
Adeline berontak sekuat tenaga ketika ada seseorang yang menarik paksa tubuhnya. Namun, tenaganya tidak cukup untuk mengimbangi kekuatan kedua pria yang menyeretnya dan mendorong paksa tubuhnya masuk ke dalam sebuah mobi.
"Hey! Kalian ini siapa? Lepaskan. Aku tidak memiliki urusan apapun dengan kalian," teriak Adeline meronta-ronta.
Orang tersebut ikut masuk lalu mobil melesat dengan kecepatan tinggi. Adeline tetap berusaha berontak dan berteriak.
"Kau ini cantik, tapi berisik sekali. Suaramu itu cempreng seperti kaleng rombeng," hina si penculik kepada Adeline.
"Kau benar-benar kurang ajar! Suamiku pasti akan memberikan hukuman yang setimpal untuk perbuatan kalian ini."
"Kami tidak peduli. Yang terpenting sekarang adalah melaksanakan tugas dari nona muda kami," ujar orang itu yang berada di samping Adeline.
"Nona muda kalian? Siapa dia? Kenapa sampai menculikku segala?" tanya Adeline yang kini justru penasaran.
"Heh, Botak! Kenapa kau malah sibuk mengajaknya untuk ngerumpi seperti emak-emak komplek. Bius saja dia, agar tidak menggangu konsentrasiku!" bentak seseorang yang sibuk dengan setir mobilnya.
Orang yang di panggil dengan sebutan botak itupun menurut, dia mengeluarkan sebuah kain lalu menyemprotkan sesuatu berbentuk cairan dari sebuah botol. Adeline yang melihat hal itu pun seketika panik. Rasa penasaran tentang si nona muda itu hilang entah kemana. Yang ada dalam pikirannya adalah jika dia di jahati oleh orang-orang ini.
Adeline kembali berontak, dia berusaha membuka paksa pintu mobil yang ternyata dalam keadaan terkunci. Semakin paniklah Adeline saat merasa tidak ada harapan lagi untuk kabur.
Si botak dengan cepat membekap mulut serta hidung Adeline, wanita itu masih berusaha agar terlepas. Namun, tenaganya mulai melemah hingga dia kehilangan kesadaran.
"Wanita cerewet seperti dia bisa mengalahkan nona dalam usaha mendapatkan Tuan A. Gila saja, pakai pelet apakah orang ini," gumam si supir kesal.
"Matamu itu b*ta kah? Jelas-jelas nona ini memang lebih cantik dan bohay dari pada nona muda kita. Ya jelas pria manapun akan memilihnya, asalkan bisa menyuruhnya diam saja," timpal si botak yang justru memihak pada Adeline.
"Jika nona muda tahu, aku tidak jamin besok kau masih bisa menghirup udara segar!"
"Jika kau tidak bocor, nona muda tidak akan tahu."
"Kau tidak paham jika mata dan telinga nona muda ada dimanapun? Kau mau diam, atau kubuat pingsan seperti wanita itu?" ancam si sopir jengah.
Adeline mengerjap perlahan saat kedua netranya merasakan ada cahaya yang menyilaukan berusaha masuk ke dalam Indra penglihatannya. Ketika matanya terbuka sempurna, Adeline terkejut karena dia berada di sebuah tempat yang gelap. Hanya ada cahaya yang masuk melalui celah jendela.
Dia mengedarkan pandangan. Ruangan itu hanya ada satu meja yang berada tepat di depannya, dan satu kursi berwarna merah mencolok di depannya itu. Wanita itu berusaha menggerakkan tubuhnya yang ternyata di ikat menggunakan tali dengan sangat erat.
Kepalanya juga masih sangat terasa pusing karena efek dari obat bius yang di gunakan oleh si botak untuk merampas kesadaran wanita bertubuh sintal itu.
"Arg! Siapa yang kurang kerjaan sampai menculikku begini, sih!" gerutu Adeline tetap berusaha untuk melepaskan diri.
Tiba-tiba pintu terbuka, di susul oleh tawa menggelar dari sana. Dari suara dan bayangan seseorang yang sedang berjalan masuk itu, Adeline dapat memastikan bahwa itu adalah seorang perempuan dan di belakangnya juga ada seorang pria bertubuh besar.
