
Lain lagi dengan kehidupan yang di jalani oleh Grasiella. Wanita yang kini hanya bisa berjalan dengan bantuan tongkat itu kini sedang berada di sebuah bandara. Dia menunggu sang suami yang katanya akan kembali dari tanah air.
Meski merasa heran karena sang suami meminta dirinya untuk menjemput di bandara, Grasiella tetap melakukan hal tersebut. Sudah hampir satu jam wanita itu menunggu, tetapi orang yang ditunggu tidak juga menunjukkan batang hidungnya.
"Maksudnya apa, sih! Menyuruhku agar tidak terlambat menjemput, tapi dia sendiri belum sampai di bandara!" gerutu Grasiella kesal.
Wanita itu berjalan mondar-mandir kesana kemari meski kesusahan karena sebenarnya untuk berdiri saja dia memerlukan kedua tongkat sebagai penopang beban tubuhnya.
Berkali-kali Grasiella memeriksa jam yang melingkar di tangannya. "Sudah lewat satu jam. Mending aku tinggal pulang saja, dia."
Grasiella membalikkan tubuhnya untuk segera pergi dari tempat yang semakin ramai itu. Namun, langkahnya terhenti saat ada suara yang begitu familiar memanggil namanya.
Wanita itu menoleh ke belakang, kedua netranya membelalak lebar saat melihat siapa yang berada di belakangnya. Bukan hanya itu yang membuatnya terkejut, tetapi kehadiran seorang wanita yang melingkarkan tangan di lengan suaminya.
"Kak Ichad," gumam Grasiella mematung di tempat.
Richard dan si wanita yang bergelayut manja di lengan pria itu berjalan menghampiri Grasiella. Seakan tidak merasa melakukan kesalahan apapun, Richard berdiri dengan tegak tepat di hadapan sang istri.
"Dia siapa, Kak?" tanya Grasiella sambil menunjuk wanita yang menempel pada suaminya.
Tatapan Grasiella tertuju pada si wanita yang belum juga melepas tangannya yang melingkar di lengan Richard.
"Dia." Richard menatap si wanita lalu tersenyum bangga. "Istri keduaku," ujarnya tanpa basa-basi.
"Apa?" teriak Grasiella terkejut.
"Kamu tidak perlu terkejut seperti itu, El, bukankah aku juga tidak pernah ikut campur tentang urusanmu?" tanyanya dengan santai seakan tidak memiliki beban.
"Tapi … aku istrimu, Kak! Bagaimana bisa kamu menikah lagi tanpa izin dariku."
__ADS_1
"Sudahlah, aku sangat lelah dan ingin segera beristirahat. Aku menyuruhmu datang hanya untuk memperkenalkan dia sebagai madumu saja," ujarnya tanpa rasa bersalah.
"Kamu mau bawa kemana istri barumu itu, Kak? Sementara kamu saja di negara ini menumpang di kediaman papaku," ujar Grasiella yang sengaja ingin menjatuhkan harga diri sang suami di hadapan istri mudanya.
"Kami di sini hanya untuk honeymoon. Jadi selama berada di sini, kami akan tinggal di hotel," jawabnya tanpa memusingkan perkataan Grasiella.
"Kamu enggak bisa ngelakuin ini, Kak! Aku tidak terima kamu menduakan aku!" teriak Grasiella yang seketika membuat banyak pasang mata yang menatap ke arahnya.
Richard menatap sekelilingnya yang juga menatap ke arahnya. Pria itu kesal karena sikap Grasiella yang tidak bisa menjaga nama baiknya di depan umum seperti ini.
Pria itu melepas tangan istri barunya lalu dengan cepat mencengkram erat bahu Grasiella. "Kau benar-benar wanita tidak tahu di untung, El. Jika kau berani memperlakukan aku dan istriku di tempat ini, aku tidak segan menyebarkan Vidio gilamu dengan beberapa pria br*ngsek itu!" tekan Richard berbisik di telinga istrinya.
Mendapatkan ancaman yang tidak main-main dari sang suami membuat Grasiella bungkam. Wanita itu tidak lagi mengajukan keberatan atas pernikahan kedua suaminya. Meskipun sebenarnya dia merasa tidak terima atas pengkhianatan Richard.
"Kau ataupun aku sama saja, El. Jadi jangan merasa paling suci!"
