
"Sumpah, ini, sih, definisi liburan yang sangat mengasyikan banget. Secara kapan lagi kita bisa liburan bareng and kumpul-kumpul kayak gini?”
Suaranya terdengar begitu senang karena dapat menikmati suasana seperti ini bersama sang adik. Adeline, yang dulu selalu sibuk bekerja dan tidak pernah memiliki momen indah bersama keluarga. Akhirnya, bisa merasakan kebahagiaan ini.
“Bener banget, Kak. Nggak nyangka banget kita bisa menikmati waktu bersama. Apa lagi, ini yang pertama kalinya buat kita. Btw, maaf, yah, Kak. Karena aku enggak pernah samperin kakak ke mansion. Kakak tahu sendiri, 'kan?"
“Iya-iya, tau, deh yang lagi bucin banget sama si Mr. Hubby,” cibir Adeline dengan wajah mengejek.
“Kayak sendirinya gak bucin sama lakinya,” balas Rihanna tak kalah meledek, lalu setelah itu dua bersaudara yang lama terpisah itu tertawa bersama.
Rihanna dan Adeline kini tengah berjalan-jalan, sambil menghirup udara pagi di sebuah lahan luas yang banyak ditanami teh oleh warga sekitar. Hal ini tentu saja tidak akan pernah bisa mereka temukan di kota karena di sana hanya ada polusi dan kemacetan. Akan tetapi, mereka tak bisa mengelak jika dari sanalah harta mereka dapat. Celine dengan setia mengekor di belakang serta membawa dua botol air mineral untuk kedua Kakak beradik itu.
"Uh, jadi pengin meluk suami, deh."
Suasana pagi yang sebenarnya sangat indah jika dinikmati di atas ranjang bersama pasangan itu membuat Adeline menjadi rindu suaminya.
"Dasar bucin!"
Perut Rihanna yang sudah membuncit itu tak mengurungkan niatnya untuk pergi bersama sang kakak. Sementara itu, Adeline sengaja meninggalkan anaknya yang masih tidur bersama sang suami. Biarkan Ini menjadi quality time antara kakak beradik tersebut.
“Lumayan dingin, ya?” Tangan Adeline menggosok kedua lengannya sendiri saat udara dingin mencoba menembus jaket yang melindungi tubuhnya.
“Tadi aku juga udah bilang buat pakai jaket yang satunya. Kakak, sih, dibilangin bandel!” omel Rihanna.
Mulut bisa mengomel, tetapi wanita itu tetap mendekat untuk memeluk pinggang sang kakak. Memberikan kehangatan yang juga sangat dibutuhkan oleh dirinya. Bibir itu meniup tangan Adeline yang tidak menggunakan sarung tangan, sedangkan dirinya memakainya.
Itu semua adalah syarat yang diberikan oleh Malik jika ingin tetap pergi keluar bersama Adeline. Rihanna yang memang sangat patuh terhadap suami pun tak mengelak. Dia justru bahagia karena mendapatkan perhatian dari pria yang sangat dicintainya.
Adeline hanya tersenyum minta maaf saat mendengar adiknya tengah mengomel. “Ternyata kamu enggak berubah, yah … makin posesif aja sama kakak,” ujarnya senang.
Rihanna lalu melepaskan tangan sang kakak, kemudian memandang wajah Adeline dengan pandangan malas. “Apa kakak baru sadar itu, eoh?” tanyanya sinis.
Adeline tertawa lebar, lalu tangannya menarik tubuh Rihanna untuk mendekat dengan pelan. Itu dilakukan agar sang adik tidak terjatuh. Dia tidak mau, kalau sampai terjadi apa-apa pada adiknya nya yang paling cantik dan menggemaskan itu.
“Ya, maklum, Dek. Otakku ini kan sering sekali dikasih micin sama kamu, makanya rada lola,” celetuknya yang mendapatkan cubitan maut dari Rihanna.
“Gak usah ngarang, deh. Lagian kapan aku ngasih micin ke kakak? Itu, mah kakak aja yang suka makan sendiri,” elak Rihanna tak mau disalahkan.
Dua wanita cantik yang sama-sama mengenakan jaket tebal, serta banny head itu terus melangkah menyusuri jalan setapak penuh batu dengan hati riang dan penuh canda. Pemandangan kebun teh yang semakin memanjakan mata itu adalah suatu berkah luar biasa bagi mereka yang selalu bersyukur atas nikmat Tuhan.
