
Adeline akhirnya menyetujui untuk mengunjungi mertuanya setelah Danendra berhasil meyakinkan sang istri bahwa semua akan baik-baik saja. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju mansion keluarga Alefosio. Meski ada sedikit keraguan di hati Adeline, akan tetapi dia berusaha untuk tetap terlihat tenang.
"Kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri, Sayang. Jangan berusaha mengesankan orang lain dengan mengubah jati diri kamu di depan mereka," tutur Danendra ketika mobil mulai memasuki gerbang tinggi.
Adeline hanya mengangguk mengerti sambil menatap halaman depan mansion yang sangat luas dan di hiasi beberapa patung berbentuk burung.
Kendaraan itu berhenti lalu Gerry dengan sigap membuka pintu untuk sang atasan. Setelah turun dari mobi, Danendra berjalan dengan gagah mengitari mobil untuk membukakan pintu untuk istrinya.
"Ayo, Sayang." Danendra mengulurkan tangan kanannya yang langsung di terima oleh Adeline.
Saat sang istri keluar dari mobil, Danendra melindungi kepala Adeline agar tidak terantuk oleh bagian atap mobil itu. Sungguh, Danendra benar-benar memperlakukan sang istri bagaikan ratu.
"Nendra, aku takut." Adeline menahan langkah membuat Danendra otomatis ikut berhenti.
"Tenang saja. Ada aku yang akan selalu di samping kamu," ujarnya dengan lembut.
"Tapi … kalau mama kamu masih belum bisa menerimaku, bagaimana?"
"Kamu ingat barusan aku bilang apa? Tetaplah menjadi diri kamu. Jika mama sudah mengenal kamu, aku yakin dia tidak mungkin bersikap buruk terhadap bidadari seperti istriku ini."
"Kamu jangan menyanjungku, Nendra."
"Apa salahnya jika aku memuji istriku sendiri? Lagi pula aku juga tidak berbohong."
Saat keduanya sedang mengobrol di depan pintu mansion, seorang maid datang mendekat. Maid perempuan itu sedikit menundukkan kepala karena takut jika berlaku tidak sopan dan mengganggu kesenangan sang majikan.
"Maaf, Tuan Muda, sudah di tunggu oleh nyonya besar dan tuan besar."
"Aku akan segera masuk," jawabnya dengan nada datar.
"Baik, saya permisi, Tuan."
"Nendra, bisakah bersikap lebih hangat. Pelayan itu ketakutan karena sikap dingin kamu," tegur Adeline atas sikap sang suami setelah si maid pergi.
__ADS_1
"Aku dingin seperti ini saja banyak sekali yang membuntuti ku, Sayang. Bagaimana jika aku bersikap hangat pada semua orang? Kamu mau memiliki suami yang dicap sebagai laki-laki ganjen?"
"Cih! Banyak yang membuntuti tapi kau malah sibuk mengejar wanita dewasa seperti aku," sindir Adeline telak.
"Kamu berbeda dari mereka semua," jawab Danendra sedikit mencolek dagu istrinya.
Adeline sedikit terkikik geli atas gombalan sang suami. Pria itu selalu bersikap angkuh saat di depan orang lain, tetapi ketika bersamanya selalu berubah bagaikan kucing jinak.
"Sudahlah, aku mulas jika lama-lama mendengar ucapan kamu yang semakin melantur kemana-mana itu, lebih baik kita masuk sekarang."
Tidak dipungkiri bahwa guyonan sang suami sedikit membuatnya merasa lebih nyaman, meski tidak sepenuhnya rasa takut itu menghilang dari benaknya.
"Baiklah, Princess Adel."
Di panggil dengan sebutan itu membuat Adeline reflek mencubit pinggang sang suami. Pria itu berpura-pura mengaduh kesakitan sambil mengusap bekas cubitan Adeline.
"Sakit, Sayang," lirihnya dengan ekspresi yang dibuat-buat.
Adeline merotasikan kedua bola matanya malas, meladeni keusilan pria g*la yang kini menjabat sebagai suami sahnya itu tidak akan pernah ada habisnya.
"Kamu salah, Sayang. Justru wajah kamu masih terlalu muda untuk ukuran usia kamu sekarang," timpal Danendra jujur.
Mereka akhirnya masuk ke mansion dengan Danendra yang terus menggenggam erat tangan dingin istrinya. Pria itu sangat paham bahwa istrinya itu sedang merasa kurang percaya diri.
"Itu dia, Nendra sudah datang!" pekik sang ibu senang.
Tatapan mata Adeline tidak lepas dari seorang perempuan berpakaian minim bahan yang duduk di samping ibu mertuanya. Melihat kehadiran seseorang yang pernah berdebat dengannya di hotel waktu itu membuat nyalinya semakin ciut.
