentang Ella, bagaimana? Apa aku angkat saja, yah?" gumam Adeline yang semakin penasaran. 


"Aku angkat saja! Lagi pula Nendra lama sekali keluar dari kamar mandi," ujarnya yang akhirnya mengambil ponsel suaminya. 


"Bos, saya sudah kirimkan lokasi perempuan yang anda berikan fotonya tadi. Dia sedang bersama seorang pria di sebuah hotel berbintang," ujar seseorang di seberang sana tanpa basa-basi, dia bahkan tidak tahu bahwa yang menerima panggilannya bukanlah sang tuan muda. 

__ADS_1


Tanpa pikir panjang Adeline langsung mengakhiri panggilan tersebut. Hati dan pikirannya sekarang berubah menjadi negatif setelah mendapat kabar dari seseorang suruhan sang suami. Adeline yakin bahwa yang di maksud oleh orang di seberang sana adalah Grasiella, adik yang saat ini sedang menghilang dari rumah. 


Wanita dewasa itu langsung mengirimkan lokasi yang di kirim oleh anak buah Danendra ke ponselnya. Setelah itu dia bergegas pergi tanpa menunggu sang suami. Ketika bertemu dengan Zico di ruang tamu pun, Adeline sama sekali tidak mengatakan apapun padanya. 


"Kak, mau kemana?" tanya Zico sedikit berteriak karena Adeline justru berlari keluar. 


"Kak Elin mau kemana, sih? Kenapa terlihat buru-buru sekali? Tapi kak Nendra bukannya masih disini?" gumam Zico seraya menatap sang kakak yang sudah semakin jauh darinya. 


Adeline dengan ekspresi cemas bercampur rasa jengkel mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Wanita itu ingin cepat segera sampai di lokasi yang sudah diberitahukan oleh si suruhan sang suami. 


"Ella, kamu sedang apa dengan pria di hotel? Bukankah Richard sedang di luar negeri?" gumam Adeline sambil mengusap kasar wajahnya. 


Tiga puluh menit kemudian Adeline sudah sampai di lokasi yang dimaksud. Wanita itu memarkirkan mobilnya secara sembarang dan langsung menyerahkan kontak mobilnya kepada seorang petugas agar bisa di rapikan. Adeline berlari masuk ke dalam hotel itu dan langsung menghampiri resepsionis. 


"Nona, boleh saya tahu dimana kamar atas nama Grasiella Kristiana?" tanya Adeline dengan suara cemas bercampur rasa kecewa. 


"Maaf, Nona. Tapi saya tidak bisa memberikan informasi terkait tamu-tamu hotel. Itu sudah kebijakan hotel kami," jawab si resesionis dengan sopan. 


"Saya mohon, Nona. Beritahu saya dan izinkan saya melihat adik saya. Jika kalian tetap bersikeras menyembunyikan, saya tidak segan meminta suami saya untuk menutup hotel ini saat ini juga!" ancam Adeline yang sebenarnya hanya menggertak saja. 


"Maaf, Nona. Tapi itu sudah kebijakan dari atasan kami. Siapapun suami anda, saya tidak bisa melanggar privasi dari tamu kami," tolak si resepsionis masih berusaha sopan. 


"Biarkan istri saya masuk, atau aku akan meratakan tempat ini sekarang juga!" ancam seseorang dari belakang. 

__ADS_1


"Tuan Muda A," pekik para resepsionis yang bertugas. 


__ADS_2