Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Cinta Tulus Danendra


__ADS_3

Danendra tidak menjawab ajakan Grasiella, pria berparas tampan itu membuang rokok yang masih menyala ke rerumputan lalu menginjaknya menggunakan kaki kanan agar api di rokok tersebut mati. 


Suami Adeline itu semakin memajukan wajahnya pada wajah adik iparnya. Mendapat perlakuan seperti itu, Grasiella berdebar-debar. Saking gugup dan senangnya karena ternyata ajakannya di respon positif oleh sang kakak ipar, perempuan itu memejamkan matanya sambil menunggu kakak iparnya beraksi. 


Bulu-bulu halus Grasiella meremang seketika saat sang kakak ipar meniup telinganya dengan perlahan. "Tenang, Ella. Semua dalam kendali kamu sekarang," gumamnya dalam hati. 


"Sayangnya, aku tidak berniat menukar berlian milikku dengan batu imitasi seperti kamu, Ella. Istriku lebih segala-galanya darimu," bisik Danendra tepat di telinga adik iparnya. 


Grasiella tentu saja terkejut dengan bisikan sang kakak ipar. Perempuan yang sudah membayangkan sesuatu yang tabu itu seketika membuka matanya. Saat kedua mata itu terbuka, dia tidak menemukan Danendra di sampingnya. Pria itu sudah lebih dulu melenggang pergi tanpa rasa bersalah. 


"Sial! Dia berani menolak dan mempermainkan aku." Grasiella menatap penuh dendam pada kakak iparnya itu. "Lihat saja, cepat atau lambat aku pasti akan mendapatkan kamu," gumamnya seraya beranjak dari tempatnya. 


Sumpah serapah memenuhi hati Danendra. Pria itu berjalan dengan tergesa ingin segera sampai di kamar dan menemui istri tercinta. "Niatku ingin menenangkan diri, malah di ganggu oleh hantu perempuan sepertinya." 


Ketika masuk ke kamar, pria itu baru bisa merasakan ketenangan saat melihat wajah polos istrinya yang tertidur dengan posisi miring ke samping kiri. 


"Kamu sempurna, Adel. Aku tidak mungkin menukarmu dengan apapun di dunia ini," gumam Danendra dengan tersenyum hangat. 


Pria itu langsung ikut merebahkan diri di samping sang istri. Tanpa menunggu waktu lama, Danendra terlelap dengan posisi memeluk istrinya. 


Keesokan harinya Adeline bangun lebih dulu dari sang suami. Perempuan dewasa itu menatap wajah tampan suaminya dengan perasaan rasa bersalah yang belum juga berkurang. 


"Selamat pagi, Nendra, mulai saat ini aku akan berusaha menerima dan mencintai kamu sepenuh hati. Tapi aku perlu waktu untuk itu, aku harap kamu akan sabar menunggu aku untuk sembuh lebih dulu," gumam Adeline seraya membelai lembut puncak kepala sang suami, serta memberikan kecupan singkat di kening sang suami. 


Setelah selesai memberikan ucapan selamat pagi pada suaminya, Adeline turun dari ranjang. Perempuan dewasa itu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. 


Di sisi lain Danendra membuka kedua matanya lalu mengulas senyum bahagia sambil menatap pintu kamar mandi yang tertutup. 


"Aku pasti sabar menunggu kamu, Adel. Bahkan jika harus menunggu sampai kita sama-sama tua sekalipun," gumam Danendra yang kembali memejamkan mata, melanjutkan tidurnya yang memang terasa lebih nyaman. 


Adeline keluar dari kamar sudah rapi menggunakan pakaian miliknya yang memang masih ada yang tertinggal disana. Perempuan dewasa itu turun ke dapur untuk membuat secangkir kopi serta segelas susu hangat, tidak lupa dia juga membuat sandwich isi daging untuk sarapan bersama sang suami. 


Setelah kejadian semalam Adeline merasa lebih baik jika mereka tidak bertemu dulu dengan pria tidak tahu diri seperti Richard. Lagi pula, dia juga masih tidak nyaman saat melihat wajah dari seorang pengecut sepertinya. 

__ADS_1


Selesai membuat sarapan bersama sang suami, Adeline kembali ke kamar. Perempuan dewasa itu membangunkan sang suami dari tidur nyenyaknya. 


"Nendra, bangun." 


"Sebentar lagi, Sayang." 


