Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Gagal Donor Darah


__ADS_3

Nabila di larikan ke rumah sakit terdekat. Selama perjalanan Danendra menyuruh Rihanna untuk menekan di tempat yang terluka agar darah tidak semakin keluar deras dari sana. Laki-laki yang awalnya di penuhi oleh amarah itu, kini justru terlihat sangat cemas. 


Begitu sampai di rumah sakit, Nabila langsung dibawa ke ruang operasi dan ditangani oleh dokter untuk mengeluarkan peluru yang melukai bagian perut wanita paruh baya itu. 


Rihanna menangis tersedu-sedu saat merasa takut jika sang ibu tidak tertolong. Sedikit penyesalan timbul di hatinya atas kebodohan yang dia lakukan tadi. Jika dia tidak melakukan hal itu, pasti sang ibu masih baik-baik saja. 


Danendra diam dan berdiri di depan pintu ruang operasi, laki-laki itu tidak berniat menenangkan Rihanna. Kecemasannya kali ini lebih kepada Nabila yang sudah tidak sadarkan diri, bagaimana dia akan menjelaskan kepada sang ibu tentang kondisi sahabat ibunya itu. 


"Nendra, Rihanna!" seru seseorang dari kejauhan. 


Danendra menoleh, dari kejauhan dia melihat sang ibu berdiri bersama dengan Adeline. Kedua wanita itu memasang ekspresi wajah tegang. Mereka segera mendekati Danendra dan Rihanna yang masih menundukkan kepalanya. 


"Aunty Nabila kenapa, Nendra? Apa yang terjadi?" tanya Silvia ketika sudah berada tepat di hadapan sang putra. 


"Aunty Nabila tertembak oleh putri kesayangannya sendiri, Ma. Wanita itu benar-benar sudah keterlaluan!" Danendra sampai tidak ingin menatap Rihanna sama sekali.


"Bagaimana bisa?" tanya Silvia penasaran. 


"Dia mau bunuh diri, Ma. Aunty Nabila menghalanginya dan berakhir seperti ini," jelas Danendra singkat tetapi dapat di pahami. 


Kini Silvia beralih pada Rihanna, perempuan itu masih tertunduk karena merasa bersalah atas apa yang terjadi pada sang ibu. Hubungan keduanya memang tidak pernah dekat, akan tetapi dia sama sekali tidak menginginkan kejadian ini di alami oleh wanita yang sudah mengandung serta melahirkannya itu. 


Silvia menjatuhkan diri di kursi kosong di samping Rihanna. Tangan kanannya dengan lembut membelai Surai hitam putri sahabatnya itu. 


"Rihanna," panggil Silvia dengan lembut. 


"Rihanna memang wanita g*la, Tante. Mama terluka karena Rihanna," gumam Rihanna dengan penyesalan. 


"Kenapa kamu melakukan ini, Sayang?" tanya Silvia dengan sangat lembut. 


"Untuk apa Rihanna hidup, jika Kak Nendra dan Mama lebih peduli pada wanita yang baru hadir di kehidupan mereka," jawab Rihanna menyampaikan isi hatinya. 

__ADS_1


"Coba tatap mata Tante, Rihanna," perintah Silvia. 


Sedikit demi sedikit Rihanna memberanikan diri untuk menegakkan kepalanya. Kini kedua pasang mata itu saling bersitatap. Silvia berusaha mengartikan perasaan yang kini menyelimuti perempuan muda itu. Obsesinya terhadap Danendra memang sudah merusak segalanya. Namun, dia pun tidak bisa menyalahkan perempuan itu, karena cinta hadir tanpa kita pinta. 


"Tante mau bicara sesuatu padamu," ujar Silvia yang memutuskan untuk membuka sebuah rahasia yang baru mereka ketahui. 


"Tentang apa, Tante?" tanya Rihanna dengan suara sesegukan. 


"Mungkin kamu sudah lupa. Dulu, ketika kamu masih kecil, kamu pernah mengutarakan perasaan kamu kepada Tante, bahwa kamu ingin memiliki saudara perempuan. Kamu tidak ingin hidup sebagai anak tunggal sendirian," ungkap Silvia menceritakan tentang masa lalu. 


Rihanna tersenyum kecut, bahkan sampai detik ini dia masih menginginkan hal itu. Namun, kenyataan justru berbanding terbalik. Nyatanya dia hidup hanya sebagai anak tunggal dari kedua orang tuanya. 


"Sampai saat ini juga itulah keinginan Rihanna, Tante. Tapi nyatanya tidak pernah kesampaian," keluh Rihanna memaksa bibirnya untuk mengulas senyum tipis.


