
"Queen melahirkan dimana, Co? Kakak tidak mungkin datang sekarang. Nendra sedang meeting di kantor."
"Terus gimana, Kak. Zico tidak mungkin juga meninggalkan mama sendirian."
Siapa yang tidak bingung jika menghadapi situasi seperti Zico, dia harus mengurus sang ibu yang terus menangis karena keadaan Grasiella tidak kunjung membaik. Sementara itu, di sisi lain istrinya juga akan melahirkan. Meskipun sang istri dan keluarganya tidak pernah menghargainya selama ini. Nyatanya Zico tidak mungkin lepas tangan begitu saja. Bayi di dalam perut sang istri merupakan darah dagingnya.
Jika bukan karena keadaan mendesak, Zico juga tidak ingin merepotkan sang kakak yang tengah hamil. Namun, sekarang hanya Adeline lah yang dia miliki sebagai keluarga.
"Ya sudah, kakak akan usahakan untuk datang secepatnya. Kamu bisa meminta tolong pada salah satu suster dulu sebelum kakak sampai," ujar Adeline setelah sekian lama diam.
"Baiklah. Kakak hati-hati di jalan," jawab Zico lalu mengakhiri panggilan.
Nabila menatap sang putri yang terlihat bingung. "Kenapa, Sayang?" tanyanya memastikan.
"Keadaan Ella semakin buruk, Ma. Zico minta tolong ke Elin untuk menggantikan dia sementara waktu. Istrinya akan melahirkan," jelas Adeline dengan raut wajah gelisah.
"Nendra tidak mungkin mengizinkan kamu datang kesana, Elin. Apa lagi mama angkatmu itu beberapa kali pernah menyerang kamu," ucap Nabila yang langsung di angguki oleh Adeline.
"Terus Elin harus gimana, Ma?" tanya Adeline meminta saran dari sang ibu.
"Kamu tunggu sebentar. Mama akan coba minta bantuan Mama Silvia," jawab Nabila yang akhirnya memutuskan untuk melibatkan sahabatnya.
Tidak lama berselang Nabila datang bersama Silvia. Mereka pun mendiskusikan jalan keluar yang akan mereka ambil untuk menyelesaikan masalah ini.
Pada akhirnya atas keputusan yang diambil bersama, mereka memutuskan untuk mengutus beberapa anggota ALF untuk berjaga di rumah sakit. Nabila dan Silvia benar-benar tidak ingin melepas sang menantu untuk tetap bersama dengan para orang jahat di sana.
Terlebih lagi keadaan Adeline memang sedang hamil dan itu membuat wanita itu tidak boleh terlalu banyak beraktivitas. Jika Danendra berada di sana juga akan tetap satu suara dengan kedua wanita paruh baya itu.
Sudah berhari-hari Grasiella di rawat di sebuah rumah sakit dengan perawatan medis yang tidak main-main. Adeline meminta Danendra untuk mengcover semua biaya dan setiap kebutuhan yang diperlukan untuk merawat Grasiella.
Betapa baiknya Adeline, meski sering kali di jahati, dia sama sekali tidak pernah membalas setiap kejahatan semua orang yang mendzaliminya. Tanpa dia membalas pun, setiap orang-orang yang jahat padanya langsung mendapat balasan yang setimpal dengan perbuatan.
__ADS_1
Zico pun semakin sibuk setelah kelahiran sang anak. Queen, istri yang selama ini salah paham atas hasutan sang ayah sudah meminta maaf dan meminta sang suami untuk bersama-sama berusaha memperbaiki diri.
Kini sudah seminggu lebih Grasiella hanya terbaring lemah di atas brankar pasien dengan beberapa alat-alat medis yang menempel di tubuhnya.
Monica sudah hampir putus asa karena mengira mungkin Grasiella akan tiada tidak lama lagi. Namun, saat harapannya atas sang putri sudah pupus, ternyata takdir berkata lain. Grasiella menunjukkan tanda-tanda akan sadar dari tidur panjangnya.
"Ella, kamu sadar, sayang." Monica berteriak saat merasakan ada pergerakan dari jari jemari putrinya.
Dia pun menekan tombol darurat untuk memanggil para dokter. Grasiella di periksa oleh beberapa dokter yang menangani.
