
Sebuah unit ambulance melaju kencang, suara sirine dari kendaraan roda empat itu mengalun dengan nyaring. Beberapa kendaraan yang menghalangi jalan langsung menepi demi memberikan akses jalan yang lancar untuk ambulance tersebut.
Seorang wanita tergeletak di atas brankar khusus ambulance dengan wajah pucat. Bibirnya terus bergetar menahan sakit. Seorang wanita lainnya menggenggam tangan wanita malang itu dengan sangat erat.
Tangisan yang berasal dari wanita yang memegang erat tangan wanita malang itu terus mengiringi perjalanan menuju rumah sakit. Rasa bersalah serta ketakutan jika terjadi apa-apa pada sang adik membuatnya menangis tersedu-sedu.
"Ka-k, sakit!" erangnya sambil menggigit bibir bawah.
"Sebentar, Ana. Kita akan segera sampai," timpalnya seraya mengelus punggung tangan Rihanna.
Sepanjang perjalanan erangan kesakitan itu terus saja terdengar. Rihanna benar-benar sudah tidak tahan lagi menahan rasa sakit di perutnya. Beberapa saat kemudian ambulance yang membawa Rihanna pun sampai di rumah sakit. Rihanna langsung dilarikan ke IGD untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Adeline terus mondar-mandir saat sang adik tengah ditangani oleh dokter di dalam ruangan. Kedua pengawal yang menjaga Adeline masih setia menemani.
Wanita dewasa itu menggigiti kuku-kukunya saat merasakan ketakutan luar biasa. Adeline takut jika sesuatu yang buruk terjadi kepada adiknya itu. Dia terus saja mondar-mandir tanpa rasa lelah.
"Ana, harusnya kamu tidak perlu melakukan ini. Ke-napa kamu mengorbankan diri demi menolong kakak?" tanyanya seakan-akan Rihanna berada di sana.
Adeline masih terus mondar-mandir selama dokter menangani Rihanna. Dia belum bisa tenang jika belum mendapat kabar baik tentang adiknya.
"Elin!"
Adeline menoleh ke arah sumber suara. Dari sana muncul beberapa orang dengan wajah khawatir dan tegang masing-masing. Danendra langsung berlari menghampiri sang istri dan mendekap wanita yang sedang ketakutan itu dengan erat.
"Apa yang terjadi, Sayang?" tanyanya dengan lembut.
Air mata masih setia mengalir dari kedua sudut mata Adeline. Dia benar-benar mengkhawatirkan keadaan Rihanna di dalam sana. Darah yang keluar lumayan banyak, bahkan ada sedikit yang menempel di tangan Adeline.
"Nen-dra, A-na," lirihnya dengan suara terputus-putus.
"Rihanna kenapa, Elin? Bagaimana bisa dia pendarahan?" tanya Nabila khawatir.
"Ma-ma, ma-afin E-lin," mohonnya dengan suara serak.
Terlalu lama menangis membuat suara Adeline berubah. Wajahnya pun sudah memerah, begitu juga dengan kedua matanya.
__ADS_1
"Sudah, Sayang! Jangan menangis terus!"
"Tapi aku takut, Rihanna … Nendra!"
Nabila dan Silvia kompak mendekati Adeline. Kedua wanita paruh baya itu berusaha menenangkan Adeline dengan mengelus punggungnya.
"Jangan khawatir, Rihanna pasti baik-baik saja," ucapnya berusaha menenangkan Adeline, padahal dia sendiri sebenarnya begitu mengkhawatirkan keadaan sang putri bungsu.
"Ini semua salahku, Nendra! Aku yang bersalah." Adeline menjambak rambutnya sendiri.
"Tidak, Sayang! Ini takdir." Danendra menahan tangan Adeline yang terus-menerus menyakiti dirinya sendiri.
"Lepas, Nendra. Aku memang bersalah!" Adeline terus berontak dan menyakiti diri.
"Adel! Dengarkan aku. Jangan pernah menyakiti dirimu sendiri seperti ini. Sekarang, kita hanya perlu berdoa agar Rihanna baik-baik saja!" bentak Danendra agar istrinya itu tidak keras kepala.
Adeline langsung diam setelah mendapat bentakan dari suaminya. Namun, tangisannya masih belum berhenti. Nabila dan Silvia sampai merasa iba kepada Adeline yang terus-menerus menyalahkan dirinya.
Tidak berselang lama rombongan dari suami Rihanna datang. Malik duduk di kursi roda yang didorong oleh Riani, sang ibu. Raut wajah mereka tidak kalah cemas dan tegang dari keluarga Rihanna sendiri.
