Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Mengunjungi Anak


__ADS_3

Ibrahim terbangun saat menyadari sang istri tidak berasa di sampingnya. Laki-laki paruh baya itu menatap pintu kamar mandi yang tertutup. Dia pun turun dari ranjang untuk memeriksa tempat itu. 


"Mam," panggilnya seraya mengetuk pintu, netranya melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul dua dini hari. 


Tidak ada jawaban, Ibrahim akhirnya membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. Tempat itu kosong, bahkan lantainya kering, itu menandakan bahwa tempat itu belum digunakan. 


"Mami kemana malam-malam begini?" monolog Ibrahim, dia beranjak keluar. 


"Di dapur kali, yah? Tapi ngapain ke dapur, sedangkan air putih udah tersedia di atas nakas." Ibrahim berbicara sendiri sudah selayaknya orang kurang waras. 


Tidak ingin terus merasa penasaran, Ibrahim akhirnya keluar dari kamar untuk mencari sang istri. Ibrahim menuruni tangga, saat itulah dia melihat sang istri masih mondar-mandir di depan pintu mansion yang terbuka. Dia pun segera menghampiri istrinya. 


"Mami ngapain disitu?" tanya Ibrahim, seketika Riani terkejut. 


"Papi!" 


Ibrahim berjalan mendekati istrinya yang terlihat sedang cemas. Entah apa yang dicemaskan oleh sang istri, Ibrahim pun tidak tahu. 


"Kamu ngapain disitu malam-malam begini?" tanya Ibrahim lagi karena Riani tidak menjawab pertanyaan pertamanya. 


"Mami nungguin Malik sama Rihanna, Pi," jawab Riani. 


"Mereka belum pulang?" tanyanya lagi. 


"Kalau udah pulang, mami enggak mungkin cemas gini," ucap Riani, ekspresinya kesal. 


"Nggak usah ngegas, sih, Mi. Papi cuma tanya, loh!" 


"Maaf, Pi," ujarnya saat menyadari kesalahan karena telah berbicara dengan nada tinggi kepada suaminya. 


"Mami nggak perlu mikirin mereka, Mi. Mereka udah dewasa. Lagi pula mereka sudah menikah, jadi wajar saja mungkin ingin menikmati waktu berdua," kata Ibrahim berusaha menenangkan istrinya. 


"Tapi, Pi. Rihanna lagi hamil," balas Riani yang tetap mengkhawatirkan sang menantu. 


"Papi juga tahu, tapi Malik pasti bisa menjaga istri dan calon anaknya." Ibrahim memegang bahu istrinya, memberikan belaian lembut agar wanita itu lebih tenang. 


"Masalahnya Malik tidak kasih kabar, Pi. Nomor mereka juga tidak bisa dihubungi," tegas Riani tetap belum bisa merasa tenang. 


"Kamu sudah coba hubungi supir Malik?" tanya Ibrahim memberi solusi. 

__ADS_1


"Oh iya, gimana bisa mami lupa coba," ujarnya seraya menepuk keningnya pelan. 


Belum juga Riani menghubungi seseorang yang menjadi supir pribadi Malik, terdengar suara klakson mobil. Riani dan Malik pun segera keluar dari mansion. 


"Itu mobil Malik," ujarnya menunjuk mobil yang baru saja masuk setelah gerbang mansion terbuka. 


"Iya, Pi. Itu mobil Malik," balas Riani seraya menghela napas lega. 


Akan tatapi keduanya sedikit heran saat yang keluar hanya si sopir saja. Sementara itu, si sopir yang melihat kedua majikannya berdiri di teras mansion pun segera menghadap. 


"Tuan, Nyonya," sapa sopir itu dengan ramah. 


"Loh, Pak Amir kenapa pulang sendirian?" tanya Riani. 


"Iya, Nyonya. Tuan Muda dan Nona Muda pulang ke apartemen," jawab sopir bernama Amir itu. 


"Oh, ya sudah kalau begitu. Kamu boleh istirahat," sela Ibrahim dengan cepat, dia tahu istrinya itu pasti akan mengintrogasi si sopir. 


"Baik, Tuan. Saya permisi," pamit Amir. 


Amir segera beranjak dari sana. Laki-laki yang menjadi sopir pribadi Malik itu kini berjalan menuju paviliun yang menjadi tempat tinggal seluruh karyawan keluarga Ibrahim. 


Sementara itu, Ibrahim langsung mengajak sang istri masuk. Apa yang dikhawatirkan oleh Riani sudah jelas keberadaannya, jadi tidak ada alasan lagi untuk mereka tetap menunggu. 