Dokter keluar setelah memeriksa keadaan Grasiella yang memang sudah sadarkan diri. Meskipun keadaan wanita itu belum sepenuhnya membaik. Tetapi, Monica sudah sangat lega saat melihat putri kesayangannya sudah sadar.
Monica mengabari Zico tentang keadaan Grasiella setelah wanita itu sudah dipindahkan ke ruangan rawat inap. Para anak buah Danendra masih setia berjaga di rumah sakit.
"Ella takut, Ma," keluh Grasiella setelah kembali bisa berkomunikasi.
Monica mendekap erat putrinya yang sekarang tubuhnya semakin kurus. "Tenanglah, semua akan baik-baik saja," ujarnya berusaha memberi ketenangan.
"Maafkan mama, Ella. Jika bukan karena ulah mama, kamu tidak akan mengalami kejadian ini," ucap Monica menyesal karena telah mengizinkan selingkuhannya membawa pergi Grasiella.
Grasiella sudah mengetahui kondisi tubuhnya yang sudah tidak memiliki rahim dan juga terdapat virus mematikan yang entah suatu saat akan merenggut nyawanya setelah mendengar obrolan beberapa suster yang merawatnya.
"Ma, boleh Ella minta tolong?" tanya Grasiella.
"Minta tolong apa, Sayang?" tanya balik Monica dengan lembut.
"Ella ingin bertemu kakak."
"Kak Elin maksud kamu?" tanya Monica memastikan.
Grasiella hanya mengangguk pelan. Setelah mengalami semua kejadian buruk yang datang bertubi-tubi membuat Grasiella sadar atas kejahatannya kepada sang kakak selama ini.
__ADS_1
"Nendra pasti tidak akan mengizinkan Elin datang kemari, Ella. Dia bahkan hanya datang selama 2 hari saat kamu di rawat, selebihnya dia hanya mengirim bodyguard untuk memantau keadaan kamu."
Grasiella tersenyum kecut saat mendengar penjelasan sang ibu. Dia memaklumi apa yang dilakukan oleh Danendra untuk menjaga Adeline.
"Suami Kak Elin memang sudah semestinya melakukan itu, Ma. Selama ini aku selalu jahat pada kakak. Beberapa kali aku bahkan berusaha merebut suaminya," ungkap Grasiella dengan nada sangat lirih.
Tidak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka. Kedua wanita yang berada di dalam ruangan itu menatap ke arah pintu, ternyata Adeline bersama suaminya tengah berdiri disana.
"Kakak," lirih Grasiella dengan mata berbinar.
Danendra menggandeng sang istri dengan perlahan berjalan mendekati ranjang Grasiella. Monica seketika berdiri agar Adeline dapat duduk di kursinya.
"Ella, kakak senang melihat kamu sudah sadar. Maaf kalau kakak tidak bisa selalu ada untuk kamu," ucap Adeline mengawali pembicaraan.
"Mama sudah cerita semuanya, Kak. Terima kasih karena sudah memberikan perawatan terbaik untuk adik durhaka ini."
"Hust, jangan bicara seperti itu, Ella. Meski bagaimanapun kita adalah saudara. Kakak sangat sayang pada kalian," sela Adeline dengan cepat.
Adeline memang sempat bersikap seolah-olah tidak peduli pada Grasiella. Namun, sebenarnya dia begitu menyayangi adiknya itu tanpa batas.
"Kita buka lembaran baru, Ella. Jangan ungkit masa lalu lagi. Kita sebagai saudara harus bisa saling menjaga," lanjut Adeline ketika sang adik hanya diam dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Apakah kakak tetap akan menyayangiku jika kakak tahu, aku bukanlah anak kandung papa Anton?"
Pertanyaan itu tentu saja hanya bisa di ucapkan di dalam hati. Grasiella tidak mungkin membuka rahasia yang disembunyikan oleh sang ibu tentang identitas dia dan Zico sebenarnya.
"Kak, boleh Ella peluk kakak?" tanya Grasiella yang sedikit melirik Danendra. Laki-laki itu menatap tidak suka dengan permintaannya yang mungkin bisa dianggap melunjak.
"Tid–,"
Ucapan Danendra yang akan menolak permintaan Grasiella terhenti saat sang istri sudah lebih dulu memeluk wanita kurus yang hanya bisa duduk di brankar pasien.
__ADS_1