
Tibalah saat keberangkatan mereka untuk berlibur ke negara yang dikenal dengan lambang Garuda-nya itu. Saat ini mereka sedang berkumpul di Bandar Udara Internasional John F. Kennedy.
Malik dan Rihanna lebih dulu datang ke bandara. Mereka membawa serta seorang pengawal dan Celine. Ya, sekretaris pribadi Malik itu juga ikut serta dalam liburan mereka agar membantu Malik untuk menjaga sang istri.
"Mereka belum sampai juga, Hubby," keluh Rihanna, dia sedikit tidak sabaran.
"Sabar, Hunny. Sebentar lagi paling. Kita tunggu saja," ucap Malik memberi pengertian sang istri.
Celine sendiri berdiri diam di samping istri sang bos. Padahal, Malik sudah berkali-kali menyuruhnya untuk duduk. Namun, dia masih canggung untuk berdekatan dengan istri bosnya itu.
"Bos Malik kelihatannya sangat mencintai istrinya. Semoga saja suatu saat nanti aku bisa bertemu dengan laki-laki sebaik dia. Meski bukan dari kalangan orang berada," batin Celine penuh harap.
Beberapa saat kemudian rombongan Danendra sampai di sana. Seperti biasa, Danendra juga membawa dua penyawal serta Gerry sebagai benteng pertahanan jika tiba-tiba ada bahaya dari musuh.
Rihanna langsung bangun saat melihat kedatangan sang kakak. Sudah hampir tiga bulan lamanya mereka tidak bertemu. Hal itu tentu menyisakan secercah rindu di jiwa kedua kakak beradik itu.
"Kakak!" seru Rihanna merentangkan tangannya.
"Adek," panggil Adeline yang juga merentangkan tangan, kemudian mereka saling berpelukan.
"Ih, kangen, deh!" Keduanya melepas rindu dengan berpelukan cukup lama.
"Sudah. Peluk-pelukannya nanti saja. Kita sudah hampir terlambat!" tegur Malik melerai pelukan hangat kakak beradik itu.
"Gue sudah bilang pakai prifat jet saja, tapi lo enggak mau," sahut Danendra dengan cepat.
"Ih, aku tahu kamu itu Sultan. Tapi aku lebih suka jika berbaur dengan penumpang lain," ucap Malik menyampaikan alasannya.
"Terserah lu, deh! Orang aneh. Banyak orang pengennya ya perjalanan mereka lebih nyaman kalau hanya bersama keluarga. Lu malah mau berdesakan dengan penumpang lain," cibir Danendra.
"Udahlah, Ayo berangkat!" ajak Rihanna yang memang sudah sangat tidak sabar.
Gerry hanya diam saja, dia sedikit menundukkan kepalanya saat melihat seseorang yang berada di samping Rihanna. Dia masih ingat dengan jelas wanita aneh yang menyebabkan dirinya kecelakaan.
"Ngapain Tuan Malik ajak cewek aneh itu, sih!" gerutu Gerry dalam hatinya.
Begitu juga dengan Celine, dia pun diam. Namun, tatapannya membingkai seluruh tubuh laki-laki menyebalkan yang sudah menyebabkan dia harus membayar biaya rumah sakit yang tidak murah itu.
"Ngapain juga cowok nyebelin itu ikut, sih!" gerutu Celine dalam hatinya.
Malik sudah bersiap menggandeng sang istri. Namun, ucapan Danendra kembali menghentikan langkahnya.
"Sebentar. Aku merasa ada yang tertinggal," ujar Danendra tiba-tiba.
"Apa, Tuan. Seingat saya semua koper sudah saya bawa."
"Bukan barang yang tertinggal," sahut Danendra dengan cepat.
"Lantas?"
"Kau belum minta maaf pada sekretaris Malik, Gerr," ucapnya seraya menatap tajam pada tangan kanannya itu.
"Hah? Tuan Muda serius?" tanya Gerry memekik.
"Kau lihat wajahku apa ada raut main-main?"
Gerry meneguk ludahnya sendiri. Perintah sang tuan muda ternyata tidak main-main. Dia harus meminta maaf pada wanita aneh itu. Sementara itu, disisi lain Celine juga ikut terkejut. Bagaimana tidak, seorang pemimpin ALF Group memerintahkan sekretaris andalannya untuk meminta maaf pada sekretaris remahan sepertinya.
