
Kegiatan sholat Maghrib kini sudah selesai. Rihanna masih kebingungan, tetapi wanita hamil muda itu mengikuti semua gerakan yang dilakukan oleh mertuanya dengan baik. Hanya saja dia belum dapat mengikuti doa-doa yang terdengar asing di telinganya.
Selesai melakukan ibadah sholat, Rihanna memperhatikan Malik yang mengambil sebuah buku berukuran tebal. Rihanna pun memutuskan untuk mendekat karena penasaran. Sedangkan Riani dan Ibrahim sudah keluar dari ruangan khusus itu.
Malik tersenyum lembut kemudian membuka sesuatu yang dipegangnya. Sesuatu yang dikira buku oleh Rihanna. Malik mulai melantunkan ayat-ayat Al Qur'an dengan suara merdunya. Mendengar suara sang suami, Rihanna merasa begitu tenang dan damai. Wanita itu masih bertahan di sana mendengarkan suara merdu suaminya.
"Sudah selesai?" tanya Rihanna setelah melihat sang suami menutup buku tebal di tangannya.
"Sudah."
"Itu buku apa, Malik?" tanya Rihanna penasaran.
"Ini kitab suci yang digunakan orang-orang muslim, Kay. Namanya Al-Qur'an," jawab Malik dengan lembut.
"Suara kamu bagus banget, aku merasa tenang saat kamu membacanya," ujarnya jujur.
Malik tersenyum senang saat mendengar ungkapan hati Rihanna. Istrinya itu mulai tertarik dengan kepercayaannya. Sebuah awal yang baik untuk mengajari wanita itu tanpa memaksanya.
"Kalau kamu suka, aku akan membacakannya untukmu setiap sebelum kamu tidur," ujarnya yang seketika membuat Rihanna berbinar.
"Kamu serius? Memang tidak apa-apa kalau baca terus menerus?"
"Justru semakin banyak kita membacanya akan semakin bagus," jelas Malik yang kini membuat Rihanna manggut-manggut.
"Lalu, apa yang kita lakukan tadi. Kenapa aku dan mami menggunakan kain putih ini, sementara kamu dan papi tidak?"
Malik kembali tersenyum. Laki-laki itu manaruh Al-Qur'an yang sudah selesai dibacanya. Netranya menatap lekat-lekat sang istri yang terlihat begitu cantik saat auratnya tertutup.
"Yang kamu dan mami gunakan itu namanya Mukena, Kay. Hanya perempuan yang mengenakannya saat sholat. Kami para laki-laki hanya memakai pakaian panjang yang menutupi aurat kami saja," jelasnya dengan sangat lembut agar istrinya itu dapat mengerti.
__ADS_1
"Loh, kenapa berbeda?"
"Karena aurat antara laki-laki dan perempuan juga berbeda," timpal Malik dengan sabar.
Saat keduanya tengah saling tanya jawab, Riani dan Ibrahim kembali masuk ke ruangan itu. Rihanna sedikit bingung karena melihat kedua mertuanya kembali ke tempat khusus tersebut.
"Mam, ada apa? Apakah ada yang tertinggal?" tanya Rihanna kepada ibu mertuanya.
Ketiga orang di sana pun tersenyum. Mereka memahami kebingungan Rihanna karena memang ini adalah pertama kalinya wanita hamil muda itu melaksanakan ibadah bersama mereka.
"Kita akan menunaikan shalat isya, Sayang," jawab Riani.
"Sholat lagi? Bukankah tadi sudah?"
"Tadi kita sholat Maghrib, Sayang," jawab Riani lagi.
"Oh, memangnya ada berapa jenis sholat, Mam?" Tampaknya rasa penasaran Rihanna semakin dalam.
Mereka pun melaksanakan sholat isya berjamaah dengan Ibrahim sebagai imam. Rihanna mengikuti setiap gerakan yang dilakukan oleh mertua dan suaminya dengan baik. Meskipun masih kaku tetapi Rihanna benar-benar berusaha dengan sungguh-sungguh.
Selesai melakukan kewajibannya sebagai orang muslim, mereka pun melanjutkan kegiatan malam ini dengan makan malam bersama. Tidak ada obrolan yang berarti saat di tempat itu karena kebiasaan keluarga Ibrahim memang selalu makan tanpa banyak bicara hal-hal tidak penting.
