Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Permintaan maaf Rocky


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Mansion Alefosio sudah dikejutkan dengan kedatangan seorang tamu tidak diundang. Danendra yang mendapat kabar itu dari salah seorang pelayan langsung turun ke bawah untuk memastikan bahwa orang tersebut tidak membuat kegaduhan. 


Adeline yang mencemaskan sang suami ikut berlari mengekori suaminya itu. Dia tidak ingin terjadi hal-hal diluar batas ketika suaminya tidak dapat mengendalikan amarah. Adeline paham, Danendra pasti tersulut emosi saat bertemu dengan orang yang bertamu saat ini. 


Ketika Danendra dan Adeline turun ke lantai bawah terlihat tidak ada keributan sama sekali. Seorang tamu tidak diundang itu duduk dengan tenang di sofa single. Sementara itu, Alefosio, dan Silvia mengapit Nabila yang duduk di sebuah sofa panjang. 


"Ada apa kau tiba-tiba datang kemari?" tanya Alefosio kepada si tamu. 


"Aku hanya merindukan istriku, apakah salah?" jawabannya sambil membalik pertanyaan. 


Nabila sedikit tersentak saat mendengar ucapan dari Rocky, sang suami yang tiba-tiba mengatakan bahwa dia merindukannya. Padahal, selama ini Rocky sama sekali tidak memiliki usaha apapun untuk menemuinya selain saat pertengkaran yang terjadi ketika di pemakaman Arnold, ayah Nabila. 


"Wah-wah-wah. Ada angin apa tiba-tiba Tuan Rocky yang terhormat mendatangi rumahku?" 


Danendra bertepuk tangan. Namun, tetapannya mengisyaratkan ketidaksukaan atas kedatangan laki-laki tersebut. Wajar saja jika Danendra tidak suka pada laki-laki yang merupakan ayah tiri sang istri. Dia tahu segalanya yang sudah dilakukan oleh laki-laki itu hingga menjadikan istrinya sebagai korban. 


Mungkin, jika bukan karena sedikit kebaikan Arnold waktu itu, Danendra tidak akan pernah mendapatkan Adeline sebagai istrinya. Jangankan menjadikan Istri, mungkin dia pun tidak akan pernah mengenal Adeline karena wanita tercintanya itu sudah dilenyapkan atas perintah laki-laki yang duduk di sofa single itu. 


"Nendra. Jangan bersikap kurang ajar! Hargai perasaan mamaku," tegur Adeline yang sangat paham dengan sorot mata suaminya. 


Danendra menoleh ke arah Adeline dan mengulas senyum manisnya. Meski Danendra tersenyum, tetapi Adeline paham, suaminya itu hanya sedang berpura-pura. 


"Sayang, apa tidak lebih baik kamu di kamar bersama Devan?" tanya Danendra yang syarat akan perintah. 


"Tidak! Aku tidak ingin kamu membuat kekacauan." Adeline menolak tegas. 

__ADS_1


Laki-laki berparas tampan itu mendengus kesal. Tetapi, dia pun tidak bisa mendebat sang istri yang akan membuat wanita dewasa itu kembali merajuk seperti kemarin. Masalah kemarin saja dia kualahan untuk merayu wanita yang sudah memberinya satu keturunan itu. 


"Baiklah. Ayo duduk!" 


Sepasang suami istri itu duduk di sofa yang lebih pendek dari yang diduduki oleh ketiga orang tuanya. Adeline sedikit menganggukkan kepala saat tatapannya bertemu dengan Rocky. Berbeda dengan Danendra yang justru seakan menantang laki-laki paruh baya itu lewat sorot mata elangnya. 


"Rocky, lebih baik kamu pulang sekarang!" usir Nabila kepada laki-laki yang masih sah menjadi suaminya. 


"Aku tidak akan pulang, sebelum mendapatkan maaf dari kamu, Nabila. Maafkan aku," ujar Rocky tulus. 


Laki-laki yang dulu begitu kejam itu sudah menyadari semua kesalahannya setelah membaca sebuah buku diary bertuliskan tangan sang istri. Sejak saat itulah dia bertekad akan melepaskan Nabila dari penjara yang dia ciptakan selama ini. 