Grasiella memejamkan kedua matanya saat merasakan perih di sana. Ternyata seperti inilah rasanya di khianati, meski selama ini dia pun tidak pernah setia pada suaminya. Namun, dia merasa lebih baik karena tidak mengkhianati komitmen mereka untuk tetap menjalani mahligai pernikahan berdua.
Grasiella memutuskan untuk kembali ke kediaman sang ayah. Wanita itu merasa sudah sangat muak dengan pernikahan yang ternyata hanya di penuhi kepalsuan dari kedua belah pihak.
"Aku harus segera berpisah darinya, lagi pula aku juga harus mengejar Danendra," gumamnya tersenyum licik.
Ketika di perjalanan pulang ke kediaman sang ayah, tiba-tiba Grasiella merasakan perutnya sangat tidak enak. Seperti kembung dan ingin mengeluarkan sesuatu agar merasa lega. Tidak kuat menahan agar tidak muntah di jalan, Grasiella akhirnya meminta sopirnya untuk menghentikan perjalanan.
Saat mobil berhenti Grasiella langsung turun dan mengeluarkan segala yang terasa mengganggu di perutnya.
"Nona tidak apa-apa?" tanya sang sopir khawatir.
"Enggak apa-apa, kita pulang saja."
__ADS_1
"Tapi, wajah nona pucat sekali," ujar sang sopir memberitahu.
"Enggak apa-apa, kita pulang sekarang!" perintah Grasiella tanpa mau di bantah.
Mereka akhirnya kembali ke kediaman Antonio. Grasiella buru-buru masuk ke kamar ketika merasakan ingin kembali mengeluarkan sesuatu dari perutnya.
Wanita itu berjalan cepat meski dengan susah payah ke kamar mandi, mengeluarkan cairan bening berwarna kuning yang terasa begitu pahit di mulutnya. Grasiella bahkan sampai merasa lemas akibat beberapa kali mengeluarkan cairan dari tubuhnya itu.
"Kenapa aku merasa tubuhku agak lain, yah?" tanyanya kepada diri sendiri.
"Mungkin aku hanya kelelahan dan stres saja. Ini semua gara-gara Kak Elin dan Richard! Aku pasti akan membalas kalian," ujarnya penuh dendam.
Grasiella selalu menyalahkan Adeline atas apapun yang terjadi di kehidupannya. Wanita itu sudah terlanjur menanamkan rasa benci kepada wanita yang sudah puluhan tahun menjaganya itu. Apapun pencapaian yang di raih Adeline, selalu membuatnya merasa tidak senang.
Wanita itu pun mengistirahatkan tubuhnya setelah membersihkan diri. Grasiella sama sekali tidak curiga dengan keanehan yang terjadi pada tubuhnya. Wanita licik itu mengira hanya butuh istirahat saja.
Tanpa di sadari olehnya, bahwa yang terjadi sebenarnya adalah di rahimnya telah tumbuh benih dari pria yang pernah menikmati malam bersama.
Masih di tempat yang sama, tetapi di ruangan yang berbeda, seorang pria paruh baya sedang memegang sebuah berkas di tangan. Wajahnya terlihat kebingungan.
"Bagaimana bisa tiba-tiba sahamku berpindah tangan? Aku tidak pernah merasa pernah menjualnya sedikitpun." Pria itu terlihat frustasi dan melemparkan berkas di tangannya ke atas meja.
Dia menjatuhkan dirinya di kursi putar di ruang kerja. Kedua tangannya menjambak kasar rambut yang sudah sedikit memutih dengan kedua mata terpejam.
"Pasti ada seseorang yang berniat menjatuhkanku, tapi siapa? Aku tidak pernah mempercayakan segala urusan kantor pada orang lain," gumamnya frustasi.
Beberapa saat kemudian, pria itu menegakkan tubuhnya. Tangan kanannya kembali meraih berkas yang sempat dia lemparkan ke meja. Sekali lagi, dia membaca berkas tersebut.
"Apakah semua ini berkaitan dengan suami Adeline? Laki-laki itu pernah mengancamku hanya karena tidak mempercayai Adeline saat memfitnah Grasiella," ujarnya kembali mengingat kejadian yang membuat rahasia besar tentang identitas Adeline terbongkar.
__ADS_1