
"Maaf, Tuan. Saya sibuk. Tolong jangan ikuti saya," pinta Celine kepada si pria.
"Saya kan hanya ingin berkenalan, Nona. Apakah salah?" tanyanya sambil terus mengekori Celine.
"Maaf, Tuan. Saya sudah memiliki calon suami," elak Celine yang sudah sangat risih selalu diikuti oleh pria asing.
"Hah! Calon suami?"
"Iya, Tuan. Saya harus menjaga hati calon suami saya," ujarnya berbohong.
Pria itu memicing, seakan tidak percaya bahwa wanita di depannya ini sudah ada yang memiliki. "Dia tidak ada di sini, 'kan? tanyanya tanpa rasa malu. "Kalau begitu tidak masalah, dong!"
"Anda salah paham, Tuan. Calon suami saya ada di sini," elak Celine terpaksa.
Dia tidak ingin pria asing itu selalu mengikutinya. Makanya dia terpaksa berbohong agar si pria berhenti mengikutinya.
"Benarkah? Yang mana calon suami kamu?" tanyanya penuh selidik.
Seseorang yang sejak tadi hanya memperhatikan dari jarak yang lumayan, kini keluar dari tempat persembunyiannya. Dia segera menghampiri dua orang yang sedang berbincang itu.
"Aku calon suaminya," kata seseorang itu seraya merangkul mesra Celine.
Celine tersentak kaget saat ada tangan besar yang merangkulnya, apa lagi orang itu dengan bangga memperkenalkan diri sebagai calon suaminya.
"Cowok nyebelin," gumam Celine.
Si pria yang sejak tadi mengikuti Celine kini hanya diam saat melihat bagaimana rupa calon suami wanita yang dia incar sejak pertama kali melihatnya. Dari garis wajah, penampilan, serta bentuk tubuh dia sudah kalah jauh dari calon suami si wanita.
"Kalian ngobrol apa, Sayang?" tanyanya seraya menatap garang si pria.
Kedua netra Celine tertuju pada tangan gerry yang masih betah bertengger di pundaknya. Dia masih terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Gerry.
"Sayang," panggil Gerry, tangannya sedikit menekan pundak Celine hingga wanita itu tersadar.
"Hah!" sentak Celine sambil mengerjapkan matanya.
"Kamu ada perlu sama dia?" tanyanya seraya menunjuk si pria.
"Enggak," jawabnya singkat.
"Terus ngapain dia ngikutin kamu terus?"
"Aku enggak tahu," balas Celine yang tiba-tiba gugup.
__ADS_1
Pria yang berniat mendekati Celine mencium ada sesuatu yang tidak benar. Dari gelagat Celine, si pria yakin bahwa antara kedua orang itu tidak memiliki hubungan apapun.
"Kamu yakin ini calon suami kamu?" tanya si pria kepada Celine.
Belum juga Celine menjawab, sudah ada suara seseorang yang memanggil nama si pria dari arah depan sana.
"Rom," panggil Malik pada si pria.
Malik berjalan cepat menghampiri ketiga orang di depan sana. Dia menghela napas lega sebelum berkata, "Kamu dicariin sama Bibi Yani, loh!"
"Hah, ngapain Bik Yani nyari gue?" tanya Romi heran.
"Mau minta anterin ke pasar katanya," jelas Malik.
"Kenapa enggak elo aja, sih, Mal? Gue capek," keluh Romi seraya melirik Gerry, tangan pria itu masih saja bertengger di pundak Celine.
"Aku mau jagain istri, lah!"
"Ish. Dasar bucin!" maki Romi pada sepupunya itu.
"Gapapa, lah! Sama istri sendiri ini. Makanya cari istri sana!" balas Malik dengan mimik muka mengejek.
"Cewek yang gue suka udah punya calon suami," jawabnya kesal, dia sengaja melirik Celine dan Gerry.
"Aku enggak nanya, sih!" serunya sambil menjulurkan lidahnya untuk mengejek Romi. "Udah sana, nanti Bibi Yani merajuk, loh!"
"Iya-iya!" Romi menjawab dengan nada kesal, dia sempat menatap tidak suka pada Gerry sebelum berlalu pergi.