"Cepat minta maaf, Ger. Kau sudah kabur dan memberatkan dia atas biaya perawatanmu, loh! Jangan permalukan aku."
__ADS_1
"Baik, Tuan Muda," katanya sambil berdecak.
"Kau mau menolak perintahku?" tanya Danendra sinis, dia sempat mendengar suara decakan sang sekretaris.
"Tidak, Tuan."
"Ya sudah, minta maaf sana!"
Meski berat, tetapi Gerry terpaksa menuruti perintah sang tuan muda. Dia melangkah maju menghampiri wanita aneh itu.
"Maaf," ucapnya singkat sambil mengulurkan tangan kanannya.
"Ger, yang tulus, dong!" protes Danendra yang sengaja ingin membuat Gerry melupakan kegundahan hatinya akibat perselingkuhan Indira.
"Iya, Tuan Muda," jawab Gerry dengan mimik wajah kesal.
"Aku minta maaf atas perbuatanku tempo hari," ucapnya dengan nada datar, dia belum sadar atas kesalahan yang diperbuat olehnya.
Celine masih diam dan enggan menanggapi permintaan maaf yang dilakukan Gerry. Dia tahu, pria di depannya ini melakukan itu hanya karena terpaksa dan bukan tulus dari hati.
"Jangan diam saja. Kau mau memaafkan aku tidak?" tanyanya berbisik.
"Kau minta maaf atau malak orang? Dasar cowok nyebelin," maki celine dengan nada pelan.
"Celine," tegur Malik kepada sekretarisnya itu.
"Iya, Bos."
"Aku sudah maafkan kamu sebelum kamu melakukan kesalahan, kok!" Celine berkata dengan nada kesal.
Seketika tawa terdengar dari semua orang yang mendengar ucapan Celine barusan. Kata-kata sindiran yang benar-benar menusuk ke relung jiwa. Terdengar aneh memang, tetapi itulah Celine –sekretaris andalan Malik.
Rombongan pun bergegas masuk ke dalam pesawat setelah mendengar pemberitahuan bahwa pesawat akan segera lepas landas. Mereka terbang ke Indonesia untuk menjalani liburan berkedok babymoon Rihanna.
*****
Pesawat yang membawa rombongan Malik dan Danendra baru saja mendarat di bandara internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. Di sana sudah ada kerabat Malik dari pihak Mami Riani yang menunggu kedatangan mereka.
"Malik!" seru seseorang yang menjemput mereka.
"Nah, itu dia yang jemput kita," ucap malik seraya menunjuk orang itu.
"Oke, kita ke sana," timpal Danendra sambil menggandeng mesra sang istri.
Mereka berjalan santai menghampiri seseorang yang menjemput mereka di bandara. Gerry menggendong Devan, sedangkan semua koper dibawa oleh para pengawal yang dia bawa.
Koper Rihanna dan Malik juga dibawa oleh pengawalnya. Sedangkan Celine dengan penampilan tomboinya hanya menggendong tas ransel miliknya.
"Rom," sapa Malik begitu sampai di hadapan si penjemput.
Keduanya berpelukan cukup lama. Saling menepuk bahu satu sama lain sebagai pelampiasan rasa rindu karena bertahun-tahun mereka tidak bertemu. Usai melepaskan pelukan dengan kerabatnya, Malik pun memperkenalkan saudara serta iparnya itu kepada Romi.
"Kenalin, Rom. Ini istriku, namanya Mikayla," katanya memperkenalkan sang istri lebih dulu, tangan Malik juga merangkul mesra pundak wanita berperut buncit itu.
"Rihanna Mikayla Ibrahim," sapa Rihanna memperkenalkan diri kepada kerabat sang suami.
"Muhammad Romi Subagya." Romi juga memperkenalkan diri kepada istri Malik, "Wah, tampaknya kamu sudah akan jadi papa, ya?"
"Begitulah. In Sya Allah beberapa bulan lagi aku akan dipanggil Daddy," jawabnya bangga.