"Kami juga belum tahu bagaimana kejadian sebenarnya. Istriku belum bisa menjelaskan semuanya. Dia masih syok," jelas Danendra kepada Malik.
"Bukankah kau selalu menempatkan pengawal pribadi untuk istrimu, Nendra? Lalu kenapa bisa terjadi musibah yang menimpa istriku!" bentak Malik emosi.
Mendengar Malik menyalahkan dirinya, Danendra pun tidak kalah tersulut emosi. Laki-laki itu langsung melepaskan pelukannya pada tubuh Adeline dan berjalan cepat menuju tempat Malik. Namun, beberapa orang yang juga berada di sana segera menghalangi karena paham, Danendra pasti akan melayangkan pukulan kepada Malik.
"Jaga bicaramu, Malik! Jika kau masih sayang dengan nyawamu."
"Sudahlah Nendra! Kau pun sama saja. Ini rumah sakit. Bukan arena tinju!" bentak Alefosio.
Keributan itu sedikit reda akibat ketegasan Alefosio. Suasana tegang masih tercipta. Mereka masih saling diam dengan emosinya masing-masing. Namun, dari lirikan mata kedua laki-laki itu memancarkan aura permusuhan.
Seorang dokter keluar dari ruang IGD. Malik buru-buru mendorong kursi rodanya dengan tangan menghampiri sang dokter. Wajah tampan itu kini berubah tegang karena sangat mengkhawatirkan keadaan sang istri.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanyanya menuntut.
__ADS_1
"Pasien belum sadarkan diri, tapi beruntung janinnya masih bisa diselamatkan. Hanya saja mulai saat ini pasien tidak boleh melakukan aktivitas yang berat. Tolong setelah ini harus lebih memantau pasien dengan baik, Tuan."
Antara senang dan sedih, Malik tidak tahu harus merasakan perasaan yang mana lebih dulu. Meskipun janin calon penerusnya masih selamat, nyatanya sang istri belum juga sadar.
"Boleh saya masuk ke dalam, Dok? Saya ingin melihatnya," mohon Malik seraya menangkupkan kedua tangannya.
"Silahkan, Tuan. Tapi jangan buat keributan, dan satu orang saja yang masuk!"
"Baik, Dok."
Akhirnya karena Malik merupakan suami sah Rihanna, dia lah yang berhak masuk lebih dulu. Laki-laki itu menatap sendu tubuh tidak berdaya sang istri di atas ranjang pesakitan. Kedua netranya mengembun saat melihat wanita yang biasa berdebat dengannya itu tidak sadarkan diri. Perlahan-lahan Malik menuntun kursi rodanya semakin dekat pada ranjang yang ditempati istrinya.
Saat sudah berada tepat disamping sang istri, Malik memegang pelan tangan yang terdapat tusukan jarum infus. Merabanya dengan sangat lembut. Air mata jatuh begitu saja di atas tangan mulus Rihanna.
"Kenapa harus seperti ini, Kayla? Jika aku tahu kamu akan mengalami ini, aku tidak akan pernah membiarkan kamu pergi meninggalkanku," sesal Malik memejamkan matanya sejenak.
Tetes demi tetes air mata yang jatuh ke tangannya membuat Rihanna merasakan sejuk. Perlahan-lahan tangan yang dipegang oleh Malik bergerak bersamaan dengan kedua mata Rihanna yang mengerjap kecil. Malik yang merasakan ada pergerakan di tangan sang istri pun langsung menatap wajah Rihanna.
Kedua netra yang sejak tadi terpejam itu kini mulai terbuka. Rihanna menatap langit-langit plafon dengan warna putih polos. Wanita hamil itu mengedarkan pandangan lalu berhenti ketika melihat sang suami berada di sampingnya.
"Malik," gumamnya lirih.
"Kayla, kamu sudah sadar, Sayang!" pekik Malik merasa lega.
"Aku di mana?"
"Kamu di rumah sakit, Kayla," jelas Malik.
Mendengar Jawaban dari suaminya, ingatan Rihanna kembali pada saat dia menolong sang kakak. Wanita yang wajahnya pucat pasi itu mengangguk paham saat mengingat semua kejadian yang baru saja dialaminya.
"Malik, bayiku tidak apa-apa, 'kan?"
"Ya, Kayla. Kita masih beruntung karena dia masih kuat bertahan. Mulai saat ini, jangan pernah jauh dariku lagi. Biarkan aku menjaga kalian, Kayla!"
__ADS_1