
"Dari mana Om tahu tentang itu?" tanya Malik memicingkan matanya.
"Tidak penting saya tahu dari siapa, Malik. Apa kau sama sekali tidak tahu siapa wanita yang kau sembunyikan?"
"Dia hanya seorang wanita yang sedang dikejar oleh orang jahat, Om. Apakah saya salah jika menolongnya?"
Rocky menurunkan tangannya yang semula bersedekap di dada lalu merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. Laki-laki paruh baya itu mengotak-atik benda berbentuk pipih tersebut lalu menunjukkannya pada Malik.
"Ini … kenapa Om bisa punya foto bareng Kayla?" tanya Malik dengan mimik wajah bingung saat melihat foto Rihanna Dan Rocky berduaan dengan tangan Rihanna yang merangkul lengan Rocky.
"Dia putriku, Malik!" seru Rocky dengan suara lantang.
"Kenapa Om terlihat marah? Saya hanya berusaha menolong dia dari para penjahat."
"Yang mengejarnya bukan orang jahat, Malik. Mereka bodyguard!"
"Tapi, kenapa Kayla bilang dia ditahan oleh mereka? Jika memang mereka bodyguard, harusnya mereka memberikan kenyamanan bukan justru memberikan ancaman."
"Kau tidak tahu tentang cerita yang sebenarnya. Kau beruntung karena ayahmu adalah teman baikku. Jika tidak, kepalamu itu pasti sudah aku pisahkan dari tubuhmu!"
"Om kejam sekali. Saya tidak memiliki kesalahan apapun. Saya hanya berniat baik dengan menolong dia dan memberikan tempat tinggal," jelas Malik yang juga tidak mau kalah.
Rocky terpaksa menceritakan kejadian yang sebenarnya. Tentang persaudaraan Rihanna dengan istri dari Danendra, begitu juga tentang obsesi yang merusak putrinya itu. Malik hanya tercengang saat mengetahui bahwa perempuan yang berhasil menarik hatinya justru memiliki obsesi yang begitu besar kepada saudaranya.
"Kau bisa bantu saya, Malik?" tanya Rocky setelah menyelesaikan ceritanya.
"Bantu apa, Om?" tanya balik Malik yang tentu saja masih berusaha menahan sesak di dadanya.
"Buatlah putriku jatuh cinta padamu, lalu perlahan pastikan bahwa dia akan membuka hatinya untuk ibu dan kakaknya. Om sangat berharap banyak sama kamu, Malik."
Malik terjingkat kaget saat mendengar perintah dari Rocky. Laki-laki kejam itu tiba-tiba memintanya untuk menaklukkan hati Rihanna yang sudah terpaku kepada orang lain selama bertahun-tahun. Apakah dia mampu merebut hati Rihanna dari laki-laki sesempurna saudaranya.
Rocky berdehem saat tidak mendapatkan jawaban apapun dari Malik. Laki-laki paruh baya itu paham dari gesture pria muda itu bahwa Malik akan menolak permintaannya kali ini.
__ADS_1
"Demi pertemanan ayahmu dan saya. Apakah kamu benar-benar tidak mau menolong saya, Malik?"
Sore harinya, di apartment Rihanna hanya menghabiskan waktu dengan menonton dan berbaring di sofa ruang tamu apartement. Wanita cantik dengan penampilan lebih natural itu benar-benar mengikuti perintah Malik yang melarangnya untuk membuka pintu apartemennya.
Ketika lapar melanda pun Rihanna lebih memilih untuk membuat omelette untuk mengisi perutnya yang kosong. Meskipun sebenarnya dia bisa saja memesan dari luar. Namun, lagi-lagi peringatan dari Malik menjadi alasan Rihanna tidak melakukan hal tersebut.
Tidak berselang lama pintu apartemen terbuka. Rihanna yang sedang menonton pun menoleh ke arah pintu. Wanita itu menghela napas lega saat melihat Malik sudah kembali. Dia segera beranjak dari posisinya berbaring di atas sofa.
"Malik, sudah pulang?"
"Hem. Kau baik-baik saja di sini, 'kan?" tanya balik Malik.
"Aku baik-baik saja. Kamu kenapa perhatian banget, sih? Aku tidak mungkin keluar dari sini, kok."
"Baguslah."
Malik kembali menutup pintu apartemen lalu melenggang masuk ke kamarnya sendiri. Kenyataan yang baru saja dia ketahui sempat membuatnya pesimis bahwa dia akan berhasil merebut hati Rihanna. Terlebih lagi wanita itu sepertinya tidak memiliki ketertarikan apapun kepadanya.