"Apakah orang itu yang di sebut nona muda oleh si botak?" gumam Adeline bertanya.
Perempuan itu semakin dekat dengan si tawanannya. Ketika sudah sangat dekat, Adeline memicingkan matanya saat melihat si perempuan yang masih tertawa itu.
"Kau ulat bulu?" tanya Adeline yang masih mengingat betul wajah perempuan yang sering menggelayuti lengan Danendra.
Tawa itu terhenti seketika, berganti dengan tatapan horor dari perempuan berpakaian seksi berwarna merah menyala itu. Namun, melihat tatapan itu tidak membuat Adeline gentar, wanita yang sudah resmi menyandang status istri seorang pengusaha sukses di negara itu justru menahan tawanya.
"Hey, aku beritahu, ya! Ulat bulu itu seharusnya berwarna hijau, atau hitam. Tapi kau, selalu saja berwarna merah menyala, merah terang, merah api, merah darah, merah apa lagi yah?" Adeline terlihat sedang berpikir. "Kau sama sekali tidak cocok dengan warna itu," lanjut Adeline yang kini justru berani mentertawakan si ulat bulu.
"Jaga ucapan anda, Nona! Atau saya akan memberikan anda hadiah yang tidak pernah anda bayangkan selama ini," sela si pria bertubuh besar di belakang Rihanna.
"Jangan berani mengancamku! Jika nona mudamu ini bukan ulat bulu, lalu apa? Dia berusaha mendekati suami orang."
__ADS_1
"Aku dan Kak Nendra sudah dekat sejak dulu. Justru kaulah yang datang mengacau!"
Adeline menyeringai. "Kau tidak tahu jika suamiku hanya menganggapmu sebagai seorang adik? Harusnya kau tahu diri, Nona."
Danendra berjalan dengan langkah tegas, rahangnya mengeras sempurna dengan tangan yang terkepal erat. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa perempuan yang dia anggap sebagai adik, berani bertindak senekat ini. Di belakangnya Gerry berjalan mengikuti sang tuan muda.
Sementara itu, tempat yang di gunakan oleh Rihanna untuk menyekap Adeline sudah di buat gempar dengan kedatangan seorang pria gagah yang tampak sedang di kuasai oleh amarah.
Seseorang berkepala botak datang menghampiri Danendra, berniat untuk mencegah pria berkuasa itu untuk masuk ke dalam. "Tuan, untuk apa anda datang kemari?" tanyanya berusaha menyembunyikan rasa takut.
Danendra menatap tajam pria botak itu, tanpa aba-aba dia mencengkram erat kerah pakaian yang di gunakan oleh si botak. "Dimana istriku?" tanya Danendra dengan nada tinggi.
"Istri anda? Saya tidak tahu, Tuan. Saya tidak pernah bertemu dengan istri anda," elak si botak berusaha berbohong.
Emosi karena si botak berusaha membohonginya, Danendra melepaskan cengkraman di kerah si botak lalu dengan cepat beralih memiting tangan kanan si botak ke belakang. Sementara tangan satunya dia gunakan untuk mengeluarkan pisau lipat yang dia sembunyikan di saku celana.
Sementara itu, Gerry hanya diam di tempat menjadi penonton drama yang sedang terjadi. Melihat sang bos mengamuk adalah kegemaran Gerry sejak dulu, karena dari sana dia pun dapat meniru setiap adegan yang di lakukan oleh sang pemimpin.
"Kau mau terus melindungi Rihanna? Kau sama sekali tidak sayang pada nyawamu?" tanya Danendra sambil menempelkan pisau lipat miliknya di leher si botak.
"Saya benar-benar tidak tahu, Tuan."
Si botak itu memang benar-benar setia sekali pada Rihanna. Meski menahan rasa sakit akibat tangannya di piting oleh pria yang lebih besar dan gagah darinya dia masih saja berbohong dan menutupi kelakuan nona mudanya.
"Ah, kau sama sekali tidak sayang pada nyawamu. Kalau begitu bagaimana jika aku jual saja istrimu di rumah bordil?" Danendra kembali memberikan ancaman.
"Jangan, Tuan."
"Kalau begitu, dimana istriku?" tanya Danendra sekali lagi sambil mendorong kasar tubuh si botak ke depan, pisau yang sengaja dia tempelkan itu berhasil menggores leher si botak tidak berguna itu.
