
Acara penyambutan atas lahirnya Devandra kini sudah selesai. Para tamu sudah kembali ke rumah masing-masing. Beberapa dari mereka sempat ada yang sengaja berlama-lama di tempat itu hanya untuk mencari perhatian dari Danendra.
Salah satu di antaranya adalah seorang janda muda yang tanpa malu mendekati laki-laki muda bergelar ayah baru tersebut. Beruntung, Adeline sudah sangat terbiasa menghadapi wanita-wanita seperti mereka ini.
Kini Danendra dan Adeline sedang berada di kamar utama. Si wanita tengah bermanja-manja dengan tidur di pangkuan sang suami. Di sampingnya bayi mungil berparas tampan persis seperti ayahnya juga sedang terlelap setelah mendapat asupan gizi dari sumber makanan yang tersedia secara alami di tubuh ibunya.
Danendra membelai lembut Surai hitam sang istri yang sedang menatap wajahnya. Entah apa yang sedang ada di pikiran wanita itu, tetapi Danendra yakin bahwa Adeline sedang mensyukuri nikmat Tuhan karena mendapat suami seperti dirinya.
Percaya diri sekali bukan? Laki-laki muda itu memang tipe orang yang suka membanggakan kemampuan diri sendiri dan mengunggulkan dirinya tanpa membiarkan orang lain membantahnya.
"Sayang, aku tahu kamu sedang bahagia. Tapi tidak perlu menatapku seperti itu. Aku jadi malu," tegurnya penuh rasa percaya diri.
Adeline berniat bangkit setelah mendapat teguran dari suaminya. Namun, Danendra dengan cepat melarang sang istri dan kembali menuntun wanita itu untuk kembali pada posisinya tadi.
"Siapa yang suruh bangun?" tanyanya dengan tatapan mengintimidasi.
"Aku pikir enggak boleh tiduran dipangkuan kamu juga."
"Bolehlah, Sayang!" serunya dengan gemas.
Laki-laki itu mencubit hidung mancung sang istri hingga wanita dewasa itu menjerit. Menurut Danendra entah kenapa rasanya sebahagia ini mengusili sang istri.
"Kamu jahat sekali. Kalau hidungku patah gimana?"
Adeline merajuk dan segera bangkit dari posisinya. Wanita dewasa itu juga berniat untuk turun dari ranjang. Sayangnya, Danendra lebih cepat mencekal pergelangan tangannya.
"Jangan merajuk, Sayang. Aku sudah tidak memiliki apapun untuk mengintimidasi kamu," ujarnya dengan mimik wajah memelas.
Adeline yang sudah sempat menjulurkan kakinya menyentuh lantai akhirnya kembali menariknya ke atas ranjang. Dia sempat tersenyum geli saat melihat mimik wajah suaminya yang dia tahu itu hanyalah gurauan sang suami.
__ADS_1
"Oh iya, suamiku sekarang bukan lagi owner perusahaan ALF Group. Kau sudah tidak memiliki apapun lagi untuk menekan aku, Nendra!" cibir Adeline berakting.
"Puas sekarang, yah!" seru Danendra yang akhirnya memiliki ide jahil untuk menggelitik pinggang istrinya.
Wanita dewasa itu tertawa terpingkal-pingkal, dia lupa bahwa luka jahitan setelah operasi Caesar belum sembuh sepenuhnya. Begitu pun dengan Danendra, laki-laki itu lupa bahwa istrinya belum sembuh total pasca melahirkan buah hati mereka.
"Awh!" ringis Adeline seraya memegangi area perut bagian bawahnya.
"Kenapa, Sayang? Ada yang sakit?" tanya Danendra beruntun.
"Bekas jahitan ini nyeri lagi, Nendra. Aduh," keluh Adeline seraya merebahkan diri di kasur.
Danendra dengan sigap menata bantal sebelum sang istri membaringkan tubuhnya di kasur empuk itu. Rasa bersalah pun kini hinggap di hatinya.
"Sayang, maaf ya. Kalau bukan karena aku jahil, kamu tidak akan kesakitan seperti ini," sesal Danendra seraya menaikkan kaos polos yang di pakai Adeline.
Tangan kanan Adeline terulur menyentuh tangan kekar suaminya yang masih setia memegang sedikit kaosnya. Wanita dewasa itu mengelus lembut punggung tangan suaminya.
