
Rihanna dan Malik kini dalam perjalanan pulang setelah menghadiri acara anniversary pernikahan Adeline dan Danendra. Malik beberapa kali melirik sang istri yang terlihat murung semenjak kedatangan seorang wanita paruh baya yang pada akhirnya diketahui adalah ibu tiri Adeline.
Malik amat paham apa yang saat ini mengganggu pikiran istrinya. Wanita hamil itu pasti merindukan ayahnya yang saat ini berada di penjara.
"Sayang, maafkan aku, yah!"
Rihanna menoleh setelah mendengar ucapan suaminya yang tiba-tiba meminta maaf, padahal laki-laki itu tidak melakukan kesalahan apapun padanya.
"Maaf untuk apa, Malik?" tanya Rihanna bingung.
"Maaf karena aku tidak bisa mengabulkan keinginan kamu sekarang."
"Memangnya sekarang aku ingin apa?" tanya Rihanna dengan kedua alis bertaut.
"Aku tahu, kamu merindukan papa, 'kan?"
"Jangan bahas itu, Malik. Aku tahu, kamu tidak akan menuruti keinginanku yang satu itu," tegur Rihanna sambil memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Maaf, Kay. Tapi ini sudah keputusan papa," lirih Malik penuh sesal.
"Ini bukan salah kamu, Malik. Aku tahu itu, dan aku sedang berusaha berdamai dengan keadaan." Rihanna masih enggan menunjukkan wajah sedihnya.
"Aku tahu kamu pasti kuat, Kay. Keputusan Papa mungkin yang terbaik untuknya," timpal Malik mengulurkan tangan untuk menggapai tangan istrinya.
"Aku akan kuat jika kamu selalu di sampingku, Malik. Jangan pernah tinggalkan aku!" mohon Rihanna yang kini menatap mata Malik.
"Aku janji tidak akan pernah ke mana-mana, Kay. Percayalah!"
Rihanna mengangguk mengerti, wanita hamil itu mengusap kelopak matanya yang sedikit basah karena hampir menangis. Melihat betapa sayangnya sang suami, Rihanna tidak ingin melihat laki-lakinya melihat air mata jatuh dari sudut matanya.
"Sebagai gantinya, bagaimana jika kita babymoon sekalian Honeymoon, Sayang?" tanya Malik memberi penawaran.
Rihanna tertawa geli saat Malik menarik turunkan alisnya untuk menggodanya. Bukannya tergoda, yang ada Rihanna justru menertawakan ekspresi sang suami yang tidak cocok bergaya layaknya seorang pujangga.
"Kenapa malah tertawa? Apa tawaranku ini ada yang lucu?" tanyanya dengan kening berkerut.
__ADS_1
Seketika tawa itu terhenti, Rihanna masih mencoba menahan bibirnya yang ingin kembali terbuka. Selain takut jika Malik marah, Rihanna juga tidak ingin tertawanya berakibat buruk untuk kandungannya.
"Bukan tawaran kamu yang lucu, tapi jujur yah! Kamu tidak cocok bergaya seperti ini." Rihanna menirukan gaya Malik tadi.
Ejekan Rihanna langsung membuat mood Malik berubah. Laki-laki itu melepaskan tangannya dan kini memasang wajah datar tanpa ekspresi. Hal itu tentu tidak terlepas dari perhatian Rihanna, wanita hamil itu paham bahwa suaminya sedikit kesal karena perbuatannya barusan.
"Iya-iya, Maaf, Malik. Aku hanya bercanda. Tawaran kamu tadi, aku akan mempertimbangkannya," ujar Rihanna tidak ingin suaminya semakin kesal.
"Tidak perlu. Sepertinya aku akan sibuk di kantor!" tolak Malik pura-pura merajuk, laki-laki itu memalingkan wajah.
"Kalau begitu aku akan minta papi memecat kamu sekarang juga," jawab Rihanna santai.
"Coba saja kalau berani!" tantang Malik dengan berani.
"Baik. Siapa takut, besok pasti kamu akan memohon padaku."
Sebenarnya Malik tidak benar-benar merajuk. Laki-laki tampan itu hanya sedang ingin menghibur istrinya agar tidak lagi bersedih karena rasa rindu pada ayahnya, Rocky, yang kini sudah menerima fonis hukuman mati.
__ADS_1
"Bahagialah, Sayang. Aku yang akan mengambil tanggung jawab papa sepenuhnya atas kamu. Aku akan berusaha mendidik kamu menjadi wanita Sholeha yang taat," batin Malik menatap sendu sang istri di sampingnya.