Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Bagaimana Bisa?


__ADS_3

"Aku enggak apa-apa," jawab Rihanna berusaha menutupi keadaan tubuhnya yang akhir-akhir ini sering cepat lelah.


"Kamu jangan bohong, Kayla. Kalau sakit, bilang sakit. Jangan menutup-nutupi apapun dariku!"


"A–."


Ucapan Rihanna terhenti saat wanita itu kembali mengeluarkan cairan kental berwarna kekuning-kuningan dari mulutnya. Cairan itu terasa sangat pahit di lidah. Setelah memuntahkan apa yang mengganggu lambungnya, tiba-tiba kepala Rihanna terasa pusing. Wanita itu memegangi kepalanya sebelum akhirnya tumbang di pelukan Malik.


"Kayla!" pekik Malik semakin panik.


Laki-laki itu pun mengangkat tubuh lemas sang istri ke atas gendongannya lalu segera membawanya masuk ke mobil. Malik menidurkan tubuh Rihanna di kursi penumpang sedangkan dirinya mengemudikan mobilnya sendiri.


Saat ini hanya kepanikan yang ada di pikiran serta benak Malik. Laki-laki itu mengira sang istri menderita sakit yang cukup parah hingga mengakibatkan hilangnya kesadaran Rihanna.


"Sabarlah, Kayla. Aku akan membawa kamu ke rumah sakit," ujarnya seraya memandang tubuh lemas itu sekilas.


Tidak mau terlalu membuang-buang waktu, Malik semakin menginjak pedal gas dalam hingga mobil yang dikendarai melesat membelah jalanan yang cukup padat. Berkat keahliannya dalam berkendara, mereka terhindar dari kemacetan.


Beberapa saat kemudian mereka akhirnya sampai di sebuah rumah sakit ternama. Malik buru-buru turun dan bergegas kembali menggendong tubuh tidak berdaya sang istri.


"Sus, Tolong!" pekik Malik dengan suara panik.


Dua orang petugas jaga di rumah sakit itu segera berlari mendekat dengan mendorong sebuah brankar. Malik segera membaringkan tubuh sang istri di atas brankar yang dibawa oleh petugas tersebut. Mereka mendorong brankar itu menuju IGD.


"Tolong sembuhkan istriku. Jangan biarkan dia kenapa-kenapa!" perintah Malik tegas sebelum sang perawat membawa masuk pasien ke dalam ruangan.


"Kami pasti berusaha memberikan yang terbaik, Tuan."


Kini Rihanna hilang ditelan pintu ruangan IGD yang sudah tertutup. Tidak lama setelah itu, seseorang berseragam putih berlari terburu-buru masuk ke ruangan yang di dalamnya ada Rihanna. Dari seragamnya dapat dipastikan bahwa orang tersebut berprofesi sebagai dokter.


"Semoga kamu baik-baik saja, Kayla. Aku tidak akan memaafkan diriku jika sampai terjadi apa-apa padamu!"

__ADS_1


Malik mondar-mandir di ruangan tempat para tenaga kesehatan menangani istrinya. Meskipun dalam keadaan panik, Malik masih ingat untuk mengabari orang tuanya tentang kejadian yang dialami oleh Rihanna.


Beberapa saat setelah Malik mengabari kedua orang tuanya, mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Sampai saat ini Rihanna belum juga selesai di tangani dan kemungkinan besarnya wanita itu juga belum sadarkan diri.


"Bagaimana bisa Rihanna sampai pingsan, Malik? Apa kamu tidak bisa menjaganya dengan baik."


"Malik tidak tahu, Mi. Tadi Kayla memintaku untuk mengantarnya ke salon. Tapi, ketika sampai di salon dia justru muntah-muntah dan berakhir pingsan. Malik sudah sempat bertanya dan dia hanya menjawab dia tidak apa-apa," jelas Malik sesuai dengan apa yang tadi terjadi.


Saat Riani dan Ibrahim sedang mengintrogasi sang putra, tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya dari arah lorong rumah sakit. Malik menyipitkan matanya untuk memastikan apa yang dia lihat tidak salah. Tiga orang sedang berjalan cepat ke arahnya dengan raut wajah khawatir.


"Malik, apa yang terjadi pada Rihanna?" tanya Nabila dengan nada menuntut.


Malik belum menjawab, laki-laki itu menatap saudaranya yang berdiri di samping sang mertua lalu beralih menatap seorang wanita yang memapah mertuanya. Terlihat tangannya mengelus lembut pundak Nabila seakan sedang berusaha menenangkan.


