
Seorang wanita paruh baya sedang duduk di sebuah ayunan besi yang berada di balkon kamarnya di mansion besar Alefosio. Pandangannya kosong meskipun di bawah sana terdapat taman yang begitu indah. Sinar mentari yang sedikit malu-malu menampakkan dirinya ke bumi semakin menambah rasa kesedihan di hatinya. Seolah dunia tahu tentang kegalauan jiwanya.
Dia memiliki dua putri, tetapi tidak bisa hidup bersama dengan keduanya sekaligus. Salah satu dari mereka menolak takdir yang sudah digariskan oleh sang pencipta.
Di belakangnya seorang wanita yang sebaya dengannya sedang menatapnya penuh rasa kasihan. Wanita itu merupakan saksi hidup atas penderita sang sahabat sejak dulu.
Mulai dari kejadian tragis yang menimpanya hingga pernikahan paksa yang menjeratnya ke dalam lubuk derita. Selama pernikahan dengan seorang pengusaha sukses dan terkenal bernama Rocky mungkin banyak wanita di luar sana yang iri pada wanita malang itu.
Mereka pasti beranggapan bahwa menjadi istri sah seseorang yang kaya raya dan gagah perkasa itu merupakan sebuah keberuntungan. Namun, mereka tidak mengerti dengan luka demi luka yang tergores di dalam fisik dan batin dari orang yang menjalaninya.
Silvia melangkah mendekati sang sahabat yang masih berdiam diri di balkon kamarnya. Ketika sudah berada tepat di belakang sang sahabat, Silvia memegang bahu wanita malang itu hingga si pemilik bahu sedikit terjingkat kaget.
Nabila menoleh ke belakang, tempat di mana sang sahabat berdiri dengan tangan yang masih bertengger di pundaknya. Melihat keberadaan Silvia, Nabila memaksa bibirnya untuk tersenyum.
"Sil, ada apa?" tanya Nabila seraya ikut memegang tangan sang sahabat yang berada di bahunya.
"Seharusnya aku yang tanya. Kamu kenapa?" tanya balik Silvia yang langsung melepaskan tangan di bahu sang sahabat.
Ibu kandung Danendra Alefosio itu kini beralih ke samping sang sahabat. Nabila pun sedikit bergeser agar sahabatnya itu dapat ikut duduk di sampingnya.
"Kamu ada masalah lagi?" tanya Silvia setelah mendudukkan dirinya di samping Nabila.
Nabila mengangguk kecil, sejak dulu sahabatnya itu memang paling mengerti. Silvia tidak pernah membiarkan dirinya menyembunyikan sesuatu darinya. Segala sesuatu yang terjadi, pasti Silvia adalah orang pertama yang mengetahuinya.
"Coba cerita, kenapa, Bil?"
"Kemarin saat perayaan penyambutan Devan, Rihanna datang, Sil."
"Hah, Rihanna datang? Kenapa aku sama sekali tidak melihatnya?" tanya Silvia terkejut.
"Dia hanya datang sebentar. Saat aku tanya, dia datang bukan karena peduli pada kakak serta keponakannya. Dia hanya datang karena mengantar temannya saja," ungkap Nabila dengan ekspresi wajah sedih.
__ADS_1
Silvia menautkan kedua alisnya saat mendengar ucapan sang sahabat. "Setahuku di pesta kemarin hanya ada keluarga yang datang, Bil. Kalau Rihanna datang bersama temannya, tidak menutup kemungkinan bahwa teman Rihanna adalah salah satu kerabat kami," jelas Silvia sambil memegang tangan sang sahabat yang berada di pangkuan.
"Entahlah, Sil. Aku tidak tahu dia jujur atau berbohong. Selama ini Rihanna selalu saja membohongiku karena mendapat dukungan dari papanya," balas Nabila dengan senyum kecut.
"Lalu apa yang membuat kamu bersedih seperti ini jika kamu sudah hapal dengan tabiat putrimu itu?"
"Aku hanya tidak menyangka kalau Rihanna akan menolak takdir jika Adeline adalah kakaknya. Padahal, aku berharap mereka bisa akur setelah mengetahui kebenaran tersebut."
Silvia memberikan elusan lembut di punggung tangan Nabila. Bermaksud untuk menenangkan sahabatnya itu yang terlihat begitu terpukul. Kedua netranya bahkan sudah bagaikan awan mendung yang sebentar lagi akan menurunkan hujan.
