Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Sadar


__ADS_3

Setelah hampir satu Minggu Nabila koma, wanita yang menjadi korban penembakan putri kesayangannya itu kini sudah sadar. Dia segera di pindahkan dari ruang Observasi setelah di pastikan keadaannya sudah lebih baik. 


Silvia masih dengan setia menemani sang sahabat di sampingnya. Ketika melihat Nabila sudah sadar, Silvia merasa antara senang dan sedih. Wanita itu tentu saja senang karena sang sahabat akhirnya sadar dari koma, tetapi dia juga merasa sedih dan bingung bagaimana caranya dia menjelaskan kepada Nabila tentang kematian Arnold. 


Nabila menatap bingung Silvia yang duduk dengan gelisah di sampingnya. Wanita yang sudah sejak kecil menjadi sahabatnya itu seperti sedang berusaha menyembunyikan sesuatu darinya. 


"Kami kenapa, Sil? Apakah ada sesuatu yang ingin kamu katakan padaku?" tanya Nabila tanpa melepas pandangan dari Silvia. 


Silvia sedikit mendongak saat merasakan akan ada sesuatu yang keluar dari kedua netranya. "Tidak apa-apa, Bil. Kamu tidak perlu memikirkan apapun. Yang penting, sekarang kamu harus cepat sembuh," ujar Silvia yang memutuskan untuk tidak langsung memberikan tahu sang sahabat. 


"Kamu aneh sekali, Sil. Aku merasa kamu seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Apa kamu sudah tidak ingin terbuka padaku lagi?" tanya Nabila yang masih saja berusaha mengulik sesuatu yang berusaha di sembunyikan sahabatnya. 


"Ah, tidak ada, kok, Bila. Aku justru punya kabar gembira untuk kamu," ujar Silvia berusaha mengalihkan pembicaraan. 


"Kabar apa, Sil?" tanya Nabila penasaran. 

__ADS_1


Silvia berusaha menyembunyikan perasaan gelisahnya. Dia memaksa diri untuk tidak mengingat permasalahan yang mengganggu benaknya saat ini. 


Dia memasang wajah ceria untuk membuat Nabila tidak lagi membahas permasalahan yang berusaha dia sembunyikan. 


"Kita … akan segera menjadi nenek, Bila. Adeline sekarang sedang hamil," ujar Silvia dengan nada bersemangat. 


Wajah pucat Nabila terlihat terpaku dengan kabar yang dibawa oleh Nabila. kedua netranya berkaca-kaca saat mendapat kabar bahagia dari sang putri yang sampai saat ini masih dia rahasiakan. 


"Jadi, kabar itu memang benar, Sila? Adeline sedang hamil?" tanya Nabila terharu. 


"Iya, Sil. Kita akan jadi nenek!" seru Silvia dengan ekspresi bahagia. 


"Syukurlah. Boleh tidak kalau aku ingin bicara padanya?" tanya Nabila yang sejujurnya memang merindukan menantu dari sahabatnya itu. 


Raut wajah Silvia mendadak berubah tegang. Dia menghela napas panjang. "Aku tidak yakin kalau Adeline bisa datang kemari, Sil. Akhir-akhir ini dia sering mendapat serangan entah dari siapa." 

__ADS_1


Nabila terkejut dengan apa yang baru saja di ungkapkan boleh sahabatnya. "Ada yang menyerang Adeline? Siapa? Kenapa menyerang Adeline?" tanya Nabila berapi-api. 


"Aku tidak tahu mereka suruhan siapa. Tapi, hal ini terjadi setelah aku mengungkapkan jati diri Adeline di hadapan Rihanna," ungkap Silvia yang langsung membuat Nabila menutup mulutnya tidak percaya. 


"Kamu mengungkapkan jati diri Adeline, bahwa dia adalah putriku pada Rihanna?" tanya Silvia sekali lagi. 


"Iya, Bil. Aku pikir Rihanna memang seharusnya tahu. Walau bagaimanapun dia adalah saudara satu ibu Adeline," jawab Silvia. 


"Kamu tidak pernah berpikir bahwa Rihanna mungkin akan mencelakai Adeline? Dia itu memiliki ambisi yang besar terhadap Danendra, Sil!" seru Nabila dengan gelengan kepala. 


"Apakah mungkin mereka adalah suruhan Rihanna?" tanya Silvia dengan raut wajah cemas. 


"Kemungkinan sudah bukan Rihanna lagi, tapi suamiku yang akan bertindak, Sil. Dia pasti akan membuat ulah jika tahu bahwa anakku masih hidup. Selama ini yang dia tahu adalah anakku sudah meninggal," ujar Nabila yang berusaha bangun dari posisinya. 


"Apakah masalah ini berkaitan dengan kematian Om Arnold, yah!" Silvia membatin dengan rasa sesal di hatinya. 

__ADS_1


__ADS_2