
"Loh, bukannya kalian mau ke Indonesia?" tanya Riani menatap lekat ekspresi sang menantu yang justru terlihat bingung.
"Enggak, Mam. Malik emang ngajakin honeymoon, tapi belum bilang mau ke mana."
Seketika Riani balik menatap sang putra yang kini cengengesan. Kesal dengan kelakuan putranya yang sudah berani mengerjai dirinya, Riani sampai melempar garpu di depannya ke hadapan Malik. Lemparan garpu sang ibu hampir mengenai tangan Malik, beruntung suami Rihanna itu sigap mengelak.
"Dasar anak kurang asem. Berani kamu mengerjai mami!" sungut Riani dengan wajah memerah.
"Mami kejam sekali melempar garpu ke tanganku. Ini tangan aset berharga, loh! Selama ini tangan inilah yang aku gunakan untuk menandatangani berkas-berkas penting perusahaan," keluh Malik seraya mengelus punggung tangannya sendiri.
"Apa peduli mami? Kalau mengikuti hati, rasanya ingin mami lempar pisau ke tanganmu itu, Malik."
Sepertinya Riani sudah benar-benar kesal dengan ulah Malik kali ini. Tidak pernah sekalipun wanita paruh baya itu berkata dengan kata yang cukup kasar, dan kali ini tidak hanya berkata kasar, akan tetapi juga memberi pelajaran Malik dengan melemparkan garpu yang mungkin bisa melukai tangan sang putra.
"Pi, lihat kelakuan istrimu. Dia hampir melukai anak semata wayang papi, loh!" Malik merengek meminta pembelaan sang ayah.
"Papi tidak ikutan, Malik. Kau urus saja sendiri masalah yang kau buat. Papi angkat tangan." Ibrahim benar-benar mengangkat kedua tangannya ke udara.
"Papi," rengek Malik saat Riani terus menatap tajam dirinya bagaikan seekor singa yang akan memburu mangsanya.
"Tidak, Mi. Lakukan saja apa yang mau kamu lakukan. Papi tidak akan membela anak kurang asem itu," ujar Ibrahim ketika sang istri beralih menatap ke arahnya.
"Rihanna, papi sepertinya perlu bicara sama kamu. Ayo kita ke ruang kerja papi!" ajak Ibrahim kepada menantunya yang terlihat kebingungan.
"Em, baiklah, Pi." Rihanna bangun dan segera berjalan mengikuti ayah mertuanya.
__ADS_1
Setelah kepergian Ibrahim dan Rihanna, Riani melipat tangannya ke atas meja. Tatapannya masih sama seperti tadi. Rasa kesal itu belum juga hilang dari hatinya. Sudah berkali-kali Malik mengerjainya dengan berbagai cara dan baru kali ini Riani terpancing oleh keisengan sang putra.
Sementara itu, Malik menggosok tengkuknya yang tiba-tiba merinding. Beberapa bulu halus di kulitnya juga ikut berdiri karena tatapan intimidasi dari sang ibu. Selama ini, Malik belum pernah melihat sang ibu dalam keadaan marah.
"Ampun, Mam. Malik enggak salah apa-apa, loh!"
"Enggak salah apa-apa kamu bilang? Kamu bilang Rihanna akan menangis jika rencana kalian dibatalkan, 'kan? Lalu apa sekarang? Rihanna sama sekali tidak tahu rencanamu akan pergi ke Indonesia."
"Maaf, Mam. Malik bicara seperti itu agar mami tidak melarang kami. Kalau tentang Kayla, Malik sengaja belum kasih tahu dia. Rencananya Malik baru akan kasih tahu kalau mami sudah kasih izin," jelas Malik menyampaikan maksud sebenarnya.
Malik memang sudah mengatakan mereka akan berbulan madu, hanya saja laki-laki itu belum menyampaikan tujuan mereka akan pergi. Terlebih lagi ternyata ketika dia meminta izin pada Riani, jawaban ibu kandungnya itu justru tidak setuju dengan rencananya.
"Alasan," potong Riani tidak percaya.
Lain dengan Rihanna dan Ibrahim. Mereka tidak sedang berjalan menuju ruang kerja melainkan justru keluar dari mansion. Keduanya kini sedang berjalan menuju taman samping.
Rihanna sebenarnya bingung karena ayah mertuanya justru mendatangi taman. Namun, wanita hamil itu enggan bertanya dan memutuskan untuk tetap mengikuti laki-laki paruh baya yang selama ini selalu bersikap baik padanya.
Ibrahim menghentikan langkah ketika sampai di tengah-tengah taman. Dia berhenti tepat di depan sebuah kursi panjang berwarna emas.
"Duduk, Rihanna!" perintahnya dengan suara lembut tetapi berwibawa.
"Iya, Pi." Tanpa ragu Rihanna menuruti perintah sang mertua.
Setelah Rihanna duduk dengan nyaman, Ibrahim juga ikut mendudukkan diri di samping sang menantu. Meski duduk bersama tetapi mereka masih menyisakan ruang kosong di kursi sebagai jarak.
__ADS_1
Suasana tiba-tiba hening saat keduanya sama-sama diam. Rihanna masih menunggu hal apa yang akan disampaikan oleh sang mertua, sedangkan Ibrahim sendiri sedang bimbang untuk menyampaikan informasi penting itu pada menantunya atau tidak.
"Ada apa, Pi?" tanya Rihanna tiba-tiba setelah cukup lama mereka sama-sama diam.
"Em. Ada yang ingin papi sampaikan, tapi papi takut jika kamu akan drop setelah mendengar kabar ini," jawab Ibrahim dengan sedikit keraguan di hatinya.
Rihanna yang sebenarnya memiliki kepekaan yang cukup baik dengan ekspresi atau keadaan sekitarnya tentu dapat menangkap keragu-raguan ayah mertuanya. Dia merasa akan ada kabar buruk yang menyapa pendengarannya saat ini.
"Apa ini tentang papa, Pi?" tanya Rihanna menebak.
"Ya, ini tentang papamu," jawab Ibrahim dengan ekspresi khawatir, laki-laki itu tentu takut terjadi apa-apa pada menantunya.
"Ada kabar apa, Pi? Katakan saja, Rihanna kuat, kok!"
"Kamu yakin?"
Rihanna mengangguk pelan, meski hatinya benar-benar sakit ketika hal buruk tiba-tiba melintas di otaknya. Namun, Rihanna tidak ingin sang mertua mengkhawatirkannya jika dia tidak menahan diri untuk tidak bersedih.
Ibrahim memandang sekilas wajah menantunya yang terlihat tegang. Dia pun merasa ragu untuk menyampaikan kabar terbaru dari sang sahabat yang tidak lain juga merupakan besannya.
"Sebenarnya papamu meminta untuk merahasiakan kabar ini, tapi papi rasa itu tidak adil untuk kamu. Walau bagaimanapun, kamu anak tunggal Rocky, jadi apapun keadaannya, kamu berhak tahu."
"Terima kasih, Pi. Papi sudah memikirkan perasaanku, papa memang keras kepala sejak dulu. Dia tidak pernah mau jika urusannya diketahui oleh Rihanna, padahal jika terjadi sesuatu padanya, tentu akan berdampak padaku. Memangnya ada kabar terbaru apa tentang papa?"
"Papamu mengakui semua kejahatannya selama ini kepada pihak kepolisian. Dia bahkan juga mengungkap jati dirinya sebagai seorang mafia. Itu jelas akan memberatkan hukumannya, Rihanna. Papi khawatir papimu akan dihukum mati," ungkap Ibrahim kepada Rihanna.
__ADS_1