
Malik berjalan gontai menuju kamarnya. Laki-laki itu sempat menghentikan langkah tepat di samping pintu kamar Rihanna, menatap pintu yang sudah dalam keadaan tertutup rapat itu dengan tatapan nanar. Dia menaruh beberapa bag besar berisi pakaian wanita tepat di depan pintu tersebut.
"Aku salah ucap sampai menyinggung perasaannya," sesalnya tiada arti.
Laki-laki bujangan itu memukul bibirnya yang sudah lancang. Entah kenapa saat berhadapan dengan Rihanna, dia selalu hilang kendali. Sifat dingin dan cueknya hilang seketika jika berada di dekat wanita itu.
"Ini mulut kenapa suka banget kurang ajar sama dia, sih!" rutuknya kepada diri sendiri.
Merasa percuma berdiri di tempat itu, Malik akhirnya mengayunkan langkah untuk masuk ke kamarnya sendiri. Kesal pada kekurangajaran dirinya Malik pun membanting pintu kamar dengan keras.
Dasar, Malik aneh. Dia yang bersalah, malah pintu yang dijadikan sasaran emosinya. Apakah seperti ini jika laki-laki sedang jatuh cinta untuk pertama kali. Entahlah, kita lihat saja nanti.
Malik melepas jaket kulit berwarna cokelat miliknya dan melemparnya ke atas ranjang. Setelah itu dia juga menjatuhkan dirinya dengan posisi tertelungkup di kasur empuk itu dengan kasar sehingga tubuhnya sempat memantul ke atas.
Bayangan wajah ceria Rihanna yang tiba-tiba berubah murung setelah dia mengatakan bahwa wanita itu terlihat lebih tua dari usianya kembali menari-nari di otaknya. Malik membuka mata lalu membalik tubuhnya dengan kasar. Merentangkan kedua tangannya sambil menghela napas berat.
"Aku benar-benar sudah jahat padanya!" Malik menjambak kasar rambutnya yang sedikit ikal.
Rasa bersalah itu benar-benar mengganggu pikiran Malik. Laki-laki yang biasanya cuek itu tiba-tiba berubah menjadi seseorang yang peka atas kesalahannya. Padahal, biasanya dia tidak mau memperdulikan perasaan orang lain. Terlebih lagi orang asing yang baru dikenal.
Malik bangkit dari posisi berbaringnya. Mondar-mandir sambil mengacak-acak rambutnya ketika tidak ada satu pun ide yang melintas di otak cerdasnya.
"Arg! Aku harus apa? Kalau sampai perkataan tadi membuat Kayla pergi dari sini bagaimana?" monolog Malik frustasi.
"Aku coba minta maaf saja kali ya?" gumamnya sambil mengetuk-ngetuk jemarinya di dagu.
__ADS_1
Malik bergegas keluar dari kamarnya. Berdiri di depan pintu kamar Rihanna yang masih saja tertutup rapat. Bag besar yang dia taruh bahkan masih utuh tanpa berganti posisi sedikit pun.
Laki-laki itu memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar sang wanita. Satu kali ketukan pelan, dua kali lebih keras, dan ketiga kalinya dia semakin mengeraskan ketukannya. Namun, seberapa kerasnya dia mengetuk, tetap tidak ada respon.
"Dia benar-benar merajuk!" serunya lagi sambil membuang napas kasar.
Jika Malik sedang uring-uringan karena merasa bersalah kepada Rihanna, berbeda dengan perempuan yang kini justru sedang terlelap di atas kasur empuknya. Ketukan serta gedoran pintu yang berasal dari luar kamar sama sekali tidak menggangu tidur nyenyaknya.
Sebenarnya, Rihanna buru-buru masuk ke kamar bahkan tanpa memperdulikan belanjaannya karena dia sudah sangat mengantuk. Selama beberapa hari hidup dalam ancaman, dia sama sekali tidak dapat tidur dengan nyenyak. Akibatnya sekarang matanya benar-benar tidak bisa dikondisikan.
Keesokan harinya Rihanna baru saja mengerjapkan kedua matanya setelah mendengar suara alarm yang entah berada di mana. Perempuan muda itu mengucek pelan matanya bergantian. Beranjak dari posisinya untuk turun dari ranjang.
Rihanna mengayunkan langkah menuju jendela besar di kamar tersebut. Membuka tirai tebal yang menjadi penghalang cahaya masuk ke dalam ruangan itu. Ketika tirai terbuka, Rihanna tersenyum lega.
