
Baku tembak itu memakan waktu hingga lima belas menit. Gerry sigap menyusul sang tuan muda. Mereka saling menembak dan melukai satu sama lain antar dua kubu.
Ketika akan menarik pelatuknya lagi guna mengincar satu musuh yang hampir akan menembak anggotanya yang sudah terkapar tidak berdaya, ternyata amunisi peluru miliknya telah habis.
"Sial. Aku lupa bawa amunisi cadangan." Danendra membuang pistol miliknya, lalu berlari menuju seseorang yang akan menembakkan peluru ke arah salah satu anggotanya. Dengan cepat, Danendra menendang tangan si musuh hingga senjata api milik musuhnya terlempar cukup jauh.
"Kurang ajar!" Si musuh menatap tajam Danendra. Namun, dia yang ditatap seperti itu sama sekali tidak takut.
"Kenapa?" tanya Danendra dengan raut wajah congkaknya.
Si musuh tidak menjawab. Dia justru langsung menyerang Danendra dengan pukulan. Akan tetapi, Danendra pun dengan sigap menangkisnya meski terpaksa harus melangkah mundur.
Perkelahian itu berlangsung cukup lama. Keringat sudah membanjiri tubuh mereka. Darah pun ikut menjadi pelengkap.
Pria itu berhenti dengan napas yang terengah. Namun, dia tetap memasang sikap waspada serta kuda-kuda yang kokoh.
"Lelah? Kau mau minum dulu?" tanya Danendra, kedua alisnya naik turun guna mengejek si musuh.
Musuh yang melawan Danendra melirik pistol yang berada cukup jauh dari jangkauan. Dia berniat ingin mengambil pistol tersebut. Namun, ketika dia berlari tiga langkah, Danendra langsung melayangkan tendangan di pinggang musuhnya.
Pria itu pun tumbang, Danendra menghadiahi musuhnya itu dengan pukulan bertubi-tubi di area wajahnya hingga babak belur. Posisi Danendra kini tepat berada di atas tubuh si musuh.
Suasana di tempat itu semakin ricuh. Mereka saling berkelahi satu sama lain. Ada yang baku tembak, juga baku hantam. Gerry pun juga melawan dua orang sekaligus. Merek saling serang dengan tangan kosong setelah amunisi mereka habis.
Danendra bangun dari posisinya, lalu berjalan ke arah sebuah pistol yang tergeletak di jalanan. Pistol itulah yang tadi terlempar saat dia menendang tangan musuh yang berduel dengannya barusan.
Usai pistol itu berada dalam genggaman, Danendra kembali menghampiri rivalnya tadi. Dia menarik kerah baju pria yang sudah babak belur itu dengan tangan kiri hingga bagian dada si rival sedikit terangkat.
"Aku tahu, kalian orang-orang yang dikirim oleh Joe untuk menghabisiku. Bilang padanya, aku tidak akan mengampuninya jika masih berani mengusik keluargaku!" teriaknya tepat diwajah sang rival, Danendra langsung menembakkan satu peluru di telinga pria itu.
"Arg! Telingaku."
Darah segar pun mengucur deras dari telinga rival Danendra tadi. Suara erangan kesakitan pun terdengar memekakkan telinga. Setelah berhasil membuat rivalnya cacat, Danendra beranjak dan meninggalkan pria itu.
Perang dadakan yang terjadi pada pagi ini di menangkan oleh kelompok ALF, meski beberapa dari mereka ada yang terluka. Namun, setidaknya Danendra telah lolos dari bahaya yang mengancam. Walau begitu, mereka belum bisa berpuas diri karena pasti akan ada serangan susulan dari pihak Dark Blood.
Gerry yang juga telah usai menumbangkan kedua lawannya kini bergegas menghampiri sang tuan muda, " Tuan, anda baik-baik saja?" tanyanya.
"Hanya melawan tikus-tikus got itu, tentu saja aku baik-baik saja." Danendra merapikan pakaiannya yang sempat berantakan. "Saat ini aku rasanya sudah gatal ingin menemui Joe dan membuat perhitungan dengannya," lanjut Danendra, lalu meludah ke samping.
"Nanti akan ada saatnya kita ratakan markas mereka dengan tanah, Tuan," timpal Gerry tanpa ragu.
"Ya, aku pun akan turun tangan sendiri untuk menghadapi pengecut itu!" tekad Danendra sudah bulat.