“Dek, kamu inget gak kejadian dulu di Cafe Rising Star?” tanyanya tanpa mau menoleh ke arah Rihanna, dia tahu jika wanita itu tengah mendengkus setelah mendengar pertanyaannya.
__ADS_1
“Astaga, kenapa kamu bahas masalah itu lagi, sih, Kak? Asli, itu bener-bener kejadian yang gak mungkin bakalan aku lupa sampai kapanpun," kenang Rihanna, sambil menggelengkan kepala.
Sementara itu, Adeline justru terkikik geli masa lalu mereka ini memang sangat berwarna dan penuh intrik. "Terus, inget gak waktu kita pernah saling dorong cuma gara-gara rebutan pengin duduk sebelahan sama Nendra?”
“Ya ingatlah.”
Setelah itu, Adelina dan Rihanna terlihat begitu lepas menyemburkan tawa gelinya.
“Sumpah, kita kek bocah banget ya, dulu. Asem, enak banget itu suami direbutin sama cewek cantik kayak kita.”
Adeline sampai kepayahan menghentikan tawa gelinya, sedangkan Rihanna yang sudah mulai menguasai diri hanya terkikik.
“Ya, maklum aja. Suamimu dulu, kan, suka tebar pesona sama siapa pun. Jadilah kita yang gak kuat iman lihat cowok ganteng bisa rebutan, kek, kucing sama tikus,” sahut Rihanna yang mulai kelelahan.
Adeline yang melihat adiknya mulai kehabisan tenaga pun meminta mereka untuk beristirahat. Beruntung di depan sana ada saung kecil sehingga mereka tak perlu mencari-cari tempat untuk duduk terlalu jauh.
Setelah duduk di saung, Rihanna lalu melihat sekeliling dengan mata telanjang. Pemandangannya begitu memanjakan sehingga tanpa sadar dirinya mengeluarkan gawai dari saku jaket. “Kak, foto dulu, yuk!”
"Maaf, Nona, apakah anda mau minum dulu?" Celine menawarkan nona mudanya sebotol air mineral.
"Nanti saja," tolak Rihanna cepat.
"Ayo, Kak!" ajak Rihanna lagi kepada sang kakak.
“Itu mulut kayaknya perlu digaplok, deh,” balas Rihanna datar dan tidak peduli akan kelakuan Kakaknya yang tengah membetulkan rambut, serta pakaiannya.
Adeline hanya mengedikkan bahu tak peduli, tapi segera mengambil alih gawai sang adik. Dirinya lalu mengambil angle yang bagus dan saat sudah menemukannya, wanita itu pun segera meminta Rihanna untuk mendekat.
“Tadi yang bilang kampungan itu siapa? Giliran kamera udah depan mata aja udah kek orang udik yang gak pernah foto. Cekrek-cekrek terus!” Gantian Rihanna yang merotasikan kedua bola matanya malas saat tidak hanya sekali dua kali, tetapi puluhan kali sang kakak mengambil gambar mereka.
“Aish, diamlah, Dek! Mau ikut gak, sih? Ngomel mulu udah kek tetangga gak pernah dikasih asupan ghibah!” omel Adeline.
Rihanna pun hanya bisa tertawa saat mendengar Omelan Adeline yang seperti sudah biasa menghadapi tetangga yang suka ghibah. Mereka berdua pun akhirnya menghabiskan pagi itu dengan membantu warga untuk memetik daun teh pilihan yang katanya paling enak seantero negeri.
Sore harinya, Rihanna kini tengah berada di dalam kamar untuk bersiap-siap babymoon yang akan diadakan malam nanti di taman belakang. Semua persiapan untuk barbeque pun sudah finish tinggal eksekusi. Tamu pun sudah mulai berdatangan ke villa yang tengah mereka tempati.
Tidak banyak memang yang datang, hanya beberapa teman dan kerabat Malik, Rihanna, Adeline beserta anak dan suaminya.
Kini, setelah shalat isya semua sudah berkumpul di taman. Para lelaki tengah membuat api unggun untuk semakin memeriahkan acara babymoon yang pastinya jarang sekali ditemui di tempat lain. Sedang para perempuan sibuk bersenda gurau di kursi, mengabaikan gelengan kepala dari pasangan yang tengah berada di depan panggangan.
Malik sendiri sedari tadi tengah sibuk memperhatikan sang istri yang sedang mengobrol asyik dengan keluarga jauh mereka. Tatapan penuh cinta dan kagum selalu diberikan oleh pria tersebut untuk Rihanna. Wanita yang akan selalu menemani hingga waktu memisahkan mereka.
