
Adeline kini dirawat di sebuah rumah sakit setelah menyayat pergelangan tangannya sendiri. Beruntung sayatan tersebut tidak mengenai urat nadinya meski luka yang tercipta cukup dalam.
Sebenarnya dokter tidak mewajibkan Adeline untuk dirawat secara intensif karena keadaan wanita hamil itu baik-baik saja. Namun, Danendra dan Silvia kekeh dengan pendirian mereka agar Adeline tetap berada di rumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik.
Kini mereka sedang berkumpul di ruangan VIP yang ditempati oleh Adeline. Tidak ketinggalan, Alefosio juga berada di sana karena mengkhawatirkan keadaan sang menantu ketika mendapat kabar bahwa Adeline menyayat tangannya sendiri menggunakan pisau lipat milik Danendra.
"Sayang, kenapa kamu nekat sekali, sih?" tanya Danendra yang duduk di samping ranjang pasien.
"Aku hanya ingin memutuskan hubungan antara aku dengan pria pengecut itu, Nendra."
"Sayang, dengarkan mama baik-baik! Tidak ada satupun cara yang bisa memutuskan hubungan darah antara ayah dan anak. Kamu harus tahu itu, Elin." Nabila menasehati putrinya dengan sangat lembut.
"Tapi, Ma. Pria itu bukan pria baik. Elin malu memiliki ayah bejat sepertinya," ujar Adeline yang menyandarkan kepalanya di dada sang ibu.
Nabila membelai penuh kasih sang putri yang sedang dikuasai amarah. "Mama tahu, kamu hanya sedang emosi saja, Sayang. Mama yakin suatu hari nanti kamu akan memaafkan semua kesalahannya," ucap Nabila.
"Elin, mau sebesar apapun amarah kamu, jangan pernah melukai diri sendiri seperti tadi, Sayang. Terlebih lagi kamu sedang dalam keadaan mengandung," timpal Silvia mengingatkan sang menantu.
"Papa tahu kekecewaan kamu, Elin. Tapi kami tidak ingin kehilangan kamu dan calon anak kamu itu," sela Alefosio dengan penuh perhatian.
Adeline menundukkan wajahnya saat semua orang berusaha menasehatinya. Wanita hamil itu sangat paham bahwa mereka yang berada di tempat yang sama dengannya adalah orang-orang yang mencintai dirinya dengan tulus.
Sedikit sesal dirasakan oleh wanita hamil muda tersebut. Dia merasa bersalah karena membuat semua orang yang menyayanginya khawatir.
"Janji, yah, jangan pernah melakukan hal-hal nekat lagi. Aku takut kamu kenapa-kenapa, Sayang." Danendra dengan khawatir memohon kepada istrinya.
"Akan aku usahakan, Nendra."
"Kamu tahu, rasanya jantungku berhenti berdetak saat melihat kamu berniat mengakhiri hidup kamu, Adel. Aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa kamu," ujar Danendra jujur.
Semenjak resmi menikahi wanita yang usianya jauh lebih dewasa darinya, Danendra memang banyak berubah. Dia berusaha tetap melindungi sang istri dan menuruti permintaan istrinya untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan juga.
"Terima kasih atas cinta dan kasih sayang yang kamu berikan, Nendra. Aku merasa beruntung memiliki kamu sebagai suami," ucap Adeline dengan kedua mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Adeline tidak menyangka jika setelah menikah dengan berondong jagung yang dulu sering kali membuatnya naik darah itu ternyata membawa banyak kejutan di kehidupannya. Jika dia tidak menikah dengan Danendra, mungkin hingga saat ini dia tidak akan pernah bertemu dengan ibu kandungnya.
Jika Adeline sedang bahagia karena mendapatkan limpahan kasih sayang dari keluarga barunya itu, lain lagi dengan yang sedang dirasakan oleh kedua perempuan yang sebenarnya masih memiliki ikatan darah dengan Adeline. Mereka yang dulu selalu dimanja oleh ayahnya masing-masing, kini harus rela kehilangan perhatian dari orang tuanya.
Grasiella sedang memegang pipinya yang baru saja menjadi korban tamparan sang ayah. Laki-laki yang dulu selalu membelanya itu memarahinya habis-habisan karena telah berusaha memfitnah Adeline.
Sementara itu, Monica hanya mampu menutup mulutnya tatkala sang suami menghajar putri kesayangannya. Dia sebenarnya ingin membela Grasiella, tetapi tatapan Antonio saat ini sangat berbeda dengan biasanya. Suaminya itu seperti sedang dikuasai oleh amarah yang sangat besar.
"Papa tampar Ella demi membela Kak Elin? Papa jahat." Grasiella berniat mengayunkan kaki untuk segera pergi dari tempat itu.
Sayang sekali sang ayah dengan cepat menahannya dengan mencekal pergelangan tangan dengan sangat erat. Grasiella bahkan sampai meringis kesakitan.
"Lepas, Pa! Papa menyakiti Ella."
"Papa akan melepaskan kamu. Tapi setelah kamu jelaskan semua kelakuan buruk kamu di luar sana, Ella. Kamu sudah mencoreng nama baik papa."
Grasiella masih berusaha untuk melepaskan eratan tangan sang ayah yang terasa semakin kuat. Dia yakin, sekarang pergelangan tangannya sudah memerah akibat perlakuan kasar ayahnya itu.
"Diam, Monica! Ini semua pasti karenamu. Grasiella menuruni sifat kamu yang suka gonta-ganti pria." Antonio tanpa sadar mengungkit masa lalu sang istri.