Ketika mereka sedang berjalan menuju mobil yang terparkir di jalanan, tiba-tiba terdengar suara tembakan lagi. Danendra dan Gerry menoleh ke belakang, ternyata anak buah mereka yang menembak rival Danendra tadi dibagian tangan kanannya.
"Dia berniat menembak anda, Tuan. Jadi saya berusaha melumpuhkan dia," ucap si pengawal berbadan jangkung itu.
__ADS_1
Kedua laki-laki berpengaruh di klan ALF itu mengangguk paham, "Biarkan dia tetap hidup agar melapor kepada pimpinannya," ucap Danendra tegas.
"Baik, Tuan."
Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka menuju mansion. Karena jalanan di depan tidak bisa dilewati, mereka pun akhirnya memutuskan untuk lewat jalan yang lain.
*****
Sebuah mobil mewah baru saja masuk ke halaman sebuah mansion megah setelah dibukakan pintu gerbang oleh penjaga. Kendaraan mewah itu berhenti di halaman depan mansion.
Ketiga penumpang turun dari mobil, seorang wanita tengah berdiri di depan pintu. Saat melihat kedua putrinya turun, wanita itu berjalan cepat menghampiri mereka. Nabila langsung melingkarkan tangannya di lengan anak sulungnya.
"Loh, Danendra mana?" tanya Nabila seraya menengok ke belakang, siapa tahu menantu pertamanya itu belum turun dari mobil.
"Nendra pulang ke mansion, Ma."
"Dia enggak nganterin kamu dulu, Sayang?"
"Kalau Kak Nendra ikut sama kita, musuh Om Ale pasti juga akan mengincar kita, Ma. Makanya aku yang bawa Kak Elin ke sini," sahut Rihanna menjawab pertanyaan sang ibu.
Nabila mengangguk, lalu membantu putri sulungnya berjalan masuk ke mansion. Rihanna sendiri berjalan bersama Malik setelah tugasnya sudah digantikan oleh Nabila.
"Untuk beberapa waktu, kamu sepertinya akan lebih aman berada di sini, Sayang. Musuh Ale pasti akan mengincar orang-orang yang dianggap berharga oleh Ale dan Danendra."
"Iya, Ma. Elin dan Devan akan tinggal di sini. Boleh, 'kan?"
"Kakak enggak perlu pikirin apa-apa lagi, yang terpenting kakak harus aman dulu. Kalau perlu nanti aku temenin kakak di sini," sahut Rihanna lagi.
Nabila membawa Adeline ke ruang keluarga, kemudian membantu anaknya itu untuk duduk di sofa single. Rihanna dan Malik masih setia mengikuti ke mana saja sang ibu dan kakaknya pergi. Mereka ikut duduk di sofa panjang di samping tempat duduk Adeline.
"Makasih, yah, Dek. Kamu udah perhatian banget sama kakak," ujar Adeline tulus.
Rihanna mengulurkan tangannya untuk menggapai tangan sang kakak, dia mengelus punggung tangan kakaknya itu, " Kita ini saudara, Kak. Sudah sewajarnya kita saling menyayangi," ucapnya penuh kasih.
Nabila berjalan dan mengambil posisi berdiri di tengah-tengah kedua anaknya. Wanita paruh baya itu merangkul dua wanita tersayangnya itu.
"Mama bahagia sekali melihat kalian akur begini."
Nabila terkejut saat tiba-tiba mendapat kecupan dari kedua anaknya itu. Mereka bertiga tertawa bahagia. Rihanna diam-diam memperhatikan raut wajah sang kakak yang masih saja tegang meski dalam keadaan tertawa sekalipun.
"Mama buatkan minuman buat kalian dulu, yah!" Nabila melepaskan rangkulan di bahu kedua putrinya.
"Iya, Ma." Adeline dan Rihanna menjawab bersamaan.
"Aku tahu kakak pasti ketakutan. Aku akan membantu Kak Nendra untuk menjaga kalian, Kak," batin Rihanna bertekad.
Malik yang duduk di samping sang istri pun tidak kalah bahagia. Melihat sang istri bisa tertawa lepas seperti itu membuatnya lega.
__ADS_1
"Dek, bukankah beberapa hari lagi kalian ada acara pesta pernikahan?" tanya Adeline tiba-tiba.
"Iya, Kak. Dua hari lagi. Makanya setelah ini kita mau ke butik untuk fitting baju pengantin," jawabnya sekaligus memberi tahu si kakak.