Usai kepergian Romi Malik menatap tangan Gerry yang masih saja merangkul pundak Celine. Dia berdehem sebelum menegur sekretaris Danendra itu.
"Sepertinya udah mulai dekat, yah?" tanyanya menyindir.
"Hah, maksudnya, Bos?" tanya balik Celine.
Malik mengkode Celine dengan isyarat kepalanya yang menunjuk pundak wanita itu. Seketika Celine menatap ke arah yang ditunjuk oleh Malik. Saat sadar, Celine langsung menjauh dari Gerry hingga tangan itu terlepas dari pundaknya.
Gerry menanggapinya dengan datar. Dia bersikap seolah-olah tidak membuat ulah apapun.
"Jangan salah paham, Bos," ujar Celine berusaha menjelaskan.
"Santai saja, Cel. Tidak perlu gugup. Kalian kan sama-sama jomblo, jadi wajar kalau kalian dekat," kata Malik menanggapi kegugupan Celine dengan santai.
"Maaf, Tuan. Tapi saya dan wanita aneh ini tidak memiliki kedekatan apapun," sahut Gerry pada akhirnya.
__ADS_1
Celine pun tersenyum tipis. Ucapan si atasan memang benar. Namun, untuk sekarang dia sama sekali tidak memiliki niat untuk dekat dengan pria, terlebih lagi Gerry yang sejak awal sudah dia labeli dengan sebutan Cowok nyebelin.
Dering ponsel di saku celananya membuat Malik buru-buru mengambil benda pipih itu. Sekilas dia melihat ke arah Celine sebelum akhirnya dia menerima panggilan tersebut.
"Hallo,"
(-)
"Baik, saya sampaikan sekarang juga," ucap Malik, raut wajahnya tiba-tiba berubah setelah menerima panggilan.
"Cell, hape kamu mati?" tanya Malik setelah panggilan berakhir.
"Em, iya, Bos. Hapeku sedang di charge di kamar," jawab Celine.
"Adikmu barusan telepon saya. Dia bilang ibu kalian Anfal dan harus dibawa ke rumah sakit," kata Malik yang langsung membuat Celine menganga tidak percaya.
Gerry langsung menoleh ke arah Celine untuk melihat reaksi wanita itu. Namun, saat melihat ujung mata Celine terdapat cairan bening yang sebentar lagi lolos dari sana, Gerry pun merasa kasihan.
"Sa-ya ha-rus kem-bali ke New York, B-os. Sa-ya tid-ak mung-kin mem-biarkan adik saya ter-puruk sendirian di sana," ucap Celine dengan terbata.
"Iya. Lebih baik kita kembali ke New York sekarang. Saya tidak mau kamu menyesal jika terjadi sesuatu yang buruk pada ibu kamu," kata Malik yang langsung berniat kembali ke negaranya.
"Tidak, Bos. Acara anda belum selesai. Saya bisa pulang sendiri," sahut Celine.
Malik menggeleng tidak setuju dengan keputusan yang akan diambil oleh sekretarisnya itu. "Saya tidak mungkin membiarkan kamu pulang sendiri, Cel. Kalau ada apa-apa dengan kamu, bagaimana?"
"Saya akan baik-baik saja, Bos. Anda tidak boleh mengecewakan Nona Rihanna hanya karena masalah saya," ucap Celine.
"Tapi, Cel … aku tetap berat membiarkan kamu pulang sendirian," balas Malik tetap pada pendiriannya.
"Anda tenang saja, Tuan. Celine akan kembali ke New York bersama saya," sahut Gerry tiba-tiba.
"Hah! Kamu serius?" tanya Malik terkejut.
"Saya tidak pernah main-main dengan kata-kata saya," ucap Gerry dengan nada datar.
"Lalu yang dia bilang dia calon suamiku, apakah itu juga benar?" tanya Celine dalam hati.
Malik memperhatikan ekspresi Gerry. Tidak ada sedikitpun gurat bercanda di wajah datar tangan kanan Danendra itu.
"Ya sudah, kalau kamu serius. Tolong antarkan Celine sampai ke tujuan dengan selamat."
"Saya tahu, Tuan." Gerry beralih pada Celine yang masih saja terpaku. "Kemasi barang-barang kamu. Kita kembali sekarang juga!"
__ADS_1