
Di dalam ruangan sebuah mansion mewah, tepatnya di dalam kamar dengan warna merah yang mendominasi. Seorang perempuan tengah mengamuk. Kamar yang semula rapi kini bagaikan kapal yang tersapu angin besar. Banyak sekali barang yang berserakan di lantai, bahkan ranjang pun sudah berantakan dengan bantal dan sprei yang berhamburan.
Perempuan itu terduduk di lantai dengan memeluk lututnya sendiri. Dia memang tidak menangis hanya saja wajahnya terlihat penuh amarah. Napasnya memburu karena terlalu lama meluapkan emosinya di dalam ruangan pribadinya tersebut.
"Pergilah! Atau aku akan mengusirmu dengan paksa." Ingatan itu berputar-putar jelas di memori otaknya.
Emosinya kembali membuncah saat mengingat bagaimana pria yang begitu di cintai benar-benar sudah tidak memperdulikannya, bahkan pria itu juga berkata tidak segan akan mengirimnya ke neraka jika bukan karena rasa tidak enaknya kepada sang ibu.
"Aku pasti akan merebutmu kembali, Kak Nendra!" teriaknya seraya mengambil sesuatu di sebelahnya lalu melemparkannya ke arah cermin besar hingga cermin itu pecah menjadi kepingan kecil.
Suara handle pintu yang terbuka sama sekali tidak di pedulikan oleh si perempuan. Sekilas lewat ekor matanya dia dapat melihat bahwa sang ibu yang masuk ke kamarnya tanpa permisi. Wanita paruh baya itu masih berdiri mematung di ambang pintu kamar.
"Rihanna!"
Wanita itu berlari mendekat lalu menjatuhkan diri di samping sang putri. "Kamu kenapa, Sayang?" tanya sang ibu khawatir.
Ketika sang ibu berniat menyentuh bahunya, Rihanna dengan cepat menampik tangan ibunya dengan kasar. "Ini semua karena mama, mama yang membuat aku kehilangan Kak Nendra!" bentaknya dengan suara lantang.
Tampaknya Nabila sudah tidak kaget dengan perlakuan kur*ng ajar putrinya. Terbukti wanita paruh baya itu sama sekali tidak terkejut atas bentakan putri kandungnya itu. Hanya saja memang raut wajahnya sedikit berubah sendu.
"Maafin mama, Sayang. Mama sudah berusaha, tapi Nendra sama sekali tidak mencintai kamu. Dia hanya menganggap kamu sebagai adiknya," jelas Nabila untuk kesekian kalinya, putrinya itu tidak kali ini saja mengamuk dan menyalahkannya atas kegagalan cintanya.
Sorot mata penuh dendam tersimpan di kedua mata bulat itu. "Bulsh*t! Jika mama benar-benar berusaha, Kak Nendra tidak akan mungkin menolakku."
Lagi-lagi Nabila berusaha untuk menyentuh sang putri, meski tetap saja tangannya itu di tepis kasar oleh Rihanna.
__ADS_1
"Mama minta maaf, Sayang. Tetapi kamu juga harus tahu, cinta tidak bisa di paksakan!"
"Kata siapa? Papa bahkan bisa dengan mudah memaksa mama untuk menjadi istrinya," ujar Rihanna tanpa sopan.
Jantung Nabila terasa berhenti saat mendapatkan serangan tentang kehidupan masa lalunya dari sang putri kandung. Meskipun suami serta putrinya itu sama sekali tidak pernah menghargai keberadaannya, nyatanya Nabila tidak dapat keluar dari kandang serigala tersebut.
"Rihanna, tolong jangan ungkit masa lalu mama," mohon Nabila dengan mata berkaca-kaca.
"Kalau mama tidak ingin Rihanna mengungkit segalanya, mama harus membantu Rihanna untuk mendapatkan Kak Nendra!" serunya dengan yakin.
Nabila menggeleng lemah. "Bagaimana caranya mama membantu kamu, Nak? Mama tidak mungkin menghancurkan rumah tangga Nendra dengan istrinya."
Rihanna yang sejak tadi hanya terduduk di lantai kini bangkit. Perempuan muda itu berjalan menuju meja di sudut ruangan, tempat dimana tasnya tergeletak di sana. Nabila masih memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh sang putri.
