Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Tidak Adil Untukku


__ADS_3

Kedua pria yang berstatus saudara sepupu itu saling melempar tatapan tajam. Aura permusuhan begitu terasa, seperti mereka sedang memiliki masalah. Mereka melakukan itu untuk membela istri masing-masing. Padahal, kedua wanita itu justru tidak memiliki masalah apapun. 


Tatapan keduanya semakin sengit, sedang kedua wanita kakak beradik itu justru saling pandang dan mati-matian berusaha menahan tawa. Salah satu diantara laki-laki itu sedang bersiap mengeluarkan suara. Namun, sebelum perdebatan antara Danendra dan Malik semakin menjadi, tiba-tiba datanglah dua wanita paruh baya dari dalam mansion. 


"Loh, Nendra! Kamu nyusul ke sini?" 


Kedatangan kedua wanita paruh baya itu berhasil menghentikan perdebatan sengit antar kedua laki-laki tampan itu. 


"Iya, Ma. Nendra khawatir sama Elin," jawab Danendra, ekspresi wajahnya berubah drastis. 


"Kamu ini, kita kan ke sini udah sama anak buah kamu juga. Masa masih khawatir aja. Bilang aja kamu kangen," cibir Nabila mengejek menantunya. 


Cengiran khas menghiasi wajah tampan Danendra, "Mama tahu aja." 


"Kalian ngapain di luar? Kenapa enggak masuk?" tanya Riani yang berdiri di sebelah Nabila. 


"Lagi ngobrol aja, Mam," jawab Malik yang tidak ingin sang ibu mengetahui bahwa dia dan si sepupu hampir adu mulut. 


"Oh, kenapa enggak di dalam aja ngobrolnya?" 


"Nyaman di sini, Mam. Rihanna lagi pengen menikmati udara segar." 


"Hm, ya sudah, Na. Mama pulang dulu, yah!" 


"Loh, kok cepet-cepet, Mam?" 


"Ia, mama sekalian mau mengunjungi papa kamu," pungkas Nabila. 


"Mama mau ketemu papa?"


"Iya, Sayang. Sejak papa di penjara mama belum pernah jenguk papa kamu," ungkap Nabila kepada putrinya. 

__ADS_1


"Emh, ya sudah, salam buat papa ya, Ma. Bilang sama papa kalau Rihanna rindu," pinta Rihanna, cairan bening sudah menganak di pelupuk matanya. 


"Nanti mama sampaikan, Sayang." 


*****


Kini Nabila sedang berhadapan dengan seorang pria yang pernah memberikan luka begitu dalam padanya. Saking dalamnya luka itu, bahkan pedihnya masih terasa sampai hari ini. 


Rocky menundukkan kepalanya, tidak berani menatap wanita yang begitu dia cintai dengan cara yang salah. Pria berpakaian khusus tahanan itu masih belum sanggup untuk menunjukkan wajah pengecutnya pada Nabila, istri sahnya hingga saat ini. 


Sementara itu, Nabila justru memperhatikan lekat-lekat penampilan suaminya yang dulu sangatlah arogan, kini laki-laki itu seperti seekor singa yang kehilangan taring. Diam membisu dengan pandangan menunduk ke bawah. 


"Pa!" Nabila memberanikan diri untuk memanggil pria yang sudah memberinya satu putri itu. 


Tidak ada jawaban, pun laki-laki itu juga tidak bereaksi apa-apa. Kepalanya masih menunduk ke bawah. Nabila bisa melihat bahwa suaminya ini sedang memainkan jari-jari tangannya di bawah sana. 


"Papa!" seru Nabila, nadanya kini sedikit meninggi. "Angkat pandangan kamu!" perintah wanita paruh baya di depannya. 


Dengan sangat terpaksa, Rocky perlahan-lahan mengangkat kepalanya. Kedua mata yang dulu selalu menatap tajam lawan bicaranya, kini berubah sendu saat bertatapan dengan sang istri. 


"Seperti yang kamu lihat, Bil. Aku baik-baik saja," jawab Rocky, seraya berdiri dan merentangkan tangannya untuk menunjukkan kepada wanita yang duduk di hadapannya bahwa keadaannya memang dalam keadaan baik. 