"Ish! Bangun! Aku sudah lapar. Ayo makan bersama," ujar Adeline memaksa. 


"Aku masih ngantuk, tadi tidur setelah matahari hampir terbit." Danendra tetap menolak. 


"Ayolah bangun! Atau mau aku tinggal ke bar?" ancam Adeline serius. 


Seketika mata Danendra yang awalnya terpejam seperti di rekatkan dengan lem kini terbuka lebar-lebar. Pria itu menatap tajam istrinya. "Berani ke bar, aku buat kamu tidak bisa berjalan selama sebulan!" ancam balik Danendra. 


Adeline tertawa lirih dengan gelengan kepala pelan. "Iya, iya. Kalau begitu cepat bangun. Kita sarapan terus pulang!" 


"Baiklah." 


Mereka berdua akhirnya makan berdua di dalam kamar. Danendra sama sekali tidak bertanya alasan kenapa sang istri mengajaknya untuk sarapan di kamar. Dia cukup peka dalam membaca situasi serta kondisi yang sedang terjadi.


"Tidak, Pa. Semalam ada seseorang yang berniat jahat padaku di jalan. Beruntung saya bisa melarikan diri," jawab Richard yang justru semakin membuat Antonio heran. 


"Bukankah semalam kau pamit masuk ke kamar? Lalu bagaimana bisa kau sampai di jalan?" 


"Em, tadi Ella minta Kak Ichad untuk mengantar Ella mencari makanan, Pa." Grasiella menyela dan membela sang suami. 


"Oh," jawab Antonio singkat. 


"Mah, Elin dan Nendra mana? Kenapa tidak ikut sarapan?" tanya Antonio beralih kepada sang istri. 


"Entah, sejak tadi tidak terlihat. Mungkin masih tidur, Pa. Maklum saja pengantin baru," jawab Monica sekenanya. 


Wanita paruh baya itu tidak memperhatikan perubahan ekspresi wajah sang menantu yang kini terlihat marah. Mendengar kata pengantin baru membuatnya tidak terima. Bagi Richard, Adeline akan selamanya menjadi miliknya.

__ADS_1


"Lah, panjang umur. Itu Kak Elin datang," pekik Grasiella tanpa merasa malu sedikitpun karena kejadian semalam. 


"Hah, ada apa, Ma, Pa?" tanya Adeline bingung. 


"Tadi papa nyari kalian, karena tidak ikut sarapan. Sini, Sayang, kita sarapan." 


"Elin sudah sarapan, Ma. Sekarang kita mau pamit pulang," tolak Adeline dengan lembut. 


"Buru-buru sekali, Elin. Tidak bisakah tinggal lebih lama?" tanya Monica.


Adeline sekilas melirik Richard yang kini menatapnya. Pria itu terlihat sedang menahan amarah. Entah apa yang baru saja terjadi, Adeline sama sekali tidak peduli. 


"Kita mau ke rumah orang tua saya, Ma. Tadi papa menghubungi kalau mama saya ingin kami segera datang," timpal Danendra sopan. 


"Oh, ya sudah kalau begitu." 


Akhirnya setelah berpamitan Adeline dan sang suami pergi dari kediaman keluarga Antonio. Gerry sudah standby berada di halaman rumah Adeline untuk menjemput sepasang pengantin baru itu. 


Mobil melesat setelah kedua orang penting itu masuk. Adeline awalnya mengira ucapan sang suami hanyalah alasan agar keluarganya tidak menghalangi mereka untuk pergi. 


"Nendra, kita pulang ke apartemen, kan?" tanya Adeline seraya menatap sang suami. 


"Tadi aku bilang mau ke rumah mama, 'kan?" 


"Iya. Tapi kamu hanya beralasan 'kan?" 


"Tidak! Mama memang menyuruh kita untuk datang." 


Adeline langsung terdiam, bayang-bayang penolakan dan hinaan dari keluarga suaminya membuatnya sedikit gelisah. Namun, Adeline tidak ingin mengutarakannya kepada sang suami. 


"Tidak apa-apa. Ada aku bersamamu," ujar Danendra lembut seraya mengelus lengan sang istri. 


"Tapi, kalau mereka menolakku lagi, bagaimana?" 

__ADS_1


"Jika itu terjadi, kita akan segera pindah dari negara ini. Aku rela melepaskan apa saja, demi tetap membersamaimu," jawabnya tanpa beban.



__ADS_2