Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Sikap Manja Adeline


__ADS_3

"Enggak ngomong apa-apa," jawab Danendra yang tidak ingin memperpanjang masalah. 


"Aku dengar tadi kamu ngomong apa!" sewot Adeline dengan wajah garangnya. 


Danendra berdecak kesal karena sang istri justru seperti ingin berdebat masalah tidak penting itu. Lebih parahnya lagi, itu terjadi ketika hari sudah sangat larut. Rasa kantukpun sudah menguasai dirinya. 


"Sayang, plis, jangan merambat kemana-mana, aku lelah sekali. Mataku ini sudah sangat lengket," mohon Danendra dengan wajah memelas. 


Akhir-akhir ini kegiatannya sedang sangat padat, belum lagi mengurusi semua musibah yang menimpa keluarga sang istri tercinta. Seolah masalah selalu datang tanpa jeda waktu. Meski saat ini Danendra sudah lebih lega karena jajaran wanita licik yang berusaha mendekati dia dengan cara apapun sudah berkurang satu. 


"Kamu dulu yang mulai. Aku sudah bilang, mau seperti apapun sikap mereka padaku, mereka tetap keluargaku, Nendra!" seru Danendra dengan nada sengaja ditinggikan. 


"Iya-iya, aku minta maaf. Sekarang kita tidur, yah? Besok aku harus meeting dengan client dari Inggris." 


Meskipun kesal terhadap sang suami, tetapi Adeline akhirnya menurut. Dia kembali mengistirahatkan tubuhnya yang sudah sangat lelah belakangan ini. Namun, ada yang berbeda, kali ini Adeline tidur dengan posisi memunggungi sang suami yang dianggapnya sudah mencari masalah dengannya. 


Danendra yang sudah sangat lelah pun tidak terlalu ambil pusing. Selama sang istri berada di sampingnya, itu bukanlah masalah besar untuknya. Beberapa jam matanya terpejam menikmati mimpi indah, tiba-tiba Danendra terbangun setelah ada seseorang yang menendangnya sehingga dia terjatuh ke lantai. 


"Aduh!" pekik Danendra masih dengan kedua mata terpejam. Tangannya mengelus bagian b*kongnya yang terasa nyeri. 


"Kamu jahat, Nendra." 


"Ada apa lagi, sih?" tanya Danendra frustasi. 


Rasanya baru saja dia merasakan nyaman dalam tidur. Namun, sudah ada lagi gangguan yang kali ini sudah melampaui batas kesabarannya. 


"Kamu jahat!" teriak Adeline sekali lagi.


Masih berada di posisinya yang terduduk di lantai yang hanya dilapisi oleh karpet Danendra memaksa kedua matanya untuk terbuka agar melihat keadaan yang sedang terjadi. 


"Sayang!" seru Danendra begitu melihat sang istri duduk bersila di atas tempat tidur dengan air mata mengalir di pipinya. 

__ADS_1


Danendra buru-buru bangun dari posisinya lalu naik ke ranjang mendekati sang istri. Rasa kantuk yang sejak tadi menguasainya kini lenyap begitu saja. 


"Kamu kenapa, Sayang?" tanyanya dengan lembut. 


Laki-laki itu berniat menarik sang istri untuk masuk ke dekapannya. Sayang seribu sayang, Adeline justru mendorong tubuhnya agar menjauh. 


"Kamu jahat." Lagi-lagi kata itu yang di ucapkan oleh wanita hamil itu. 


"Aku jahat gimana, sih? Dari tadi aku tidur, loh!" 


"Pokoknya kamu jahat!" serunya semakin meninggikan suara serta tangisannya. 


"Iya, aku jahat gimana?" tanya Danendra bingung. 


"Kamu enak-enakan tidur nyenyak. Enggak peduliin aku yang lagi hamil anak kamu. Kamu enggak elus-elus anak kita dan cium dia. Pokoknya kamu jahat, Nendra." 


Mulut Danendra ternganga ketika mendengar ocehan sang istri. Wanita hamil itu menangis hanya karena dia tidur dengan nyenyak seakan tidak peduli pada keadaannya yang tengah hamil. 


"Tuhkan! Kamu jahat, Nendra!" seru Adeline sambil menyingkirkan tangan sang suami yang hampir menyentuh keningnya. 


"Ini anak kenapa, sih? Tumben banget tiba-tiba manja gini. Biasanya juga kalau tidur di peluk marah-marah," batin Danendra heran. 


"Nah, malah melamun. Kamu itu enggak sayang sama aku dan anak kita." Adeline memukul dada bidang suaminya berkali-kali. 


Danendra menghela napas panjang setelah itu memaksa sang istri untuk masuk ke pelukannya. Dia memeluk sang istri dengan sangat erat. Laki-laki itu bahkan mengelus lembut punggung sang istri agar wanita itu merasa lebih tenang. 


