Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Dilabrak Indira


__ADS_3

Gerry yang baru saja sampai di parkiran apartement berniat mencari kunci mobilnya di saku celana. Pada saat yang bersamaan tangannya tanpa sengaja menyentuh dompet yang juga berada di saku celananya.


Dia Otomatis mengambil dompet itu, kemudian membukanya. "Astaga, aku lupa memberikan kartu kredit untuk Celine. Kalau dia perlu apa-apa gimana?"


Dia pun bergegas masuk lagi ke apartment untuk menemui Celine. Gerry memang sengaja membuatkan kartu kredit untuk keperluan Celine dan keluarganya. Dan untuk kali ini, dia ingin semua keperluan pasangannya dialah yang menanggungnya sendiri.


Gerry masuk ke dalam lift dan segera memencet tombol lima untuk sampai di lantai unit apartment yang akan dihuni oleh keluarga Celine untuk sementara waktu. Lift itu membawa Gerry naik. Pintu lift terbuka setelah sampai di lantai tujuan.


Begitu pintu lift itu terbuka, Gerry langsung berlari ka arah calon istrinya yang sedang meringsek tubuh seseorang ke tembok, tangan kanannya sudah hampir meninju seseorang yang wajahnya belum terlihat oleh mata Gerry karena tertutup oleh rambut Celine.


"Celine!" seru Gerry saat tangan Celine sudah semakin dekat dengan wajah seseorang itu.


Celine menoleh ke arah sumber suara. Ketika melihat Gerry berdiri di belakang tubuhnya, Celine pun segera melepaskan tangannya yang semula memegang erat lawannya.


"Gerry," gumam Celine dan Indira kompak.


Ketika sudah terlepas dari cengkeraman Celine, Indira berlari mendekati Gerry. Pria itu terpaku ditempat saat melihat siapa lawan si calon istri.


Gerry mundur saat Indira hampir memeluknya. Dia menatap tajam Indira hingga wanita itu menghentikan langkah. Gerry pun beralih menatap Celine dengan tatapan cengo.


"Gerr," panggil Celine sedikit perasaan bingung.


"Gerry, dia menghajarku dengan tangan kasarnya itu," adu Indira berharap Gerry akan kasihan padanya.


Untuk sesaat Gerry memperhatikan wajah Indira yang sedikit terdapat lebam di pipi sebelah kiri. Gerry mengalihkan pandangan ke arah Celine yang hanya bisa diam membisu.


"Jadi kamu sedang bersenang-senang, Sayang? Maaf karena aku sudah mengganggu acara kesenangan kamu ini," ucap Gerry tiba-tiba, yang seketika membuat kedua wanita itu membulatkan matanya.


"In, kau sudah kenal calon istriku rupanya. Sudah lihat bagaimana kelebihan istriku dibandingkan dirimu, 'kan?" tanyanya seraya menatap sinis Indira. "Jadi, lebih baik kamu pergi sekarang juga. Dari pada wajahmu yang menghabiskan jutaan dollar untuk perawatan itu hancur lebur oleh tangan lentiknya," sambung Gerry dengan entengnya.


Celine pun seketika menahan tawa saat mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Gerry. "Pantas saja cantik, ngabisin duit, sih!" batinnya tertawa puas.


Sementara itu, Indira yang mendengar ancaman dari si mantan kekasih, langsung merinding. Bagaimana tidak, bukannya mendapat pembelaan, dia justru semakin mendapat ancaman yang mengerikan.


"Kamu akan menyesal Gerry. Aku pastikan kamu akan mencariku lagi!"


Indira akhirnya memutuskan untuk pergi. Usahanya untuk mengacaukan hubungan Gerry dan Celine sudah gagal total. Dia bahkan mendapat kenang-kenangan berupa luka lebam yang mungkin akan membekas untuk beberapa waktu.


Usai kepergian Indira Gerry langsung menghampiri Celine. Khawatir jika calon istrinya juga terluka, Gerry sampai memutar tubuh Celine berkali-kali untuk memastikan bahwa tidak ada sedikitpun luka di tubuh si calon istri.


"Apa, sih, Ger?" tanya Celine mulai kesal.

__ADS_1


"Kamu enggak apa-apa, kan?" tanya Gerry memastikan.


"Aku baik-baik saja, kok!"


"Syukurlah."


"Perempuan tadi mantan pacar kamu?" tanya Celine tiba-tiba.


"Em. Iya, dia mantanku."


"Putus sejak kapan?" tanyanya lagi.


"Dua Minggu yang lalu," jawab Gerry singkat, dia sebenarnya sangat ingin menghindari pembicaraan tentang Indira.


"Minggu lalu, dan kamu udah ngajakin aku nikah Minggu lalu!" pekik Celine tidak percaya.


"Nanti aku jelaskan setelah aku pulang kantor."