Rihanna dan Malik juga sudah masuk ke kamar mereka. Keduanya duduk berdampingan bersandar pada kepala ranjang. Malik benar-benar melakukan apa yang telah dia ucapkan tadi. Laki-laki itu membaca surah Yusuf dan Maryam yang di yakini baik untuk didengar oleh ibu hamil.
Suara merdu Malik benar-benar menenangkan hati Rihanna. Wanita hamil itu tanpa sadar memejamkan kedua matanya. Begitu selesai melantunkan ayat-ayat itu, Malik melirik sang istri yang hanya diam.
Laki-laki berparas tampan itu tersenyum dengan gelengan kepala kecil saat melihat sang istri sudah tertidur pulas. Malik menaruh kitab suci itu di atas nakas lalu membantu membenarkan posisi tidur istrinya.
"Sayang, tumbuhlah dengan sehat di perut mommy. Daddy janji akan selalu menjaga kalian dengan baik. Bantu daddy meluluhkan hati mommy, ya! Biarkan mommy mencintai daddy sepenuh hati," bisik Malik di perut Rihanna. Laki-laki itu mengusap lembut perut rata istrinya.
__ADS_1
Setelah selesai menyapa sang calon anak, Malik menyelimuti tubuh istrinya dengan selimut tebal. Laki-laki itu memberanikan diri mengecup kening Rihanna sebelum dirinya menyusul sang istri yang sudah lebih dulu mengarungi mimpi.
Begitulah Rihanna dan Malik mulai melanjutkan kehidupan mereka. Malik dengan telaten mengajari istrinya yang mulai tertarik belajar agama. Tidak ketinggalan, Malik juga memberikan perhatian penuh kepada istrinya yang sedang hamil.
Meskipun belum ada kontak fisik yang berlebihan antara Malik dan Rihanna. Namun, dengan apa yang mereka lakukan itu dapat membuat mereka semakin dekat. Canggung dan risih yang dulu menguasai kini lenyap begitu saja.
Perlahan tapi pasti Malik dapat membuat Rihanna keluar dari bayang-bayang masa lalunya. Wanita hamil itu kini mulai sering menunjukkan keceriaan meski belum ada kata cinta yang terucap.
Kini wanita yang sedang mengandung tiga bulan itu sedang memperhatikan tubuhnya sendiri di depan cermin besar. Netranya membulat tak percaya dengan apa yang tersaji di hadapannya.
Tubuh ramping yang dulu begitu dijaga olehnya kini sudah mulai menghilang. Berganti dengan Rihanna yang sedikit gemuk, perut semakin membesar dan pipi yang mulai terlihat semakin tembam.
"Ini semua karena nafsu makanku yang semakin tidak terkontrol. Aku jadi makin bulat seperti itu," keluhnya dengan nada lirih.
Wanita itu mengambil timbangan yang dia sembunyikan di kamar itu untuk memantau perkembangan berat badannya. Dengan perasaan ragu, dia naik ke atas benda itu dengan mata terpejam.
Perlahan-lahan mata itu terbuka untuk melihat hasil yang tertera di alat pengukur berat badan miliknya itu. Seketika kedua tangan lentik itu membekap mulutnya sendiri saat bibirnya akan berteriak.
"Seberat inikah aku sekarang?" gumamnya sedikit hilang kepercayaan diri.
Suara pintu kamar yang akan terbuka membuat Rihanna reflek turun dan kembali menyembunyikan benda menakutkan itu ke bawah lemari. Malik, suaminya itu berdiri di depan pintu dengan tatapan bingung. Sedangkan Rihanna sendiri terlihat tegang.
"Kenapa kamu belum keluar, Kay? Mami dan Papi sudah menunggu kita untuk sarapan."
"Em, aku sedang tidak nafsu makan," jawabnya berbohong.
Mulutnya berkata tidak berselera makan, tetapi perutnya berbunyi dengan keras. Menandakan bahwa perut itu membutuhkan asupan makanan. Malik melangkahkan mendekati sang istri saat melihat ada raut tegang di wajah cantik itu.
"Kamu kenapa berbohong?" tanyanya lembut.
__ADS_1
Rihanna masih diam. Bingung juga untuk menjelaskan kepada suaminya tentang ketakutan yang saat ini menguasai dirinya. Namun, tatapan Malik semakin membuat Rihanna gelisah.
"A-ku, tak-ut gem-uk," lirih Rihanna hampir tidak terdengar.