"Baiklah! Kau boleh pergi."
Si botak menurut, dia membalikkan tubuhnya dan berniat untuk segera pergi dari tempat itu. Setelah pekerjaannya kali ini gagal, pasti nona mudanya akan memberinya pelajaran. Untuk itu dia memutuskan untuk segera menyembunyikan diri dan keluarganya. Namun, baru dua langkah si botak meninggalkan tempatnya, tiba-tiba suara tembakan terdengar dan di susul oleh rasa sakit di betis si botak. Darahpun mengalir dari sana bersamaan dengan si botak itu terjatuh di lantai dingin.
"Tuan, kenapa anda menembak kaki saya?" tanya si botak dengan raut wajah menahan sakit.
"Itu balasan karena kau sudah berani menyentuh istriku!" bentak Danendra yang kini kembali memasukkan pistolnya di jaket kulit yang di pakai.
Setelah itu Danendra meninggalkan si botak yang tengah mengaduh kesakitan akibat tembakan maut di betisnya. Gerry masih setia mengikuti kemanapun sang bos pergi. Sejak awal, Danendra memang melarang Gerry untuk bertindak apapun, jika tidak ada sesuatu yang membahayakan untuknya.
Danendra dengan gagahnya mendobrak pintu itu hanya dengan satu kaki dan dengan sekali hentakan saja pintu itu terbuka lebar. Engselnya bahkan hancur karena kuatnya kekuatan Danendra saat ini.
Rihanna yang berada di dalam seketika menoleh ke belakang saat mendengar suara pintu yang terbuka secara paksa. Sedangkan Adeline yang memang pandangannya langsung dapat melihat sang suami, tersenyum lebar.
"Sayang, tolong aku. Si ulat bulu ini berani sekali menculik dan mengikatku seperti ini," rengek Adeline dengan manja.
"Kak Nendra," gumam Rihanna yang langsung bangun.
Si pria bertubuh besar itu dengan sigap melindungi nona mudanya menggunakan tubuhnya ketika melihat seseorang yang tengah berjalan masuk itu menatap tajam ke arah nona mudanya.
"Gerr, lepaskan istriku." Danendra menyerahkan urusan Adeline pada sang sekretaris, sementara dia sendiri maju mendekati seseorang yang menghalangi pandangannya dari Rihanna.
"Baik, Tuan." Gerry langsung berlari menuju tempat sang nyonya muda di sekap.
Pria itu segera membuka ikatan erat di tangan dan kaki nyonya mudanya. Ikatan itu sangat kencang hingga tangan dan kaki Adeline terlihat memar. "Nyonya, kaki dan tangan Anda," ujar Gerry dengan ekspresi cemas.
__ADS_1
Adeline langsung melihat arah yang di tunjuk oleh Gerry lalu dengan cepat menyembunyikan bekas luka itu. Namun, ternyata hal itu tidak luput dari lirikan Danendra yang semakin terbakar amarah.
"Aku tidak apa-apa, Gerr," elak Adeline karena tidak ingin jika suaminya marah.
Sorot mata Danendra menajam saat sudah mengetahui bahwa sang istri sampai terluka akibat ulah Rihanna. Sementara pria yang menghalangi pandangan Danendra itu sebenarnya sudah gemetar ketakutan, akan tetapi melindungi nona mudanya adalah tugas paten untuknya.
"Kau mau menyingkir atau aku singkirkan dengan paksa?" tanya Danendra dengan nada datar.
"Saya tidak akan pernah membiarkan anda menyentuh nona muda kami," jawabnya dengan angkuh.
"Baiklah! Maju dan hadapi aku." Danendra mundur beberapa langkah untuk memberikan ruang agar mereka dapat bertarung.
Pria besar itu maju dan langsung menyerang Danendra hingga pria berparas tampan itu ikut mundur ke belakang. Namun, Danendra dengan cepat memukul punggung si pria besar itu dengan keras hingga serangan itu terlepas.
Mereka saling tatap dengan sorot mata permusuhan. Si pria besar itu kembali melancarkan serangan kedua dengan berusaha meninju wajah Danendra, sayangnya pria berparas tampan itu begitu cepat menghindar dan justru berhasil menendang bagian dada si pria besar hingga terjungkal ke belakang.
