
Sudah berkali-kali Danendra membujuk sang istri untuk mau di periksa oleh dokter, akan tetapi wanita dewasa itu selalu saja menolak dan hanya mau jika dia tetap berada di sampingnya. Sejak awal Adeline mual dan muntah, Danendra sama sekali tidak beranjak dari sisi sang istri. Pria muda yang biasanya bersikap manja kepada istrinya itu kini justru pasrah saat sang istri yang tiba-tiba tidak mau melepas dekapannya sama sekali.
"Sayang, kenapa aku merasa kamu agak lain ya hari ini," ujar Danendra dengan sangat hati-hati, pria itu juga takut jika istrinya akan kesal karena ucapannya.
Adeline mengangkat sedikit wajahnya hingga saling tatap dengan Danendra. "Iyakah? Aku rasa biasa saja," jawabnya dengan cepat.
"Kamu tidak biasanya manja seperti ini," ucap Danendra tetap pada pendiriannya.
"Aku tidak boleh manja padamu?" tanya Adeline yang langsung melepaskan pelukan.
"Benarkan! Aku salah ucap. Sekarang dia merajuk," batin Danendra menyesali ucapannya.
"Boleh, Sayang. Aku justru senang jika kamu selalu bermanja seperti tadi, hanya saja seperti ada yang lain saja. Kamu biasanya kan selalu bersikap mandiri," jelas Danendra yang tidak ingin istrinya semakin kesal.
"Itu hanya perasaanmu saja," elak Adeline tetap tidak mau mengaku.
"Baiklah, terserah pada ratuku yang cantik jelita ini," ujar Danendra mengalah, pria itu kembali menarik istrinya untuk bersandar di dada bidangnya yang terbuka.
"Nendra, apa boleh aku minta sesuatu?" tanya Adeline sedikit takut.
"Mau minta apa, Sayang?" tanya balik Danendra seraya mengelus pelan puncak kepala Adeline penuh sayang.
"Aku ingin ikut ke kantor," jawabnya singkat.
"Okelah, besok jika kamu sudah sehat, kita ke kantor," putus Danendra yang justru membuat Adeline menggeleng cepat.
"Aku mau sekarang!"
"Kamu sedang sakit, Sayang."
"Aku sehat, Nendra!" kekeh Adeline.
"Besok saja, yah?" tawar Danendra dengan nada lembut.
Adeline tetap menggeleng. "Sekarang atau tidak sama sekali," ancam Adeline serius.
Embusan napas panjang terdengar, Danendra tampak frustasi dengan permintaan sang istri. Jika wanita itu dalam keadaan sehat, itu bukan suatu masalah. Namun, kali ini wanita itu sedang tidak baik-baik saja.
"Baiklah, tapi janji jangan jauh-jauh dariku, yah!" Akhirnya Danendra terpaksa menyetujui.
Setelah kesepakatan di ambil, sepasang suami istri itu kini membersihkan diri bersama. Hanya mandi tidak ada acara bercinta ataupun apalah namanya. Beberapa saat kemudian Adeline sudah rapi dengan gaun sederhana tetapi terlihat anggun. Sementara Danendra juga sudah rapi dengan pakaian kantornya.
Mereka turun ke bawah untuk sarapan. Namun, Silvia dan Ale sudah tidak ada di sana. Untuk mempersingkat waktu, Adeline hanya menyantap roti bakar dengan selai strawberry serta susu hangat. Sementara itu, Danendra juga hanya memakan roti dengan selai kacang serta kopi hitam.
__ADS_1
"Jangan terburu-buru, Sayang!"
Danendra mengingatkan sang istri yang menyantap sarapannya dengan cepat. Sebenarnya lagi-lagi Danendra merasa heran, istrinya itu selama ini tidak pernah suka dengan selai strawberry, dan sekarang dia justru terlihat sangat berselera menyantap makanan tersebut.
"Aku ingin cepat sampai di kantor," jawab Adeline tanpa mengalihkan pandangan.