"Maaf, Sayang. Aku cuma sedang kelelahan. Kalau kamu mau di elus-elus, bilang. Jangan nangis, kasihan anak kita. Dia pasti sedih kalau dengar suara bundanya nangis," ujar Danendra mengalah. 


Calon ayah itu dengan sabar bergantian mengelus punggung serta perut sang istri. Adeline sudah lebih tenang. Wanita hamil itu diam di pelukan hangat suami berondongnya.


Tangisan Adeline sudah tidak terdengar, hanya sedikit sesegukan yang terdengar begitu lirih. Beberapa saat kemudian suara dengkuran halus yang menggantikan. Danendra memeriksa sang istri yang ternyata sudah terlelap dengan posisi duduk bersandar di dada bidangnya. 

__ADS_1


"Kalau aku boleh minta, aku suka kamu manja seperti ini, Adel. Dari dulu aku benar-benar memimpikan saat-saat seperti ini. Bukan aku tidak menyukai kamu yang dulu, hanya saja, aku lebih merasa dibutuhkan ketika kamu memiliki sisi manja sebagai istri seperti sekarang." 


Danendra mengungkapkan isi hatinya meski tahu, sang istri tidak mungkin mendengarnya karena wanita hamil itu sudah kembali terlelap. Tidak mau sang istri tidur dengan posisi yang kurang nyaman, Danendra memperbaiki posisi tidur sang istri. 


Saat tubuh Adeline masih terlentang di atas ranjang, Danendra mengelus perut yang menjadi tempat tinggal sementara buah hatinya itu. Laki-laki muda itu kemudian mengecup tiga kali perut istrinya penuh kasih. 


"Terima kasih sudah membantu ayah meluluhkan hati bunda, Sayang. Semoga kesempatan ini sering kamu berikan pada ayah, yah!" Danendra membisikkan kata-kata itu tepat di perut sang istri, seolah dia sedang berbicara dengan sang anak. 


Dia memposisikan Adeline tidur miring ke kiri, lalu menaruh sebuah bantal guling untuk menjadi sandaran nyaman punggung istrinya. Menyelimuti tubuh sang istri dengan selimut tebal dan ikut masuk ke dalamnya. Laki-laki itu mendekap tubuh istrinya meski tidak begitu erat, takut jika janin yang kini sudah mulai membesar itu terjepit oleh tubuh kekarnya. 


Mentari pagi telah menyapa dunia. Memberikan sinar terang yang begitu menghangat setiap insan. Adeline terbangun saat tangannya meraba tempat di sampingnya yang sudah dalam keadaan kosong. 


Kedua matanya seketika terbuka untuk memeriksa apakah sang suami masih berada di tempat atau tidak. Dia membalik tubuhnya untuk mengambil ponsel saat tidak menemukan sang suami yang seharusnya tidur di sampingnya. 


"Udah jam 10. Pantas saja Nendra sudah menghilang. Suamiku itu pasti sedang meeting dengan client dari negara lain. Seperti yang dia bilang semalam," ujarnya seraya sedikit mengubah posisinya menjadi duduk bersandar kepala ranjang. 


Sekitar 10 menit Adeline terdiam sampai sebuah ide muncul di otaknya yang baru saja mulai berfungsi setelah tidur nyenyaknya. Wanita hamil itu menurunkan kaki dari ranjang lalu berjalan keluar dari kamar utama. 


"Elin, sudah bangun?" tanya Silvia ketika berpapasan dengan menantunya yang masih menggunakan lingerie berwarna hitam. 


"He-he-he, iya, Ma. Nendra tidak membangunkan aku, jadi aku kesiangan." 


Seulas senyum tipis terbit di bibir sang mertua. "Terus sekarang mau kemana?" tanyanya lagi masih berusaha menahan tawa. 


"Elin mau masak, tiba-tiba kepikiran pengen buat makanan terus mengunjungi Nendra di kantor," jawabnya polos. 


"Kalau Nendra tahu, kamu tidak akan di izinkan keluar dari kamar, Elin." Wanita paruh baya itu masih saja berusaha menahan tawa. 


"Memangnya kenapa? Elin cuma mau masak terus samperin dia. Masa enggak boleh?" tanya Adeline heran. 


"Ya kamu, keluar dari kamar pakai lingerie seksi seperti ini. Kalau ketahuan Nendra, bisa-bisa semua pengawal di rumah ini kehilangan penglihatannya," jawab Silvia yang kini sudah tidak mampu menahan tawanya. 

__ADS_1


Netra Adeline membelalak saat memperhatikan pakaiannya saat ini. Benar apa yang dikatakan oleh sang mertua. Jika suaminya itu tahu, dia pun juga pasti tidak akan selamat dari kemarahan laki-laki yang begitu posesif tersebut. 


__ADS_2