
Danendra langsung melerai pelukan antara Adeline dan Grasiella. Laki-laki muda itu tidak membiarkan tubuh istrinya menempel terlalu lama dengan seorang wanita seperti Grasiella.
"Nendra, aku masih ingin peluk Ella."
"Tidak perlu. Kamu sudah janji kita tidak akan berlama-lama disini. Kita juga harus menjenguk bayi Zico. Jadi, jangan buang-buang waktu!" seru Danendra tegas.
Adeline mendengus kesal. "Kau ini menyebalkan sekali."
"Kak, tidak apa-apa. Kakak juga perlu istirahat, ingat jaga baik-baik kandungan Kakak, yah." Grasiella menimpali agar sang kakak menuruti perintah Danendra.
"Ya udah, kakak pamit dulu, yah. Kamu juga harus nurut, biar cepat sembuh."
Grasiella mengangguk paham dengan bibir yang menebar senyum. Dia melambaikan tangan ketika sang kakak sudah kembali digandeng oleh sang kakak ipar.
Setelah kepergian Adeline dan suaminya, kini tinggalah Grasiella bersama ibunya di ruangan tersebut.
"Ma, Ella lihat mama belum makan apapun semenjak Ella sadar, sekarang, lebih baik mama makan dulu. Istirahat, Ma, jangan hanya fokus menjaga Ella tanpa memikirkan kondisi mama sendiri," ujar Grasiella dengan suara lirihnya.
"Mama tidak lapar, Ella." Monica menolak karena tidak ingin meninggalkan sang putri seorang diri.
"Kalau mama begitu, Ella jadi khawatir. Kita pulang ke rumah saja, yah?"
Ancaman Grasiella tampaknya berhasil karena saat ini Monica tengah berada di kantin rumah sakit. Menyantap makanan seorang diri hanya ditemani oleh rasa sesal atas semua sifat buruknya.
Tidak jauh berbeda, Grasiella yang berada di ruangan rawatnya pun juga tengah meratapi nasibnya yang kini berada di ujung tanduk. Selain tidak akan pernah memiliki keturunan, dia juga tidak tahu sampai kapan tubuhnya akan bertahan dari penyakit mematikan yang menggerogoti.
"Semua ini adalah karma atas perlakuan buruk ku. Jika aku tidak memiliki hobi bergonta-ganti pasangan, tentu aku tidak mungkin menderita seperti ini. Sekarang, hidupku sudah tidak ada harapan apapun lagi. Rasanya mungkin ma*i lebih baik dari pada harus hidup seperti ini." Tiba-tiba pikiran buruk terlintas di otaknya.
Wanita itu mengambil ponsel milik ibunya yang tertinggal di atas nakas lalu merekam sebuah Vidio untuk seseorang yang masih saja bersikap baik meski dia selalu melakukan kejahatan.
__ADS_1
Selesai membuat Vidio rekaman untuk seseorang, Grasiella melirik sebilah pisau yang berada di atas meja bersama dengan beberapa buah-buahan. Tanpa ragu wanita itu meraih pisau tersebut lalu mengangkatnya ke atas dengan mata terpejam. Dia berniat menghujam perutnya menggunakan pisau tersebut.
"Ella!" teriak Monica yang baru saja membuka pintu ruangan.
Grasiella tidak memperdulikan teriakan sang ibu, wanita itu tetap mengayunkan sebilah pisau itu ke perutnya. Tidak hanya satu kali, Grasiella bahkan melakukan tindakan itu sebanyak tiga kali.
Darah segar mengalir dari perut Grasiella, sedangkan Monica yang berusaha berlari untuk menghentikan kegiatan nekat sang putri ternyata sudah terlambat. Seorang ibu yang melihat putrinya berusaha mengakhiri hidupnya tentu saja panik. Wanita itu berlari keluar untuk memanggil dokter.
"Dok, tolong. Anak saya melukai dirinya sendiri!" teriak Monica meminta pertolongan.
Dokter dan beberapa perawat masuk ke ruangan perawatan Grasiella setelah melihat seorang ibu-ibu berteriak kesana kemari mencari bantuan.
Monica menunggu di ruangan tunggu seorang diri. Dia benar-benar bingung dengan jalan pikiran Grasiella. Baru saja keadaannya membaik, dia justru melukai dirinya dengan senjata tajam.
