
Seorang wanita dewasa yang sore ini sedang berusaha menghibur diri dengan menonton drama action melalui laptop milik suaminya di dalam kamar mewah itu menoleh ke arah pintu saat mendengar suara pintu yang terbuka.
Kedua sudut bibirnya terangkat mengulas senyum tipis untuk seseorang yang sedang berjalan menghampirinya. Pria muda itu membalas senyuman manis sang istri sambil terus mengayunkan langkah. Di tangannya memegang sebuah nampan besi yang berisi makanan serta minuman untuk sang wanita tercinta.
"Sayang, makan dulu, yah! Sejak siang kamu terlalu asik menonton sampai melupakan makan siang," ajak si pria dengan lembut.
Nampan besi yang di pegang olehnya segera dia taruh di atas nakas lalu tangannya yang panjang menggapai sebuah kursi yang terletak tidak jauh dari ranjang tempat sang istri duduk dengan memangku laptop. Pria itu mengambil posisi duduk di samping ranjang menggunakan kursi yang diambilnya tersebut.
"Kamu tahu kalau aku belum makan siang?" tanya si wanita yang langsung menjeda adegan yang berputar di layar laptop di pangkuannya.
Si pria langsung menegakkan tubuhnya lalu melabuhkan kecupan sayang di puncak kepala sang istri, setelah melakukan hal tersebut si pria kembali mendudukkan diri di tempatnya tadi.
"Mama bilang padaku, kamu tidak keluar sejak pagi dan bibi juga lapor padaku kalau kamu tidak menyentuh makanan yang dia bawakan ke kamar," jawabnya sejelas mungkin.
Wanita itu menyengir hingga menampakkan deretan gigi putihnya. "Maaf, Nendra. Habisnya aku suka dengan adegan ini, sih! Aku sudah mengulangnya dua kali, tapi tidak bosan-bosan," lapornya pada sang suami.
Danendra sekilas melirik layar laptop yang masih menyala. "Kamu tertarik dengan dunia action?" tanyanya memastikan.
"Sepertinya begitu, sejak kamu menghajar Rich–,"
"Jangan sebut namanya!" seru Danendra menyela dengan cepat.
"Baiklah. Aku semakin tertarik dengan action setelah kamu menyelamatkan aku dari antek-antek si ulat bulu itu, Nendra," jawab Adeline yang memberikan contoh lain daripada membawa nama sang mantan.
"Kamu mau belajar beladiri?"
"Memangnya boleh?" tanya Adeline bereaksi dengan cepat.
"Tentu saja, justru papa ingin kamu belajar beladiri. Hanya saja aku belum memiliki waktu untuk membicarakannya dengan kamu," jawab Danendra mengutarakan niat sang ayah.
__ADS_1
"Papa ingin aku belajar beladiri?" tanya Adeline dengan alis yang menyatu.
"Papa takut kalau kamu diculik lagi," jawab Danendra sambil menepuk pelan kening istrinya.
"Papa tahu tentang kejadian yang direncanakan oleh ulat bulu itu, yah! Ah, aku jadi malu," tutur Adeline seraya mengelus pelan keningnya yang terdapat bekas tepukan sang suami.
"Untuk apa malu? Papa justru terlihat mengkhawatirkan kamu, Sayang. Mungkin dia sudah menganggap kamu seperti putrinya sendiri," ujar Danendra, pria itu mengambil piring berisi nasi dan lauknya.
"Masa, sih? Papa bahkan belum pernah menegurku," keluh Adeline merasa kurang percaya diri.
Danendra kembali menaruh piringnya di tempat semula, tangannya meraih tangan sang istri lalu mengecupnya penuh sayang.
"Papa itu memang dari luar terlihat cuek, Sayang, tapi percayalah! Dia lebih dari kata perhatian kepada keluarganya," ungkap Danendra agar sang istri tidak lagi berkecil hati.
Selesai menyuapi sang istri dengan makanan bergizi, Danendra kini keluar dari kamarnya. Pria itu membawa nampan serta piring dan gelas yang sudah kosong untuk dikembalikan ke dapur.
Seperti biasa, keluarga Alefosio selalu menyempatkan diri untuk makan malam bersama. Sejak menikah, Danendra juga jarang sekali absen dari kebiasaan tersebut. Seperti saat ini, mereka sedang menikmati hidangan makan malam yang sudah tersaji dengan rapi di meja. Kali ini Adeline masih belum mau keluar dari kamar, wanita itu masih belum ingin mendapatkan pertanyaan seputar keluarganya.