Selesai menyantap sarapan yang sudah sedikit terlambat itu, mereka akhirnya berangkat ke kantor. Saat ini Danendra sendiri yang menyetir mobilnya. Kendaraan sport mewah yang berharga milyaran itu melesat dengan cepat.
Kali ini tidak ada sedikitpun raut wajah ketakutan dari si wanita dewasa ketika mobil melesat seperti angin. Lagi-lagi Danendra yang merasa heran dengan sikap aneh istrinya ini. Biasanya wanita itu akan marah-marah jika dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Namun, kali ini wanita itu justru seakan menikmati perjalanan singkat mereka.
Pada akhirnya mereka pun sampai di gedung megah Alefosio Group. Danendra turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk sang istri. Laki-laki bertubuh atletis itu segera mengulurkan tangan untuk menggandeng istrinya.
Adeline benar-benar menurut, wanita itu dengan cepat melingkarkan tangannya di lengan kekar sang suami. Mereka berjalan memasuki gedung kantor dengan langkah berwibawa dari sang pria dan langkah anggun dari sang wanita. Keduanya bahkan menjadi objek perhatian dari seluruh karyawan di kantor tersebut.
"Selamat siang tuan muda," sapa setiap karyawan kepada Danendra dengan rasa hormat.
Danendra tidak menjawab, hanya Adeline yang selalu menganggukkan kepala untuk menjawab setiap sapaan dari para karyawan itu. Mereka terus berjalan dan kini masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan.
Saat sudah sampai di lantai tertinggi, lift terbuka mereka segera keluar dari kotak besi yang membawanya ke lantai teratas gedung megah tersebut. Adeline sama sekali tidak melepaskan eratan tangannya di lengan sang suami, seolah-olah ingin menegaskan pada setiap orang bahwa laki-laki yang di sampingnya itu adalah miliknya seorang.
"Tuan," panggilan itu menghentikan langkah sepasang suami istri yang terlihat sangat serasi dan mesra tersebut.
Danendra menoleh ke belakang, Gerry sudah berlari ke arahnya dengan membawa beberapa berkas di tangan.
"Kebetulan sekali anda datang. Client dari China ingin bertemu anda, sekarang mereka sudah menunggu di ruang rapat."
"Sayang?" tanya Danendra yang menatap Adeline untuk meminta persetujuan.
"Temui saja dulu, aku bisa menunggu di ruangan kamu," jawab Adeline yang mempersilahkan suaminya untuk mengurus pekerjaan lebih dulu.
"Oke, kalau begitu biar Gerry mengantarkan kamu ke ruangan ku lebih dulu," putus Danendra karena kali ini adalah pertama kali Adeline datang ke kantor, wanita dewasa itu tentunya belum mengetahui dimana ruangannya berada.
"Okey," jawab Adeline setuju.
Tanpa membuang waktu lagi, Danendra langsung menuju ruang meeting. Sementara itu, Adeline di antar oleh Gerry menuju ruangan CEO. Gerry melayani sang nona muda dengan sangat baik. Pria kepercayaan Danendra itu membuka pintu ruangan untuk sang nona dan mempersilahkan nona mudanya untuk masuk.
"Anda tidak apa-apa menunggu di sini sendirian?" tanya Gerry sedikit khawatir jika nona mudanya akan merasa bosan.
"Tidak masalah. Lagi pula Nendra hanya sebentar, 'kan?"
"Baiklah, jika seperti itu saya tinggal dulu. Jika butuh apa-apa silahkan hubungi saya, Nona," ujar Gerry sebelum meninggalkan wanita tercinta tuan mudanya.
Setelah kepergian Gerry, Adeline mendudukkan dirinya di kursi kerja sang suami. Wanita itu tersenyum senang mana kala melihat foto pernikahannya yang terpajang di meja kerja sang suami. Meski pada saat itu senyum yang terhias di wajah cantiknya hanyalah kepalsuan, akan tetapi dia bersyukur karena menikah dengan laki-laki yang tepat. Seorang laki-laki yang mencintainya tanpa batas, yang rela melakukan apapun untuk kebahagiaannya.
__ADS_1
"Terima kasih, Nendra. Berjuanglah lebih keras agar aku bisa secepatnya mencintai kamu," ujarnya sambil meraba potret wajah tampan sang suami.