"Kamu semakin kurus, Pa. Apa di sini kamu tidak selera makan?" tanya Nabila, tatapannya membingkai seluruh tubuh suaminya yang memang terlihat lebih kurus. 


Rocky kembali mendaratkan bokongnya di kursi. Pria itu terpaksa mengulas senyum selebar mungkin yang dia tunjukkan kepada istrinya. 


"Kamu tidak perlu khawatir tentangku, Bil. Aku baik-baik saja." 


"Kenapa?" tanya Nabila dengan nada tinggi, tatapannya menatap sendu sang suami. 


"Kenapa apanya?" Rocky balik bertanya karena tidak paham dengan arah bicara Nabila. 

__ADS_1


"Kenapa kamu lakukan ini, Pa? Apa kamu sama sekali tidak ingin memperbaiki hubungan kita?" Kini jelas sudah kemana arah pembahasan Nabila. 


"Aku hanya ingin menebus dosaku, Bil. Dosaku padamu, pada Daddymu, pada ayah anakmu, dan kepada semua orang yang pernah aku sakiti," jawab Rocky sejelas mungkin. 


Nabila mengertakan gigi-giginya menahan perasaan sesak setelah mendengar jawaban Rocky. Dia tentu saja merasa keputusan yang diambil oleh suaminya itu tidaklah adil untuknya. 


"Apakah harus dengan cara kamu menyerahkan diri pada polisi?" tanya Nabila lagi. 


"Harus dengan cara apa aku menebus dosa-dosaku pada kalian, Bil? Inilah jalan terbaik." 


"Tapi kenapa kamu melakukan ini disaat hatiku sudah berhasil kamu dapatkan, Rocky? Keputusan yang kamu ambil sekarang, tidak adil untukku!" 


Ucapan yang keluar dari bibir bergetar Nabila membuat Rocky tertegun. Dia tentu sangatlah terkejut dengan pengakuan wanita yang amat sangat dicintainya. Rocky merasa ini hanyalah sebuah mimpi. 


"Tuhan, jika ini adalah mimpi, izinkan aku untuk tidak bangun lagi. Aku ingin menikmati kebahagiaan ini bersamanya," batin Rocky, pandangannya kosong menerawang jauh. 


"Bisakah kamu berjuang untuk keluar dari tempat ini demi aku?" 


Pertanyaan bodoh itu terucap begitu saja oleh Nabila. Pertanyaan yang sebenarnya dia sendiri sudah tahu jawabannya. Yang terjadi saat ini bukanlah Rocky masuk penjara akibat fitnah seseorang, melainkan karena pengakuan dirinya sendiri. Untuk bebas, itu adalah hal yang mustahil terjadi. 


Rocky tersadar setelah mendengar pertanyaan aneh dari istrinya. Pria itu mengerjap beberapa kali hingga kesadarannya pulih kembali. 


"Kamu tahu kan, kasusku bukanlah kasus yang mudah untuk di tangani. Aku sendiri yang mengakui semua kejahatanku selama ini. Sekeras apapun perjuanganku untuk keluar, itu tidak akan pernah berhasil. Aku sendiri yang memutuskan untuk menjalani hukuman ini." Rocky menjelaskan sedetail mungkin kepada Nabila. 


"Tapi aku tidak ingin kamu mati sia-sia di sini, Pa. Aku dan Rihanna sangat membutuhkan kamu." 


Rocky mengulurkan tangannya menggapai tangan sang istri di atas meja. Dia meraba punggung tangan istrinya dengan sangat lembut. 


"Rihanna sudah bahagia dengan kehidupan barunya, Ma," ucap Rocky, tetapi Nabila menggeleng keras. 


"Kamu tidak tahu, Pa. Dibalik kebahagiaan yang di rasakan oleh Rihanna, anak kita menyimpan luka yang dalam sebab keputusan sepihak kamu ini." 

__ADS_1


"Apa maksud kamu, Bil? Apa aku salah karena menikahkan dia dengan Malik?"



__ADS_2