"Istriku sedang berusaha berdamai dengan takdirnya, Pa. Dia ingin menenangkan diri dulu untuk sesaat," jawab Danendra sambil menyantap hidangan.
"Apa yang terjadi, Ndra? Mama sampai lupa meminta penjelasan kamu gara-gara urusan aunty Nabila," sela Mama Silvia penasaran.
Danendra melepaskan sendok dan garpu yang sedang dia pakai. Pria itu terlihat menarik napas panjang lalu mengembuskan dengan kasar. Jujur saja, pria muda itu sangat muak untuk membahas tentang keluarga toxic itu.
"Sepertinya masalah yang dialami Elin berat, ya, Ndra? Apa perlu papa turun tangan?" tawar sang ayah serius.
"Tidak perlu, Pa. Nendra masih bisa handle sendiri," tolak sang putra dengan sopan.
"Terus apa yang terjadi, Nendra? Masalah apa yang sedang di alami oleh menantuku?" tanya Silvia menuntut jawaban.
__ADS_1
"Dia baru tahu kebenaran tentang keluarganya, Ma. Mereka yang selalu dibela oleh istriku mati-matian ternyata bukan keluarga kandungnya," ungkap Danendra dengan kedua tangan terkepal menahan emosi yang kembali hadir.
"Lalu dimana keluarga kandung Elin, Nendra? Apa kebenaran itu juga sudah terungkap?" tanya Silvia antusias.
Gelengan kepala pelan yang dilakukan oleh sang putra membuat Silvia menghela napas berat. Namun, detik berikutnya wanita paruh baya itu terdiam dengan tatapan kosong.
"Ma, mama!" tegur Ale ketika melihat istrinya malah diam saja.
Teguran keras dari sang suami menarik paksa kesadaran wanita paruh baya itu. Dia terkesiap lalu menatap bingung ke arah sang suami.
"Kenapa, Pa?" tanyanya kebingungan.
"Mama yang kenapa? Malah bengong. Bukannya bantu mikirin masalah yang sedang di hadapi menantunya."
"Mama cuma kasihan sama Elin, Pa. Ternyata kehidupannya menyedihkan seperti itu. Mama jadi merasa menyesal karena pernah menyakiti hatinya juga," elak Silvia yang tidak mau membahas apa yang sedang mengganggu benaknya.
"Tidak perlu di bahas lagi, Ma. Semua sudah berlalu, yang terpenting Nendra minta sama mama jangan memberatkan istriku dengan syarat dari mama itu. Bukannya kita keberatan untuk menurutinya, tapi mama tahu sendiri, masalah keturunan itu adalah anugerah yang diberikan Tuhan. Kita tidak bisa mentargetkan hal itu," mohon Danendra kepada sang ibu.
"Papa setuju dengan ucapan Nendra, Ma. Kita saja dulu tidak langsung mendapatkan bocah tengil ini, 'kan?" timpal sang ayah membela serta menghina sang putra tunggal.
"Ish! Papa selalu saja mengolokku sesuka hati," keluh Danendra dengan bibir mencebik.
"Nendra, kamu sudah bertindak untuk menyelesaikan masalah ini, 'kan?" tanya Silvia yang kini lebih tertarik untuk membahas perkara keluarga sang menantu.
"Sudah, Ma. Tapi anak buah Nendra belum menemukan titik terang. Nendra hanya tahu bahwa Adeline di ambil di sebuah panti asuhan yang terletak di pedesaan ketika usianya baru satu tahun, Ma," tutur Danendra tanpa menutupi apapun.
"Kamu harus usut tuntas masalah ini, Nendra. Kasihan Elin, mama jadi tidak tega padanya. Mulai sekarang, mama akan lebih sering memperhatikan dia," perintah Silvia dengan tekad yang kuat.
"Pasti, Ma. Nendra akan mencari informasi terkait keluarga kandung Adeline."
__ADS_1
"Apakah yang saat ini ada di pikiran dan yang ada di benakku memang benar? Kenapa rasanya aku seperti meyakini bahwa apa yang sedang aku pikirkan adalah kebenarannya," gumam Silvia kembali terdiam menatap lurus ke depan.