Ketika Adeline sedang sibuk dengan foto pernikahan, pintu ruangan itu terbuka. "Sayang, sudah selesai?" tanya Adeline tanpa mengalihkan pandangan, dia mengira yang datang adalah suaminya.
"Kau berani sekali duduk di kursi kebesaran calon suamiku!" bentak seseorang dari arah pintu yang sontak membuat Adeline menoleh.
"Ulat bulu lagi," gumam Adeline frustasi.
Wanita dengan gaun minim dan tentunya selalu berwarna merah itu melangkah dengan tergesa dan menghampiri Adeline yang sedang duduk dengan santai. Rihanna dengan sangat kasar menarik Adeline, beruntung wanita itu sempat menaruh kembali foto pernikahannya di meja.
"Menyingkirkan dari kursi calon suamiku!" bentaknya dengan kasar serta sedikit mendorong Adeline ke belakang.
Hampir saja Adeline jatuh jika saja tidak ada seseorang yang dengan sigap menangkap tubuhnya. Ketika Adeline mendongak, dia sedikit tersenyum kepada seseorang itu. Meski masih merasa terkejut karena di dorong oleh Rihanna, akan tetapi Adeline tampak sangat tenang.
"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" tanya seseorang itu yang ternyata adalah Danendra.
"Aku baik-baik saja, Sayang," jawab Adeline yang justru menahan tangan Danendra di pinggangnya agar tidak terlepas.
Raut wajah Rihanna seketika berubah pucat saat melihat sorot mata Danendra yang menatapnya dengan tajam. Pria itu sudah tidak bisa lagi mentolerir kelakuan kurang aj*r Rihanna yang semakin menjadi-jadi.
"Kau masih berani menampakkan diri di sini, RI? Sudah aku bilang pergilah yang jauh dariku!" bentak Danendra dengan penuh amarah.
Walaupun takut-takut, Rihanna berjalan mendekat dan berniat menggelayuti Danendra. Namun, pria itu dengan cepat mundur ke belakang membawa sang istri yang masih memeluk tangannya dengan erat.
"Aku hanya rindu padamu, Kak!" seru Rihanna tanpa malu.
Danendra melepaskan eratan tangan Adeline dan berjalan maju ke depan, mendekati Rihanna yang langsung sumringah karena mengira laki-laki itu hendak memeluknya. Namun, ternyata harapannya itu salah. Bukannya pelukan yang dia dapatkan, justru tamparan keras di pipinya. Sudut bibir bagian kirinya bahkan sampai mengeluarkan darah segar akibat tamparan Danendra yang tentu saja sangat menyakitkan.
"Sayang, jangan!" Adeline melarang sang suami untuk berbuat kasar pada perempuan.
"Biarkan saja! Aku tidak akan bisa lagi memaafkan kelakuannya yang tidak bisa menghargai kamu. Berapa kali dia menempatkan kamu dalam bahaya?"
"Tapi aku tidak ingin memiliki suami yang ringan tangan, Nendra!"
"Dia bukan perempuan, Sayang! Dia itu ular berbisa. Jika bukan karena rasa sayang mama pada aunty Nabila, aku pasti sudah mengirimnya ke neraka!"
"Kakak!" teriak Rihanna yang tidak menyangka bahwa laki-laki yang dulu sering menjaganya justru menyakitinya sekarang.
Sorot mata Rihanna berganti menatap Adeline dengan tajam dan penuh dendam yang membara. "Ini semua gara-gara kamu, wanita sia*an!" bentak Rihanna pada Adeline.
Awalnya Adeline memang merasa kasihan pada Rihanna yang harus merasakan tamparan dari Danendra, akan tetapi ucapannya semakin lama semakin berani dan begitu menyakitkan hati. Adeline yang penyabar pun akhirnya kehilangan kesabarannya.
"Jangan pernah ganggu suamiku, Ulat bulu. Sudah tidak akan ada lagi kesempatan untukmu, karena aku sudah akan memberikan suamiku keturunan!"
__ADS_1