"Terus kamu ngapain ke sini lagi?" tanya Celine heran, pasalnya si calon suami tadi sudah bilang telat ke kantor.


"Aku kelupaan sesuatu," jawab Gerry.


Gerry mengeluarkan dompetnya, lalu mengambil satu kartu yang sudah dia siapkan untuk Celine. Dia menyerahkan kartu ke tangan Celine secara langsung.


"Ini apa?"


"Enggak mungkin kamu nggak tahu itu apa dan fungsinya buat apa."


"Aku tahu. Ini kartu kredit, tapi buat apa kamu kasih ke aku?"


Gerry menghela napas beratnya. Dia sudah sangat terlambat untuk datang ke kantor. Tuan mudanya pun pasti sudah mengomel habis-habisan di sana. Namun, dia pun harus berbicara sepelan mungkin agar Celine tidak sala paham.


"Buat pegangan kamu. Siapa tahu nanti kamu mau beli keperluan dapur," ujarnya sambil kembali memasukkan dompetnya ke saku celana.


Di luar dugaan, Celine justru mengembalikan kartu sakti itu ke tangan Gerry. "Aku belum jadi istri kamu, Ger. Kamu tidak berkewajiban untuk menanggung keperluanku," ucap Celine tegas.


Gerry pun kembali memberikan kartu itu kepada Celine, "Kalau begitu kamu belanjakan lebih banyak agar aku bisa selalu sarapan dan makan malam di sini," bujuk Gerry agar Celine mau menerima pemberiannya.


Celine tidak begitu saja menerima, dia masih ragu untuk menerima kartu tersebut. Celine takut jika dia dianggap matre sebab membebankan keperluan hidupnya pada Gerry.


"Kalau kamu enggak mau terima, biar aku berikan pada Mawar. Dia pasti mau," ancam Gerry, dia sudah membalik tubuhnya berniat kembali ke unit apartment yang ditinggali oleh Celine dan keluarga.

__ADS_1


"Jangan! Biar aku yang pegang." Celine terpaksa menerima kartu tersebut. Dari pada ditangan Mawar, kartu itu akan lebih aman jika ada di tangannya.


Celine sangat hapal dengan peringai Mawar yang cukup boros perihal uang. Gadis itu bahkan memiliki misi untuk mendapatkan pria kaya agar hidupnya terjamin.


"Gadis pintar," puji Gerry, dia merapikan rambut Celine yang sempat dijambak oleh Indira tadi.


"Sudah, Ger. Sana berangkat! Nanti kamu terlambat."


"Baiklah. Kamu langsung masuk apartemen, yah! Kalau ada perempuan tadi, hajar saja. Kalau perlu berikan jurus tapak naga api agar dia kapok," kelakar Gerry yang langsung mendapat cubitan maut dari Celine.


"Kamu nyebelin banget, sih!"


"Ya udah, aku berangkat dulu, yah!"


*****


Celine masuk ke unit apartmentnya setelah memastikan Gerry benar-benar pergi dari sana. Wanita tomboi itu berjalan menuju kamar untuk mencari keberadaan sang ibu. Wanita tua yang merawatnya sejak kecil itu tidak terlihat di ruang tamu.


"Ibu," panggil Celine seraya mengetuk pintu kamar yang tertutup.


Dia yakin bahwa sang ibu berada di kamar itu, sebab pintu kamar sebelahnya dalam keadaan terbuka dan sang ibu tidak ada di sana. Dua kali ketukan barulah terdengar sahutan dari dalam.


"Masuk, Cel!"


Celine pun membuka pintu kamar itu, terlihat sang ibu sedang berbaring di ranjang. Wanita tua itu tersenyum lembut saat melihat putri sulungnya sedang berjalan menghampirinya.


"Kamu nganterin Gerry sampai bawah, Cel?" tanya si ibu heran, sebab, Celine lama berada di luar.


"Em, iya, Bu." Celine terpaksa berbohong, tidak mungkin dia mengatakan pada ibunya bahwa dia baru saja dilabrak seseorang.


"Baguslah. Kamu memang seharusnya lebih perhatian pada calon suami kamu. Dia sudah sangat baik karena dengan tulus menerima kekurangan kita, loh!"


"Em, iya, Bu. Mawar di mana?" tanyanya saat tidak melihat keberadaan si adik satu-satunya itu.


"Di sini, Kak," sahut Mawar dari arah pintu. Gadis itu hanya mengenakan handuk kimono berwarna putih.


"Kamu mandi? tanyanya memastikan. "Kita kan belum ada baju ganti," sambungnya.


"Itu masalahnya. Aku lupa! Habis badan lengket banget. Selama di rumah sakit aku kan enggak mandi, Kak!"


"Buset! Perawan apaan sampai betah enggak mandi berhari-hari?"

__ADS_1


__ADS_2