Sayangnya, setiap hari dia berusaha melupakan wanita yang sudah begitu sabar hidup bersamanya itu, justru semakin besar pula rasa cinta yang dia rasakan. Pada akhirnya, Rocky memutuskan untuk mendatangi mansion Alefosio untuk meminta maaf pada wanita yang selama ini hanya dia berikan kesakitan tersebut. 


"Aku sudah memaafkan kamu, Rocky. Silahkan pergi dari sini," pungkas Nabila yang tidak ingin terjadi keributan. 


"Sayang. Jangan membelanya!" seru Danendra tidak terima. 


"Diam, Nendra. Apa kamu tidak bisa memposisikan diri sebagai dia?" 


"Aku tidak kejam sepertinya!" sanggah Danendra. 


"Setiap orang memiliki kesalahannya masing-masing, Nendra. Tidak ada satupun manusia yang tidak luput dari salah. Kamu tidak bisa mendiskriminasi seseorang dengan sifat kamu sendiri. Setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik!" 


Semua orang yang ada di tempat itu hanya diam mendengarkan ucapan Adeline yang memang benar. Tuan besar Alefosio bahkan belum mengeluarkan sedikitpun suaranya karena merasa dia memang belum perlu untuk ikut campur. 

__ADS_1


Keberadaannya di tempat itu hanya untuk melindungi sahabat istrinya jika saja laki-laki di depan sana hendak berbuat kasar. Hanya Danendra saja yang benar-benar mengibarkan bendera permusuhan kepada Rocky. 


"Nak, kamu memang anak yang baik. Kamu persis dengan mama kamu. Dia dulu begitu sabar dan selalu menerima apapun yang aku lakukan. Terima kasih karena telah membelaku, tapi semua keputusan ada di mama kamu. Jangan paksa dia untuk menerima semua kesalahanku. Aku minta maaf karena pernah berbuat jahat pada kamu," urai Rocky dengan ekspresi malu. 


Rocky sama sekali tidak menyangka bahwa anak yang dulu pernah dia inginkan kematiannya justru sekarang membelanya di depan semua orang. Seharusnya, anak tirinya itu membenci atau minimal mengusir dia dari tempat itu saat ini juga. 


"Adeline sudah memaafkan Om Rocky. Saya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Hanya karena keegoisan saya, saya kehilangan papa kandung saya bahkan sebelum saya sempat meminta maaf." 


Mendengar itu seketika raut wajah Rocky berganti dengan rasa bersalah. Kematian ayah kandung Adeline juga merupakan kejahatannya. 


"Adeline, saya minta maaf. Karena kejahatan saya, kamu dan mama kamu kehilangan papa kalian. Maafkan saya. Setelah ini, saya akan menyerahkan diri pada polisi." 


Wanita dewasa itu tersenyum kecut saat mendengar pengakuan dari seorang pembunuh yang telah merenggut nyawa ayahnya. Jika bisa, dia akan meminta nyawa di bayar nyawa. Namun, dia sadar, dia bukanlah Tuhan yang berhak atas hidup dan matinya seseorang. 


Sedangkan Nabila, wanita paruh baya itu sedikit terkejut saat mengetahui niat Rocky yang akan menyerahkan diri kepada pihak yang berwajib. Entah kenapa seperti ada sedikit rasa tidak setuju atas niat tersebut. Namun, dia pun tidak berhak untuk melarang seseorang untuk bertanggung jawab atas kejahatan yang sudah diperbuat. 


"Kamu serius, Rocky? Lalu bagaimana dengan putrimu?" tanya Alefosio yang akhirnya mengeluarkan suara. 


"Rihanna, aku sudah memastikan dia berada di tempat yang aman. Dia akan bahagia dengan laki-laki pilihanku," jawab Rocky yakin. 


"Kamu menjodohkan anakku, Rocky? Dengan siapa?" tanya Silvia terkejut. 


"Aku sudah memastikan laki-laki itu baik, dan tidak berasal dari keluarga jahat sepertiku. Rihanna pasti akan bahagia bersama mereka. Kamu tidak perlu cemas, Nabila." 


Nabila sebenarnya tidak setuju dengan perjodohan yang diatur oleh suaminya. Dia merasakan sendiri bagaimana berumah tangga dengan seseorang yang di tetapkan oleh orang tua dan bukan dari kemauan diri sendiri. 

__ADS_1


"Kamu tenang saja. Aku pastikan Rihanna tidak akan mengalami hal seperti kamu dulu, Nabila. Aku pastikan itu!" 


__ADS_2