"Kau masih mau membuang tenagamu?" tanya Danendra dengan santai, seakan dia tidak sedang berkelahi.
Pria itu tidak menjawab, hanya langsung bangun dan kembali berusaha menyerang dan menumbangkan lawannya yang begitu kuat tidak tertandingi. Serangan ketiga ini menjadi momen bersenang-senang seorang Danendra karena dia dapat menghajar lawannya tanpa ampun.
Dia sudah berbaik hati dengan menawarkan dua kali kesempatan. Namun, pria berbadan besar itu tidak juga menyerah dan semakin berani menantangnya.
Setelah berhasil menumbangkan lawan yang kini bersandar tidak berdaya di dinding lusuh itu, Danendra meninggalkan target yang baru saja dengan suka rela menjadi samsak tinjunya. Pria itu kini beralih pada Rihanna yang wajahnya sudah terlihat sangat tegang.
"Kak, kamu tidak akan melakukan apapun padaku, 'kan?" tanya Rihanna seraya mundur ke belakang.
Danendra tidak menjawab, pria itu justru terus maju hingga punggung Rihanna menabrak dinding. Pria itu menyeringai licik lalu mengangkat tangannya dan mencengkram kuat-kuat dagu perempuan yang pernah dia anggap sebagai adiknya itu.
"Ri, awalnya aku menyayangimu meski sebagai adikku saja. Tapi mulai sekarang, aku menghapus segela hubungan kita untuk selamanya. Kau bukan lagi adikku ataupun keluargaku!" Danendra mendorong kasar dagu Rihanna yang sempat dia cengkram.
Danendra kini membalikkan tubuhnya meninggalkan Rihanna yang kini menangis. Ucapan Danendra sungguh membuat hatinya teriris. Pria yang sejak dulu selalu menolaknya itu, kini semakin menolaknya karena kehadiran seorang wanita yang usianya jauh di atas mereka.
Sorot mata Rihanna membingkai wajah Adeline yang menatapnya dengan ekspresi kasihan. Walau bagaimanapun dia juga pernah merasakan ada di posisi itu, meskipun dia tidak segila Rihanna yang sampai menghalalkan segala cara untuk mendekati pria yang dicintai.
Langkah Danendra semakin dekat dengan sang istri yang masih berdiri tegak di samping sang sekretaris. Kedua mata Adeline masih fokus pada Rihanna yang mengeluarkan air mata, tetapi ada sorot mata penuh dendam di netra gadis itu.
"Sayang," panggil Danendra yang langsung memeluk sang istri. "Tangan dan kakimu tidak apa-apa?" tanyanya sambil memeriksa bekas luka itu.
"Nendra, aku tidak apa-apa. Tapi ul- em, Rihanna sepertinya sedang sedih," ujar Adeline yang justru mengkhawatirkan gadis yang sudah menyakitinya.
"Biarkan saja dia," jawab Danendra yang sudah tidak ingin peduli pada gadis itu. "Ayo kita pulang!" ajak Danendra sambil menggandeng sang istri.
Mereka berjalan untuk segera keluar dari ruangan pengap itu. Danendra masih berusaha menurunkan kadar amarah yang menguasai dirinya saat ini. Ketika mereka sudah sampai di pintu, tiba-tiba seseorang yang tadi bertarung dengan Danendra bangun.
Pria berbadan besar itu berlari untuk menyerang wanita yang sudah membuat nona mudanya itu bersedih, di tangannya memegang sebuah pisau kecil yang berniat dia tusukkan di tubuh wanita tersebut.
Beruntung Gerry yang berada di belakang peka dengan gerakan seseorang di belakangnya. Pria itu membalikkan tubuh dan tanpa membuang waktu mengeluarkan pistol miliknya.
Suara tiga kali tembakan menggema di ruangan itu. Adeline yang berniat menoleh langsung di cegah oleh sang suami dengan memegang erat kepalanya yang dia tarik ke dalam ketiaknya yang beruntungnya beraroma wangi.
"Nendra, siapa yang menembak?" tanya Adeline tetap penasaran.
"Tidak apa-apa, ayo kita segera pulang!"
"Kak, Nendra! Berbaliklah!"
__ADS_1