"Kamu enggak marah, 'kan, kalau kakak enggak bisa datang?" tanyanya lagi.
Rihanna tersenyum, meski sebenarnya jauh di lubuk hatinya dia berharap di hari bahagianya semua keluarga bisa hadir. Namun, kenyataan berkata lain. Setelah sang ayah tidak mungkin bisa datang, sekarang sang kakak satu-satunya pun tidak bisa datang juga.
"Tidak apa-apa, Kak. Buat aku sekarang yang terpenting adalah keselamatan kalian dulu."
"Iya, Kak. Jangan terlalu dipikirkan. Kami bisa memakluminya, kok!" sahut Malik.
Hari sudah beranjak siang, usai berbincang dan menikmati teh bersama. Akhirnya, Rihanna dan Malik terpaksa harus berpamitan. Seperti jadwal awal, mereka harus fitting baju pengantin.
Adeline pun sudah berada di kamarnya bersama Devan. Wanita dewasa itu duduk bersandar di kepala ranjang yang diganjal dengan bantal. Kedua matanya terus menatap sang putra yang sedang memainkan mainan di tangannya dengan posisi telentang di sampingnya.
"Devan, sabar, yah! Untuk sementara kita harus berpisah dengan ayah. Kamu dan bunda harus kuat," ucap Adeline sendu.
Suara ketukan pintu menarik perhatian wanita itu. Dia menatap pintu kamar yang knopnya sedang bergerak. Buru-buru Adeline mengusap cairan bening yang luruh dari kedua sudut mata.
Pintu terbuka, menampakkan seorang wanita paruh baya yang berdiri di sana. Di belakangnya juga ada seorang perempuan berpakaian khas pelayan sedang membawa nampan berisi makanan.
"Elin, waktunya kamu makan siang, Nak." Nabila melangkah masuk, di ikuti oleh sang pelayan.
"Aku belum lapar, Ma," jawab Adeline singkat.
Nabila mendaratkan bokongnya di ranjang yang kini menjadi tempat tidur sang putri dan cucunya. Dia menggapai sang cucu, lalu menaruhnya di pangkuan.
"Mama tahu, kamu sedang tertekan sekarang. Tapi, ingat sayang. Ada Devan yang masih sangat membutuhkan kamu," ujarnya dengan lembut.
"Tapi sampai kapan kita hidup seperti ini, Ma?" tanyanya dengan tatapan sendu. "Aku harus hidup dalam ketakutan," lanjut Adeline dengan bibir bergetar.
"Sabar, Sayang. Semua akan indah pada waktunya. Mama yakin, suami dan mertua kamu akan bisa mengatasi permasalahan ini."
Nabila beralih pada si pelayan yang masih setia berdiri di sana dengan nampan masih berada di tangan, "Taruh saja di atas nakas! Kamu boleh keluar."
"Baik, saya permisi, Nyonya."
Nabila mengulurkan tangannya untuk menggapai tangan putrinya, lalu menggenggam erat untuk meyakinkan hati anaknya bahwa mereka pasti akan dapat melalui ini semua.
"Kamu tahu, Elin. Mama juga pernah ada di posisi kamu. Hidup dalam ketakutan. Malah kamu lebih beruntung karena memiliki suami yang sangat menyayangi kamu. Berbeda dengan mama yang mendapat ancaman dari berbagai arah." Nabila menghela napas berat, "Papa Rihanna itu dulu tidak pernah berusaha sendiri untuk menyelamatkan mama ketika mama diculik oleh musuhnya. Dia hanya mengirim beberapa anak buah untuk menukar mama dengan apa yang musuhnya inginkan," lanjut Nabila, pikirannya kembali pada saat awal berkeluarga dengan Rocky– suaminya.
Adeline langsung merasa bersalah saat melihat sang ibu kembali mengenang masa lalunya yang buruk. Jika dia tidak bersikap berlebihan seperti ini, tentunya tidak akan membuat Nabila harus kembali membuka luka lama.
"Maaf, Ma. Gara-gara Elin, mama jadi mengingat masa kelam itu," ujarnya dengan rasa bersalah.
"Tidak. Ini bukan gara-gara kamu, Sayang. Mama hanya sedang bernostalgia," balasnya dengan kata-kata ambigu.
__ADS_1
"Bernostalgia saat mama di culik oleh musuh?" tanya Adeline memastikan, keningnya mengerut karena merasa heran.