
"Aku juga enggak tahu, Kak. Mungkin karena sejak kecil kita selalu bersama dan Kak Nendra selalu jagain aku, jadi aku ngerasa tersisih saat ada seseorang yang berniat merebut perhatian Kak Nendra. Yang anehnya aku mengartikan perasaan itu sebagai cinta," jawab Rihanna, sambil tersenyum malu-malu.
"Uh, dasar! Terus sekarang kamu udah sadar kalau itu bukan cinta?" tanya Adeline lagi dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Rihanna. "Kamu belum jawab pertanyaan kakak tadi," sambung Adeline.
"Pertanyaan yang mana lagi, Kak? Dari tadi kakak kan banyak sekali mengajukan pertanyaan. Sudah seperti seorang petugas kepolisian yang sedang mengintrogasi penjahat."
"Ish! Kamu meledekku, yah! Pertanyaan itu lah, kamu udah jatuh cinta sama Malik?" tanya Adeline dengan ekspresi kesal, kelakar sang adik benar-benar menyebalkan menurutnya.
"Em, iya, Kak. Aku sudah mencintai Malik – Suamiku," ungkap Rihanna tanpa ragu.
"Nah, Malik, kau dengar, 'kan? Adikku sudah berani mengakui perasaannya kepada kamu di depan orang lain." Adeline yang sejak tadi sudah melihat kehadiran sang adik ipar, dengan sengaja bertanya pertanyaan itu untuk meyakinkan laki-laki itu tentang perasaan adiknya.
Rihanna buru-buru berbalik badan, seketika kedua pasang mata itu saling bersitatap. Keduanya melempar senyum satu sama lain. Sementara Adeline, wanita beranak satu itu menggeleng pelan.
"Kakak berasa jadi obat nyamuk, nih, Dek!" sindir Adeline ketika sepasang suami istri itu seolah-olah tidak menganggap keberadaannya.
Keduanya menoleh bersamaan, lalu tertawa kecil saat melihat ekspresi kesal yang dibuat-buat oleh Adeline. Mereka paham bahwa Adeline kini tengah berakting seakan tidak menyukai apa yang baru saja mereka lalukan. Padahal mereka tentu saja tahu bahwa Adeline pun turut merasakan kebahagiaan karena akhirnya sang adik juga menemukan jodoh terbaik.
"Kakak, memangnya Rihanna melakukan apa? Kita kan hanya …."
"Hanya saling pandang dengan penuh cinta," potong Adeline dengan cepat.
"Kakak bisa saja, Kak. Kalian ngapain di luar, sih? Angin malam tidak baik untuk wanita-wanita cantik seperti kalian."
"Dih, ngapain pakai bawa-bawa kakak, sih, Malik? Bilang aja angin malam enggak baik untuk istriku tercinta," kata Adeline menggoda.
"Kakak, jangan menggoda kami, yah!" Rihanna merengek, sambil melingkarkan tangannya di lengan sang kakak.
"Kamu ngapain peluk-peluk kakak, Dek? Sana peluk suami kamu." Adeline semakin gencar menggoda sepasang suami istri baru yang kini wajahnya terlihat merona.
Rihanna mendekatkan bibirnya ke telinga sang kakak dan berbisik, "Peluk Maliknya nanti di kamar aja, kalau di sini, nanti kakak iri."
Bibir Adeline mencebik setelah mendengar bisikan bermuatan ledekan adiknya. Tangan kirinya menyentuh kening wanita hamil itu dan sedikit mendorongnya pelan.
"Kamu jangan ngeledekin kakak, yah! Enggak tahu aja sebelum berangkat ke sini, kakak sudah diterkam dua kali sama berondong agresif itu." Adeline berkata dengan sangat lirih, hampir tak terdengar.
__ADS_1
"Wah! Baru jam segini udah main dua ronde aja?" Rihanna memekik kecil.
"Jangan keras-keras ngomongnya, Dek!" tegur Adeline, kedua netra bening itu melototi sang adik.
"Kalian kenapa lagi, ngomongin aku, yah?" tanya Malik menuduh, matanya memicing.
"Urusan cewek, Hubby. Kamu enggak perlu tahu," balas Rihanna tanpa sadar memanggil Malik dengan sebutan khusus itu.
"Cie, Hubby. Selain udah berani ngakuin perasaan, ternyata udah punya panggilan sayang, nih!" sindir Adeline menggoda sang adik.
Pipi Rihanna semakin merah ketika mendapat godaan berturut-turut dari kakaknya. Wanita itu sedikit menunduk demi menyembunyikan rona merah di wajahnya. Sementara Malik, laki-laki itu hanya menggeleng kecil. Melihat tingkah kakak beradik di depannya ini membuatnya tidak habis pikir.