Raut wajah Monica tiba-tiba berubah warna menjadi merah padam. Dia tidak terima karena sang suami mengingkari janjinya yang sudah mereka sepakati sebelum menikah.
"Kamu berani mengungkit masa laluku, Anton. Bukankah dulu kamu sendiri yang bilang agar kita melupakan lembah hitam yang pernah menjeratku dulu!" bentak Monica tidak terima.
"Argh!" teriak Antonio seraya menyentak lengan Grasiella dengan kencang.
Masih dengan amarah yang semakin membumbung tinggi, Antonio keluar dari kediamannya. Pria itu sempat meraih kunci mobil milik Adeline yang berada di atas lemari berukuran kecil di ruang tamu.
Semenjak pergi dari kediaman Antonio, Adeline memang meninggalkan segala aset miliknya yang berharga di tempat itu. Dia merasa percuma memiliki harta karena nyatanya dia sama sekali tidak berhasil merebut kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya.
Pria itu mengabaikan teriakan istrinya yang memanggil namanya. Antonio benar-benar merasa sudah tidak betah berada di rumahnya sendiri.
Keluar dari rumah tersebut, Antonio segera masuk ke mobil kesayangan putri sulungnya. Mobil itu padahal dibeli Adeline sendiri menggunakan hasil kerja keras wanita itu sendiri. Namun, keluar dari rumah tersebut, Adeline bahkan tidak membawa selembar kain pun selain yang dia pakai saat itu juga.
__ADS_1
Antonio menginjak pedal gas begitu dalam hingga kendaraan itu melesat. Pria itu tidak memiliki tempat tujuan, yang dia inginkan adalah menemui Adeline. Akan tetapi dia takut jika sang putri akan kembali nekat seperti tadi.
"Elin, maafin papa, Nak. Papa janji tidak akan lagi menampakkan diri di hadapan kamu," ucap pria paruh baya itu dengan sesak di hatinya.
Pikiran Antonio benar-benar kalap. Pria itu hanya sibuk meratapi segala perlakuan buruknya terhadap sang anak. Tidak ada yang lebih menyesakkan dada dari pada saat kita tahu telah memberikan kesakitan luar biasa kepada darah daging kita sendiri. Itulah yang sedang disesalkan oleh seorang Antonio Abraham.
Raga pria paruh baya itu memang tengah mengendarai mobil, tetapi tidak dengan pikiran dan hatinya. Dia sama sekali tidak memperdulikan keadaan sekitar. Fokusnya saat ini adalah bagaimana caranya dia meminta maaf kepada sang putri sulungnya.
Saat berada di sebuah tikungan, Antonio tidak mengurangi kecepatan kendaraannya. Dari arah berlawanan tiba-tiba muncul sebuah truk besar yang mengejutkan lagi, truk tersebut mengklakson hingga menarik kesadaran Antonio. Reflek pria paruh baya itu membanting setir ke arah kiri.
"Argh." Antonio berteriak seraya berusaha untuk menghindar, sayangnya jarak antara keduanya sudah sangat dekat membuatnya tidak bisa melakukan apapun.
Truk besar yang tidak sempat menghindar ataupun mengerem itu pun menabrak bagian belakang mobil yang dikendarai oleh Antonio sehingga mobil itu terguling beberapa kali sampai masuk ke sebuah jurang.
Mobil itu terguling hingga dasar jurang bersama dengan sang pengemudi yang tidak sempat menyelamatkan diri.
Beberapa jam berlalu petugas keamanan beserta tim SAR gabungan sedang melakukan pencarian. Berita juga sudah tersebar ke setiap penjuru dengan cepat. Pada saat itu, Adeline tengah menonton televisi untuk mengusir rasa bosannya.
"Sebuah mobil mewah mengalami kecelakaan dengan sebuah truk besar. Mobil mewah tersebut masuk ke dalam jurang sedalam 10 meter beserta sang pengemudi yang tidak sempat menyelamatkan diri," ucap sang pembaca acara di sebuah Chanel TV yang di tonton oleh Adeline.
Setelah keterangan tersebut, mereka memutar sebuah Vidio detik-detik terjadinya kecelakaan yang berasal dari salah satu saksi yang berada di mobil yang tepat berada di belakang mobil si korban.
Kedua netra Adeline membelalak sempurna ketika mengenali mobil yang ada di Vidio tersebut merupakan mobil kesayangannya. Tangannya yang tengah memegang remote tv tiba-tiba melemah hingga remote tersebut jatuh ke pangkuan.
"Itu mobil milikku, lalu siapa yang berada di dalamnya?" monolog Adeline masih dengan rasa terkejutnya.
Masih dalam keadaan syok karena kendaraan yang masuk ke dalam jurang itu merupakan mobil yang dia beli dari kerja kerasnya sendiri, tiba-tiba ponsel yang berada di atas nakas berdering.
Tatapan mata Adeline tertuju pada layar canggih miliknya itu. Tangannya mengulur meraih ponsel yang masih berdering tersebut. Perasaan Adeline sudah tidak karuan ketika melihat nama Zico yang terpampang di layar kaca ponselnya.
Dengan perasaan was-was Adeline menerima panggilan yang berasal dari sang adik. Ketika panggilan terhubung, Zico tanpa basa-basi langsung menyampaikan kabar buruk tersebut.
"Papa kecelakaan menggunakan mobil kakak. Sampai saat ini tim pencarian belum berhasil menemukan papa, Kak. Mobil kakak dalam keadaan kosong tanpa seorangpun di dalamnya," ujar Zico yang langsung membuat Adeline lemas.
__ADS_1