__ADS_1
"Udah, gak usah dipelototin Mulu! Istri loh yang cantik itu gak bakalan kabur, kok," sindir Romi saat melihat saudaranya tak melepaskan pandangan kepada sang istri.
Malik tersenyum. "Mau gimana lagi, Rom. Seneng aja liat pasangan kita kalau lagi ketawa gitu. Berasa beruntung aja punya dia."
"Apalah aku ini yang hanya bujangan yang belum punya pasangan. Ngenes banget, sih, hidup ini," sahut Romi dengan memelas.
Malik akhirnya tertawa dan mengalihkan pandangan ke arah Romi. Saudaranya yang satu ini sejak sekolah dulu memang sampai sekarang belum mempunyai pasangan. Entah apa yang dicarinya selama ini hingga membuat betah melajang, padahal teman sebayanya juga sudah ada beberapa yang punya istri, bahkan anak.
"Rom, sebenarnya tipe cewek apa, sih, yang kamu cari? Bukankah ada Dinda yang selama ini selalu menemanimu? Aku pikir, dia sudah begitu sabar menunggumu untuk melamarnya. Apa kamu tak takut dia akan pergi, tau paling buruk dilamar oleh lelaki lain?" tanya Malik, sembari membalikkan daging di atas panggangan.
Romi diam-diam tersenyum masam. "Kamu pasti gak akan pernah percaya, kalau aku bilang jika Dinda itu sebenarnya hanya menganggapku sebagai kakak?"
"Hah, seriously?" Malik sampai mengerutkan kening ketika informasi yang diberikan oleh Romi cukup mengagetkannya. Selama ini Dinda selalu ada di saat saudaranya itu dalam keadaan apa pun. Maka dari itu, dia merasa jika Dinda ini sangatlah cocok bersanding dengan Romi Herton.
"Buat apa aku bohong, Mal. Gak guna, dosa juga yang ada," balas Romi begitu enteng.
Suasana riuh di sekitar seolah tak membuat Malik dan Romi yang tengah terlibat obrolan berat itu terusik. Dua pria dewasa yang saling berteman itu masih saja terdiam seolah sedang memikirkan obrolan apa yang harus mereka bahas setelah ini.
Malik merasa shock hingga tak bisa berkata-kata. Akhirnya, dia pun hanya bisa menepuk punggung Romi untuk memberitahukan jika semua pasti akan baik-baik saja.
Sementara itu, Adeline yang tengah duduk berdua dengan Rihanna pun mulai meminum anggur merah yang memang sengaja wanita itu bawa dari rumah. Dia juga tak berniat menawarkan kepada sang adik karena terlalu malas mendapatkan ceramah panjang kali lebar tentang haram dan halalnya minuman yang tengah ia tengguk.
"Jangan banyak-banyak! Kamu masih menyusui Devan, Kak!"
"Ehm." Adeline menyahut seadanya, kemudian menatap Danendra yang tengah bermain dengan Devan di tepi kolam renang.
"Mereka lucu, yah?" tanya Adeline kepada adiknya.
"Iya. Sebentar lagi Malik juga akan menyusul Kak Devan, kok!"
Rihanna menghela napas berat, lalu mengusap perutnya yang ternyata tengah merasakan tendangan dari calon anaknya. Hidungnya sedari tadi dimanjakan oleh bau harum makanan yang tengah dipanggang oleh sang suami di sana. Akan tetapi, ia mencoba menunggu sampai makanan itu matang sempurna.
"Dek, apakah kamu bahagia menikah dengan Malik?" tanya Adeline tiba-tiba.
"Menurut kakak?" tanya Rihanna balik, tetapi pandangannya masih tertuju kepada pria tampan yang tengah membolak-balikkan sate di atas panggangan.
Adeline hanya tersenyum tipis. "Entahlah. Tapi, ada satu hal yang sedari awal ingin aku tanyakan padamu, Dek?"
"Oh. Tanyakan saja!" Rihanna menelan ludahnya sendiri kala Malik dengan sengaja menggodanya dengan memamerkan hasil panggangannya dari jauh. "Asem. Itu suami senang sekali membuatku ingin menguncinya di kamar," gerutunya.
"Eh, tadi kamu mau nanya apa, Kak?" Kali ini Rihanna mencoba melihat ke arah kakaknya.
__ADS_1
"Apa yang menyebabkan kamu hijrah seperti ini? Apa karena Malik? Atau, ada sebab lain?"