Rihanna mengedikkan bahunya lalu kembali fokus pada layar besar di depan sana. Meski penasaran dengan sikap Malik sekarang, tetapi Rihanna merasa itu bukan ranahnya untuk ikut campur.
Di kamar mandinya Malik yang sudah mengisi bathtub dengan air hangat segera masuk ke dalamnya. Ketika perintah dari Rocky kembali terngiang di kepalanya, Malik menenggelamkan diri ke dalam air tersebut.
Saat merasa paru-parunya membutuhkan pasokan oksigen barulah dia mengangkat kepalanya dari dalam air. Malik bersandar di bathtub miliknya dengan pikiran dan hati berkecamuk.
"Ternyata seleranya setinggi Danendra, apakah aku bisa menyaingi saudaraku itu?" monolog Malik seraya menjambak rambut basahnya.
Malik beranjak keluar dari bathtub setelah selesai berendam. Laki-laki itu melangkah ke bawah shower untuk memakai sabun serta membilas tubuhnya agar lebih bersih.
Selesai membersihkan dirinya Malik mengambil selembar handuk putih miliknya lalu memakainya dan segera keluar dari kamar mandi. Masih dengan rambut basah Malik berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian.
Malik melepaskan handuk tersebut setelah mengambil satu setel pakaian santainya. Bertepatan dengan itu, Rihanna tiba-tiba masuk ke dalam kamar Malik. Wanita itu menjerit saat melihat Malik yang sempat polos tanpa sehelai benangpun. Mendapati dirinya terciduk dengan keadaan yang tidak semestinya, Malik pun gelagapan memakai kembali handuknya.
Rihanna menutup kedua matanya menggunakan tangan lalu segera keluar dan menutup kembali kamar Malik. Wanita itu memegang dadanya yang berdebar lebih cepat dari biasanya. Napasnya juga terengah-engah seperti baru saja mengikuti lari marathon sejauh empat puluh dua kilometer.
__ADS_1
"Apa aku sudah gila? Kenapa bodoh sekali masuk ke kamar cowok, sih!" rutuknya menyesali perbuatan lancangnya.
Masih dengan jantung berdebar-debar Rihanna langsung masuk ke kamarnya. Wanita itu bertekad tidak akan keluar dari kamar seharian ini. Dia benar-benar merasa malu karena melihat apa yang seharusnya tidak dia lihat.
"Gue enggak bakal keluar. Pokoknya apapun yang terjadi, gue enggak akan keluar!" serunya dengan yakin.
Ketukan pintu dari luar membuat Rihanna terlonjak kaget. Dia kembali memegangi dadanya yang rasanya akan terlepas dari tempatnya.
"Ada apa?" tanya Rihanna dari dalam.
"Kamu perlu sesuatu?" tanya balik Malik yang mengira Rihanna butuh sesuatu sehingga sampai masuk ke kamarnya tanpa permisi.
"Tidak. Aku hanya ingin istirahat," jawabnya singkat.
"Maaf," ujar Malik yang akhirnya mengejutkan Rihanna.
"Enggak, Malik. Seharusnya aku yang minta maaf," timpal Rihanna.
Dia benar-benar sangat malu untuk menampakkan wajahnya di depan laki-laki itu. Rihanna memang bukan wanita baik, tetapi jika menyangkut tentang keintiman, dia sama sekali tidak memiliki keahlian apapun dalam bidang tersebut.
Terbukti hanya dengan melihat Malik seperti itu saja, jantungnya terasa mau copot. Padahal, di lingkungan pergaulannya tidak asing dengan hal-hal berbau seperti itu.
"Em, lupakan saja, Kay! Aku juga tidak keberatan …."
"Tolong jangan bahas itu lagi!"
"Baiklah. Kalau begitu aku akan siapkan makan malam kita. Kamu istirahat saja dulu," ujar Malik mengalah.
Kedua orang tersebut sebenarnya hanya terhalang oleh pintu saja. Antara Malik dan Rihanna sama-sama menyandarkan punggungnya di pintu tersebut. Mereka masih berusaha mengontrol diri dari kejadian barusan. Malik adalah laki-laki baik, selama ini dia bahkan tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Rihanna adalah wanita pertama yang mampu menarik perhatiannya hanya dengan penampilan konyol wanita itu yang terlalu berlebihan.
"Mau kutaruh di mana wajahku ini? Aku benar-benar bodoh karena masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu."
__ADS_1