"Jangan sesali apapun, Nendra. Aku sudah melupakan semua itu," tutur Adeline dengan suara lembutnya.
Danendra yang semula hanya fokus pada luka bekas operasi sang istri kini menatap penuh cinta pada wanita yang sudah memberikannya keturunan itu. Seorang wanita yang berhasil merebut hatinya pada pandangan pertama.
Meski untuk mendapatkan wanita itu dia harus menghalalkan segala cara. Namun, akhirnya semua terbayarkan dengan balasan cinta yang melimpah ruah dari istrinya itu.
"Ma-a–," kata-kata yang hendak keluar dari bibir tebal Danendra terhenti ketika sang istri menaruh jari telunjuknya di atas bibir tebal itu.
"Jangan katakan itu lagi. Tidak ada yang perlu di maafkan. Semua sudah takdir," tuturnya penuh kasih.
Kini tangan Danendra memegang tangan sang istri yang masih menempel di bibirnya. Laki-laki itu mengecup penuh kasih tangan lembut itu lalu beralih mencium sekilas bibir sang wanita tercinta.
__ADS_1
Danendra hendak bangkit setelah memberikan ciuman singkat itu. Namun, tangan Adeline justru melingkar di leher sang suami. Wanita itu dengan sengaja menarik tangannya agar menyingkirkan jarak diantara mereka berdua.
Kedua wajah itu semakin dekat, Danendra sedikit memiringkan kepalanya agar posisi mereka berciuman lebih nyaman. Ketika kedua bibir itu saling menyatu, mereka diam sejenak sebelum akhirnya saling memberikan sesap*an dan lum*tan penuh gairah.
Terbawa suasana yang semakin memanas, Danendra menaruh tangannya di atas bukit kembar sang istri yang kini lebih besar dari ukuran normalnya. Laki-laki itu sedikit merem*s bagian sensitif sang istri hingga wanita dewasa itu mengeluarkan suara d*sahan yang terdengar begitu seksi di Indra pendengaran sang suami.
Danendra melepaskan ciumannya lalu mengecup leher istrinya, memberikan stempel kepemilikan disana. Adeline semakin menegang saat sang suami berhasil memancing hasrat bercintanya.
Ciuman itu semakin turun ke bawah hingga Danendra berniat untuk menikmati kedua bagian favoritnya selama ini. Masih terbakar gairah, Danendra pun melepaskan kaos yang di pakai istrinya hingga hanya tersisa kain penutup Kedua bukit kembar itu.
Tanpa basa-basi Danendra segera mengeksekusi daging kenyal kesukaannya itu dengan lahap. Untuk pertama kalinya dia berubah menjadi bayi besar Adeline yang benar-benar rakus. Apa yang dilakukan oleh Danendra membuat Adeline menggelinjang hebat. Kedua matanya memejam, menikmati apa yang sedang dilakukan oleh sang suami di atas tubuhnya.
Ketika Adeline sedang terlena oleh kenikmatan yang diberikan oleh sang suami tiba-tiba rasa nikmat itu harus terhenti karena Danendra menghentikan kegiatannya. Reflek, Adeline kembali membuka matanya yang sejak tadi terpejam.
"Kenapa, Sayang?" tanya Adeline heran.
"Kamu masih belum sembuh, Sayang. Kita lanjutkan nanti saja," jawab Danendra dengan nada sedikit lesu.
Sebenarnya dia pun sedang ingin melakukan percintaan bersama istrinya. Namun, dia tidak mungkin egois. Luka yang dia lihat belum mengering di perut bawah istrinya itu menyadarkan Danendra yang hampir lepas kendali.
Adeline tersenyum tipis dengan sedikit perasaan malu karena sempat terbawa suasana. Seharusnya dia pun sadar akan keadaannya saat ini tidak memungkinkan dia untuk melayani suaminya di atas ranjang. Jika tadi dia tidak hilang kontrol, pasti Danendra tidak mungkin merasa kecewa seperti ini.
"Kamu mau aku bantu menuntaskannya dengan cara lain?" tanya Adeline menawari Danendra.
Adeline merasa tidak tega karena melihat mata sayu suaminya. Laki-laki itu benar-benar menahan hasr*tnya demi kenyamanan dan keamanan dia yang memang belum sembuh.
"Kamu tidak keberatan?" tanya Danendra dengan bola mata berbinar.
__ADS_1