"Mami khawatir karena mami sayang sama menantu dan calon cucu kita, Pi. Apa salahnya?" 


"Tidak ada salahnya, Mi. Tapi jangan terlalu seperti itu, kasihan Malik dan Rihanna kalau mami terlalu membatasi mereka," bujuk Ibrahim agar istrinya itu tidak selalu membatasi apa yang dilakukan oleh anak dan menantunya. 


"Maaf jika yang mami lakukan sudah keterlaluan, Pi. Mami lakukan ini semua karena mami sangat sayang sama Rihanna, papi tahu kan kalau mami sangat ingin memiliki seorang putri sejak dulu," ucap Riani, memasang wajah sedih. 


"Papi tahu, papi juga tidak melarang mami. Tapi biarkan mereka memiliki privasi, Mi. Mereka juga berhak memutuskan apa yang ingin mereka lakukan," terang Ibrahim memberi pengertian. 


Riani mengangguk paham. Mereka pun kembali ke kamar. Setidaknya perasaan Riani sudah lega karena sudah mengetahui keberadaan anak serta menantunya. 


*****


"Sayang," panggil Malik dengan lembut, laki-laki itu juga membelai pipi Rihanna yang sedikit lebih berisi. 


Rihanna membuka kedua matanya saat mendengar suara lembut mengalun di telinganya. Sentuhan lembut sang suami menciptakan lengkungan tipis di bibir Rihanna setelah netranya melihat sang suami sedang berlutut di sampingnya. 

__ADS_1


"Malik, kok kita di apartment?" tanya Rihanna bingung setelah menyadari bahwa dia sudah berpindah tempat. 


"Iya, aku sengaja bawa kamu ke sini," jawab Malik seraya mengubah posisinya menjadi duduk di pinggiran ranjang. 


"Iya tapi kenapa enggak bangunin aku pas sampai sini?" 


"Kamu lelah, Sayang. Jadi aku tidak tega membangunkan kamu," balas Malik. 


"Terus kamu udah kabarin mami kalau kita pulang ke sini?" tanya Rihanna lagi. 


"Astagfirullah, belum, Sayang. Aku lupa," jawab Malik seraya bangun dari duduknya. 


"Malik, mami pasti khawatir." Rihanna langsung ikut bangun. 


Malik berjalan cepat menuju nakas untuk mengambil ponselnya. Laki-laki itu pun segera menghubungi sang ibu. 


"Nggak di angkat, Sayang," kata Malik setelah beberapa kali berusaha menghubungi ibunya. 


"Ya sudah, kita bersih-bersih dulu setelah itu kita pulang." Rihanna berbalik badan, seketika netranya membola saat melewati cermin besar. 


Bagaimana tidak, Rihanna melihat tubuhnya sudah tidak lagi memakai pakaian semalam berganti dengan kemeja yang kebesaran. Sedangkan Malik mengerutkan keningnya saat melihat Rihanna menghentikan langkah di depan cermin. 


"Kenapa, Sayang?" 


Rihanna berbalik dan menatap jengkel sang suami. Malik sendiri menelan ludahnya saat melihat tatapan garang sang istri. 


"Gimana bisa aku pakai kemeja ini, Malik?" tanya Rihanna dengan nada menekan. 


Malik hanya menjawab pertanyaan Rihanna dengan senyum tipis. Laki-laki itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 


"Aku mandi dulu, yah!" Malik berusaha menghindar dari kemarahan sang istri. 


"Nggak boleh! Kamu jawab dulu, siapa yang ganti bajuku?" Rihanna menahan Malik dengan mencekal pergelangan tangan sang suami. 


"Aku yang ganti," jawab malik takut-takut. 


Jelas saja Malik takut, bagaimana pun juga dia tahu sepak terjang sang istri di dunia gelap sebelum akhirnya bertaubat. Meski belum pernah melihat bagaimana kemampuan Rihanna dalam beladiri, tetapi penjelasan Rocky sebelum meminta dirinya untuk menikahi Rihanna cukup membuat Malik paham dengan kemampuan khusus sang istri. 


"Cuma ganti baju, 'kan?" 

__ADS_1


"I-iya, memangnya mau apa lagi?" tanya balik Malik, ekspresi wajahnya tegang. 


"Siapa tahu kamu mengunjungi anak kita di dalam," kata Rihanna ambigu, tetapi Malik tentu saja paham arah bicara istrinya. 


__ADS_2