"Mama tenang dulu. Jangan terlalu khawatir, Ma. Rihanna sedang ditangani oleh dokter," ujarnya dengan begitu lembut.


"Malik! Ada apa sebenarnya?" tanya Danendra yang sedikit kesal karena saudaranya itu justru diam saja.


Dia sendiri saat ini sedang mengkhawatirkan keadaan sang istri dan saudaranya itu justru memasang mimik wajah menyebalkan. Siapa orang yang tidak akan terpancing jika melihat raut wajah Danendra yang seenaknya sendiri itu.


"Dasar suami payah!" cibirnya yang langsung mendapat hadiah cubitan dari istri tercinta.


"Awh, sakit, Sayang!" pekiknya seraya sedikit menjauhkan diri dari jangkauan Adeline.


"Kamu jangan semakin memperburuk keadaan, Nendra. Kita semua sedang khawatir!"


"Wah-wah, ternyata istriku sudah mulai peduli pada adiknya," bisik Danendra dengan berani mengambil posisi di samping Adeline.


Kesal dengan ucapan-ucapan sang suami yang memang menyebalkan, Adeline menghadiahi laki-laki itu dengan tatapan tajam. Bibirnya komat-kamit seperti sedang menebar ancaman untuk suami berondongnya itu.


"Iya-iya, aku diam."

__ADS_1


Semua orang yang berada di tempat itu hanya menggeleng-gelengkan kepala karena sudah paham dengan sifat dan watak Danendra. Laki-laki yang terkenal dingin di depan orang lain itu justru sangat kocak ketika bersama keluarga, terlebih lagi setelah menjadi suami dari wanita cantik seperti Adeline.


Sementara itu, Malik mengepalkan tangannya menahan emosi. Ketika istrinya sedang dalam keadaan entah baik atau buruk, Danendra masih sempat-sempatnya bergurau. Padahal, saudaranya itu sangat paham dengan perasaan Rihanna yang begitu mencintainya.


"Malik, sabar, Sayang. Mami tahu kamu terpancing emosi," tegur Riani berbisik di telinga sang putra.


Malik masih mengeratkan giginya hingga bergemelatuk menahan emosi. Meski mendapat teguran serta nasihat singkat dari sang ibu, nyatanya Malik masih saja kesal dengan candaan Denandra yang tidak mengukur situasi dan kondisi.


Beruntung saat emosi itu semakin tidak terkendali tiba-tiba seorang dokter keluar dari ruangan tempat di mana Rihanna ditangani. Malik serta seluruh anggota keluarga yang ada di tempat itu segera berlari mendekati sang dokter.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Malik cemas.


"Tenang dulu, Tuan. Biar saya jelaskan kondisi pasien. Anda tidak perlu khawatir, kondisi ini sudah wajar terjadi pada ibu hamil muda, apa lagi istri anda sekarang sedang merasa tertekan," jelas sang dokter yang tentu saja mengejutkan semua orang di tempat itu.


"Rihanna hamil, Dok?" tanya mereka serempak kecuali Malik yang justru terpaku oleh penjelasan dokter.


"Benar, Tuan, Nyonya. Pasien sedang dalam keadaan mengandung. Usia kehamilannya sudah menginjak delapan Minggu," timpal sang dokter menjelaskan.


"Alhamdulillah," ujar Riani dan Ibrahim.


"Syukurlah." Nabila, Danendra, dan tidak ketinggalan Adeline juga mengucap syukur atas kabar bahagia tersebut.


Berbeda dengan Malik yang belum juga bereaksi apapun. Laki-laki gagah itu masih tercengang saat mendengar penjelasan dokter tentang usia kehamilan sang istri.


"Malik, kenapa malah bengong!" tegur Riani seraya menyenggol pelan lengan putranya.


"Bagaimana bisa, Mi? Malik dan Kayla baru satu bulan menikah dan sekarang Kayla hamil dua bulan. Apa itu tidak aneh, Mi?" tanya Malik setelah tersadar dari rasa terkejutnya.


"Astaghfirullah, Malik!" pekik Riani menggelengkan kepalanya.


"Astaga, Tante. Kau dapat anak sebodoh dia dari mana, Tan?" tanya Danendra kepada Riani yang bertujuan menghina Malik yang entah memang bodoh atau pura-pura bodoh.

__ADS_1


__ADS_2