Dia membuka pintu menuju balkon kamar lalu keluar untuk menikmati suasana pagi dari tempat tersebut. Rihanna merentangkan kedua tangannya dengan mata terpejam lalu menghirup udara segar pagi itu.
Puas menikmati udara segar yang terasa sangat menyejukkan hati, Rihanna kembali membuka kedua matanya. Wanita itu menatap deretan gedung pencakar langit yang berdiri kokoh di sekelilingnya.
"Maaf, Pa. Rihanna tidak menuruti permintaan papa untuk tetap berada di mansion. Rihanna benar-benar tidak betah hidup dalam keterbatasan seperti itu."
Rihanna kembali masuk ke kamarnya saat silaunya sinar matahari mengganggu penglihatan. Perempuan itu melangkah menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri. Namun, langkahnya terhenti ketika mengingat sesuatu.
"Ah. Pakaian yang dibelikan oleh Malik semalam masih di mobil," serunya sambil menepuk pelan keningnya.
Rihanna membalikkan tubuhnya lalu kembali berjalan menuju pintu kamar. Wanita itu berniat mengambil belanjaannya semalam yang tertinggal di mobil. Rasa kantuk itu benar-benar membuatnya sampai melupakan barang-barang penting itu. Ketika pintu kamar itu terbuka, Rihanna terkejut karena seseorang tiba-tiba terjungkal hingga kepalanya terbentur kaki wanita itu.
__ADS_1
"Astaga!" pekik Rihanna terkejut.
"Aish!" ringis laki-laki itu sambil mengelus-elus kepalanya yang sedikit sakit.
"Kamu ngapain?" tanya Rihanna dengan tatapan heran.
Tidak ada jawaban, sepertinya Malik malu untuk mengakui apa yang dia lakukan semalaman suntuk. Hanya demi meminta maaf pada Rihanna, Malik sampai tidur bersandarkan pintu kamar wanita itu.
"Kamu tidur di depan pintu?" tanya Rihanna sekali lagi saat tidak mendapatkan jawaban dari Malik.
"Eng-gak, kok! Aku cuma kebetulan lewat dan tersandung," elak laki-laki itu yang justru membuat Rihanna semakin yakin bahwa Malik memang tidur di depan kamarnya.
"Tersandung, tapi kenapa kamu jatuh terjungkal bukannya tersungkur?" tanya Rihanna telak.
Malik semakin gelagapan untuk menjawab pertanyaan Rihanna. Wanita itu ternyata cukup cerdas untuk membaca situasi. Belum tahu saja Malik, jika Rihanna adalah putri dari seorang mafia kejam seperti Rocky.
Kedua alis Rihanna bertaut membentuk busur panah ketika melihat reaksi Malik yang seperti seorang maling yang tertangkap basah tengah mencuri. Laki-laki itu menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya sangat bersih, tidak mungkin jika ada ketombe ataupun binatang yang hidup di sana dan menyebabkan rasa gatal.
"Kamu kenapa jadi seperti maling yang tertangkap basah sedang mencuri ayam tetangga?"
Malik membulatkan matanya saat mendengar ucapan Rihanna barusan. Tega sekali wanita itu menyamakan dirinya dengan seorang maling. Terlebih-lebih mencuri seekor ayam tetangga. Sungguh tidak berkelas sekali menurut laki-laki perlente itu.
"A-aku … mau mandi dulu. Kamu jangan lupa mandi." Malik yang merasa kalah telak segera melarikan diri ke kamarnya.
Tingkah absurd Malik membuat Rihanna menggelengkan kepalanya dengan kedua sudut bibir terangkat membentuk lengkungan indah. Jika Malik masih berada di depannya, laki-laki itu pasti semakin terpesona dengan kecantikan alami Rihanna tanpa polesan make up sedikitpun.
__ADS_1
"Laki-laki menyebalkan itu entah sekarang hilang ke mana? Yang tinggal bersamaku ini hanya seorang laki-laki penuh komedi yang hobinya membuat aku tertawa. Tidak habis pikir, laki-laki dengan tatapan dingin itu bisa bersikap layaknya bocah."
"Kayla, jangan berani menghinaku, yah!" teriak Malik yang sebenarnya masih bersandar di pintu kamarnya. Semua ucapan Rihanna tidak ada yang terlewat sedikitpun dari pendengarannya.