Dokter keluar setelah beberapa saat memeriksa kondisi Grasiella. Monica yang tengah duduk sendirian segera menghampiri dokter tersebut untuk menanyakan keadaan sang putri.
"Bagaimana, Dok? Grasiella baik-baik saja, 'kan?" tanya Monica menuntut.
Lutut Monica lemas seketika hingga tidak mampu menopang beban tubuhnya sendiri. Dia luruh ke lantai dengan air mata yang mengucur deras dari kedua sudut matanya.
"Ella, jangan tinggalin mama, Nak!" seru Monica dengan suara keras. Beberapa orang yang melintas bahkan menatap iba ke arahnya.
Zico yang kebetulan memang berniat mengunjungi kembarannya merasa heran karena sang ibu justru terduduk di lantai dan berteriak-teriak seperti orang tidak waras. Di sampingnya beberapa perawat berusaha menenangkan, tetapi wanita paruh baya itu tidak kunjung tenang.
"Mama, ngapain nangis di sini?" tanya Zico yang ikut duduk di samping sang ibu.
"Ella, Zico! Ella bunuh diri."
Zico membulatkan matanya sementara mulutnya terasa kelu untuk mengeluarkan suara.
__ADS_1
"Ella sudah pergi, Zico. Dia tega ninggalin mama sendirian," lanjut Monica masih histeris.
Saat Zico sudah dapat menguasai dirinya dia pun segera mengabari Adeline bahwa Grasiella meninggal. Wanita hamil muda yang baru saja sampai di mansion itu langsung bergegas datang ke kediaman sang ayah.
"Pelan-pelan!"
Danendra kesal karena Adeline berjalan seperti orang yang tidak hamil. Jika dia tidak ada disampingnya, mungkin wanita itu sudah berlari hanya demi adik yang selama ini selalu menyakitinya itu.
"Iya," jawab Adeline singkat, tetapi tidak memelankan langkah kakinya.
Begitu sampai di ruang tamu yang sudah banyak orang yang datang melayat, langkah Adeline terhenti saat melihat tubuh adiknya yang sudah berada di sebuah peti jenazah.
Danendra dengan sigap menangkap tubuh Adeline yang hampir luruh ke lantai. Wanita hamil yang sejak tadi tidak percaya dengan kabar buruk yang disampaikan sang adik kini sudah berderai air mata.
"Ella," lirih Adeline berpegangan pada jas suaminya.
"Iklaskan, Sayang. Biarkan Ella pergi, mungkin inilah yang terbaik untuk dia," ujar Danendra menasehati agar sang istri tidak semakin meratap. Baru saja ditinggal mati sang ayah, kini dia kembali harus kehilangan sang adik.
Adeline dan Monica menangis di atas pusara Grasiella setelah wanita itu di makamkan. Keduanya menyayangkan keputusan Grasiella yang memilih mengakhiri hidupnya. Walaupun mereka tahu, mungkin Grasiella tidak dapat menerima takdirnya yang memiliki penyakit yang mungkin di nilai oleh beberapa orang adalah penyakit memalukan atau aib.
Di tengah-tengah tangisannya tiba-tiba Monica meraung-raung seperti orang kesetanan. Wanita itu bahkan berniat menggali kuburan sang putri. Tangisannya terdengar pilu, Adeline yang berniat menenangkan segera di tarik oleh Danendra.
Laki-laki itu takut jika Monica justru akan kembali melukai Adeline. Pada akhirnya hanya Zico lah yang sekuat tenaga berusaha menghalangi niat sang ibu.
"Mama, jangan seperti ini. Kasihan Ella, Ma!"
Setelah beberapa saat meraung Monica kehilangan kesadaran. Wanita itu pingsan di pelukan sang putra. Mereka segera membawa Monica kembali ke rumah. Zico terpaksa harus tinggal bersama sang ibu untuk merawat wanita paruh baya itu. Dia mengorbankan keluarga barunya demi bakti seorang anak kepada orang tuanya.
Setelah kepergian sang putri, wanita itu selalu mencari keberadaan Grasiella dan berakhir mengamuk saat tidak menemukan putrinya. Zico yang kualahan mengatasi sang ibu pun sampai stres.
__ADS_1
"Bawa saja mama kamu ke rumah sakit jiwa, Co. Dia membutuhkan perawatan khusus untuk kejiwaannya," ujar Queen yang kebetulan datang ke rumah orang tua Zico