Perempuan penuh obsesi itu mengambil sesuatu dari tas miliknya lalu berjalan kembali menghampiri sang ibu. Seringai licik keluar dari bibir yang sebenarnya terlihat manis itu, dari wajahnya yang natural saja, Rihanna sama sekali tidak pantas jika memiliki sifat jahat. Namun, obsesinya yang besar itu membuatnya menjadi perempuan kejam.
"Ini apa, Sayang?" tanya Nabila seraya mengambil sesuatu yang di lemparkan oleh Rihanna.
"Obat pengg*gur janin," jawab Rihanna tanpa menutupi niat buruknya.
Kedua netra Nabila membelalak seketika saat mendengar ucapan sang putri. Meski sudah berkali-kali putrinya itu berbuat hal aneh, akan tetapi Nabila sama sekali tidak menyangka bahwa Rihanna akan memiliki niat dan rasa tega untuk melenyapkan janin yang tidak bersalah.
Rasa terkejut Nabila bukan hanya karena niat jahat Rihanna saja, melainkan dia juga terkejut dengan berita kehamilan Adeline. Jika Rihanna berniat menggugurkan janin keturunan Danendra, itu berarti target Rihanna adalah Adeline.
"Kenapa mama diam?" tanya Rihanna yang kesal karena sang ibu sama sekali tidak merespon.
__ADS_1
"Mama tidak bisa melakukan ini, Rihanna. Mama tidak mungkin tega melenyapkan ca …." Nabila menghentikan ucapannya saat sadar bahwa dia hampir kelepasan.
"Kenapa tidak bisa? Dia bukan siapa-siapa untuk kita, Ma!"
"Maaf, Rihanna, mama tidak bisa." Nabila tetap menolak permintaan g*la sang putri.
"Apa alasan mama menolak permintaanku? Sebenarnya anak mama itu aku atau si perawan tua itu, sih, Ma?" tanya Rihanna dengan nada sarkas.
Nabila bungkam, sama sekali tidak mengeluarkan suara apapun. Wanita paruh baya itu justru bangkit dari posisinya yang terduduk di lantai. Tanpa berkata apa-apa, Nabila melenggang pergi dari kamar berantakan sang putri.
Teriakan Rihanna bahkan tidak di pedulikan oleh Nabila. Wanita itu justru meneteskan air mata di setiap langkahnya saat keluar dari kamar sang putri dan berjalan menuju kamar pribadinya.
"Maafin mama, Rihanna, tapi mama tidak mungkin menyakiti salah satu dari kalian."
Nabila luruh saat sudah masuk ke kamarnya. Wanita itu bersandar pada pintu. Dia kembali menatap bungkusan obat yang di berikan oleh Rihanna. Rasa sesal terasa sangat mendalam di hati wanita paruh baya itu. Dia merasa sudah gagal menjadi seorang ibu. Putri pertamanya hilang dan putri keduanya justru menjelma menjadi monster jahat.
Wanita paruh baya itu menangis sejadi-jadinya di dalam kamar. Dia tidak menyangka bahwa masa lalunya akan berdampak sangat besar dalam masa depannya. Cukup lama Nabila larut dalam penyesalannya hingga dia tertidur dengan bersandar di pintu kamar.
Sementara itu, di dalam kamarnya sendiri Rihanna kembali meluapkan emosinya yang semakin membara. Ibu kandungnya justru mengacuhkan permintaannya sebagai seorang anak dan lebih memilih orang lain.
"Aku harus minta tolong pada papa," gumamnya disertai seringai jahat.
Dia yakin, jika sang ayah yang sudah bertindak. Semua akan ada dalam kendalinya. Selama ini hanya pria tua itu yang selalu menuruti semua permintaannya, bahkan yang mustahil pun selalu dapat dilakukan oleh satu-satunya pria yang menyayanginya itu.
Rihanna mengambil ponselnya dan segera menghubungi sang ayah. Benar saja, baru dering pertama, sang ayah langsung mengangkat telepon darinya.
__ADS_1
Ketika telepon tersambung, Rihanna langsung berpura-pura menangis. Perempuan licik itu memainkan drama dengan begitu sempurna. Tidak tanggung-tanggung dia bahkan mengadukan perlakuan sang ibu kandung kepada ayahnya yang tentu saja membuat pria kejam itu naik pitam.
"Papa yang akan membereskan masalahmu. Jangan pikirkan tentang mama, dia memang wanita tidak berguna."