"Bil, semua itu butuh proses. Kebenaran ini terlalu mendadak untuk mereka. Jangankan Rihanna yang memang terbiasa hidup sesuka hati. Adeline bahkan awalnya sempat menolak kebenaran ini, 'kan?"
Nabila mengangguk pelan saat mengingat bagaimana awal Adeline tahu kebenaran bahwa dia adalah ibu kandungnya. Wanita dewasa itu bahkan tidak percaya dengan kebenaran yang terungkap itu.
"Pelan-pelan Rihanna pasti bisa menerima, Bil. Dia hanya perlu waktu. Kamu harus peka dan menunggu sampai saat itu tiba. Rihanna itu berbeda dari anak-anak yang lain. Sejak kecil dia selalu dimanjakan dengan harta oleh suamimu, tapi suamimu tidak pernah memberikan kasih sayang kepada anaknya."
"Dia juga selalu bersikap seenaknya saat memperlakukan kamu, 'kan? Itu yang menjadikan Rihanna sebagai anak yang egois dan tidak mau kalah oleh orang lain."
Malik menatap Rihanna yang masih memakan sarapannya. Laki-laki yang sudah selesai menyantap makanan sederhana buatan tangannya sendiri itu menaruh garpu serta pisau makan di atas piring.
Rihanna baru tersadar jika laki-laki yang duduk di depannya itu tengah memandang ke arahnya. Perempuan muda itu ikut menaruh alat makannya meskipun belum benar-benar habis.
"Kamu kenapa lihatin aku terus?" tanya Rihanna canggung.
"Kamu benar tidak apa-apa kalau di apartment sendirian?" tanya balik Malik memastikan.
"Kamu sudah bertanya seperti itu berkali-kali, Malik. Aku tidak apa-apa," jawab Rihanna sedikit menggelengkan kepalanya.
"Tapi aku khawatir. Takut jika orang-orang yang mencarimu datang kemari," timpal Malik dengan mimik wajah serius.
Rihanna menghela napas panjang lalu mengembuskan perlahan. "Aku tidak akan membuka pintu apartement meski ada seseorang yang menekan bel seribu kali sekalipun."
__ADS_1
"Baiklah. Kalau begitu aku berangkat dulu," ujar Malik pada akhirnya.
Malik keluar dari unit apartment miliknya. Laki-laki itu langsung menyuruh Rihanna untuk mengunci dan tidak membukanya apapun yang terjadi sebelum dia kembali. Rihanna yang memang juga belum berani berkeliaran di luar memilih mengiyakan perintah Malik.
Baru saja Malik melangkahkan kakinya menjauh dari unit apartment miliknya, tiba-tiba ada yang membekap mulutnya dengan kain yang sudah disemprot dengan bius. Malik sempat berontak, tetapi orang yang berniat tidak baik itu dengan sigap memukul tengkuk Malik hingga tidak sadarkan diri.
"Bawa dia ke mansion. Tuan Besar ingin bertemu dengannya!" perintah salah satunya.
Malik baru tersadar saat berada di sebuah ruangan yang sangat asing untuknya. Laki-laki itu memijit tengkuknya yang masih terasa nyeri. Pandangannya berkeliling meneliti setiap sudut ruangan.
"Aku di mana?" tanyanya pada diri sendiri.
"Kau ada di mansion ku, Malik."
Suara itu seketika membuat Malik menatap arah sumber suara. Seseorang sedang bersandar di daun pintu ruangan tersebut. Kedua netra Malik membulat sempurna saat melihat siapa orang itu.
"Om Rocky, ngapain om menculik Malik?" tanya Malik seraya bangkit dari posisi awalnya yang terlentang di atas kasur.
"Kau duluan yang mencari masalah dengan Om," balas Rocky sambil bersedekap dada.
"Mencari masalah gimana? Malik melakukan apa?" tanya Malik yang kebingungan.
"Kamu menyembunyikannya, 'kan?" tanya balik Rocky yang justru membuat Malik semakin bingung.
"Menyembunyikan apa, Om? Malik tidak paham dengan arah bicara Om Rocky."
"Jangan pura-pura bodoh, Malik. Om tahu kamu sedang menyembunyikan seseorang di apartment kamu!" bentak Rocky dengan suara tinggi.
__ADS_1