Jika orang lain yang melihat kedekatan Adeline dan Rihanna saat ini, mereka tidak akan menyangka bahwa keduanya pernah menjadi musuh bebuyutan karena merebutkan seorang pria.
"Sudah-sudah, Kak. Jangan goda Kayla terus, aku takut nanti dia ngambeknya ke aku," kata Malik melerai.
"Iya-iya, kakak enggak godain lagi, deh!"
Adeline merangkul sang adik, lalu berusaha mengangkat wajah Rihanna yang sempat tertunduk, "Kamu enggak perlu malu, Dek. Wajar kalau pasangan punya panggilan kesayangan seperti itu," kata Adeline dengan suara lembutnya.
"Justru kakak iri sama kamu, sampai sekarang kakak belum pernah panggil Danendra dengan panggilan khusus. Paling-paling kakak panggil dia 'sayang' itupun kalau dia udah ngambek," ungkap Adeline jujur.
"Berarti aku lebih beruntung dari Nendra, Kak." Malik menyahut pembicaraan antara kakak beradik itu.
"Iya, Malik. Sebenarnya kasihan Nendra punya istri aku yang terlalu kaku," balas Adeline mengakui sikapnya.
"Kasihan kenapa?"
"Nendra!" seru Malik yang memang langsung dapat melihat kedatangan sepupunya, sedangkan Adeline yang baru membalik tubuhnya hanya terpaku ditempat.
Danendra mempercepat langkahnya menghampiri sang istri. Rihanna sendiri langsung melepaskan diri dari rangkulan sang kakak, lalu berpindah ke sisi sang suami.
"Sayang," panggil Danendra saat sudah berada di hadapan sang istri.
"Em," jawab Adeline singkat.
__ADS_1
"Siapa yang kasihan?" tanya Danendra tegas.
Sebenarnya Danendra sempat mendengar ucapan istrinya tadi, hanya saja dia perlu memastikannya sendiri sang istri mengakui sikapnya selama ini di hadapannya langsung.
"K-amu," balas Adeline masih dengan jawaban singkat.
"Kasihan kenapa?" tanyanya lagi.
Sorot mata tajam Danendra mampu mengintimidasi istrinya saat ini. Adeline yang biasanya banyak bicara dan selalu memiliki cara menghindar, saat ini hanya bisa terpaku dengan keadaan.
Sementara itu, sepasang suami istri yang tengah menanti datangnya sang buah hati hanya bisa menjadi penonton, atau mungkin akan menjadi saksi atas pengakuan seorang wanita kepada suaminya.
"Aku kasihan kenapa, Sayang?" tanyanya lagi, kali ini dengan suara sedikit menekan.
"K-ka-re-na a-ku … terlalu kaku, dalam mengarungi bahtera rumah tangga kita." Akhirnya pengakuan itu keluar dari bibir Adeline, wanita yang biasanya bersikap egois dan jarang sekali memikirkan perasaan suami yang selalu berusaha menunjukkan cintanya.
"Kamu merasa seperti itu?"
"Maaf," balasnya dengan suara lirih.
"Apakah mulai sekarang kamu mau belajar bersamaku untuk memperbaiki hubungan kita agar lebih harmonis?"
"Aku tidak yakin kalau aku bisa, Ndra. Sejak dulu, aku tidak pernah mendapat gambaran seperti apa rumah tangga yang harmonis itu. Tapi, selama ini aku selalu berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk kamu, dan belajar menjadi ibu yang baik untuk Devan."
Tangan Danendra terulur, lalu menggenggam lembut tangan Adeline, "Kalau begitu, kita mulai belajar dari Malik dan Rihanna. Aku rasa mereka cukup baik untuk dijadikan contoh."
"Loh! Kok bawa-bawa kita. Gue aja baru belajar, masa udah mau Lo jadikan panutan. Gil* aja! Kalau enggak sesuai nanti kalian nyalahin kita lagi," sahut Malik tidak setuju.
Danendra menatap tajam sepupunya itu. Dia tidak pernah mau terima penolakan. Namun, Malik justru menolak mentah-mentah dan mengutarakan ketidaksetujuan atas niat baik Danendra.
"Gue percaya bakal berhasil, lu aja bisa luluhin ulet bulu kaya bini lu sampai berubah jadi perempuan penurut."
"Si*lan lu, berani nyamain istri gue sama ulet bulu!" teriak Malik tidak terima.
__ADS_1