"Ulat bulu ada disini," gumam Adeline semakin merasa bahwa kedatangannya akan di anggap angin lalu oleh sang mertua.
"Baby, akhirnya kamu datang juga." Perempuan itu bangun dan langsung berlari mendekat.
Tanpa rasa malu sedikitpun, perempuan itu bergelayut manja di lengan kiri Danendra. Lebih parahnya lagi, dia bahkan sempat melirik sinis ke arah Adeline.
__ADS_1
"Mama menyuruhku datang kesini, tapi kenapa tidak menyingkirkan ulat bulu ini? Mama tidak takut jika kulit Nendra iritasi nantinya?" tanya Danendra kepada ibunya, pria itu seakan-akan tidak menganggap seorang perempuan yang menggelayuti lengannya itu adalah manusia.
"Ulat bulu?" Silvia menautkan kedua alisnya karena tidak paham dengan ucapan aneh putranya itu. "Mansion kita selalu steril, Nendra. Mana mungkin ada ulat bulu disini?"
Sedangkan seorang perempuan yang tanpa malu menempeli suami orang itu sedikit menyentak lengan si pria yang sejak tadi menjadi tempat ternyaman sambil menghentakkan kakinya.
"Baby, kenapa masih memanggilku dengan kata menjijikan itu. Aku ini calon istri kamu," ujarnya tanpa rasa malu.
"Kamu mendengar suara, Sayang? Kenapa aku sekarang merinding, yah? Ada suara tapi tidak ada orangnya."
Danendra justru sibuk mengajak bicara sang istri, sama sekali tidak menganggap keberadaan Rihanna yang tidak ada kapoknya selalu berbuat sesuka hati.
Adeline mati-matian berusaha menahan tawa karena ucapan sang suami. Apa lagi melihat wajah si perempuan yang memerah karena pasti kesal atas ejekan Danendra.
"Ma, selain ada ulat bulu, ternyata rumah ini juga di huni makhluk astral. Sepertinya aku harus mencari hunian baru yang terbebas dari hama maupun gangguan makhluk halus," ujar Danendra kembali beralih pada sang ibu.
Silvia akhirnya paham dengan ucapan-ucapan aneh sang putra. Wanita berusia setengah abad itu ikut menahan tawa saat melihat wajah Rihanna yang sudah sangat kesal. Bagaimana tidak kesal, Rihanna sudah selalu merecoki Danendra sejak usia mereka masih remaja. Namun, tidak sekalipun di gubris oleh si pria.
"Baiklah! Nanti mama suruh orang untuk menyeterilkan mansion ini. Oh iya, kamu kenapa tidak langsung pulang kesini?" tanya Silvia sedikit melirik tidak suka pada sang menantu.
Danendra belum menjawab, pria itu mengajak sang istri untuk duduk di sofa dengan cara menggandengnya menuju sofa empuk di depan sana. Mereka sudah seperti pasangan romantis yang saling mencinta jika orang-orang yang tidak pernah melihat mereka berdebat bagaikan tikus dan kucing.
Rihanna yang kesal tetap tidak pergi dari sana. Perempuan bergaun sepaha berwarna biru itu ikut duduk di samping Silvia. Sahabat sang ibu yang sejak tadi tidak membelanya sama sekali.
Sebenarnya kehadiran Rihanna tidak pernah di anggap sebagai sebuah keistimewaan oleh keluarga itu. Mereka membiarkan perempuan berusia dua puluh lima tahun itu berkeliaran di mansion sesuka hati hanya karena hubungan baiknya dengan ibu dari Rihanna.
"Mama tidak lupa kalau Nendra sudah menikah, 'kan?" tanya balik Danendra setelah duduk di sofa empuk berwarna gold.
"Iya, kamu sudah menikah. Tapi apa jika sudah menikah memang tidak bisa pulang ke mansion?" tanya Silvia yang sama sekali tidak berniat menyapa menantunya.
"Karena Nendra sudah menikah, maka Nendra akan tinggal dimana istri Nendra tinggal, Ma."
"Memangnya istri kamu tidak mau tinggal disini?" tanya Silvia lagi, wanita setengah baya itu memang tidak menampik kenyataan bahwa sang putra sudah menikah, hanya saja dia belum bisa menerima kenyataan bahwa istrinya Danendra adalah perempuan yang usianya hanya terpaut lima belas tahun darinya itu.
__ADS_1
"Adel akan ikut kemanapun Nendra membawanya, tapi Nendra tidak ingin membawa istri Nendra yang sempurna ini tinggal di tempat yang tidak bisa menerimanya," jawab Danendra dengan telak.