
Dengan terpaksa akhirnya Adeline menuruti kegilaan si pria dari pada keluarganya mengalami masalah lagi. Kini Adeline masih beristirahat di ranjangnya yang berada di apartment si pria. Luka-luka di beberapa bagian tubuhnya juga sudah diobati oleh dokter yang di panggil khusus untuknya.
"Sudahlah, Elin. Sepertinya sudah seperti ini nasibmu. Dikhianati kekasih dan terpaksa menikah dengan pria g*ila yang sama sekali belum kamu kenal," gumam Adeline dengan menghela napas berat.
Ketika dia sedang meratapi nasibnya itu, tiba-tiba pintu terbuka. Si pria gil* kembali menampakkan diri. Adeline hanya menatap sekilas tanpa niat menyapa pria pemaksa itu.
"Sayang, aku bawa sesuatu untukmu." Pria itu bersikap seolah-olah selayaknya mereka adalah pasangan kekasih yang saling mencinta.
"Stop memanggilku dengan sebutan sayang. Kau tidak tahu, kupingku geli mendengar sebutan itu."
"Baiklah, baik. Sekarang aku akan memanggilmu dengan sebutan Baby saja," jawabnya tanpa beban.
Adeline merotasikan kedua bola matanya kesal. "Apa bedanya sayang dan Baby. Sama-sama panggilan yang menggelikan," protes Adeline tidak terima.
"Apa, sih? Kenapa malah sibuk membahas panggilan khusus. Itu hakku mau memanggil calon istriku dengan panggilan apa saja!" serunya tak terbantahkan.
"Baiklah, kau yang berkuasa, Tuan Musa," jawab Adeline malas.
"Good girl." Tangan si pria mengulur lalu mengacak rambut panjang Adeline yang langsung mendapat tatapan tajam dari si pemilik.
"Jangan menatapku seperti itu, Baby. Nanti kau cepat jatuh cinta," sindirnya penuh percaya diri.
"Cih! Jangan mimpi."
"Kau menyebalkan sekali! Bisakah membuatku senang dengan perlakuan yang manis?" tanyanya dengan wajah penuh harap.
"Tunggu sampai ayam jantan bertelur dulu, sana!" olok Adeline dengan ketus.
__ADS_1
"Untung calon istri, kalau bukan sudah ku …."
"Ku apa?" timpal Adeline dengan cepat.
"Lupakan saja! Ini untukmu." Si pria menyodorkan sebuah map berwarna biru yang diterima oleh Adeline dengan malas.
"Ini apa? Surat kontrak pernikahan?" tanya Adeline menatap calon suaminya.
Si pria menatap Adeline dengan sinis. "Jangan harap akan ada surat kontrak pernikahan di antara kita, karena kamu akan selamanya menjadi milikku."
Adeline hanya memasang wajah datar tanpa berniat menimpali ucapan si pria. Perempuan cantik yang di dahinya terpasang plester itu membuka map pemberian di pria. Kedua matanya membulat seketika saat membaca isi di dalam surat dokumen di tangannya.
"Kau serius?" tanyanya seraya mengalihkan pandangannya ke arah si pria.
"Aku sudah bilang. Akan memberi lebih dari apa yang sudah ku korbankan," jawabnya santai.
"Sebenarnya apa sih istimewanya aku sampai kau melakukan ini semua?" tanya Adeline heran.
"Aku tidak tahu. Yang jelas kamu itu spesial."
Setelah memberikan dokumen penyerahan perusahaan kepada Adeline pria itu sudah tidak pernah menampakkan dirinya di depan Adeline. Namun, orang kepercayaannya selalu datang untuk memantau keadaan calon nyonya mudanya.
Saat ini Adeline tengah merawat kedua orangtuanya yang kini sudah lebih membaik dari sebelumnya. Mereka sudah tidak pernah lagi mengamuk atau berulah yang membahayakan meskipun kadang masih melamun. Kehilangan kekayaan yang dikumpulkan berpuluh tahun lamanya dalam sekejap tentu saja membuat mereka syok.
Antonio sedang berada di kamarnya saat Adeline datang menemuinya. Putri sulung keluarga Abraham itu membawa sertifikat serta dokumen penyerahan perusahaan untuk diberikan kepada sang ayah.
"Papa. Bagaimana kabarnya hari ini? Maaf karena Elin belum bisa menjadi putri yang baik untuk papa."
__ADS_1
Antonio yang sedang melamun sama sekali tidak mendengar perkataan Adeline. Pria itu masih sibuk dengan pikirannya sendiri tanpa bisa dikendalikan.
"Pa, Elin punya sesuatu untuk papa," ujarnya seraya mengelus bahu ayahnya.
Adeline menyerahkan dokumen pemberian si pria g*la yang sialnya adalah salon suaminya nanti. Pria itu tersadar dari lamunannya lalu menatap bingung sang putri.
"Ini apa?" tanyanya dengan tatapan mata tertuju pada dokumen pemberian putrinya.
"Perusahaan baru papa. Mulai saat ini papa tidak perlu takut akan bangkrut, karena Elin sudah menjamin seluruh biaya yang diperlukan oleh kantor baru papa."
Pria itu membuka dan membaca setiap bait yang tertulis dalam dokumen itu. Matanya berkaca-kaca saat sudah selesai membawa lembar demi lembar surat penting itu.
"Kamu dapat uang sebanyak ini dari mana, Elin?" tanya sang ayah.
"Tabungan Elin, Pah." Adeline terpaksa berbohong agar sang ayah tidak curiga.
"Kamu serius akan memberikannya pada papa? Kamu pasti sudah payah mengumpulkan uang kamu?"
"Tidak apa-apa, Pa. Elin iklas. Tapi Elin ingin menyampaikan sesuatu pada papa," ujarnya dengan sedikit takut.
"Menyampaikan apa, Elin?"
"Putri sulung papa akan segera menikah!"
"Kamu serius, Elin? Papa senang jika kamu memang akan secepatnya melepas masa lajang," jawab sang ayah dengan wajah sumringah.
Memang inilah yang sejak dulu dinantikan olehnya. Putri sulung yang sudah hampir mencapai kepala empat untuk segera menikah dan melanjutkan kehidupannya dengan normal. Namun, ada seseorang yang menatap tidak suka pada pembicaraan sepasang ayah dan anak yang tidak sengaja dia dengar.
__ADS_1
"Enggak mungkin Elin akan menikah secepat ini. Dia tidak boleh bahagia!" serunya dengan tangan terkepal erat.