"Kamu salah, Rihanna. Kamu memiliki saudara perempuan dari mamamu," sela Silvia dengan cepat.


"Tente serius?" tanya Rihanna dengan wajah cengo.  


"Enggak apa-apa, Nendra. Rihanna sudah seharusnya tahu tentang hal ini. Mama yakin, setelah ini dia akan berubah menjadi lebih baik," ujar Silvia dengan yakin.


Sementara itu, Adeline hanya diam memperhatikan pembicaraan mereka. Wanita dewasa itu merasa tidak enak jika ikut campur urusan yang bukan ranahnya. 


 Saat Silvia berniat melanjutkan pembicaraannya, lampu ruang operasi pun padam menandakan tindakan yang di lakukan di sana sudah selesai. Tidak lama berselang, seorang pria menggunakan jas putih keluar dari ruangan tersebut. 


Mereka pun bergegas mendekati sang dokter yang menangani Nabila untuk menanyakan keadaan pasien di dalam. 


"Bagaimana keadaan mama saya, Dok?" tanya Rihanna dengan cepat. 


"Peluru yang bersarang di perut Nyonya Nabila cukup dalam dan menyebabkan dia kehilangan banyak darah. Harus mendapatkan transfusi darah secepatnya. Sayangnya, rumah sakit kami sedang kehabisan stok golongan darah pasien. Apakah ada dari keluarga yang memiliki golongan darah yang sama dengan pasien?" jelas dokter yang langsung menanyakan ketersediaan dari pihak keluarga. 


Rihanna hanya bisa menjambak kasar rambutnya sendiri. Dia dan sang ibu memiliki darah yang berbeda. Otomatis dia tidak memiliki kesempatan untuk mendonorkan darahnya untuk sang ibu. 

__ADS_1


"Darah saya berbeda dengan darah mama saya, Dok. Apakah tidak bisa pihak rumah sakit yang mencarikan stok darah untuk mama saya?" 


"Golongan darah pasien itu langka, Nona. Susah untuk kami mencarinya dengan cepat. Sementara keadaan pasien sudah sangat kritis." 


"Maaf, kalau boleh saya tahu, golongan darah Aunty Nabila apa, yah?" tanya Adeline menyela pembicaraan mereka. 


"Golongan darah pasien adalah AB, Nona." Sang dokter menjawab dengan lugas. 


"Kebetulan golongan darah saya AB, Dok. Ambil saja darah saya untuknya," ujar Adeline tanpa ragu. 


"Sayang!" Danendra berbisik di telinga sang istri, dia tidak setuju jika istri tercinta akan mendonorkan darahnya. 


Adeline menatap sang suami dengan wajah yang penuh harap. Meskipun baru beberapa kali dia bertemu dengan Nabila, nyatanya dia merasakan kenyamanan ketika berdekatan dengan wanita yang merupakan sahabat baik ibu mertuanya itu. 


"Baiklah, terserah padamu." Danendra menyerah karena sang istri tidak akan pernah mau mengalah, apa lagi ketika ingin berbuat baik. 


"Ayo, Dok, ambil saja darah dari saya." Adeline meminta sang dokter untuk melakukannya dengan cepat karena menghawatirkan keadaan Nabila. 


"Baik, ikut saya ke ruangan pemeriksaan untuk memastikan kondisi anda juga vit dan siap untuk melakukan donor darah." 


Adeline mengikuti langkah sang dokter yang membawanya ke sebuah ruangan khusus. Di sana dia diperiksa oleh suster. Setelah itu, diapun menunggu keputusan apakah dia dapat mendonorkan darahnya atau tidak. 


Wanita dewasa itu dengan cemas menunggu keputusan yang sekiranya positif. Namun, penjelasan dari tenaga kesehatan yang memeriksanya justru membuat wanita itu tercengang. 


"Anda tidak disarankan untuk mendonorkan darah, Nona. Kami tidak mungkin mengambil darah dari wanita yang sedang hamil," ucap dokter yang membawa berita baik serta buruk secara bersamaan. 


Adeline melangkah dengan lemas kembali ke tempat orang-orang yang menunggu Nabila. Danendra yang melihat istrinya seperti kehilangan semangat segera menghampiri wanita tercintanya itu. 


"Sayang, bagaimana? Apakah kamu bisa mendonorkan darah untuk Aunty Nabila?" tanya Danendra penasaran. 


Gelengan kepala Adeline sudah cukup menjelaskan bahwa wanita yang berada di dekatnya ini tidak diperbolehkan untuk mendonorkan darahnya untuk Nabila. 

__ADS_1


"Aku hamil, Nendra," ucap Adeline dengan lirih, wanita itupun belum percaya dengan kenyataan yang dia ketahui saat ini. 


__ADS_2