__ADS_1
"Semoga selalu sehat dan diberi kelancaran, Mal," sahut Romi mendoakan.
"Aamiin," timpal Rihanna dan Malik bersamaan.
"Terus ini siapa, Mal?" tanya Romi.
"Ini sepupuku dari papi, dan ini istrinya. Kebetulan istri sepupuku ini adalah kakak dari istriku," ungkap Malik menerangkan.
Mereka hanya saling sapa dengan cara menganggukkan kepala.
"Wah, kebetulan sekali, yah!"
"Iya. Jadi tambah mempererat hubungan kekeluargaan kami," balas Malik dengan raut wajah gembiranya.
"Nah, kalau itu, mereka pengawal dan sekretaris kami," lanjut Malik memperkenalkan para anak buah mereka.
"Yang cewek itu boleh, loh, Mal," bisik Romi seraya menatap sekilas ke arah Celine.
"Dih! Kaya yang iya mau tinggal di luar negeri aja," cibir Malik dengan nada mengejek.
"Hubby, aku lelah," keluh Rihanna kepada Malik.
"Oalah, Iya. Kita malah ngobrol di sini," ucap Romi sambil menepuk keningnya, "Kita berangkat sekarang!"
Mereka pun akhirnya pergi dari bandara Soekarno Hatta. Dengan menggunakan tiga mobil yang disewa oleh Romi atas permintaan Malik, mereka menuju tempat yang akan menjadi tempat liburan mereka.
Kebetulan kerabat Malik tinggal di daerah puncak Cisarua, Bogor. Kota yang dikenal dengan kota hujan itu juga menjadi pilihan Malik untuk liburan keluarga kecilnya kali ini.
Selama perjalanan menuju puncak Adeline dan Rihanna tertidur pulas bersandar pada bahu suami mereka masing-masing. Sedangkan yang lain masih tetap terjaga. Mereka melalui jalan berkelok serta tikungan tajam.
Usai menempuh perjalanan panjang, mereka pun sampai di villa yang disewa oleh Malik melalui Romi. Malik benar-benar mempersiapkan semuanya sebaik mungkin.
Para kerabat yang jumlahnya empat orang segera menghampiri saat mobil yang ditumpangi oleh Malik dan rombongan tiba di sana. Mereka menyambut kedatangan Malik dengan penuh suka cita.
"Malik, Akhirnya ingat pulang juga kamu. Kirain sudah betah di sana sampai lupa sama kita," ujar salah seorang kerabat.
Malik menanggapinya dengan gelengan kepala, "Mana mungkin aku melupakan kalian. Bisa dikutuk jadi Malin Kundang nanti," seloroh Malik bercanda.
"Bukan Malin Kundang, tapi Malik Kundang!" protes kerabat yang lain.
Mereka pun tertawa bersama, tidak terkecuali Rihanna. Namun, tidak dengan Danendra dan Adeline. Mereka hanya setia mendengarkan guyonan Malik dan keluarganya.
"Sudah, sudah. Bercandanya lanjutkan besok. Ini sudah malam, loh! Istri Malik pasti kelelahan!" tegur kerabat yang lebih tua dari Malik.
Seketika semua kerabat menoleh pada Rihanna. Mereka baru sadar bahwa istri Malik tengah hamil besar.
"Wah iya ada ibu hamil, nih. Kalian istirahat aja dulu biar kita siapkan makan malam!"
"Baik, Bi. Kami istirahat dulu, yah!" Malik berpamitan kepada anggota keluarganya.
Danendra dan yang lain pun mengikuti Malik masuk ke dalam villa. Mereka membagi kamar sesuai dengan jumlah orang serta kamarnya. Namun saat hanya tinggal Celine dan Gerry ternyata kamar pun hanya tinggal satu.
"Kalian tidur bareng aja," usul Danendra asal.
"Sembarangan. Bukan muhrim, Ndra!" protes Malik keberatan dengan usul gila Danendra.
"Saya juga tidak mau tidur bersama orang asing, Bos!" sahut Celine menyampaikan keberatannya.
"Gue juga lebih baik tidur di sofa ruang tamu dari pada tidur bareng cewek aneh kaya lo!" sahut Gerry dengan nada sarkas.
__ADS_1